
"Pulang Mas...aku ngantuk.", pinta Erva yang sudah selesai membersihkan semuanya, bahkan dapur juga nampak bersih dan rapi lagi sebelum nya tadi seperti kapal pecah.
"Baiklah. Sebentar, aku ambil kunci mobil dulu.",
Erva mengangguk dan menunggu Anjar di sofa, sembari memejamkan matanya yang nampak sudah tidak kuat Lagi, tetapi. .baru saja terpejam sebentar, Anjar sudah datang dan menghampiri nya.
"Ayok dek, aku anterin..nanti saja boboknya, atau mau bobok di sini??"
"Eh....", kaget Erva kemudian menggeleng. Gadis itu langsung bangun dan bergegas mengambil tasnya, tidak mungkin juga kalau ia tidur di apartemen Anjar.
Anjar berjalan di samping Erva dan segera keluar untuk menuju parkiran. Sampai di sana, Eeva langung masuk karena tau kalau Anjar tidak mungkin membukakan pintu
"Siap ya, kalau tidur lagi nanti aku gendong."
"Tidak akan, aku melek Mas...."
Mobil yang dikemudikan oleh Anjar melaju dengan kecepatan sedang, di mana memang tidak ingin cepat sampai ke rumah Anjar, modus saja karena laki laki itu ingin terus bersama dengan Erva.
Erva yang tidak ingin tidur, membuka tas nya dan mengambil ponsel. Rasanya ia sudah lama tidak mengecek ponsel, siapa tau ada kabar dari Mona atau orang tuanya yang mencari nya, tetapi...
Erva membulatkan matanya, manakala ia melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari nomer yang ia kenal, dan tentu saja... ia tau nomer siapa.
"Tante Arin, ada apa?"
Yah, nomer dari Mami nya Keenan masih tersimpan di ponsel Erva, meskipun ia sudah menghapus nomor anaknnya, dan yang menjadi pertanyaan.. kenapa Maminya Keenan menelpon, padahal sebelum nya tidak pernah.
"Siapa?", tanya Anjar yang mendadak kepo dengan urusan Erva, apalagi melihat Erva yang nampak bingung.
"Mami nya Dokter Keenan.", jawab Erva jujur.
"Oh, mungkin ada perlu sama kamu "
"Enggak tau juga."
"Memang nya sering berhubungan atau bertemu?", tanya Anjar lagi yang saat ini hatinya mulai memanas, padahal yang menghubungi itu adalah orang tuanya Keenan, bukan Keenan nya.
Erva menggeleng, memang nyatanya begitu. Setelah perpisahan nya dengan Keenan, ia dan Mami Arin tidak pernah bertemu lagi..bahkan berhubungan pun tidak pernah sama sekali.
"Mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan, atau ingin bertemu dengan kamu.", ucap Anjar lagi.
Laki laki itu mencoba bersikap tenang, meskipun sedikit ada rasa kesal dan juga cemburu, tetapi dapat ia tahan dan mencoba bersikap positif.
Erva mengedikkan bahunya, pertanda kalau tidak tau dengan apa yang dipikirkan oleh Anjar, dan lebih tepatnya masa bodoh saja. Kalau penting kan telpon lagi.
Kring ...kring...
Ponsel yang masih di pegang Erva tiba Gian berbunyi lagi, dan Erva langsung saja melihat siapa yang saat ini menelpon nya.
__ADS_1
"Tante Arin..."
Ragu ragu Erva untuk mengangkat nya, ia tau pasti ada yang tidak beres atau ada yang ingin dibicarakan dengan nya, sampai sampai menelpon nya lagi.
"Angkat saja, atau aku perlu menepikan mobilnya, dek?", ujar Anjar.
"Tidak perlu Mas..aku angkat dulu."
"Hallo...."
"Maaf Tante ada apa ya?"
"Apa??"
Erva melirik ke arah Anjar, sekaligus meminta ijin atau apalah. Karena pasti Anjar mendengar apa yang dikatakan oleh Mami nya Keenan karena Erva sengaja me loud speaker.
Merasa Erva seperti meminta ijin, Anjar pun mengangguk. Tidak mungkin ia melarang Erva untuk menjenguk Keenan, meskipun di dalam hatinya merasakan cemburu berat.
"Aku akan ke sana Tante."
Erva menutup ponsel nya, setelah ia mengatakan kalau akan ke sana, tetapi entah dengan perasaan yang bagaimana.
"Mas ..."
Setelah menutup ponsel dan memasukkan kedalam tas, Erva melihat ke arah Anjar. Tidak enak sebenarnya, yah meskipun tidak ada hubungan yang spesial antara dirinya dan juga Anjar, lebih tepatnya hubungan tanpa status yang entah bagaimana dan seperti apa, Erva merasa tidak enak.
Apa yang Anjar katakan itu ada benarnya juga, siapa tau Erva ingin bertemu dengan Keenan empat mata saja, dan tidak membiarkan orang lain ikut ke sana.
Anjar tau apa yang dirasakan oleh Erva, dan tau bagaimana perasaan Erva saat ini. Ia juga tau kalau di dalam hati Erva masih ada nama Keenan di sana.
"Aku tidak keberatan, makasih dan tolong temani aku."
Permintaan Erva yang barusan membuat Anjar tersenyum., meskipun ia sedikit tersiksa dengan perasaannya, dan juga ada rasa cemburu dan tidak rela, Anjar akan menemani Erva.
Walaupun sebenarnya ia tau, kalau sampai di sana pasti akan melihat pemandangan yang tidak enak dipandang oleh mata., tetapi.. demi Erva...apapun akan ia lakukan.
"Iya...."
Anjar meraih tangan Erva dan menggenggam nya, entah itu apa artinya...hanya Anjar yang tau.
Kring... kring...
Bunyi telpon membuat Anjar melepaskan tangan Erva, dan ia segera mengambil ponselnya yang untung saja berada di lampu merah.
"Hallo..."
"Iya, saya segera ke sana."
__ADS_1
Anjar menoleh ke arah Erva, ia menghela nafas panjang sebelum mengatakan yang sebenarnya.
"Er, maaf..aku tidak bisa menemani kamu .. hanya bisa mengantar... tidak apa apa kan?"
Dengan berat hati Anjar mengatakan itu, bukannya ia sengaja atau memang tidak mau mengantarkan Erva untuk menjenguk Keenan, tetapi....ada tugas dan kewajiban yang berat yang membuat Anjar memutuskan untuk tidak menemani Erva.
"Ada pasien urgent Mas??"
Seakan akan Erva paham, resiko menjadi Dokter memang seperti itu.... pasien adakah nomer satu karena menyangkut nyawa seseorang.
"Iya, pasien aku kritis dan harus segera dioperasi.", jawab Anjar.
Erva tersenyum, dan memegang tangan Anjar, "Tidak apa, aku bisa berhenti di depan dan jalan kaki sebentar...."
"No, aku akan mengantar sampai depan Rumah Sakit...jangan jalan kaki, maaf ya..."
"Tidak masalah Mas, tidak perlu minta maaf.,"
Anjar membalas genggaman tangan Erva, ia tau kalau saat ini Erva sedang ketakutan karena akan bertemu dengan Keenan, terapi..Anjar bisa apa...ia tidak mungkin mengorbankan nyawa seseorang.
"Aku telpon Mona untuk nemenin kamu, pasti dia sudah selesai makan.", ucap Anjar tiba tiba dan entah darimana ia mendapat nomer Mona.
"Iya boleh, makasih Mas...."
Meskipun sedikit kecewa karena Anjar tidak jadi menemani nya, tetapi Erva senang karena Anjar memperhatikan dan memperdulikan nya.
Hingga mobil Anjar sampai di depan rumah sakit, dan otomatis mereka harus berpisah.
"Terimakasih atas semuanya, makan siang yang begitu enak dan luar biasa.",
"Dan semua nya tidak geratis loh!!"
"Tidak geratis,? dasar matre!!"
Mereka mencoba menghangatkan suasana, dan tidak membuat Erva semakin kepikiran saja.
"Iya donk, di dunia ini gak ada yang gratis dek."
"Lalu, aku haru bayar berapa coba?"
Pertanyaan Erva membuat Anjar berpikir keras, ia tidak mungkin meminta uang sebagai imbalan nya, dan...
"Bayar dengan nanti malam dinner dengan aku, bagaimana??"
"Oke, deal... nanti Mas kabari saja di mana nya..."
Erva langsung menjawab, ia tidak perlu berpikir kalau hanya permintaan makan malam saja.
__ADS_1