
Erva meninggalkan Keenan dan pergi ke toilet, ia juga tidak membawa tas dan juga ponsel nya, karena tidak mungkin untuk membawanya ke sana, Lagian juga tidak ditempati umum, hanya ada Keenan di sini.
Padahal , tidak tau saja kalau orang yang dianggap baik itu sebenarnya jahat, dan Erva tidak mengetahui nya.
Keenan mengambil ponsel Erva yang ada di tasnya, ia memang sengaja melakukan nya untuk membuat Erva dan Anjar gagal bertemu malam ini.
Jahat memang, tetapi Keenan tidak punya cara lain, Dokter Anjar lebih dari segala nya yang bahkan tidak punya cacat keburukan sama sekali dibanding dengan dirinya.
Keenan mengepalkan tangan nya, manakala ia melihat sebuah pesan yang baru saja masuk dan tertulis di sana kalau malam ini Anjar menunggu Erva di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah Erva.
Hatinya memanas, sakit rasanya saat melihat sendiri bagaimana perhatian nya Dokter Anjar bahkan tidak seperti yang ia pikirkan sebelum nya....
Bukan berniat jahat sebenarnya, Keenan juga tidak menghapus pesan dari Anjar tetapi berniat untuk mematikan ponsel Erva....
Tetapi sebelum dimatikan, rupanya Dokter Anjar menelpon Erva dan dengan cepat tangan Keenan menggeser tombol merah yang artinya menolak panggilan dari Dokter Anjar.
Bukan hanya sekali dua kali, bahkan sudah hampir lima kali Anjar menelpon nya dan dengan cara yang sama pula, Keenan menolak panggilan Anjar, lalu ponsel nya langsung mati.
Keenan tersenyum, ia tidak perlu mematikan ponsel Erva, ponsel itu sudah mati. Lalu menaruh kembali ke dalam tas dan ia juga pura pura tidur saja.
Erva kembali, ia melihat Keenan yang sudah tidur dan itu artinya Keenan tidak membutuhkan nya lagi, tetapi tidak mungkin meninggalkan Keenan sendiri karena ia melihat Anto tidak ada di depan.
Satu jam kemudian, Erva lega karena melihat Mami Arin yang datang dengan Papi, dan juga Anto yang sudah ada di luar. Dengan cepat, Erva pamit pulang karena sudah malam dan juga ia ada janji dengan Anjar yang entah jadi apa tidak..
"Aku pulang ya Tante, Kak Ken sudah makan dan juga sudah minum obat."
Memang seharian ini Erva seperti perawat pribadi nya Keenan yang menemani dan juga menyuapi serta mengurus semua yang diperlukan oleh Keenan.
Dan kini setelah kedua orang tuanya Keenan datang, Erva langung permisi.
"Oh ya, biar diantar Anto saja, ini sudah malam ."
"Iya Tante boleh .."
Tidak menolak, karena memang sudah malam dan juga tidak mau telat untuk bertemu dengan Anjar nantinya.
"Aku permisi dulu."
__ADS_1
Erva tidak pamitan sama Keenan karena ia melihat Keenan yang masih terlelap. Ia pun langsung keluar untuk menghampiri Anto yang ternyata sudah siap di depan..
"Mari Nona.", Erva mengangguk dan langsung mengikuti Anto yang sudah lebih dulu berjalan di depan.
"Langsung pulang atau mau mampir ke mana dulu ?", tanya Anto sopan, siapa tau Erva ingin ke mana dulu..
"Tidak, om...aku langung pulang saja....tau alamatku??"
Anto mengangguk, ia sudah tau bahkan hafal alamat Erva, karena setiap hari Anto lah yahh mengantar Keennan untuk sekedar lewat rumah Erva..
"Wow....hebat sekali Dokter Keenan yang sudah memberitahu kepada Om, dimana alamatku."
Wajar saja sebenarnya, karena Anto adalah asisten nya Keenan jadi apa apa Anto pastinya tau.
Perjalanan tidak lama dan juga jalanan tidak macet tetapi mengapa Erva belum sampai di rumah nya, padahal sudah hampir tiga puluh menit, tetapi...masih ada di jalanan.
"Kenapa mobil nya, Om?"
Sejak keluar dari Rumah Sakit, sebenarnya Erva sudah resah dengan laju mobil yang dimaui oleh Anto, tidak bisa jalan cepat ..hanya pelan pelan bahkan bisa dibilang sangat pelan.
Glekk...
Mogok?? astaga..
Erva menepuk keningnya, kenapa bisa seperti ini dan kebetulan sekali mobil yang di tumpangi oleh Erva mogok, mau tidak mau... Erva pasrah dan menunggu, karena tidak mungkin ia naik taxi dengan keadaan yang sepi seperti ini.
Erva mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, ia mencoba untuk menghubungi Anjar atau siapalah yang bisa menjemput nya.
"Astaga!! mati.."
Erva pasrah, ia tidak bisa berbuat banyak lagi karena ponselnya mati. Mau meminta tolong kepada siapa lagi, yang nyatanya tidak ada yang bisa ia hubungi.
Diam, Erva hanya diam sembari menunggu Anto membetulkan mobil nya. Dan memang tidak ada yang dilakukan Erva lagi selain menunggu....
Satu jam kemudian, Anto sudah selesai membetulkan mesin mobil nya yang tiba tiba mati. Laki laki itu langsung menghampiri Erva yang sudah memejamkan matanya.
Tidak mau mengganggu, Anto melajukan mobil nya pelan supaya Erva tidak bangun.
__ADS_1
Dan setelah beberapa menit mengemudi, Anto sudah sampai di depan Rumah Erva.
"Non, bangun sudah sampai.", ucap Anto sedikit keras supaya Erva bangun.
Anto tidak mungkin menempelkan tangan nya ke wajah ataupun tubuh Erva apalagi menggendong nya
"Om, sudah sampai??"
Erva mengerjap ngerjapkan matanya, ia melihat ke sekeliling yang ternyata sudah berada didepan rumah nya.
"Oh..aku turun ya Om, dan terimakasih."
Erva bergegas turun, ia sedikit lari karena mengingat pertemuan nya dengan Anjar yang belum tau di mana nya. Dan juga, ponsel nya yang mendadak mati karen batre habis.
Sesampainya di kamar, ia segera mengisi baterai lalu masuk ke kamar mandi. Perasaan Erva sudah tidak enak, gadis itu bahkan tidak lama untuk mandi...hanya beberapa detik saja lalu keluar dari kamar mandi..
"Astaghfirullah...."
Erva kaget, ia melihat jam berapa sekarang dan juga melihat ke arah ponsel nya jam berapa Anjar mengirimkan pesan.
"Tidak!!"
Ia tau kalau ini sudah lebih dari terlambat, bahkan sangat yakin sekali kalau Anjar pasti sudah dari restoran.
Dengan cepat, Erva mengambil kunci mobil yang memang sudah berada di dalam kamar nya, yang tadi mobil nya ia minta untuk supir ambil di Rumah Sakit tempat Anjar bekerja.
"Maafkan aku, Mas "
Menyesal, ia tau kalau salah dan tidak memberikan kabar apapun juga dengan Anjar, tetapi..ia sama sekali tidak sengaja melakukan nya.
Tidak lama, mobil yang dikemudikan oleh Erva sudah sampai di restoran di mana Anjar tadi mengirimkan pesan untuk malam ini makan di sana.
Dan seperti yang ia duga, kalau Anjar sudah pergi dan tidak ada lagi di sini mengingat mobil Anjar yang tidak ada diparkiran depan..
Erva keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran, lebih tepatnya menanyakan apakah Dokter Anjar ada di sini atau tidak.
"Mbak, meja atas pesanan Dokter Anjar?", tanya Erva.
__ADS_1
"Ada di private room, tapi maaf.. Dokter Anjar baru saja meninggalkan tempat ini, kata beliau tidak jadi makan di sini, karena yang di tunggu tunggu tidak datang.".
Deg...