
"Titip Mira, Keen..."
Kata Tante Mita didepan Keenan, dengan nafas yang sudah tidak teratur dan juga wajah yang sudah pucat..
"Pasti Tante, aku akan menjaga Keenan."
Bukan untuk menyenangkan hati Tante Mita yang saat ini sudah tidak berdaya, tetapi...memang dari lubuk hati Keenan yang paling dalam, ia mencintai, menyayangi dan akan menjaga Amira dengan segenap jiwa dan raganya.
"Terimakasih.... Tante tenang sekarang.... Tante bisa pergi tanpa beban....jaga Mira....."
Amira menggeleng, ia yang dari tadi sudah meneteskan air mata, tidak kuat mendengar dan melihat Mamahnya terbaring lemah...
Amira tau, kalau umur Mamahnya itu sudah tidak lama lagi, tetapi...ia tidak ingin kalau Mamah Mita pergi secepat ini, di saat beliau belum melihat ia bahagia dan menikah bersama Keenan.
Padahal, keinginan terbesar Mamah Mita adalah melihat Keenan dan Amira bersanding di pelaminan, tetapi...takdir berkata lain.
"Jangan tinggalkan Mira, Mah....kita akan bahagia bersama...."
Sungguh, ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidup nya tanpa Mamah Mita, satu tahun terakhir....semua ia lakukan demi Mamah, apapun itu... maskipun harus mengorbankan kebahagiaan nya.
"Tidak Mira, Mamah sudah tidak kuat lagi .. Papah kamu sudah menunggu Mamah, jangan sedih....."
Mamah Mita terlihat menarik nafas nya , rasa sesak sudah merasuk di dalam dadanya....
"Mamah sudah bahagia, melihat kamu dan Keenan akhirnya bisa bersama lagi....jangan sedih....."
Mamah Mita menarik tangan Amira dan juga tangan Keenan, kemudian...beliau menyatukan kedua tangan Amira dan Keenan.
"Berbahagialah kalian, Mamah akan mendoakan dari sana..... percayalah...Mamah sudah bahagia...."
"Keenan...."
Mamah Mita melihat ke arah Keenan, kemudian Keenan mendekat untuk mendengarkan apa yang dikatakan lelah Mamah Mita.
"Titip Mira, jaga dia dan bahagiakan dia...."
Keenan mengangguk, "Iya Mah, Aku akan menjaga dan membahagiakan Amira...Mamah tidak perlu khawatir...."
Mamah Mita mengangguk, lalu ..ia melihat ke arah Amira yang masih menangis sesenggukan...
__ADS_1
"Mira, sayangi dan cintai Keenan ... jangan buat dia kecewa, Mamah sudah mempercayakan kamu kepada nya...."
"Iya Mah.....tapi Mira masih ingin bersama dengan Mamah....."
Mamah Mita menggeleng, "Tidak sayank, waktu Mamah sudah habis....Papah kamu sudah menunggu....."
Mamah Wita terlihat menarik nafas nya kembali, kemudian memejamkan mata .....
"Mamah.........."
Teriak Amira, saat melihat Mamahnya sudah menutup mata nya ..
"Tenang Ra, percayalah...Mamah sudah bahagia....beliau juga tidak merasakan sakit lagi...."
"Tapi...aku sendirian Keen, tidak punah siapa siapa lagi....."
Keenan menggeleng, "Ada aku....kamu jangan khawatir...."
Amira tidak menjawab, ia memang masih mencintai Keenan, tetapi... status Keenan saat ini yang membuat Amira belum bisa memutuskan, apa lagi...Mamah Mita baru saja meninggal.
"Tidak perlu berpikir macam macam, sekarang kita bawa Mamah pulang ke rumah....."
Keenan juga mengirimkan pesan kepada Dimas, untuk menyusul nya ke Rumah Sakit, karena setelah acara penutupan seminar...Dimas kembali ke hotel untuk mengemasi barang barang, yang memang rencana nya mereka akan pulang besok pagi..
Tidak perlu menunggu lama, Dimas yang memang sudah selesai persiapan dan malam ini berniat untuk pergi ke kelab, akhir nya mengurungkan niatnya.
Meskipun Dimas tidak begitu menyukai Amira, tetapi... di saat seperti ini, laki laki itu tetap harus bersikap baik.
"Keen....."
Panggil Dimas yang sudah melihat Keenan di lobi Rumah Sakit, mungkin sudah lama Keenan menunggu nya.
"Ayok Dim, sebentar lagi mobil jenazah akan mengantar Tante Mita...."
Tidak dapat membantah, Dimas mengangguk dan langsung menuju ke mobil nya lagi, padahal...ada banyak pertanyaan yang harus di tanyakan nya untuk Keenan, tentu saja mengenai rencana kepulangan nya ke Jakarta.
...*****...
[Maaf, Mas tidak bisa pulang beb, masih ada urusan yang belum selesai di sini.....masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan...]
__ADS_1
Pagi harinya, Keenan sudah memutuskan untuk menunda kepulangan nya, dan ia mengirimkan pesan untuk Erva..
Tentu saja, setelah mengalahkan perdebatan yang sengit antara dirinya dan juga Dimas ..
Bukan Dimas tidak mempunyai hati meninggalkan Amira di Jerman saat ini, tetapi.... Keenan juga harus s memikirkan Erva, bagaimana perasaan Erva dan bagaimana gadis itu sudah menunggu nya beberapa hari, tetapi... nyatanya nihil.
"Lo serius??"
Kedua laki laki tampan itu masih adu mulut di belakang rumah Amira, di mana acara pemakaman sudah di laksanakan dua jam tadi.
"Bagaimana mungkin gue tega meninggalkan Amira disiini?? dia sendiri an Dim...."
Terlihat Keenan memijat keningnya, rasa bersalah menyelimuti hatinya. Ia yang sudah janji akan pulang hari ini, tetapi.... nyatanya tidak.
Bahkan Keenan juga tidak berterus-terang kepada Erva, tentang apa benar yang terjadi dengan nya. Keenan masih menutupi hubungan nya dengan Amira, yang secara tidak langsung... ia sudah mengkhianati cinta Erva, dan menduakan gadis itu.
"Tapi, apa Lo enggak berpikir bagaimana perasaan Erva?? apa Lo sudah jujur dengan dia???"
Keenan menggeleng, dalam hal ini memang dirinya salah...salah karena tidak jujur pada Erva, dan juga salah karena sudah menjalin hubungan dengan wanita lain tanpa memutuskan hubungan nya dengan Erva lebih dulu.
"Lo memang Brengseekkk , Keen...mikir Keen....mikir!!!"
Dimas emosi, ia sudah tidak tau lagi bagaimana caranya untuk menyadarkan sahabatnya itu, Keenan memang benar benar keterlaluan.
Tidak dalam menjawab, memang kenyataannya ia adalah laki laki yang paling brengseekkk.....dan mungkin setelah ia jujur, Erva tidak akan memaafkan nya...
Dan sayang sekali, rasa cinta nya sudah membuat ia buta segala nya, bahkan mengesampingkan perasa Erva dan bagaimana sakit hatinya Erva saat ini.
"Lo tidak bisa menjawab kan....dengar ya Keen, lo tau gimana gue kan, gimana keseharian gue kan?? gue... memang bukan lain-lain baik, gue mamang Brengseekkk!! tetapi...gue tidak pernah menyakiti hati wanita manapun juga. Itu sebab nya gue sampai saat ini belum mempunyai pendamping hidup yang sesungguhnya, Lo mau tau?? itu karena gue belum siap untuk berkomitmen..... tetapi...Lo!!!!"
Dimas menunjuk ke arah wajah Keenan, laki laki itu sudah sangat emosi, kesal, jengkel jadi satu.
"Lo!! kenapa Lo yang sudah mencintai Erva, dan menyakinkan dia untuk menerima Lo dan mau menikah dengan Lo, tetapi.... akhirnya...Lo sendiri yang menghancurkan nya, yang menyakiti nya....Lo!! memang benar-benar tidak punya perasaan..."
Keenan masih diam saja, tidak berani menjawab apalagi membantah ucapan Dimas.
"Dan gue harap, Lo tidak menyesal dengan apa yang yang sudah menjadi keputusan Lo!!!"
Dimas meninggalkan Keenan, ia berharap Keenan memikirkan lagi apa yang sudah diputuskan, masih ada waktu.... sebelum semua nya terlambat.
__ADS_1