
"Bagaimana tidak bisa?? Erva single... begitu juga dengan Dokter Anjar....dan gue yakin pasti Erva tau nya, lo masih suami orang,. bukan duda perjaka."
"Brengseekkk Lo!!", seru Keenan cepat.
"Lah bener kan Keen?? apa Lo sudah ngerasain malam pertama??? sayang banget....waktu kecil sunat Lo di rame rame in, dan pas nikah juga pesta nya di gedein, tapi...malam pertama saja enggak pernah ngerasain, payah Lo Keen.", ledek Dimas lagi.
"Sialan!!!", umpat Keenan.
Kesal dengan ocehan dari Dimas, yang memang benar apa adanya. Duda perjaka, status memang duda, tetapi ia masih perjaka karena pernah melakukan apapun juga....
"Hahaha ...jangan marah, nikmatilah status Pak Dokter".
Bagaimana bisa merasakan malam pertama, kalau pengantin perempuan nya dijemput oleh sang kekasih gelap yang telah hamil, dan beruntung sekali Keenan belum menyentuh nya, atau malahan suatu kesialan baginya.
"Mendingan gue Keen,, status single...tapi yang namanya wanita sudah pernah gue coba, mau yang abege, dewasa, setengah tua ataupun yang tua sekalipun sudah pernah, hanya saja...gue belum pernah merasakan yang namanya perawan.", ucap Dimas sedikit curhat.
"Sama saja, berlayar ke mana mana tidak ada yang benar, jebol semuanya...."
"Haishhh beda bro!! kalau gue belum nikah, tapi...kalau Lo ...ah...rencana mau dapat perawan, yang masih segel, ORI dan tentu nya masih muda...eh gak taunya malahan dapat bekas, mana belum pernah nyicip sudah hilang hahahaha ... kasihan sekali nasibmu..."
Dimas terusan saja mengoceh, hingga membuat Keenan kesal sendiri. Niat hati ingin mencari Dimas untuk menghibur suasana hatinya yang galau, tetapi...malahan kena ledekan bertubi tubi.
"Lihat saja, gue akan dapatkan Erva, ....dan akan merawani dia...", ucap Keenan tiba tiba.
"Jangan gila!!"
Kaget dengan ucapan Keenan barusan, laki laki itu langsung menatap tajam mata Keenan, yah meskipun ia tidak ada hubungan apa apa dengan Erva, tetapi...Dimas tidak mau kalau Erva, gadis baik itu mendapatkan perlakuan yang tidak tidak dari Keenan.
__ADS_1
"Tenang bro, gue enggak bej@d seperti apa yang lo pikirkan.."
Ada senyuman tipis di wajah Keenan, mungkin saja laki laki itu sedang memikirkan sesuatu rencana.
"Gue enggak percaya, otak Lo saja sudah mesuuummmm!!!"
Bagaimana mau percaya, Dimas melihat Keenan sudah senyum senyum sendiri. Dimas bahkan sedikit banyak tau tentang Keenan dan isi otaknya, mana mungkin Keenan tidak berbuat apa apa dengan Erva, apalagi posisi nya seperti ini. Keenan duda, sedangkan Erva single tetapi sudah ada seseorang yang mengincar nya.
"Tau saja Lo...tapi...gue akan minta Erva baik baik, kalau dia mau memaafkan dan kembali lagi pada gue, lalu menikah...gue akan minta itu pas halal, tetapi...kalau nikahnya dengan orang lain... gue bisa saja berbuat nekad.", ucap Keenan lagi.
"Gila Lo!! benar benar sinting!!!!"
Tidak menggubris, Keenan menghabiskan lagi kopi yang tinggak separo, kemudian meninggalkan Dimas.
Laki laki itu akan menghubungi Dokter Anjar, dan meminta bertemu. Lebih cepat lebih baik, karena ini ada sangkut pautnya dengan Erva.
"Ketemu Dokter Anjar.", jawab Keenan tanpa menghentikan langkah kakinya..
Mendengar jawaban Keenan, Dimas hanya menggelengkan kepalanya, tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa memantau kelakuan Keenan saja.
"Dasar, kalau sudah begini baru menyesal... dulu saja ninggalin Erva dan lebih memilih Amira, tetapi sekarang... sudah tau Amira bagaimana eh gantian ngejar Erva, kalau gue jadi Erva... tidak akan Nerima Lo lagi Keen.", gerutu Dimas.
Yah, meskipun Dimas bukan laki laki baik baik,... tetapi ia tidak seperti Keenan, yang selingkuh dan meninggalkan gadis baik baik dan memilih kembali dengan sang mantan, hingga akhirnya menikah tetapi.. tidak berlangsung lama.
Keenan kena karma nya yang sudah menyakiti Erva dan kini giliran dia yang harus mati matian mengejar Erva.
...****...
__ADS_1
[Bisakah kita bertemu???]~ Dokter Keenan.
Satu pesan yang baru saja di buka oleh Dokter Anjar, laki laki itu langsung mengeryitkan alisnya, paham benar dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Dokter sang mantan tunangan Erva.
[Bisa, satu jam lagi ..cafe horison.]
Balasan pesan dari Dokter Anjar tidak bertele-tele, lagipula ia tidak ada jadwal lagi hari ini dan juga ingin tau apa yang akan di bicarakan oleh Dokter Keenan, meskipun Anjar sendiri sudah ada bayangan bayangan mengenai pembicaraan nya nanti.
Anjar merapikan meja kerjanya, ia lebih memilih santai dalam menghadapi Keenan nanti nya, yah meski antara diirinya dan juga Erva tidak ada hubungan apa apa, lebih tepatnya belum ada
Tetapi, ia ingat dengan permintaan gadis itu yang ingin ia membantu nya, berpura pura menjadi kekasih atau apalah, hingga Keenan percaya dan tidak mengejar Erva lagi.
Setelah semua nya beres, Anjar keluar dari ruangan pribadi nya. Hal yang akan dilakukan pertama kali adalah menuju ke ruang perawatan Erva. Tidak ingin masuk, tetapi hanya melihat saja dari kaca pintu.
"Aku akan mengikuti apa yang kamu mau, tetapi aku juga minta balasan.", gumam Anjar lirih setelah sampai di depan pintu dan melihat Erva yang sedang tidur dengan wajah teduhnya.
Tidak mau lama lama di sana, Anjar melangkahkan kakinya untuk menuju cafe horison, dimana itu adalah tempat pertemuan nya dengan Keenan nanti, yang mana jaraknya tidak terlalu jauh tetapi juga tidak begitu dekat, karena Anjar memilih posisi tengah tengah antara dirinya dengan Keenan.
Beruntung sekali jalanan tidak macet, tidak lebih dari tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Anjar sudah sampai di parkiran cafe Horison.
Ia yang lebih dulu sampai, langsung masuk dan memesan tempat yang sekiranya enak untuk dipakai ngobrol dengan tingkat emosi yang mungkin saja diluar batas.
Outdoor ... tempat yang dipilih Anjar, selain tempat nya nyaman, juga sepi dan bebas berekspresi nantinya.
Ia sudah memesan kopi dan meminum nya, sembari menunggu kedatangan Keenan.
Tidak ada rasa gugup atau apalah, bagi Anjar... ini bukan hanya untuk menuruti permintaan Erva, tetapi...tulus dari dalam hatinya, yang ingin mengenal sejauh mana hubungan Erva dengan Keenan dulunya.
__ADS_1