
Satu bulan kemudian
"Dek bangun."
Anjar membangunkan Erva dan tentu saja pagi ini Erva ada mata kuliah pagi dan Anjar membangunkan Erva dengan sangat pelan, tidak ingin membuat istrinya itu jadi kaget.
Tetapi dengan ucapan saja sepertinya Erva tidak mau bangun dan Anjar kembali membangunkan Erva dengan menciumi seluruh wajah Erva, terutama mencium bibir Erva yang membuat Anjar menjadi candu untuk menikmatinya lagi.
"Astaga kenapa badannya panas sekali."
Setelah mendaratkan ciuman di bibir Erva, Anjar baru sadar jika ia merasakan nafas Erva yang panas dan kenapa Anjar baru menyadari jika istrinya demam, padahal ia sendiri sebagai dokter pastinya sudah tahu betul dengan reaksi yang akan ditimbulkan oleh seseorang jika akan demam itu.
"Sayank, hai kamu kenapa?"
Perlahan Erva pembuka matanya, ia merasa pusing dan juga pening di kepalanya hingga akhirnya ia tidak kuat untuk sekedar bangun dari atas ranjang
"Pusing Mas, sepertinya aku tidak kuat untuk bangun dari sini. Dan tolong izinkan aku untuk tidak ke kampus."
Ya Erva emang begitu kalau ia merasa badannya tidak baik-baik saja tentunya tidak akan memaksa diri untuk beraktivitas yang pastinya ia trauma jika nanti terjadi apa-apa dengan dirinya di luar rumah ini yang tentunya akan membuat repot semua orang.
"Oke, biar aku cek dulu kamu ini kenapa. Aduh maafkan aku ya sayank sampai membuat kamu seperti ini."
Ya Anjar yang panik sampai lupa untuk memeriksa keadaan istrinya, ia sedari tadi hanya mengecek kening Erva saja dengan menempel kan tangannya di kening Erva tanpa melakukan apapun juga padahal Anjar sendiri mempunyai peralatan medis di rumah ini.
Anjar juga sadar kalau dirinyalah yang membuat Erva seperti ini karena semalaman penuh ia memangsa istrinya dan tidak memperbolehkan Erva untuk memakai pakaian, apa mungkin itu yang membuat istrinya jadi pusing dan juga masuk angin.
Anjar yang bingung langsung saja meninggalkan Erva kemudian mengambil peralatan medisnya untuk mengecek bagaimana kondisi istrinya, jika tidak memungkinkan maka ia harus segera melarikan Erva rumah sakit.
Dengan kemampuannya yang sebagai Dokter hebat, Anjar melakukan tugasnya mengecek satu persatu kondisi tubuh Erva dan terakhir Anjar menggelengkan kepala kemudian tersenyum tanda ia menemukan sesuatu yang sepertinya dugaannya benar tetapi untuk lebih tepat dan yakin ia harus membawa Erva ke rumah sakit.
Semoga benar apa yang aku pikirkan..
__ADS_1
Ya setelah mengecek kondisi tubuh Erva, tidak apa-apa hanya suhu tubuh nya yang naik dan juga Anjar lalu mengarahkan tangannya ke perut Erva, sedikit demi sedikit Anjar tahu bagaimana jika ia harus memeriksa seseorang yang mungkin di dalam pikiran Anjar sedang hamil dan pastinya Anjar tersenyum ketika menemukan sebuah titik terang di sana.
Ekspresi yang tadinya bingung sekarang berubah menjadi ceria karena Anjar yakin jika ada anak di dalam kandungan Erva dan meskipun ia belum melihat langsung kenyataannya tapi anda sudah yakin 100% jika Erva saat ini tengah hamil.
"Kita ke rumah sakit saja sekarang sayank."
"Ke rumah sakit? Aku tidak mau Mas, apa penyakitku separah itu?"
Ya yang Erva rasakan hanya pusing dan juga sedikit mual meskipun tidak sampai muntah-muntah di kamar mandi tetapi ia juga tidak kuat untuk bangun dari atas ranjang.
Tetapi melihat ekspresi wajah suaminya yang berubah-ubah dari yang tadi cemas hingga saat ini terlihat tenang tenang saja Erva juga menjadi was-was terlebih lagi Anjar akan membawanya ke rumah sakit dan pastinya ia yakin sekali jika ada sesuatu yang parah mengenai tubuhnya
"Hei berpikirlah yang positif, tidak semua orang dibawa ke rumah sakit itu parah dan untuk memastikannya kamu sekarang kenapa memang aku harus membawa kamu ke rumah sakit, sudah sayank jangan menolak."
Setelah Anjar menghubungi pak sopir yang ada di rumah ini langsung saja ia menggendong tubuh istrinya kemudian keluar dari kamar dan langsung turun ke bawah.
Anjar langsung memerintahkan Pak sopir itu untuk mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap dokter kandungan terbaik yang ada di rumah sakitnya itu masih berada di sana meskipun Anjar sendiri sudah menghubungi dokter itu namun ia tidak tahu karena jalanan yang macet akan membuat ia sedikit terlambat berada di rumah sakit dan pastinya Anjar juga takut jika dokter itu sudah pulang karena terlalu lama menunggu dirinya.
Ya sebelum Anjar membawa Erva ke rumah sakit, laki-laki itu sudah menelpon Dokter kandungan terbaik di rumah sakit, tentu saja ia menjelaskan apa yang sudah diperiksa dan Anjar yakin jika istrinya saat ini sedang hamil.
Dokter kandungan yang dihubungi oleh Anjar itu tentu saja menyarankan supaya Erva dibawa langsung ke rumah sakit dan diperiksa kemudian di USG supaya tahu apakah istri dari Dokter Anjar itu benar-benar hamil atau tidak.
Anjar mengangguk karena prediksinya saat ini kalau istrinya itu hamil dan tidak membawa Erva ke UGD melainkan langsung ke ruangan dokter kandungan yang dimaksud itu.
"Lho Mas, aku mau dibawa ke mana?"
Erva yang masih membuka matanya tentu saja bingung mengapa suaminya tidak membawanya ke UGD tetapi menuju ke ruangan dan Erva belum tahu ruangan apakah itu.
"Tenang dulu sayank, kamu tidak apa-apa aku hanya memastikan saja."
Anjar sendiri belum berani memberitahukan kepada Erva tentang dugaannya itu nanti saja setelah semuanya benar benar terbukti dan pastinya ia dan juga Eva akan mengetahui sebentar lagi.
__ADS_1
"Silakan dibaringkan ke sana Dokter, saya akan segera memeriksanya."
Anjar pastinya tidak sembarang memilih dokter kandungan untuk istrinya yang pasti dan penting adalah dokter kandungan itu seorang perempuan dan juga merupakan dokter kandungan terbaik di rumah sakit milik Anjar.
Ery yang bingung hanya pasrah saja, ia diam ketika dibaringkan di sebuah tempat dan di sana ada berbagai macam alat dan pastinya Erva yang cerdas tahu betul alat apa yang saat ini berada di depannya itu.
"Mas?"
"Iya sayank, dugaanku kamu hamil dan semoga saja benar maka dari itu aku membawa kamu ke sini ke dokter kandungan biar semuanya jelas."
Seakan-akan Anjar tahu apa yang dirasakan dan ingin ditanyakan istrinya hingga ia menjelaskan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Erva mengangguk, di dalam hatinya ia berdoa supaya apa yang diinginkan oleh Anjar dan juga dirinya terkabul kalau ada benih di rahimnya dan tentunya itu akan menambah kebahagiaan buat suaminya dan juga buat keluarganya nanti.
Dokter kandungan itu mulai mengoleskan gel kemudian menggerakkan sebuah alat di atas perut air payang mana alat itu bisa terdeteksi dan dilihat oleh layar monitor apakah ada tanda-tanda kehidupan seorang calon bayi di sana.
Anjar yang dari tadi sudah menggenggam tangan erva kemudian matanya tidak terlepas dengan melihat ke arah monitor yang sebentar lagi akan menampilkan sesuatu yang mungkin sudah ditunggu-tunggu oleh Anjar.
"Alhamdulillah."
Ya dugaan Anjar memang benar jika istrinya saat ini sedang hamil tanpa dijelaskan lebih lanjut lagi oleh dokter itu Anjar sudah tahu jika memang benar ada sebuah titik di dalam rahim Erva dan itu adalah calon anak dari Anjar sendiri.
"Alhamdulillah, Dokter Anjar bisa melihat sendiri di layar itu kalau ada sebuah titik di mana itu adalah calon dari anak dokter Anjar dan kondisinya saat ini baik-baik saja hanya mungkin ibunya yang masih terlalu muda hingga membuat kondisi dari Nyonya Erva sedikit tidak baik tetapi itu tidak masalah karena saya sudah memeriksanya dan dengan meminum vitamin dan juga mengurangi aktivitasnya akan membuat nyonya Erva baik baik saja dan tidak lemas."
Anjar tersenyum kemudian melayangkan ciumannya ke kening dan juga pipi Erva, apa yang ditunggu-tunggu ternyata tiba juga Anjar sudah lama menginginkan seorang anak di dalam kehidupannya dan dengan cepat Tuhan memberikannya itu.
"Sayank kamu dengan sendiri kan mulai sekarang kamu harus membatasi aktivitasmu kalau perlu kamu cuti saja dari kuliah dan tidak usah melakukan hal apapun saja hanya duduk dan diam saja di rumah karena kamu sekarang sedang hamil, hamil dari anak aku buah cinta kita."
Tentu saja Erva senang, ia bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tetapi tidak mungkin juga ia hanya duduk dan berdiam diri di rumah tanpa melakukan sesuatu apapun bukan masalah pendidikannya tetapi yang namanya Erva tidak mungkin kalau hanya berdiam diri di rumah tanpa pergi kemana-mana.
"Tapi Mas, aku."
__ADS_1
"Aku tahu tapi mungkin untuk beberapa bulan ini kamu harus menuruti apa yang dikatakan oleh Dokter Ika itu, semua demi kamu dan juga calon anak kita."