
Setelah Mamah Risa mematikan ponselnya, Anjar duduk termenung dengan menyandarkan punggungnya di kursi.
Laki laki itu tidak memikirkan tentang ucapan Mamah nya, tetapi...malahan kepikiran tentang Erva. Yah, tanpa di sadari.... nama gadis cantik itu sudah masuk ke dalam hatinya, entah apa sebabnya....
Padahal, jarang sekali....Anjar merasakan gejolak seperti ini, ia bahkan menolak setiap wanita yang akan dekat dengan nya, dan selalu bersikap dingin dan acuh.
Tidak mau penasaran, dengan sosok Erva....yang kenapa ia malam malam begini malahan di bawa ke Rumah Sakit nya, padahal jaraknya lumayan jauh dari rumah Erva, dan lagi masih ada beberapa Rumah Sakit yang terdekat dengan rumah Erva.
Anjar sudah mendapatkan beberapa berkas informasi tentang Erva, di samping data diri pribadi gadis itu, tetapi juga riwayat penyakit yang diderita...dengan Dokter siapa yang merawatnya...karena Anjar yakin kalau sebelumnya Erva juga pernah dirawat dengan penyakit yang sama.
Lembar lembar demi lembar Anjar buka, ia melewati data pribadi gadis itu. Bukan tidak ingin melihat informasi pribadi mengenai Erva, tetapi...Anjar sendiri tau...bahkan sudah hafal dengan siapa dan bagaimana Erva, tetapi....kali ini..yang lebih menarik adalah tentang alasan kenapa Erva malahan di bawa ke sini, bukan di Rumah Sakit yang dulunya pernah merawat Erva, atau dengan Dokter Keenan yang menangani nya, yang saat ini sudah membuka Rumah Sakit sendiri.
"Aneh....kenapa malahan di bawa ke sini...dan tunggu... tunggu.... bukannya dia yang dulu pernah nangis di acara pernikahan Dokter Keenan?? yang aku pikir dia fans berat Dokter itu??? tetapi...ada yang aneh di sini. Apa dia patah hati dengan idolanya hingga pindah ke Rumah Sakit ini???"
Anjar menggeleng, sampai saat ini ia masih belum tau ada hubungan apa antara Erva dengan Dokter Keenan, dan masih menyangka kalau Dokter Keenan itu adalah idola Erva ...
Tidak mendapatkan jawaban yang tepat, hanya menduga duga saja... Dokter Anjar akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan nya.
Laki laki itu sama sekali tidak bisa tidur, dan juga tidak lelah. Bahkan sekedar merebahkan tubuh nya saja di ranjang juga tidak mampu.
Hingga akhirnya, langkah kaki Dokter Anjar sampai di depan pintu ruang perawatan Erva, dan Anjar langsung masuk saja karena ia mengkhawatirkan kondisi Erva.
Ceklek...
Dokter Anjar membuka pintu dengan sangat pelan, ia tidak ingin mengagetkan Erva, di mana gadis itu pastinya masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
Dan memang benar, ia melihat Erva yang masih terbaring dengan mata yang terpejam, begitu juga dengan Mona Sahabat Erva itu tertidur di pinggir ranjang Erva.
"Bangun...pindah sana....", ucap Anjar dengan sangat pelam di telinga Mona, hingga membuat Mona membuka mata dan melihat siapa yang sudah membangunkan tidur nya.
Mona yang masih setengah sadar, tidak bisa berkata banyak. Gadis cantik itu mengangguk, dengan mata yang sedikit di tutup lagi, masih ngantuk dan enggan untuk bangun.
Setelah Mona pindah, Anjar memeriksa kembali keadaan Erva, bukan hanya sekedar memeriksa saja, tetapi...Anjar juga mengamati dengan jelas wajah cantik Erva, yang semakin dilihat tidak membosankan.
Deg
Tangan Anjar menyentuh lembut tangan Erva, di mana...ada perasaan yang aneh yang selama ini tidak pernah di rasakan nya.
Sial!! akhirnya aku tunduk dengan gadis kecil ini, yang mana masih sangat muda dan terpaut jauh umur nya....
Antara senang dan merasa tidak percaya, akhirnya...dengan Erva...seorang gadis yang baru saja lulus sekolah, Anjar mengisi kekosongan hatinya.
...****...
Jam menunjukkan pukul Empat pagi, ke-dua orang tua Erva yang baru saja tiba di rumah sakit di mana Erva di rawat, langsung saja menuju ke ruangan.
Tidak perlu bertanya, karena beliau sudah diberi tahu oleh Mona.
Ceklek...
Mamah Hana dan Papah Bram saling pandang ketika baru saja membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Erva. Beliau melihat pemandangan yang membuat seakan akan tidak percaya, bukan karena mengira yang ada di samping Erva saat ini adalah Dokter Keenan, tetapi...karena melihat Dokter yang baru di kenal oleh Mamah Hana dan juga Papah Bram.
__ADS_1
Tidak ingin mengganggu, kedua orangtua Erva mendekat tetapi tidak mengusik bahkan tidak mengucapkan apa apa.
Apalagi melihat seorang laki laki yang saat ini sedang memegang tangan Erva dengan sangat erat, mereka langsung saja menuju ke sofa di mana di sana ada Mona.
"Siapa dia Pah??", tanya Mamah Hana...
Volume suara nya di kecil kan, supaya tidak mengganggu kenyamanan Mona, dan juga Erva.
"Papah tidak tau, tapi...dia seorang Dokter...apa Erva tidak pernah cerita kalau punya teman atau pacar seorang Dokter???", Mamah Hana menggelengkan kepalanya.
Bukan karena Erva tidak mau cerita ataupun tidak pernah bercerita, tetapi..memang Erva tidak mempunyai teman ataupun pacar yang profesinya seorang Dokter.
"Tapi sepertinya dia baik Mah...", ujar Papah Bram lagi yang masih mengamati ke arah Dokter Anjar.
"Dokter Keenan dulu juga baik Pah, bahkan sangat menyayangi Erva, tetapi... nyata nya seperti itu . Jangan dilihat dari baik atau tidak nya, tetapi. .dari masa lalunya. Mamah tidak ingin kejadian dulu terulang lagi, apalagi laki laki itu profesi nya sama dengan Keenan...."
Mamah Hana masih trauma dengan Dokter Keenan, awalnya memang manis dan sangat perhatian dan mencintai Erva, tetapi...setalah bertemu dengan sang mantan, dengan teganya laki laki itu mencampakkan putrinya, dan sekarang...kalau ada laki laki yang mendekati Erva, Mamah Hana maju paling depan...dan harus tau dulu bagaimana masa lalu nya laki laki itu.
"Terserah Mamah saja, tetapi...kalau di lihat lihat, seperti nya...dia mirip dengan seseorang yang Mah??"
Mamah Hana mengarahkan pandangan matanya ke arah Anjar, dan memperhatikan nya dengan jelas bagaimana wajah tampan laki laki itu yang menurut suaminya mirip seseorang.
"Iya, Mamah juga tidak asing lagi dengan wajahnya....tetapi siapa ya??"
Bukannya menjawab, tetapi...Mamah Hana malahan ikut balik menanyakan hal itu kepada suaminya...
__ADS_1
Seperti nya aku tidak salah lagi, dan aku baru ingat...kalau dia mirip dengan teman ku yang sudah lama meninggal, Indriawan....yah dia ..dan bukannya memang dia mempunyai satu orang putra, tetapi...lebih memilih bekerja di Jepang, dan juga profesinya Dokter?? apa itu memang anak laki laki itu???
Papah Bram hanya bisa mengatakan itu dari dalam hatinya saja, yang mana ia sangat yakin kalau anak muda yang berada di samping Erva adalah putra dari teman baiknya. Beliau tidak mau istrinya nanti heboh jika tau kalau laki laki yang saat ini ada di depannya itu, apalagi...Papah Bram tau kalau Mamah Hana dan istri dari Papah nya Anjar adalah teman dalam kumpulan arisan arisan sosialita.