Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Tidak Tega


__ADS_3

"Mas di bawah...."


Deg


Erva mengucek matanya....ia yang masih ngantuk tiba tiba langsung membuka matanya lebar-lebar, salah sendiri...masih merem sok Sokan angkat telpon dan sekalinya diangkat malahan bingung kelabakan.


Erva tidak salah dengar, bahkan suara itu masih teringat jelas di dalam ingatan nya .. bagaimanapun dan apapun yang terjadi...laki laki itu pernah berada dalam hatinya yang paling dalam.


Apalagi tadi pagi, ia baru saja bertemu... entah pertemuan seperti apa tadi pagi ..apa itu berkesan atau tidak....Erva tidak memikirkan.


Baginya.... bertemu dengan Dokter Keenan ia anggap biasa biasa saja, dan lebih menekankan pada Dokter Keenan yang nantinya tidak menghubungi dan meminta untuk bertemu lagi.


Tetapi, kenapa sore ini Keenan menghubungi nya....yah tidak salah lagi...itu adalah suara Keenan. Meskipun laki laki itu sudah mengganti nomer nya berkali-kali, tetapi...Erva hafal dengan suaranya.


"Beby...Mas di bawah...."


Erva menggeleng pelan, ia tidak percaya begitu saja kalau Keenan ada di bawah...bahkan sudah ia bilang tadi pagi kalau tidak perlu ke rumah...untuk apa?? bukankah Keenan sudah menjelaskan.


Erva menyibak selimut nya, turun dari ranjang tanpa peduli dengan penampilan yang habis bangun tidur. Toh juga wajar saja karena masih memakai pakaian lengkap dan tidak seksi apalagi tidak bu****il.


Dengan keadaan yang masih setengah setengah....Erva menuju ke balkon kamarnya yang otomatis langsung bisa melihat ke depan.


Dan memang benar.... Erva melihat Keenan yang masih berdiri di pos satpam di depan gerbang...yang seperti nya tidak diijinkan masuk.


Yah, setelah kejadian satu tahun yang lalu di mana Keenan terakhir kali datang ke rumah Erva....Papah Bram memendekkan pesan pada satpam yang berjaga di depan untuk tidak mengijinkan Keenan masuk, apapun keadaan nya dan juga alasannya.


Dan hingga saat ini ... pak Satpam benar benar mengingat apa yang disampaikan oleh Papah Bram.


"Ternyata benar, ngapain??"


Tidak mungkin berteriak.... gadis cantik itu hanya melihat dari tas balkon kamar nya saja....di mana Keenan masih berada di depan dengan pandangan mata yang mengarah pada Erva..


Nampak dari balkon, Dokter Keenan tersenyum dan melambaikan tangan nya dan berharap kalau Erva mau turun dan menemui nya.

__ADS_1


Erva menggeleng pelan..bukan bermaksud untuk tidak sopan pada Tanu yang datang yang akan bertemu dengan nya, tetapi..untuk apa lagi Keenan menemui nya, kalau tadi pagi saja sudah bertemu dan Keenan sudah menceritakan semua yang terjadi pada Keenan.


Dan juga, Erva melihat mobil Papahnya di halaman, dan itu berarti Papah Bram sudah pulang. Tidak mungkin Keenan datang dalam situasi yang seperti ini, di mana yang ia tau .. kedua orang tua nya masih sangat membenci Keenan meskipun sudah memaafkan laki laki itu.


Erva tidak mau kalau Keenan sampai nekad masuk yang nantinya akan bertemu dengan Papah Bram, takut kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Apalagi memang niatnya Keenan datang ke sini untuk bertemu dengan Papah Bram dan untuk meminta Erva, juga meminta untuk merestui hubungan Keenan dan Erva lagi.


"Tidak!!!"


Erva menggeleng, dan seharusnya Keena paham. Tetapi, laki laki itu masih terus berdiri di depan gerbang dengan menggelengkan kepala nya ...yang bermaksud tidak ingin pergi sebelum Erva turun atau setidaknya Keenan bisa masuk ke dalam.


"Please..."


Keenan mengatupkan tangan nya untuk memohon kepada Erva, dengan suara yang tidak mungkin terdengar oleh Erva tetapi...Erva sangat paham.


Keenan terlihat sangat memohon bahkan kalau bisa ia berteriak akan dilakukan.... tetapi.. sayang sekali...Keenan masih waras dan masih menghargai Erva serat kedua orang tuanya hingga memutuskan dengan bahasa isyarat saja.


"Pergi Kak, pergi...."


"Tidak Er....."


Keenan masih saja menggeleng, ia tidak mau pergi dari sana sebelum bertemu dengan kedua orang tua Erva, dan meminta maaf.


Erva tetap menggeleng dan meminta untuk Keenan pulang saja,. Lalu gadis itu masuk ke dalam kamar, kalau masih berdiri di balkon sama saja Keenan masih berharap supaya dibukakan pintu untuk masuk.


Tidak mempedulikan Keenan sama sekali, Erva masuk ke kamar lalu mandi. Gerah karena seharian yang beraktivitas ditambah pertemuan dengan kedua laki laki yang berbeda sifat membuat nya menguras energi dan tenaga yang sangat banyak san melelahkan.


Tiga puluh menit kemudian..... Erva sudah selesai mandi....ia mengganti pakaian nya dengan pakaian tidur rumahan, dan sama sekali tidak mengingat Keenan.


Jedarrr......Jedarrra.....


Suara petir menggelegar membuat Erva menutup telinga nya sesaat, dan setelah itu terdengar suara hujan deras yang turun tanpa diduga sebelumnya.

__ADS_1


Erva melangkahkan kakinya menuju balkon, ia melihat kalau pintu balkon belum ditutup yang membuat angin dengan bebas keluar masuk dengan sendirinya.


Deg


Kaget, tidak menyangka kalau Keenan masih berdiri di depan gerbang dengan hujan yang sangat deras dan juga petir yang masih menggelegar.


Erva menutup mulut nya, tidak menyangka kalau Keenan masih ada di sana dengan tubuh yang sudah basah kuyup...


Tidak tega rasanya, Keenan adalah manusia biasa meskipun profesinya sebagai Dokter tetapi....ia pasti nya akan sakit jika terlalu lama terkena guyuran air hujan.


Erva mengambil ponsel dan menelpon Keenan. Tidak tega membiarkan laki laki itu hanya berdiri saja di sana. Erva punya hati dan perasaan....ia juga pernah mencintai dan dicintai Keenan meskipun akhirnya tidak bisa bersama.


"Kak .. pulang!!!"


Erva menelpon Keenan, dan langsung diangkat oleh Keenan sendiri. Jangan pasa ngiri karena ponsel milik Keenan itu canggih, kena air tidak masalah ...anggap saja begitu.


"Tidak beb, Mas akan di sini sampai kamu memaafkan Mas...."


"Astaga ... akua sudah maafin Kamu Kak... pulanglah......"


"Tidak!! kamu belum maafin Mas... buktinya tidak meminta Mas untuk masuk ke dalam...."


Erva memejamkan mata, ia ingat yang sedang hujan hujanan itu adalah anak orang.... tidak mungkin membiarkan di sana sampai entah kapan. Erva juga bukan pawang hujan yang bisa dengan cepat menghentikan derasnya hujan dengan cepat...


Klik....


Erva menutup panggilan telponnya ... percuma saja kalau bicara lewat telpon, yang ada hanya rengekkan Keenan yang memintanya untuk masuk dan tidak mau pulang.


Dengan berat hati Erva keluar kamar....ia mengambil payung dan menghampiri Keenan. Terpaksa....demi kemanusiaan sebagaimana Keenan yang dengan sukarela menolong seseorang yang membutuhkan bantuan nya.


"Mau ke mana Er?...."


Deg

__ADS_1


Erva menghentikan langkah kaki nya, kaget dengan pertanyaan yang tiba tiba muncul tanpa ia tau kalau Papah Bram ada di ruang tengah.


__ADS_2