
Kedua perempuan berbeda generasi itu tidak masuk ke dalam rumah tetapi mereka berdua memilih untuk ngobrol di taman samping rumah saja.
Dan setelah Mami Arin duduk nyaman Erva kemudian ke belakang untuk mengambilkan minuman Mami Arin.
Dan tidak lama perempuan cantik itu sudah membawa dua gelas minuman segar dan juga camilan kemudian duduk di sebelah Mami Arin.
"Minum dulu Tante."
"Terima kasih sayank."
Setelah keduanya sama-sama minum, Mami Arin melihat ke arah Erva menatap wajah Erva yang tambah cantik tetapi ada sesuatu yang berbeda.
"Kamu agak kurusan ya Er?"
Entahlah Erva juga tidak tahu, bukan hanya Keenan saja yang mengatakan kalau dirinya kurusan tetapi baru saja Mami Arin juga mengatakan seperti itu padahal belakang ini Erva memang doyan makan tetapi bukan makan nasi tetapi lebih banyak ke cemilan.
"Masa sih tante sepertinya makanku juga tidak aku kurangi dia juga aku tidak diet malah aku seringnya ngemil."
Mami Arin tersenyum kemudian mengusap rambut Erva, beliau sudah berpikir lebih jauh mungkinkah jika Erva saat ini sedang mengandung? terlebih lagi tanda-tandanya Mama Arin pun tahu tetapi beliau tidak akan mengatakan kepada Erva takut saja jika perkiraannya itu salah yang nantinya membuat curiga.
"Jangan terlalu memikirkan apa-apa, apalagi kuliah kamu. Kamu tidak kuliah juga tidak masalah karena suami kamu juga sudah kaya."
__ADS_1
"Kalau aku tidak kuliah lalu ngapain Tante, di rumah bosen Tante, ini aja aku nggak kuliah bosen mau ngapain lagi, mau ke rumah sakit juga Mas Anjar hari ini sibuk sekali, mau jalan-jalan Mona juga lagi ada acara, mau pulang ke rumah ya sama aja Mama dan Papa juga lagi sibuk."
Mami Arin tersenyum sepertinya beliau mengerti apa yang dirasakan Erva saat ini karena Erva dan juga sama dengan Mami Arin sama-sama kesepian.
"Dinikmati aja, nanti setelah kamu punya anak juga akan ramai, oh ya maksud kedatangan Mami ke sini ingin memberikan undangan kepada kamu."
Mami Arin mengambil undangan itu dari tasnya kemudian memberikan kepada Erva. Erva langsung saja mengambil undangan dari tangan Mami Arin tetapi ia tidak membuka undangan itu melainkan menatap ke arah Mami Arin sepertinya Erva meminta penjelasan, undangan apa ini.
"Pertunangan Keenan besok malam."
Erva tersenyum, sebenarnya ia kaget juga dengan apa yang diucapkan oleh Mami Arin, tunangan tunangan dengan siapa padahal mereka sendiri tidak tahu siapa wanita yang saat ini dekat dengan Keenan setelah dirinya menikah dan tentu saja setelah bertemu dengan Keenan tetapi laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa, bahkan masih tetap saja mengejar dirinya.
Bukan karena Erva bersedih karena Keenan sudah bertunangan dan pastinya nanti akan menikah dan mencintai perempuan lain tetapi aneh saja mengapa semua serba dadakan, apa memang sebelumnya Keenan sudah mengincar seorang perempuan dan menjadikan perempuan itu cadangan?
"Pertunangan tante? Alhamdulillah akhirnya Kak Keen bisa menemukan seseorang yang akan menjadi bagian dari hidupnya."
Tentu saja dibalik rasa penasarannya, Erva juga senang dan ia bahkan sudah benar-benar melupakan Keenan dan menghapus nama Keenan di dalam hatinya yang kini sudah terganti dengan nama Anjar seorang.
Dan kebahagiaan yang diucapkan oleh Erva tadi bukan sebuah kebohongan belaka tetapi itu Jujur dari dalam hatinya.
Karena Erva berpikir jika Keenan sudah menikah dan mempunyai seseorang di dalam hidupnya, laki-laki itu tidak akan mengejarnya lagi namun ada sesuatu yang masih membuat ia penasaran.
__ADS_1
"Iya sayank, Alhamdulillah akhirnya Keenan mau menerima Kinara."
Erva mengeryitkan alisnya ia melihat ke arah Mami Arin yang sepertinya ingin menceritakan sesuatu kepadanya, tetapi Erva juga tidak mungkin bertanya kenapa Keenan mau menerima perempuan itu dan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mami memang sengaja menjodohkan Keenan dengan Kinara, bukan karena apa-apa tentu nya kamu tahu sendiri setelah kamu menikah dengan Dokter Anjar, Keenan tidak terkontrol lagi , dia menjadi seorang yang sombong, suka marah-marah dan entahlah Mami sendiri juga bingung dan satu lagi yang Mami takutkan kalau Keenan akan berbuat macam-macam dengan kamu terlebih lagi ia akan nekat untuk membawa kabur kamu. Mami akui ini sangat berat dan tidak mudah untuk Keenan menerimanya tetapi ini demi kebaikan bersama tentu saja untuk kebahagiaan kamu dan rumah tanggamu meskipun Mami sangat menyayangi kamu dan juga sebenarnya menginginkan kamu untuk menjadi istri Keenan tetapi kalian memang tidak berjodoh dan tidak mungkin juga Mami membiarkan Keenan untuk merusak rumah tangga kamu dengan Dokter Anjar."
Sepertinya Mami Arin paham dengan apa yang dirasakan oleh Erva kemudian beliau bercerita panjang dan lebar menumpahkan semua perasaan dan isi hatinya kepada mantan calon menantunya itu.
Erva seketika langsung memegang tangan Mami Arin kemudian memeluk perempuan yang saat ini terlihat sedang berkaca-kaca, Erva tahu jika Mami Arin berat untuk membuat keputusan ini terlebih beliau sangat menyayangi Keenan tetapi mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk Keenan supaya bisa melepaskan dirinya dan kembali menjadi Keenan yang dulu lagi.
"Tante bahagia?"
Keduanya sudah melepaskan pelukannya kemudian Erva mengambil tisu dan mengusap air mata Mami Arin yang jatuh membasahi pipi.
"Jangan tanyakan kebahagiaan itu kepada Mami, Jujur saja melihat Keenan seperti ini Mami bersedih tetapi Mami tidak bisa berbuat banyak karena semua kesalahan ada di Keenan dan pastinya hanya satu yang Mami yakin, kamu dan Keenan tidak berjodoh dan tidak mungkin Mami akan memaksakan itu."
"Kalau begitu, Mami harus yakin kalau Kak Keen akan bahagia dengan calon istrinya, aku yakin jika calon istrinya itu pastinya akan membuat Kak Keen bahagia."
Mami Arin tersenyum, tidak salah beliau menganggap Erva seperti anak kandungnya sendiri terlebih lagi dengan kedatangannya Mami Arin ke sini untuk menemui Erva, beliau semakin yakin dengan keputusan yang diambilnya untuk menjodohkan Keenan dengan Kinara, meskipun sebenarnya tidak sesuai keinginan hatinya, dan juga merasakan sesak di dalam dada tetapi Mami Arin mencoba menepisnya dan mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau memang apa yang diputuskan oleh Mami Arin itu terbaik buat Keenan.
"Terima kasih sayank, Mami lega sekarang, tidak tahu harus cerita ini sama siapa tentu saja Mami tidak mungkin bercerita kepada Keenan apalagi kepada Kinara bukan Mami tidak sayang dengan gadis itu tetapi kamu tahu sendiri bagaimana sikap dan sifat ABG yang belum genap 17 tahun."
__ADS_1
Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Mami Arin tentu saja dengan ucapan yang baru saja didengarnya, Erva tahu jika perempuan yang akan menjadi calon istri dari Dokter Keenan adalah masih berseragam putih abu-abu.