Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Menangis


__ADS_3

Erva menampilkan senyuman yang menawan, gadis cantik itu berusaha sekuat tenaga dan hatinya untuk tetap tenang dan juga tetap waras.


Ia tau, ini adalah keinginan nya. Ia sendiri yang menginginkan untuk datang ke sini, melihat semua nya secara nyata dan langsung dengan matanya sendiri.


Padahal, Mona sudah memperingatkan nya supaya tidak datang ke acara Keenan, tetapi...gadis cantik itu tetap datang,


Menata hatinya, ketika Erva sudah sampai di atas pelaminan.


Ia tersenyum, dan melirik sekilas ke arah Keenan, tetapi...lebih dulu menghampiri kedua orang tua Keenan.


."Sayank..."


Mami Arin memeluk Erva, beliau mengusap punggung Erva dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan Keenan, dan juga maafkan Mami ..."


Tidak berubah, bahkan wanita yang tidak muda lagi itu masih memanggil diirinya dengan Mami, seakan-akan tidak ada yang berubah setelah ini


Erva melepaskan pelukannya, ia sendiri sedih tidak menjadi menantu Mami Arin, wanita yang sangat baik, penyayang dan sabar.


"Bukan salah Tante ataupun Dokter Keenan, semua sudah takdir...aku dan Dokter Keenan tidak berjodoh.", ucap Erva dengan melirik sekilas ke arah Keenan.


Erva sudah merubah panggilannya, bahkan dengan Keenan sekalipun...ia tidak lagi memanggil dengan sebutan Mas, seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.


Apa hati kamu sehancur itu Beb, hingga kamu tidak mau manggil aku lagi dengan Mas?? maaf....aku harus memilih... meskipun hatiku juga masih mencintai mu, tetapi...rasa ini berat untuk Amira....


"Jangan panggil Tante sayank, panggil Mami seperti dulu lagi. Meskipun kamu tidak jadi dengan Keenan, tetapi...Mami tetap anggap kamu sebagai anak Mami sendiri, jadi jangan sungkan sungkan cerita sama Mami..."


Bukan karena kasihan dengan Erva, tetapi... memang Mami Arin sayang banget dengan Erva, dan dari pertama bertemu, ia sudah menganggap Erva seperti anaknya sendiri.


"Iya Mi, maaf...."


Tidak ingin berlarut-larut dengan mantan calon mertua nya itu, Erva akhirnya ngikut saja, lagipula belum tentu juga ia akan bertemu dengan Mami Arin lagi, pikirnya.

__ADS_1


Setelah bersalaman dan pelukan dengan Mami Arin, Erva beralih pada Papi nya Keenan.


Beliau juga memeluk Erva dan membisikkan kalimat yang memenangkan hati Erva.


"Kamu gadis yang baik, percayalah suatu saat pasti akan menemukan yang lebih baik dari laki laki brengseekkk itu...",


"Atau mau, Papi jodohkan dengan anak teman Papi?? tidak kalah ganteng dari Keenan.", bisik Papi lagi di telinga Erva yang malahan membuat Erva tertawa.


"Hahaha....boleh Pi, tapi dikenalin saja dulu .. siapa tau nyantol...", jawab Erva yang ingin mencairkan suasana, padahal ia sama sekali tidak ingin berkenalan dengan laki laki yang hanya memberikannya luka.


"Beres nak, nanti Papi atur. Baik baik kamu, jangan kesehatan "


Sama seperti Mami Arin, Papi nya Keenan juga sangat menyayangi Erva.


Dan kini, tibalah saatnya Erva berhadapan dengan Keenan, laki laki yang sudah memberikan nya bahagia sekaligus juga memberikannya luka.


Grepp..


Tanpa aba aba, Dokter Keenan langsung saja menarik tangan Erva, dan memeluk gadis cantik itu. Erva yang tidak siap, hanya pasrah di tarik dan di peluk oleh Keenan.


Erva berusaha melepaskan pelukan dari Dokter Keenan, tetapi pelukan nya sangat erat dan Erva tidak bisa melepaskan.


"Maafkan Mas....Mas yakin kalau kamu pasti akan mendapatkan laki laki yang lebih baik dari Mas...Mas sayank kamu, Beby...", bisik Dokter Keenan lirih sebelum ia melepaskan pelukannya.


Erva hanya melotot, apa apaan ini...sudah menikah tapi masih mengucapkan kata sayank...oh tidak!!!...


Dari sini, Erva tau kalau Keenan memang laki laki plin plan, laki laki yang tidak baik untuk nya, dan bersyukur...semua sudah di perlihatkan sebelum terlambat.


Tidak ingin terlena dengan ucapan dari Dokter Keenan, Erva memasang wajah yang biasa biasa saja.


Erva tersenyum, seperti tidak terjadi apa apa, dan ia juga menyembunyikan kesedihannya di depan Keenan.


"Selamat menempuh hidup baru ya Pak Dokter Keenan Hardikusuma, maaf...aku adalah tamu yang tidak diundang... tetapi... Dokter jangan sekali, tidak mengundang aku....."

__ADS_1


Erva memberikan selamat kepada Keenan, bahkan ia menyebutkan nama Keenan secara lengkap dan juga tidak meneteskan air mata nya sedikit pun, berusaha untuk tetap tegar dan tidak bersedih di depan Keenan.


Keenan hanya mengangguk, ia tidak bisa berkata kata lagi, yang memang sengaja tidak mengundang Erva, karena tidak ingin melihat gadis cantik itu bersedih.


Setelah mengucap selamat kepada Keenan, kini Erva beralih kepada Amira, wanita yang secara tidak langsung sudah merebut Keenan.


"Selamat ya Kak...."


Amira tidak menjawab, ia malahan memeluk Erva. "Makasih, dan maaf...gara gara aku kembali, kamu dan Keenan...."


Erva segera melepaskan pelukan Amira, ia langsung menggeleng..."Tidak Kak, semua sudah takdir.....aku dan Dokter Keenan tidak berjodoh, dan kisah kamu hanya sampai di sini saja.."


Ucap Erva bijak dengan melirik lagi ke arah Keenan yang pastinya juga mendengar apa yang diucapkannya.


Tidak perlu basa basi lagi, Erva segera turun dari pelaminan yang membuat nya sesak dan tidak bernafas.


Setelah sampai bawah, Erva bergegas keluar dari ballroom hotel, dengan air mata yang sedari tadi sudah dipendam nya.


Hiks...hiks ...hikssss ...


Akhirnya, air mata Erva tumpah juga. Ia hanya seorang wanita biasa yang mempunya hati dan perasaan, diluar terlihat tegar... tetapi dalam nya rapuh.


Tidak dipungkiri, rasa sakit hatinya kembali menyerang. Ia sudah berusaha untuk kuat, tetapi...apalah daya... kekuatan nya hanya sampai di depan Dokter Keenan saja.


"Kenapa seperti ini?? kalau tau begini, aku tidak akan datang....",


Rupanya Erva sangat menyesal telah datang ke acara ini, ia merutuki diirinya sendiri...yang malahan terpuruk setelah melihat kenyataan nya.


Erva, gadis cantik itu masih duduk menyendiri, di sebuah bangku kecil di depan hotel. Bukan nya tidak ada yang tau, bukan seperti itu. Bahkan Romi dan Papah Bram tau dan ingin menyusul nya, tetapi... setelah di pikir pikir... mereka membiarkan Erva untuk menangis sebentar saja, dan mungkin untuk yang terakhir kalinya.


Kedua laki laki itu kemudian kembali masuk ke dalam, baik Papah Bram maupun Romi tidak akan mengganggu Erva, dan mereka yakin kalau Erva tidak akan berbuat macam-macam.


"Tidak baik gadis cantik menangis."

__ADS_1


Anjar yang baru datang, mau masuk tetapi ia urungkan niatnya karena melihat sosok gadis yang ia jumpai di Bandara dan juga ada di sini


Laki laki itu juga menyodorkan sapu tangan nya untuk menghapus air mata yang membawahi wajah cantik Erva.


__ADS_2