Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Rencana Mamah


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Mama Hana hanya melirik sekilas ke arah Erva, beliau tidak berani bertanya tentang kejadian tadi yang jelas-jelas Mamah Hana tau kalau Erva dan Anjar sudah bertemu.


Beliau tidak perlu memaksa, karena Mama Hana yakin kalau Erva akan mengatakan semuanya kepada beliau.


Pandangan Erva memang lurus ke depan tetapi pikirannya sudah kemana-mana. Tentu saja memikirkan sikap dari dokter Anjar yang masih dingin kepadanya. Apakah itu efek dari berita yang beberapa waktu lalu tersebar, hingga membuat laki-laki itu mendadak seperti itu.


Memang Anjar sudah dingin, tetapi setelah kejadian itu mengapa auranya sangat menyeramkan dan bertambah dingin pula ekspresinya sehingga membuat Erva sendiri tidak mengenali kalau dirinya pernah berteman dengan Anjar.


"Aduh, kenapa ini."


Mobil yang dikemudikan oleh Anjar Erva tiba-tiba berhenti secara mendadak, untung saja posisi mobil Erva saat ini berada di pinggir dan bukan di jalanan yang ramai.


Apalagi Erva tidak tau menau tentang mesin mobil, siapa yang akan dimintai tolong kalau sudah seperti ini.


"Ada apa Er?", tanya Mama Hana yang melihat Erva yang saat ini panik.


"Mobilnya tiba-tiba mati Mah sebentar, coba aku periksa dulu."


Mau periksa bagaimana lagi, ia sendiri tidak tau menahu tentang mesin mobil tetapi ia turun dan membuka kap mobil depannya.


Bingung harus berbuat apa, Erva hanya menggelengkan kepalanya saja kemudian gadis itu kembali ke mobil dan berniat untuk menghubungi seseorang, tentu saja ingin meminta bantuan.


"Astaga kenapa bisa mati!!"


Erva menepuk keningnya sendiri, di saat seperti ini kenapa ponselnya malahan mati dan ia ingat kalau memang tadi tidak dicas dan pas waktu Erva bawa baterainya tinggal sedikit.


"Pinjem ponsel Mah, aku ingin menghubungi Pak Jono."


Pak Jono adalah teknisi khusus di keluarga Erva yang mana beliau sering membantu jika ada kerusakan mobil dan keputusan Erva kali ini tepat bahwa ia akan menghubungi Pak Jono, tidak menghubungi sahabatnya... Mona yang malah nanti akan membuat ulah saja.


"Sebentar, Mama carikan."

__ADS_1


Mama Hana membuka tas ia mencari ponsel yang biasanya ada di dalam tas, tetapi setelah dicari-cari tidak ada dan beliau baru ingat kalau ponselnya tertinggal di rumah.


"Mama nggak bawa ponsel Er, baru ingat kalau tadi Mama letakkan di atas ranjang."


"Lalu kita harus bagaimana Mah? sebentar lagi hujan."


Erva bingung, ia tidak bisa menghubungi siapapun juga dan melihat awan yang biru mendadak berubah menjadi hitam dan sudah dapat dipastikan kalau sebentar lagi akan turun hujan.


...****************...


"Loh bukannya itu mobil milik Erva?"


Dari kejauhan, Mama Risa sudah melihat kalau mobil yang sedang berhenti di depannya adalah mobil Erva, entah dan di mana beliau tau kalau mobil itu adalah mobil yang sering dipakai oleh Erva.


"Kenapa mobil nya berhenti di sana? dan sepertinya ada masalah dengan mobil Erva, kita menepi saja dulu dan kamu bantuin Erva... kasihan sebentar lagi hujan."


Anjar mengangguk, ia juga kasihan. Dan jika ternyata mobilnya di depannya adalah mobil Erva, hingga Anjar melihat jelas ke depan.. ternyata memang betul, kalau mobil yang dipakai oleh Erva. Kemudian laki-laki itu menepikan mobilnya tepat di depan mobil Erva.


Melihat Mamah Risa dan juga Anjar yang menghampiri, Erva dan juga Mama Hana keluar dari mobi,l tidak enak jika mereka masih ada di dalam mobil.


"Ada apa Jeng kenapa mobilnya berhenti, apa mogok?", tanya Mama Risa.


"Benar Jeng, tetapi sayang sekali kita tidak bisa menghubungi montir yang biasa menangani mobilnya Erva."


Mamah Risa tersenyum di dalam hati ia senang dan mempunyai rencana untuk bisa menyatukan Erva dengan Anjar karena Mama Risa yakin kalau berita yang kemarin sedang hangat itu tidaklah benar.


Kalau memang Erva ingin menikah atau sudah menikah dengan dokter Keenan beliau pasti mendapatkan undangan dan juga berita tentang pernikahan Erva sudah tersebar luas, tetapi sampai saat ini tidak ada beritanya lagi.


"An kamu bantu Erva , kasihan sebentar lagi hujan, biarkan Mama yang mengantar Mamanya Erva pulang."


Anjar melongo, bukan ia tidak mau membantu Erva tetapi rasanya aneh saja kenapa mesti mesti Mamahnya Erva yang ikut pulang apa tidak sebaiknya kita semua saja yang pulang, dengan Anjar mengantarkan Mama Hana dan juga Erva pulang.

__ADS_1


"Aduh, bener juga Jeng karena satu jam lagi saya ada acara, tetapi kalau sampai menunggu mobilnya jadi pasti nanti telat."


Mamah Hana mengerti maksud dari ucapan Mamah Risa. Beliau juga berpura-pura mengatakan kalau akan ada acara , hingga Erva dan Anjar mau tidak mau harus berada di sini.


"Aku-ikut saja Mah, sebentar lagi hujan...lagian aku juga ngantuk."


Mana mungkin dirinya akan berdua dengan Anjar, ia takut dengan tatapan tajam Dokter dingin itu dan pastinya nanti di sini akan canggung.


"Jangan !! kamu di sini saja, ada Dokter Anjar, kalau mobilmu dicuri orang gimana? bukan kah ini adalah mobil kesayangan kamu."


Erva diam sebentar, ia berpikir sesaat ... tetapi benar juga apa yang dikatakan oleh Mama Hana, kalau ini adalah mobil kesayangannya bagaimana kalau ditinggal dan tiba-tiba ada yang mengambil mobilnya. Bukan masalah harganya tetapi ya itu tadi ia tidak akan rela jika mobil ini hilang.


"Tapi mah , Mama bisa nyetir sendiri??"


"Hai , sejak kapan Mama tidak bisa nyetir sendiri ? bukannya ke mana-mana Mama selalu nyetir sendiri , tenang saja ... kamu benerin mobil Erva, nanti kalau sudah benar ..kamu anterin Erva pulang, biar Mamah yang anterin Mamanya Erva."


"Ayok jeng, keburu hujan, Erva aman bersama Anjar."


Mama Hana mengangguk beliau kemudian mengambil tas lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil Mama Risa.


Sedangkan Anjar, ia bingung apa yang harus ia lakukan. Bukan karena dirinya tidak mengerti tentang mesin mobil tetapi ada rasa canggung juga karena berdua dengan Erva.


"Maaf dokter merepotkan. Aku tidak tau, tapi tiba-tiba tadi mobilnya mati kalau bensin rasanya aku kemarin sudah mengisinya full mungkin ada sesuatu di bagian mesinnya."


Tidak ingin hanya diam saja dan terlihat canggung, Erva menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi ... meskipun ia tidak tau apa yang dialami oleh mobilnya yang tiba-tiba saja berhenti mendadak.


"Tidak apa-apa, biar aku periksa dulu."


Erva mengangguk, lalu mengikuti Anjar yang saat ini berada di depan mobil meskipun ia tidak tau menau tentang kerusakan mesin mobil tetapi Erva ingin melihat bagaimana caranya membenarkan mobilnya.


"Sepertinya ini akan lama, kamu tidak masalah kan kalau harus menunggu?"

__ADS_1


__ADS_2