Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Gerak Cepat


__ADS_3

"Yakin tidak mau cerita sama aku, tadi bicara apa saja sama Mama?"


"Nggak ada yang dibicarakan kok Mas, cuma ngobrol-ngobrol biasa saja."


Masih saja Erva menutupi apa yang dibicarakannya dengan Mama Risa, tidak mungkin juga ia akan menembak Anjar malam ini.


Siapa yang laki-laki, dan siapa yang perempuan. Dan yang seharusnya mengatakan cintanya itu adalah Anjar bukan dirinya.


"Tapi aku tahu loh apa yang kamu dan Mama bicarakan."


Deg


Sudah Erva duga kalau Anjy sebenarnya sudah mengetahui apa yang ia dan juga Mama Risa bicarakan dan tentu saja itu membuat muka erpan jadi merah seperti tomat.


"Masalahnya, aku dan Mama tidak membicarakan apa-apa eh tante."


"Panggil Mama juga tidak apa-apa kan sebentar lagi memang jadi Mamah kamu juga."


Apa-apaan, kenapa kamu tidak terus terang saja nembak aku, Mas kenapa pakai kata-kata beginian terus aku kan juga pengen ditembak bukan hanya dikasih clue clue seperti ini, batin Erva.


"Aku turun ya Mas sudah malam lagi pulang Mas juga buru-buru kan ke rumah sakitnya."


Tidak ingin terjebak dengan pertanyaan yang diberikan Anjar ataupun Erva nanti ya akan GR karena Anjar tidak menembaknya, Erva langsung saja buru-buru keluar dari mobil Anjar.


Akhirnya, Anjar pasrah saja karena tidak mungkin mengejar Erva dan menahan gadis itu, ia juga tidak bisa  berlama-lama dengan Erva sementara dirinya sudah ditunggu di rumah sakit.


Malam ini memang bukan waktu untuk Anjar mengatakan sesuatu kepada Erva tetapi ia masih banyak waktu tentunya besok siang ia akan menjemput Erva dan mengatakan yang sebenarnya ingin dikatakan.


Tak ingin terlambat meskipun mungkin kenyataannya terlalu buru-buru tetapi anda sudah yakin kalau dirinya akan melamar dan menikahi erpan dalam waktu dekat ini.

__ADS_1


Erva langsung masuk ke dalam rumah setelah mobilnya Anjar keluar dari halaman rumahnya.


Gadis itu sepanjang perjalanan dari pintu utama ke kamarnya menggerutu kesal entahlah.. kenapa bisa seperti ini.


Ini adalah pertama kalinya Erva bertemu dengan laki-laki yang susah banget untuk mengatakan perasaannya bahkan dari beberapa laki-laki yang mendekati Erva hanya Dokter Anjar yang tidak kunjung mengatakan perasaannya malahan sengaja ingin membuat dirinya yang mengungkapkan perasaannya dulu.


"Ah mengapa jadi aku yang memikirkan dia bukannya seharusnya dia memikirkan aku dan mengatakan perasaannya..."


Masih saja mengomel sendiri. Meski sekalipun ia senang, Erva juga kesal dengan Dokter Anjar yang entah kenapa sudah jalan sejauh ini tetapi laki-laki itu tak kunjung mengatakan perasaannya.


Hingga akhirnya erva yang lelah mengoceh sendiri langsung saja tertidur tentu saja tanpa mengganti pakaian dan juga tanpa mencuci mukanya terlebih dahulu.


Sedangkan Anjar, laki laki itu baru saja masuk ke dalam rumah sakit dan tentunya sudah disambut oleh Dokter Riko dan beberapa Dokter yang lainnya.


Mereka langsung saja menangani pasien karena ternyata pasien tersebut sedang gawat dan harus dioperasi secepat mungkin hingga akhirnya pekerjaan Anjar selesai juga.


"Aku tidak percaya seorang Dokter Anjar bisa meminta pendapat aku. Aku jangan-jangan yang tidak sadar atau memang aku hilang ingatan sehingga lupa kalau mempunyai teman yang mempunyai sifat dingin seperti es balok." sindir Riko setelah ia mendengar curhatan dari doktyer Anjar.


"Terserah kamu mau ngomong apa yang penting Aku butuh kejelasan kamu harusnya bagaimana apa erpan harus aku tembak atau langsung saja melamarnya dan menikahinya."


Ingin rasanya Rico tertawa menertawakan tingkah lucu anjir saat ini. Namun ia tidak tega karena melihat ekspresi dari Anjar yang serius dan juga mengenaskan.


Bukan mengenaskan karena patah hati tetapi mengenaskan karena bingung bagaimana langkah selanjutnya untuk mendapatkan Erva.


Kalau aja bisa berpikir jauh lebih ke depan ini adalah kesempatan emas baginya terlebih lagi Erva sudah mengatakan kalau gadis itu mencintai Anjar meskipun bukan Anjar sendiri yang menanyakannya.


"Kalau untuk hal ini kamu bodoh sekali An. Seharusnya kamu langsung saja nembak Erva dan melamarnya lalu menikahinya."


"Apa tidak terlalu terburu-buru, aku takut kalau Erva menolakku."

__ADS_1


Ini yang membuat Anjar maju mundur selama ini, ternyata laki-laki itu takut kalau saja Erva menolak cintanya. Jelas-jelas tadi ia sudah mendengar kalau Erva ada rasa untuk dirinya.


"Sekarang Aku tanya, kamu yakin nggak dengan perasaanmu sendiri? Maksudnya kalau kamu yakin dan ingin menikahi Erva secepatnya berarti memang harus kamu lakukan. Mau kalau Erva direbut lagi oleh Dokter Keenan bahkan dia lebih dulu melamar Erva?"


"Tidak akan aku biarkan!"


"Nah kalau kamu tidak akan membiarkannya berarti kamu harus gerak cepat. Tidak masalah kalau kamu melamar dan langsung menikahinya meskipun usia Erva masih sangat muda. Tapi kamu bisa meyakinkan kalau pernikahan itu tidak akan menghambat cita-cita Erva nantinya. Daripada kamu malah keduluan dengan orang lain?"


Tentu saja ucapan dari Dokter Riko memang benar. Sebelum berbicara dengan Dokter Riko, Anjar memang sudah mempunyai keinginan untuk langsung saja melamar dan menikahi Erva dalam waktu dekat ini.


Tidak ingin terlalu lama, biarlah terkesan buru-buru tetapi memang kenyataannya seperti itu. Anjar juga yakin kalau dirinya sangat mencintai Erva dan akan melindungi Erva sepenuh hatinya.


"Kalau kamu memang mencintai Erva dan serius ingin memilikinya aku sebagai sahabat kamu cuma menyarankan cepatlah kamu melamar dan mengatakan apa yang ingin kamu katakan. Jangan pikirkan kalau Erva nanti menolak kamu cukup kamu pastikan saja dan yakinkan kepada gadis itu kalau kamu adalah pilihan yang terbaik untuk dia."


Tidak ada jawaban lagi dari Dokter Anjar, di samping berpikir laki-laki itu juga sudah mendapatkan jawabannya.


Dan ia akan mengatakan semuanya kepada Erva besok tentu saja sebelum mengatakan kepada Erva, ia harus bertemu dengan kedua orang tua Erva dan meminta restu kepada beliau.


"Oke bro, terima kasih sarannya."


"Jangan lupa kamu siapkan semuanya karena aku yakin gadis seperti Erva tidak mau acara pernikahan yang biasa saja bukan berarti Erva itu matre tetapi kamu lihat sendiri kan abg-abg saat ini. Lagi pernikahan kalian itu sekali seumur hidup yang pastinya untuk gadis seumuran Erva tentu ingin mendapatkan yang terbaik dari pernikahan itu."


"Kalau itu aku sudah siapkan bahkan aku sudah menghubungi semuanya dan siap jika aku minta dalam waktu dekat ini."


"Salut aku dengan kamu, tidak pernah jatuh cinta tetapi sekalinya jatuh cinta langsung gerak cepat untuk menikahi gadis, itu hebat."


"Emangnya kamu yang tiap hari gonta-ganti pasangan, apa tidak bosan? apa tidak menginginkan satu saja tetapi yang jelas!!"


"Kalau bosan tentunya tidak bahkan kalau yang seperti ini tidak akan bosan karena tiap hari gonta-ganti terus tetapi ya itu tadi mungkin aku belum mendapatkan seseorang yang menyentuh hatiku sama seperti kamu bertahun-tahun baru datang seorang gadis yang bisa menaklukkan hati kamu."

__ADS_1


__ADS_2