Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Kebenaran


__ADS_3

Hatinya kembali teriris ketika Anjar mendengar dokter perwakilan dari Kusuma hospital mengatakan kalau dokter Keenan sudah ada calon istri, dan tidak diragukan lagi pasti itu adalah Erva.


Ingin mencoba untuk tidak mendengar tetapi sayang sekali telinga dokter Anjar itu tajam lebih tajam daripada silet bukan mulutnya tetapi telinganya, bahkan ia sudah mencoba untuk mengobrol dengan salah satu teman dokter lainnya tetapi nyatanya telinga nya yang tajam itu masih saja mendengar bagaimana dokter-dokter di sana sedang memperbincangkan tentang keadaan dokter Keenan yang beredar kabar akan segera menikah.


Kalau tidak ada acara penting seperti ini, dokter Anjar juga enggan berada dalam situasi seperti ini ia lebih memilih untuk keluar tetapi sayang sekali keadaan memaksanya untuk tetap berada di sini bersama dengan dokter-dokter lain yang saat ini membuat telinganya panas.


Ya Tuhan haruskah aku mengalah? haruskah aku menerima semua ini, batin dokter Anjar.


Ekpresi wajah dokter Anjar memang terlihat biasa saja bahkan ia masih bisa tersenyum dan menyapa beberapa dokter muda di sana tetapi di dalam lubuk hatinya siapa tahu, hanya dokter Rico lah yang tau.


Ya perwakilan dari rumah sakit di mana pemiliknya adalah dokter Anjar, selain dokter Anjar sendiri ada Dokter lain yang ikut yaitu dokter Rico , yang memang datang terlambat dan meskipun dia baru saja datang tetapi ia juga mendengar semua pembicaraan yang mengarah pada dokter Keenan dan juga Erva


"Kamu harus tenang Itu semua tidak benar bahkan Aku tidak percaya kalau Erva secepat itu memutuskan untuk menikah dengan dokter Keenan", bisik dokter Rico yang juga mulai mendengar hal-hal yang berkaitan dengan dokter Keenan.


Entahlah , Ric ...aku juga tidak tahu.. ingin rasanya aku mengakhiri semua ini, hatiku sakit... perasaanku tidak tenang tetapi apalah daya aku hanya manusia biasa dan tidak lebih. Aku bingung , aku tidak harus berbuat apa.", jawab dokter Anjar yang juga berbisik di telinga dokter Rico.


"Bagaimana dengan saranku apakah kamu mau mempertimbangkannya dan menemui Erva untuk mencari tahu kejelasan tentang masalah ini dan kejelasan tentang hubungan kamu dengan dia?"


Dokter Anjar menggeleng, "Tidak, aku rasa sudah sampai disini saja. Aku memang pengecut, belum berjuang tetapi aku sudah menyerah. Aku sudah melihat buktinya sendiri, aku tadi melihat dia yang berada di dalam ruangan dokter Keenan dan mereka sangat mesra dan sepertinya memang apa yang aku pikirkan itu benar bahwa mereka sudah balikan dan mungkin juga akan segera menikah."


Dokter Rico menghela nafas kasar, memang menghadapi laki-laki dingin seperti dokter Anjar ini tidaklah mudah namun sayang sekali ia sendiri juga tidak dapat memaksa dokter Anjar untuk menemui Erva yang mungkin itu akan membuat hubungan dokter Anjar dengan Erva semakin membaik.


Dua jam telah berlalu pertemuan yang membuahkan hasil yang entah itu apa yang hanya diketahui oleh dokter-dokter di sana telah selesai.


Baik itu dokter Rico dan juga Dokter Anjar tidak ingin berlama-lama di sana bukan karena rumah sakitnya ataupun orang-orangnya seperti yang dipikirkan dokter Anjar tadi tetapi mereka masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Mau langsung ke rumah sakit atau kita bisa ngopi-ngopi dulu di kantin?", tanya Dokter Rico yang melihat sahabatnya itu sedari tadi hanya diam saja biasanya dokter Anjar itu paling aktif di antara semua dokter-dokter muda di sana tetapi saat ini entahlah mungkin memang benar patah hati bisa mengalahkan semuanya.


"Tidak, terima kasih kita langsung ke rumah sakit saja mungkin nanti bisa ngopi di sana.",


Aku tahu kamu tidak ingin berlama-lama di sini bahkan untuk sekedar melihat ke samping saja kamu enggan aku tahu semuanya kamu tidak bisa berbohong denganku batin dokter Riko.


...****************...


"Beb, Mas sudah kenyang ... di mana obatnya Mas ingin sembuh ..Mas ingin mengajak kamu jalan-jalan bukan seperti ini di tempat tidur seperti ini."


"Minumlah setelah itu aku pulang ya Kak masih ada tugas yang belum aku kerjakan."


Erva menyerahkan beberapa butir obat untuk dokter Keenan yang mana memang dari pagi laki-laki itu belum memakan obat sama sekali dan ia berpikir setelah ini ia akan pulang ke rumah tanpa harus menunggu orang tua Keenn datang terlebih dahulu toh juga di depan masih ada Anto yang siap 24 jam untuk menjaga Keenan.


Keenan tidak menjawab, ia lebih memilih mengambil obat dan meminumnya terlebih dahulu, masalah Erva ingin pulang atau tidak itu urusan belakangan yang penting ia harus minum dulu supaya terlihat menurut di depan Erva.


"Sudah ya Kak , aku mau pulang ini hampir malam ..aku banyak tugas... kamu tidak apa-apa kan sendirian? ada Anto di depan.", ucap Erva lagi yang mana tadi permintaannya belum dikabulkan oleh Keenan.


"Beb bisakah kamu menunggu Mas sebentar oh tidak bukan menunggu tetapi menemani Mas jalan-jalan. Mas bosan, hanya sebentar saja setelah itu kamu boleh pulang."


"Baiklah Kak , aku akan menemani Kakak jalan-jalan tapi janji ya setelah ini izinkan aku untuk pulang, insya Allah besok aku akan ke sini lagi. Tetapi kalau kakak tidak sembuh-sembuh.. aku juga malas datang ke sini , untuk apa susah susah aku rawat dua hari tapi kakak juga tidak ada perubahan sama sekali."


Keenan tersenyum, lalu laki-laki itu menggangguk tidak apalah malam ini dia tidak bisa melihat wajah cantik Erva yang penting hati Erva sudah tidak sedingin kemarin dan sedikit demi sedikit pasti akan membuka hati untuknya lagi.


"Sebentar, aku ambilkan kursi roda dulu, Kakak pasti pusing nantinya..dan aku tidak kuat untuk membawa Kakak kalau Kakak nanti pingsan."


"Tidak masalah, ambillah ... Mas tunggu di sini jangan lama-lama."


Erva keluar sebentar, sayang sekali kursi roda yang ada di dalam kamar Keenan entah ke mana dan mau tidak mau Erva harus mengambilnya dulu di depan.


Melihat kepergian Erva, Keenan mengambil ponselnya dan menghubungi Anto yang saat ini masih berjaga di depan.


"Bagiamana, apakah Dokter Anjar ada di sini?"


Dokter Keenan tau kalau hari ini dan jam ini ada pertemuan rapat antara pemilik rumah sakit yang ada di Indonesia, ia juga tahu kalau dokter Anjar akan datang dan pastinya sudah melewati ruangan ini.


"Bagus. Terus awasi dia dan pastikan dia nanti melihat aku dan Erva yang sedang berjalan mesra."


Dokter Keenan tersenyum setelah mendapatkan kabar dari Anto yang rupanya laki-laki itu memang sengaja ingin membuat dokter Anjar cemburu dengan membawa Erva jalan-jalan ke taman dan pastinya memamerkan sedikit kemesraan kepada dokter Anjar.


Ceklek...


"Ayo Kak, cuaca di depan sangat bagus keburu sore dan tidak enak lagi untuk dipandang", ajak Erva.


Dengan semangat empat lima, dokter Keenan mengikuti apa yang Erva katakan, memang disamping ia mempunyai rencana jahat ia juga ingin melihat pemandangan di sore hari di taman rumah sakit miliknya yang konon katanya kalau sore hari suasana di sana begitu indah dan nyaman.


"Terima kasih beb, kamu sudah membuatku nyaman dan bahkan Mas bisa lebih cepat sembuhnya."


Erva hanya tersenyum, bukan niat dirinya ingin membuat anak orang jadi terlalu berharap padanya. Tetapi kalau tidak begini mungkin dirinya tidak akan cepat pulang seperti semalam ditahan sampai akhirnya ada masalah dengan dokter Anjar.


Mereka berdua keluar dari ruang inap yang pastinya Erva berada di belakang dengan mendorong kursi roda, tidak ada obrolan sama sekali... yang terlihat hanya dokter Keenan sedikit tersenyum dan mencuri-curi tangan Erva untuk digenggam nya.


Deg


Erva menghentikan langkahnya sejenak, dari kejauhan ia sudah melihat kalau laki-laki yang akan dia temui dan mungkin akan berpapasan dengannya adalah dokter Anjar, dari jauh sudah kelihatan postur tubuhnya dan membuat Erva menggelengkan kepalanya saat ini.


"Astaga kenapa mesti bertemu di situasi seperti ini, dokter Anjar pastinya akan salah paham denganku dan apa yang harus aku lakukan?", gumam Erva lirih.


Berbeda dengan Erva yang ketakutan dan sedikit tidak bertenaga, dokter Keenan malahan tersenyum puas sama sekali. Rencana yang ia buat tersusun rapi, Dokter Anjar bisa melihat dirinya dan juga Erva saat ini.


"Ayo beb, ke buru nanti malam.... katanya kalau sore begini suasana taman sedang bagus-bagusnya."


Tau apa yang dipikirkan oleh Erva, ia juga sedikit kesal dan Cemburu... kenapa Erva masih saja memikirkan laki-laki itu yang jelas dari segi tampan jauh lebih tampan darinya daripada dokter Anjar tetapi ia tidak tahu kalau sebenarnya yang Erva cari bukan dari tampangnya saja tetapi juga dari dalam hatinya, tidak sadar kalau dulu dirinya sudah pernah mengkhianati bahkan sudah menikah dengan mantan pacar dan mencampakkan Erva..


"Mas....."


Sapa Erva, dan memang benar laki-laki yang saat ini berada di sampingnya adalah dokter Anjar dengan dokter Riko, mulutnya berkata dan menyapa dokter Anjar tetapi dokter Anjar hanya memalingkan wajah nya yang membuat hati Erva sakit, sakit sekali.


"Oh dokter Anjar, dokter Rico, senang sekali bertemu dengan kalian... kita mau ke taman mau ikut sekalian?", ajak dokter Keenan.


"Terima kasih Dokter Keenan,.tidak perlu karena kami sedang buru-buru masih ada pekerjaan yang harus kami selesaikan, permisi."


Yang menjawab pertanyaan dari dokter Keenan bukanlah dokter Anjar tetapi melainkan dokter Rico, laki-laki itu tahu bagaimana perasaan dokter Anjar saat ini. padahal baru saja tadi di dalam ruangan telinganya panas mendengar bisik-bisik yang menyebabkan hati Anjar sakit., eh kini malahan melihat yang seharusnya tidak dilihat.


"Permisi dek, dan kita perlu bicara 4 mata.. aku akan menghubungimu.", ucap Dokter Rico pelan tanpa orang lain mendengar nya.


Erva hanya mengangguk, ia juga tidak mengatakan apa-apa lagi.. percuma saja dirinya sudah menyapa dokter Anjar tetapi ternyata dokter Anjar hanya cuek bahkan tidak mau menatapnya sama sekali.


"Kamu harus sabar An, semua pasti ada penyelesaian."


"Penyelesaian yang bagaimana lagi, tidak ada yang perlu diselesaikan lagi aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi ...ah ya aku lupa memang kita tidak ada hubungan apa apa...."


"Apa kamu yakin mau melepaskan Erva begitu? saja apakah kamu tadi tidak melihat bagaimana ekspresi wajah Erva a?"


"Bagaimana mungkin aku tidak yakin kamu sendiri saja melihat Erva dan juga Keenan berjalan bersama, apa itu tidak cukup untuk membuktikan kalau mereka sudah balikan dan mungkin akan menikah seperti yang dibicarakan oleh orang-orang tadi."


"Jangan seperti itu , itu hanya kata-kata dari orang-orang yang mungkin kebenaran nya belum terbukti, kamu bahkan belum mendengar sendiri dari mulut Erva."


"Tidak perlu membahas yang tidak tidak, bagaimanapun aku dan dia sudah tidak ada hubungan lagi dan kita fokus saja untuk pekerjaan."


Dokter Ricoo mengalah, sama seperti tadi... membujuk Anjar itu butuh waktu dan untuk saat ini fokusnya bukan ke Anjar lagi tetapi ke Erva, bahkan dokter Rico sudah mempunyai niatan untuk menemui Erva. Bagaimanapun ini semua harus jelas tidak seperti yang kata-katanya terus.


Kita tinggalkan dokter Anjar yang galau, saat ini... di sebuah taman terlihat dokter Keenan sedang tersenyum manis menatap wajah cantik Erva yang berada di sampingnya.


"Aku kangen dengan situasi seperti ini, di mana dulu kita selalu bersama-sama.. Mas menjemputmu dan kita berjalan-jalan di taman kota, kamu masih ingat?"


Erva mengangguk, bagaimana dia bisa melupakan masa-masa indah dulunya yang mana hanya ada Keenan seorang, tetapi semuanya itu harus hilang karena Keenan dengan teganya sudah menghianati cintanya dan memilih untuk menikah dengan sang mantan pacar.


"Bagaimana kalau kita ulangi masa-masa indah itu dulu, Mas sangat mencintaimu dan berharap kita bisa bersatu lagi."


Sepertinya dokter Keenan memang tidak bosan untuk menyatakan cinta kepada Erva, ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan seperti pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan untuk negara Indonesia tercinta.


Erva tersenyum , memang ia sudah memaafkan dokter Keenan tetapi untuk menerima lagi dan menjalin hubungan seperti dulu ia tidak bisa. cukup hanya sebuah pertemanan yang terjalin indah seperti saat ini hatinya sudah ikhlas sudah berteman baik dengan Keenan dan tidak akan menganggap Keenan seperti musuhnya lagi.


"Maaf, aku hanya menganggap Kakak sebagai teman saja apa boleh?"


"Kalau kamu bertanya boleh apa tidak jawabanku adalah tidak boleh, Mas tidak ingin berteman...Mas ingin menjalin hubungan yang serius dengan kamu apa kita bisa menjalinnya lagi?"


"Aku___."


"Mas akan menunggu mu."


Keenan dengan cepat menyela ucapan yang akan diucapkan oleh Erva dan ia masih bersikeras untuk mendapatkan cinta Erva, bahkan untuk menunggu sampai nantinya Erva luluh dan mau menerima nya


"Bukan seperti itu Kak...."


"Mas akan tetap menunggumu, Mas tahu kamu belum siap dengan semuanya ini."


Tidak ada obrolan lagi di antara keduanya, Erva lebih memilih diam bahkan di dalam pikirannya saat ini bukanlah dokter Keenan tetapi melainkan dokter Anjar. Ya ia tau dokter Anjar akan semakin membencinya setelah melihat pemandangan yang tidak ia sangka-sangka sebelumnya.


"Besok kuliah jam berapa?"


Mengapa masih bertanya, padahal sebenarnya sudah tahu jadwal kuliah Erva, tetapi untuk basa-basi supaya tidak terjadi saling diam antara keduanya , dokter Keenan memilih untuk bertanya.


"Aku kuliah pagi, Kak...jam tujuh..kenapa?"


"Oh tidak tidak kenapa-napa kamu mau pulang setelah ini?"


"iya boleh ya ? kan aku sudah menemani Kakak di sini."


"Baiklah seperti biasa ya Anto akan mengantarkanmu sampai rumah Mas tidak ingin kamu naik taksi atau semacamnya, tidak baik anak gadis sore-sore berkeliaran di mana-mana harus menurut ... ini paksaan dan Mas tidak menerima bantahan sedikitpun."


"Oke.... aku bantu,, ini sudah hampir malam.. tidak baik malam malam kita berada di sini, nanti yang ada ada setan yang mengikuti."


"Hahaha kamu tidak berubah Beb, kamu masih saja takut dengan setan."


"Bukan takut , aku hanya berjaga-jaga lagian juga tidak baik hampir petang kita ada di sini takutnya nanti mami kamu nyariin."


"Iya ayo Beb."


Keenan mengalah, sore ini mau tidak mau ia harus merelakan Erva untuk pulang ke rumahnya, tetapi di dalam hatinya ia bersorak girang karena apa yang sudah direncanakannya tercapai.


Licik sekali memang dokter Keenan saat ini, ia bahkan tidak mau tau perasaan orang lain yang ia pikirkan adalah perasaan dirinya sendiri bahkan perasaan Erva pun tidak ia pikirkan.


"Kakak mau aku ambilkan apa atau mau ingin apa dulu sebelum aku pulang?"


Entahlah kenapa Erva saat ini terlihat lebih baik dengan dokter Keenan, apa ia sudah menyerah dan ingin menerima cinta dokter Keenan lagi? Jawabannya pasti tidak.. ia tidak ingin menyimpan dendam lama-lama dengan laki-laki itu yang mana kalau semakin dijauhi laki-laki itu akan semakin mendekat dan membuat hidupnya hancur berantakan.


"Terima kasih Beb, Mas tidak butuh apa-apa ... dengan kedatanganmu di sini saja Mas sudah senang dan Mas pastikan besok Mas akan sembuh..."


"Awas aja kalau besok tidak sembuh aku tidak mau menjenguk Mas di sini lagi oke....."


"Coba ulangi apa tadi kamu bilang, Mas.... Mas kangen sekali dengan panggilan seperti itu Beb coba di Beb ulangi sekali lagi....."


Mulut Erva keceplosan memanggil Keenan l dengan sebutan Mas entahlah hatinya memang sedikit masih terpaut dengan hati Keenan tetapi ia langsung buru-buru untuk meralatnya.


"Ah tidak, aku tidak mau Kak itu hanya sekali saja dan aku tidak mau ralat permisi ya , Om Anto sudah di depan kan?"


"Iya hati-hati dan sekali lagi terima kasih, I love you beb."


Erva tidak menjawab, ia hanya tersenyum manis bukan juga memberikan harapan karena senyumannya cuma ingin menghargai saja. Perasaan orang itu tidak bisa digantikan dengan apapun juga,

__ADS_1


"Aku pulang, tidak mungkin kan aku nanti naik taksi sendirian nanti Om bisa bisa dipecat beneran sama bos Om..."


"Iyalah Om, aku juga tidak mau dipecat, ayo non akan aku antar sampai tempat tujuan...."


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan lagi antara Erva dengan Anto yang mana mereka memang sama-sama tidak akrab bahkan baru mengenal dua hari ini selama Erva berada di rumah sakit.


Kenapa mobil yang dikendarai oleh om ini jalannya seperti biasanya? bukan seperti kemarin malam dan apakah yang dikatakan oleh Mona memang benar kalau ada sesuatu antara Anto dengan dokter Keenan yang memang sengaja mereka sudah merencanakan untuk menghalangi pertemuanku dengan dokter Anjar, batin Erva.


Erva mulai curiga walaupun hanya sebatas laju dari mobil yang dikemudikan oleh Anto tetapi ia sudah bisa berpikir dengan cerdas dan mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Mona tadi siang kalau pasti di sini ada unsur kesengajaan.


Apalagi ia yang tadi siang tidak sengaja bertemu dengan dokter Anjar yang berada di rumah sakit ini, kebetulan? tidak mungkin.. tidak ada semua di dunia ini yang kebetulan pasti semua sudah direncanakan.


Bagaimana aku harus mengatakan kepada dokter Anjar kalau aku benar-benar tidak ada hubungan sama sekali dengan Dokter Keenan, dan pastinya dokter Anjar sudah mengira kalau aku kembali lagi dengan dokter Keenan, astaga ... aku harus bagaimana apakah malam ini aku harus bertemu dengan dokter aja tidak aku tidak mau kalau kedatanganku ditolak lagi dengan dia bahkan diusir mentah-mentah olehnya.... batin Erva lagi.


"Terima kasih Om dan maaf aku tidak mengajak Om masuk karena ini sudah malam pastinya Om juga tidak mau masuk kan?"


"Tidak apa-apa Nona saya langsung saja ke rumah sakit kalau kelamaan nanti juga malah dikiranya saya berniat macam-macam dengan Nona."


"Hahaha lucu sekali bos kamu Om , sebaiknya Om jaga-jaga saja dan siap-siap untuk menemukan pengganti bos yang baru karena bos Om itu nampaknya sudah gila..gila akut."


"Ah ..Nona bisa saja saya juga sebenarnya ingin seperti itu tetapi untuk menemukan bos baru yang gajinya sangat besar seperti Bos Keenan, itu jarang sekali Nona bahkan tidak ada.. makanya aku betah kerja dengan dia meskipun aku harus disuruh-suruh ke sana kemari tetapi tidak apalah demi pacar aku Nona demi kita bisa menikah tahun depan..."


" Kalau sudah cinta memang membutakan segalanya ya Om, sukses selalu dan kapan-kapan kenalkan aku dengan pacar Om... nanti tahu-tahu pacar om malah cemburu sama aku karena Om suka nganter jemput aku hahaha terima kasih selamat malam om...."


Anto hanya mengangguk dan benar juga apa yang dikatakan oleh Erva kalau lama-lama dirinya yang diminta Keenan untuk mengantar dan menjemput Erva nanti bisa-bisa pacarnya marah dan mengira kalau dirinya itu selingkuh dengan Erva lalu memutuskan untuk membatalkan pernikahannya tidak itu tidak bakal terjadi.


"Pah, Mah....", sapa Erva ketika melihat kedua orang tuanya sudah berada di ruang tamu, dan mungkin berniat untuk menunggu nya.


"Duduk dulu sayang ada yang mau papa dan Mama bicarakan sama kamu."


Erva menurut, ia duduk di depan Papah dan mamahnya dan sepertinya memang ada hal serius yang akan dibicarakan oleh kedua orang tuanya.


"Kamu menemui laki-laki itu Er?"


Tanpa dijelaskan lagi Erva paham laki-laki siapa yang dimaksud oleh Papahnya dan tidak lain dan tidak bukan adalah dokter Keenan.


"iya Pah, aku hanya menjenguk dokter Keenan saja tidak ada niatan lebih untuk hanya sekedar menjenguk dan itu juga mamanya dokter Keenan yang meminta aku untuk menjenguknya."


"Hanya sebatas itu saja?"


Erva mengganggu, ia tidak mungkin berbohong kepada orang tuanya yang sudah mengajarkannya untuk jujur sejak kecil meskipun hal-hal yang sifatnya pribadi pun Erva akan bercerita dengan kedua orang tuanya terlebih kepada mamanya.


"Apa kamu masih mencintai Keenan?"


Sulit bagi Erva untuk menjawab pertanyaan itu, pertanyaan yang sudah hampir satu tahun tidak ia dengar lagi dan kali ini mengapa harus orang tuanya yang menanyakan tentang pertanyaan yang sebisa mungkin akan ia hindari.


"Kalau boleh jujur masih ada nama dokter Keenan di hatiku Pah tetapi untuk kembali lagi padanya aku tidak mau , aku tidak bisa."


Entah tah jawaban yang Erva berikan itu membuat kedua orang tua senang atau tidak yang jelas ucapan Jujur dari anaknya membuat mereka tersenyum dan juga sekaligus lega.


"Kenapa?apa kamu masih ragu dengan Keenan?"


Papa Bram masih belum puas dengan pertanyaan yang diajukan oleh putrinya ia ingin lebih tahu lagi bagaimana perasaan sebenarnya Erva kepada Keenan.


"Bukkan hanya ragu Pah, Tetapi lebih tepatnya Aku tidak ingin lagi sakiti untuk kedua kalinya jika aku kembali lagi dengan Keeman Jujur saja sudah berulang kali dokter Keenann memintaku untuk kembali bahkan dia ingin menikahiku dengan cepat tetapi rasanya hatiku belum mantap."


"Papah mengerti, kamu sudah besar jika memang keputusanmu ingin balikan dengan dokter Keennan walaupun papa dan Mama berat hati menerimanya tetapi itu adalah keputusanmu, kamu yang menjalaninya."


Mau tidak mau kalau memang pilihan Erva jatuh kepada dokter Keenan. Baik Papah dan mamanya Erva tidak bisa berbuat apa-apa, mereka ingin melihat Erva bahagia bukan karena tekanan atau paksaan untuk menikah dengan laki-laki yang tidak Erva cintai meskipun papa Bram juga sama dengan Erva beliau masih ragu dengan ketulusan cinta yang dengan berikan untuk putrinya.


"Tapi sayang sekali pilihan Aku bukan Dokter Keenan lagi, Pah."


"Bukan Dokter Keenan lagi lalu siapa? apakah ada laki-laki lain yang sudah mengambil hatimu?"


Erva tersenyum ia juga tidak mengangguk lebih tepatnya bingung juga mau menjelaskan apakah perasaan yang dia rasakan selama itu untuk dokter Anjar itu benar adanya atau hanya sekedar mengagumi saja apalagi hubungan dirinya dengan dokter Anjar saat ini tidak baik-baik saja yang tidak mungkin juga ia menceritakan kepada kedua orang tuanya.


"Aku sendiri juga belum tahu Pah Mah... nanti saja kalau waktunya sudah tepat pasti aku akan cerita."


"Oj begitu ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja dulu ini sudah malam."


Kedua orang tua Erva memang tidak memaksa Erva untuk bercerita apalagi yang sifatnya pribadi karena beliau tau cepat atau lambat efek juga akan menceritakannya sendiri.


"Apa mungkin yang Erva katakan itu dokter Anjar Pah.", tanya Mama Hana setelah melihat Erva menaiki tangga.


"Mungkin juga selama ini papa juga tidak melihat Erva dekat dengan laki-laki lain kecuali Romi dan sepertinya bukan Romi laki-laki itu, Romi saja selama beberapa hari dia sibuk dan tidak berada di Indonesia."


"Mama berharap kalau laki-laki yang Erva ceritakan itu adalah dokter Anjar bukan masalah Mamah kenal dengan siapa keluarga dari dokter Anjar tetapi Mama melihat dokter Anjar itu lebih tulus daripada Dokter Keenan.."


"Sudahlah Pah, kita sudah membahas masalah ini... semuanya kita serahkan pada Erva tentu saja Putri kita bisa memilih yang terbaik diantara mereka."


...****************...


Erva masuk ke dalam kamar ia membuka tas dan menaruh ponselnya di atas ranjang setelah itu ia langsung masuk ke kamar mandi mandi dan kemudian tidur.


Sedikit berendam membuat pikiran Erva menjadi tenang dan ia akan melakukannya mungkin dalam waktu lima belas menit tidak lama, tetapi cukup untuk membuat pikirannya jadi lebih tenang dan tidak tegang seperti tadi.


Setelah puas berendam erpan keluar dan melihat ada panggilan dari nomor telepon yang terasa asing baginya.


"Hallo..."


"Inii aku Kak Riko."


"Iya Kak ada apa?"


"Bisakah kita bertemu? bukan malam ini tetapi besok bagaimana kamu ada waktu?"


"Aku ada waktu tetapi tidak lama karena besok jadwal kuliah aku padat sekali Kak bagaimana kalau kita bertemu jam makan saja tetapi juga jangan jauh-jauh dari kampus aku, di cafe dekat kampus aku aja gimana?"


"Oh ya Kak maaf kalau bisa jangan bawa dokter Anjar, aku belum siap bertemu dengan dia ..masih banyak permasalahan yang kami hadapi, untuk itu Aku tidak ingin bertemu dengan dirinya dulu.. cukup aku cerita sama kakak saja bagaimana bisa kan?"


"Tentu, tidak masalah ...aku juga tidak berniat untuk mengajak dokter Anjar yang nantinya malahan kalian hanya diam bukannya permasalahan selesai tapi malah memperpanjang masalahnya oke kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya selamat malam."


Sedikit merasa lega meskipun yang diajak bicara bukanlah dokter Anjar tetapi bicara dengan dokter Rico itu sudah lebih dari cukup karena dokter Rico itu adalah teman baik dari dokter Anjar dan pastinya besok ia akan menceritakan semua yang terjadi.


Terserah apa pendapat dari dokter itu yang pasti hanya dokter Riko lah yang bisa membantunya untuk baikan lagi dengan Dokter Anjar.


Tidak berharap untuk menjadi pasangan dari dokter Anjar tetapi keinginannya hanya satu hubungan dirinya dengan dokter Anjar itu baik-baik saja meskipun hanya sebagai teman tidak seperti ini hanya salah paham yang ia rasakan.


Malam ini pikiran Erva sudah kemana-mana tidak ada tugas yang perlu ia selesaikan tetapi kenapa pikirannya sekali ini bahkan untuk tidur saja gadis itu tidak bisa memejamkan mata padahal matanya sudah sangat pedih sekali.


Bayang-bayang dokter Anjar sore tadi masih tersimpan di dalam ingatannya di mana tatapan mata tajam laki-laki itu mengarah padanya yang mengisyaratkan suatu kebencian dan juga permusuhan.


Tidak dipungkiri 2 hari berada dalam fase seperti ini membuat hidup Erva jadi tidak tenang makan tidak enak tidur pun tidak nyenyak entahlah apa ia memang benar-benar jatuh cinta dengan laki-laki dingin itu.


Hingga pagi menjelang suara alarm membuat terbangun dari tidurnya iya yang memang sengaja menyetel alarm supaya tidak terlambat untuk berangkat ke kampus.


Tidak butuh waktu lama gadis itu segera bangun lalu pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk ke kampus karena dosen pagi ini sangat telat 5 menit saja sudah tidak bisa masuk ke kelas.


"Pagi Mah, Pah....", sapa Erva.


Erva yang sudah cantik meskipun tidak memakai pakaian yang mahal dan juga tidak memakai make up yang tebal ia langsung turun untuk menyapa kedua orang tuanya yang sudah ada di meja makan tanpa melihat sekelilingnya yang sudah duduk seorang laki-laki yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.


"Mas tidak disapa, Beb?"


"Eh...."


Dari mana Keenan pagi-pagi bisa berada di tempat ini bukannya semalam dokter itu masih berada di rumah sakit tetapi kenapa pagi-pagi buta begini bisa ada di sini.


...****************...


Erva kaget, mengapa tiba-tiba pagi-pagi seperti ini dokter Keenan sudah ada di sini padahal yang ia tahu bukannya dokter Keenan masih berada di Rumah Sakit apakah sudah sembuh?


"Kak..", sapa Erva kemudian setelah ia melihat adanya dokter Kinan di sana.


"Selamat pagi, maaf jika Mas mengagetkanmu pagi ini."


Dokter Keenan tahu benar apa yang ada di dalam pikiran erpan pagi ini ia tahu kalau Erva kaget dengan kedatangan yang tiba-tiba.


Sebenarnya bukan tiba-tiba karena ini semua sudah direncanakan matang-matang oleh dokter Keenan, hanya saja Erv yang tidak mengetahuinya.


Sebenarnya sudah dari kemarin , Keenan diperbolehkan untuk pulang Tetapi karena akal-akalan dari dokter Keenaan saja yang menginginkan simpati dari Erva dan juga ingin membuat dokter Anjar cemburu maka dari itu dokter Keenan masih betah berada di rumah sakit toh juga itu Rumah Sakit adalah miliknya sendiri jadi bebas mau ngapain saja terserah.


"Kakak sudah sembuh? apa ada perlu sama papa pagi-pagi begini?"


Ya Erva mengira kalau Keenan datang ke sini pagi-pagi begini ada urusan dengan papanya dan ia tidak menyangka kalau kedatangan Keenan hanya untuk menemui dirinya lebih tepatnya untuk mengantarkan dirinya pergi ke kampus.


"Mas sudah sembuh kamu bisa melihat sendiri bahwa Mas sudah baik-baik saja dan itu semua berkat kamu karena dua hari ini kamu merawatku jadinya Mas lebih cepat sembuhnya.", jawab dokter Keenan bangga, dengan senyuman manis yang indah dan menatap ke arah Erva.


"Oh begitu ya sudah kita sarapan dulu."


"Dan kedatangan Mas ke sini bukan untuk bertemu dengan papa, tetapi lebih tepatnya untuk bertemu dengan kamu dan ingin mengantarkan kamu ke kampus."


Seperti yang dipikir kan kemarin kalau laki-laki ini memang sengaja ingin mencari perhatian darinya dan tentu saja hal itu tidak wajar sudah Erva baik-baikin tetapi kenapa malah menjadi-jadi seperti ini.


"Aku mau pakai mobil sendiri aja kak lagian nanti aku pulangnya sore tidak banyak kasih yang lewat tidak enak juga merepotkan Mona terus-menerus untuk merepotkan Mona"


Jawab Erva yang hanya beralasan saja padahal Mona sama sekali tidak keberatan untuk mengantarkannya bulan lagi pula juga kalau tidak ada Mona, Erva juga bisa meminta tolong supir di rumahnya untuk menjemput.


"Tidak masalah nanti mas yang jemput Mas hari ini tidak ada apa-apa hanya mengecek kerja saja di rumah sakit oke tidak ada bantahan."


Selalu seperti itu padahal dulunya tidak begitu hanya akhir-akhir ini saja sejak bertemu dengan dokter Keenan laki-laki itu sifatnya jadi berubah sedikit memaksa dan akhirnya Erva juga luluh dengan paksaan dari dokter Keenaan.


Papah dan Mamah Erva hanya melihat dan tersenyum tipis bukan beliau tidak ingin berbicara dengan Keenan tentang apa yang kita alami tetapi sebaiknya untuk hal ini memang papa gram dan memahami tidak ingin ikut campur biarkan mereka menyelesaikan urusan masing-masing.


Erva tidak membantah ia juga tidak mengangguk pasrah saja gadis itu mungkin sudah lelah dengan apa yang selama ini ia alami kalaupun ditolak kanan akan semakin nekat dan juga tidak enak sudah pagi-pagi di sini ke sini maka Erva harus menolak juga.


Setelah selesai sarapan seperti yang dikatakan oleh dokter Keenan, kalau dirinya akan mengantarkan Erva ke kampus dan seperti biasa bila yang memang sangat romantis menunggu ketan pintu untuk Erva terlebih dahulu.


"Terim kasih sepertinya tidak usah dibukakan Kak aku bisa buka sendiri."


"Tidak masalah mas senang melakukannya."


Setelah dipastikan Erva masuk Keenan juga masuk ke dalam mobil , ia lebih dulu mengambil sabuk pengaman untuk Erva dan memasangkannya.


Deg


Kedua pasang mata mereka bertemu tentu saja antara Keenan dan Erva saling pandang tetapi aneh sekali kenapa berada dalam jarak pandang yang dekat seperti ini tidak ada rasa yang wow dihati Erva hanya saja dia malah merasa sedikit tidak enak dan takut.


Seperti saat kedua pasang matanya bertemu dengan mata dokter Anjar rasanya sangat berbeda kalau ketemu dengan dokter Anjar ada rasa aneh perasaan aneh jantungnya berdetak dengan kencang tetapi saat ini tidak ada rasa sama sekali.


Apakah aku memang sudah benar-benar jatuh cinta datang bekerja mengapa jadi begini Aku saja tidak tahu perasaan kepadanya dan juga perasaan dia kepadaku..., batin Erva.


Dokter Keenan mendekatkan wajahnya dengan wajah Erva dan semakin dekat dan lebih dekat lagi sehingga Erva bisa merasakan nafas hangat yang keluar dari bibir doktor Keennan tetapi di saat dokter Keenan ingin mencium bibir Erva , tetapi Erva dengan cepat memalingkan wajahnya.


"Bukan muhrim Kak, dan sebaiknya kita segera berangkat ke kampus nanti aku telat dosanya galak."


Ada rasa kecewa dari diri dokter Keenan tetapi tidak apa mungkin dirinya yang terlalu terburu-buru untuk menikmati manisnya bibir Erva yang sudah menjadi candu.

__ADS_1


"Maaf maafkan mas masihnya kangen saja."


"Tidak masalah ayo Kak aku sudah terlambat."


Sepanjang perjalanan tidak ada lagi yang diubrakan di antara keduanya keduanya terlihat mempunyai pikiran masing-masing tetapi terlihat kalau kina sedikit melirik ke arah Erva sedangkan Ervahanya melihat ke samping melihat pemandangan yang sebenarnya tidak begitu menarik di matanya.


Deg


Mobil Keenan berhenti tepat di belakang garis karena lampu merah tidak sengaja matanya melihat ke arah samping dan di sana ia melihat dokter Anjar yang juga tidak sengaja menoleh ke arahnya.


Mas aku ikut..


Ingin sekali Erva mengatakan seperti itu tetapi baru saja Anjar melihat sekilas laki-laki itu sudah memalingkan wajahnya sepertinya memang sudah tidak ada harapan lagi antara dirinya dan juga Anjar untuk sekedar menjalin hubungan pertemanan yang baik.


"Astaga mengapa pagi-pagi seperti ini aku sudah melihat dia bersama dengan laki-laki lain aku tidak tega maafkan aku bukannya aku ingin menjauhimu tetapi hati ini sakit jika melihat kamu bersama dengan laki-laki lain maafkan Aku..."


Sebenarnya di dalam hati anda sudah tidak ada rasa dendam maupun benci kepada Erva hanya saja jika ia semakin melihat dan memikirkan ia semakin jatuh ke dalam jurang yang sangat besar.


Dan lagi lagi, pagi ini ia harus menelan pil yang sangat pahit membuktikan kalau memang Erva dan Keeenan sudah bersama.


Sepanjang perjalanan Erva masih berputar dengan pikirannya sendiri ia tahu laki-laki dokter aja pasti mengira kalau dirinya sudah balikan lagi dengan dokter Keenan tetapi apalah daya tidak mungkin ia mengatakan apa yang terjadi pagi ini apalagi di jalan yang sangat mantap dan juga ini yang harus segera berangkat ke kampus.


"Nanti sore Mas jemput Jangan pulang sendirian tidak baik bagi-bagi pulang sendirian oke Jangan ada Bantengan."


Lagi lagi, ucapan seperti itu yang keluar dari mulutnya apa tidak ada yang lainnya lagi ini bukan kinanthilan yang ia kenal dulu tidak seperti itu bahkan dirinya juga belum mengatakan untuk kembali lagi dengan tetapi laki-laki itu sudah posesif terhadapnya.


"Iuaa Kak tapi kalau nanti Kakak terlambat jemput aku pulang dengan Mona saja."


"Tidak akan satu jam sebelum kamu pulang aku pasti sudah ada di sini hati-hati I love you beb."


Erva keluar dari mobil Keenan ia juga tidak menjawab kata cinta dari Keenan yang dulu jika Keenan dulu mengatakan seperti itu dirinya akan berbunga-bunga tetapi tidak untuk saat ini entah kenapa malahan ucapan dari kita membuatnya sedikit bergidik ngeri, takut lebih tepatnya.


Sama seperti hari-hari yang ia jalani setelah pertengkaran hebat dirinya dengan Anjar pagi ini erpan juga tidak semangat lagi-lagi yang ada di pikirannya adalah dokter Anjar dokter Anjar dan dokter Anjar itu ada nama laki-laki lain selain nama dokter aja di dalam benaknya saat ini.


"Gaes....."


"Lo ngagetin gue aja.."


"Ada apa lagi kenapa wajah kamu borong seperti itu apa dokter Kinan kemarin macam-macam dengan lo?"


Mumpung masih ada waktu sebelum dosennya datang ia akan bercerita lebih dulu kepada Mona.


"Kemarin saat gue menjenguk dokter Keenan tiba-tiba dan tidak disangka gue bertemu dengan dokter Anjar..."


Dan Erva menceritakan lebih detail tanpa ada yang ia tutup-tutupi mengenai dirinya yang menjenguk dokter Keenan dan berpapasan dengan dokter Anjar sehingga dirinya berada di taman sampai pagi ini yang tiba-tiba dokter Keenan sudah berada di rumahnya.


"Astaga itu dokter Anjar pastinya berpikir yang tidak tidak lagi pada lo apa lo tidak ada keinginan untuk menjelaskannya lagi Beb?"


"Ya, gue sendiri juga bingung harus apa kalau untuk menjelaskan kepada dokter Anjar sepertinya tidak mungkin tapi pagi juga gue melihat dia dia sama sekali tidak melihat arah gue bahkan memalingkan wajahnya padahal dia tahu kalau gue ada di sana di sebelahnya..."


"Gue turut berharga dengan apa yang minta lo apa mau gue bantu untuk meluruskan semuanya?"


Mona tidak tega rasanya melihat sahabatnya seperti ini ini bukanlah tidak begini bahkan dulu ketika dirinya dihadapi oleh Keenan perasaan Erva tidak seperti sekarang initapi mengapa saat ini lebih kaca dari gurunya apa sahabatnya ini benar-benar sudah jatuh cinta dengan dokter Anjar?


"Makasih , tidak perlu karena gue nanti siang mau bertemu dengan dokter Rico teman baiknya dokter Anjar."


"Ya sudah kalau begitu udah lebih baik memang lu cerita dengan bacaan itu yang sebenarnya siapa tahu dokter Rico akan membantu lo untuk bisa baikan lagi dengan dokter Anjar."


"Ya semoga saja semoga saja dokter itu bisa memahami apa yang terjadi dan tidak menyalahkan gue gue tidak berhak banyak dengan dokter Anjar dan tidak berharap hubungan kita akan mulai seperti jalan tol yang kuinginkan kita hanya berteman jika mungkin tidak bisa menjalin hubungan yang lebih serius tidak seperti ini."


"Paham apa yang lo pikirkan ya sudah kalau begitu Tidak usah memikirkan laki-laki kita fokus ke pelajaran saja ini jauh lebih penting."


Meskipun apa yang dikatakan oleh mana itu benar tetapi sampai saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah tidak mungkin ia bisa fokus ke pelajaran sementara hatinya masih berpaut dengan kesalahan yang tidak ia sengaja lakukan.


...****************...


"Dek sudah pulang aku sudah menunggu di cafe di sebelah kampus Kamu langsung ke sini saja ya maaf tidak bisa menjemput."


Erva membaca pesan yang dikirimkan oleh dokter Rico, iya dengan cepat membalas pesan itu dan mengatakan kalau tidak apa-apa juga sebentar lagi ia akan menyusul ke cafe.


"Mau ikut ke cafe atau di sini saja?", tawar Erva kepada Mona.


"Kalau aku tidak ikut bagaimana kamu berani sendirian kan di sana?"


"Tidak apa-apa tapi aku pinjam mobilmu ya kan kamu tahu sendiri kalau gue tidak bawa mobil."


"Pakailah, maaf ya aku bukan maksud aku untuk tidak mau menemani kamu bertemu dengan dokter RICO tetapi sebaiknya memang hanya hanya laut dan juga Dokter Rico saja yang bertemu nanti kalau gue ada di sana ceritanya tidak akan seperti yang dibayangkan oleh dokter Rico"


"Oke Mon, gue paham tidak masalah aku pakai ya."


Setelah mendapatkan kunci mobil dari Mona, Erva segera keluar dari kelas dan menuju ke bawah ia dengan cepat melajukan mobilnya ke cafe sebelah kampus di mana Dokter Rico udah menunggunya di sana.


"Maaf Kak, sudah menunggu lama ya?"


"Tidak dek baru saja sebaiknya kamu pesan dulu maaf aku tidak peserta untuk kamu karena tidak tahu apa selera kamu."


"Tidak apa-apa aku pesan dulu ya Kak laper juga."


Makanan sudah ada di depannya masing-masing dan mereka juga mengawali obrolan ini tidak menunggu sampai selesai makan bahkan di sela-sela makan pun obrolan jadi karena mengingat waktu yang singkat dan juga tidak mungkin untuk ngobrol terlalu lama.


"Maaf jika aku ke sini untuk bertanya masalah pribadi dengan kamu kamu tidak keberatan kan kalau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?", ujar dokter Rico meminta izin kepada Erva ia takut kalau erpan nantinya akan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya pribadi.


Erva tersenyum kemudian ia mengangguk. "Tidak apa-apa Kak memang kita bertemu di sini untuk membahasnya sepertinya menjadi permasalahan Antara Aku Dengan dokter Anjar dan dengan senang hati aku akan menceritakan yang jelasnya apa yang sebenarnya terjadi."


"Waktu itu aku memang berada di rumah sakit untuk menjemur dokter Kinan dan dokter Anjar juga tahu bahkan dia juga mengantarkan aku ke sana......"


Erva melanjutkan ceritanya lagi selengkap-lengkapnya sedang bertanya sampai masalah pribadi yang sangat pribadi pun ia ceritakan kepada dokter Rico.


"Jadi intinya kamu dan dokter kena tidak balikan lagi kan dek?"


Itahu apa yang dipikirkan oleh dokter Riko, ternyata yang diberikan oleh dokter Lego itu sama dengan yang dipikirkan oleh dokter Anjar.


"Aku tidak akan balikan dengan dokter Keenan meskipun di dalam hatiku masih ada rasa sedikit untuk untuk dia tetapi untuk balikan lagi aku tidak ingin."


"lalu bagaimana dengan dokter Anjar bagaimana perasaan kamu dengannya apakah kamu juga mencintai teman aku dek?"


Erva tersenyum lagi kalau iya ditanya pertanyaan semacam ini tidak tahu harus menjawab apa.


"Aduh ditanya malah senyum ini nanti aku yang baper loh.",


"Begitu , aku hanya bingung saja harus menjawab apa.", lewat erva lagi yang memang cirinya benar-benar bingung apakah yang dirasakannya itu cinta atau hanya sekedar kagum saja


"Lah emang yang kamu rasakan itu bagaimana sih kenapa kamu sampai ragu apakah kamu sudah jatuh cinta atau tidak?"


Dokter Rico yang lebih berpengalaman dalam masalah percintaan mencoba menggali apa yang dirasakan oleh erfay sepertinya pembicaraan ini sangat menarik dan ia tidak akan berhenti dan pergi dari sini sebelum mendengarkan penjelasan dari Erva sendiri.


"Aku tidak tahu aku juga udah bingung kak..."


dokter Riko menganggap paham memang usia seperti Erva ini masih dalam tahap labil-labilnya tidak bisa membedakan mana itu jatuh cinta dan mana yang hanya kagum saja.


"Kalau begitu jawab pertanyaan Kakak dan harus kamu jawab jujur tidak boleh bohong sesuai dengan isi hatimu sendiri."


"Oke asalkan pertanyaan itu ada jawabannya pasti dengan jujur aku akan menjawabnya asalkan tidak sulit dan aku juga tidak menjawab pasti aku akan bertanya kepada Mbah Google tidak apa-apa kan kalau aku bertanya pada mbah Google?"


"Hahaha kamu lucu sekali dek pantesan saja Anjar tertarik padamu."


Erva merasa malu ketika mendengar ucapan dari dokter Riko kalau Anjar tertarik padanya eh mana mungkin tidak mungkin lah pasti itu hanya akal-akal dari dokter Riko saja yang ingin membuat dirinya bahagia dan tersenyum.


"Bagaimana perasaanmu jika dekat dengan Anjar?"


Pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter itu Riko itu sangat takut sekali mengapa tidak ada sedikit manis-manisnya atau bagaimana datar persis seperti jalan tol yang tidak ada kendalanya sama sekali.


"Senang aku nyaman bahkan yang aku rasakan lebih nyaman daripada aku berada di samping dokter Keenan ya mungkin Awalnya aku sedikit takut jika berhadapan dengan dokter Anjar kakak tahu sendirilah bagaimana pertama kali aku bertemu dengan dia dan pertemuan pertama kami sungguh tidak mengenakkan tetapi lama-lama lama aku sudah mengenal dokter Anjar aku pun merasa nyaman dia bertunangan tidak dingin bahkan kalau aku boleh jujur dokter ajalah yang paling mengerti dengan isi hatiku paling mengerti dengan apa yang aku inginkan walaupun dia tidak ada romantis-romantis sedikitpun."


Dokter Rico mengangkut dan tersenyum satu jawaban saja dia sudah bisa tahu apa yang terjadi dalam Erva apalagi nanti beberapa pertanyaan yang sengaja ia ingin tanyakan oleh Erva


"Kalau kamu jauh dari dokter Anjar saat ini bagaimana perasaan kamu?"


Erva tersenyum ia meletakkan dua tangannya di bawah dagu menatap lurus ke depan mungkin saja pikirannya saat ini sedang membahayakan wajah dokter Anjar yang begitu datar tetapi sangat ia rindukan.


"Jujur ya Kak kalau jauh seperti ini hatiku rasanya ada yang hilang ada yang berbeda bahkan kita tidak bertemu tiga hari eh salah bukan bertemu tidak saling menyapa selama 3 hari ini saja rasanya ada yang aneh tidak tahu itu entah kenapa..."


Sudah bisa dipastikan kalau Erva sudah jatuh cinta dengan dokter Anjar dan saat ini yang mereka butuhkan hanya saling mengerti dan menjelaskan tentang kesalahpahaman yang yang terjadi di antara mereka selama ini.


"Oke aku paham dan aku sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi."


"Emangnya apa apa Kakak bisa menebak bukannya kakak adalah dokter bedah seperti dokter Anjar dan bukan Dokter psikologi?"


"Hahaha kamu belum tahu ya kalau aku ini adalah pakarnya dalam urusan jatuh cinta kamu mau tahu pacar aku aja jumlahnya sudah lebih dari 30...."


"Kakak serius gila bagaimana caranya 30 itu bisa jadi pacar kakak?"


"Bukan 30 langsung aku pacari tapi ya satu-satu lah foto jadi putus cari lagi dan selama aku belum menemukan kecocokannya aku masih mencari dan mencari perempuan yang sekiranya cocok denganku."


"Begitu, makanya Kakak sampai hafal betul bagaimana ciri-ciri orang jatuh cinta dan tidak."


"Kamu benar dan kamu mau tahu apa kesimpulan yang sudah aku dapatkan dari jawaban yang kamu berikan tadi?"


"Ya, iyalah ...kakak kan sudah memberikan pertanyaan aku juga sudah menjawab dan aku ingin dong kesimpulan apa."


"Aku sangat yakin kalau kamu itu sudah jatuh cinta dengan dokter Anjar."


"Apa bisa begitu apa dengan jawabanku Kakak bisa tahu kalau aku jatuh cinta dengan dia dan kalau iya apakah Dokter Anjar juga jatuh cinta padaku?"


"Kamu mau tahu jawaban jujur apa enggak?"


"Ya mau lah emang aku mau dibuangin terus-menerus enggak lalu bagaimana caranya aku tahu kalau dokter Anjar sudah jatuh cinta padaku..."


Dokter Rico mengambil ponsel yang ada di sakunya ia membuka sebuah galeri di mana di sana menyimpan video dokter Anjar yang juga lagi diintrograsi sama seperti dirinya.


Ternyata pertanyaan yang diberikan oleh dokter Rico kepada Erva itu sama seperti pertanyaan yang diberikannya untuk keberlanjutan dan juga jawabannya sama.


Lagi lagi a tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya dan ia yakin kalau ini bukan rekayasa.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Kak?"


"Kalau saran aku sebaiknya kalau begini saja dulu bukannya apa-apa aku hanya ingin kalian sama-sama tahu sama-sama mendalami apakah benar yang kalian rasakan itu jatuh cinta atau bukan setidaknya kalau memang kalian benar-benar cinta 2 sampai 3 hari tidak akan pernah bisa untuk tidak menghubungi apalagi tidak bertemu coba saja ucapanku ini pasti ada benarnya."


Kalau tidak bertemu atau tidak berkomunikasi dengan dokter Anjar padahal ia sudah merencanakan sebelumnya setelah bertemu dengan dokter Riko ia juga akan menemui dokter aja dan membicarakan semuanya supaya lebih jelas tetapi besaran dari dokter Riko ini memang ada benarnya juga ia juga ingin tahu bagaimana perasaan dari laki-laki itu apakah laki-laki yang dingin itu masih ada rasa cinta untukmu atau ia atau dokter Anjar juga hanya kagum dengan dirinya saja beda untuk jatuh cinta.


"Lah aku paham Kak dan aku mengerti dengan apa maksud kakak terima kasih aku sekarang jauh lebih tenang."


"Bukan hanya kamu saja Er yang tenang Aku juga tenang selama ini selamat 3 hari terakhir ini aku yang dibuat susah oleh orang dokter andat yang selalu uring-uring-an marah-marah tidak jelas kalau seperti ini aku bisa yakinnya salah paham pada kamu saja."


"Tetapi benar kan kamu tidak bolehkan lagi dengan dokter Keennan?"


"Aku sudah mantap aku sudah memikirkan matang-matang tidak mungkin aku balikan lagi dengan dia."

__ADS_1


"Kalau begitu dan seterusnya kamu memang harus belajar mencintai dokter Anjar dan melupakan dokter Keennan kalau kamu ingin serius untuk melangkah ke jenjang lalu lebih serius lagi dengan dokter Anjar."


Walaupun ia belum sepenuhnya yakin dengan perasaan yang dokter dengan miliki untuknya tetapi setidaknya perkataan dari Dokter Riko itu benar adanya ia harus memusnahkan nama dokter di dalam hatinya dan mengganti dengan nama dokter Anjar.


__ADS_2