
"Siapa tau memang benar, karena Mas kan tidak pernah sarapan??" ujar Erva lagi yang memang benar-benar dirinya sok tahu kalau orang tidak sarapan itu pasti akan terkena maag.
"Ya sudah sarapan dulu." ucap Papah Bram.
"Dan nak Anjar sebaiknya sarapan dulu."
Mau tidak mau Anjar pun mengangguk kemudian mengikuti Papah Bram dan juga Erva untuk menuju ke ruang makan. Tidak sarapan bukan karena tidak bisa memakan makanan pagi-pagi tetapi memang ia tidak terbiasa saja.
Anjar duduk di samping Erva dan tentu saja Erva langsung mengambilkan nasi untuk Anjar. Dan mereka sudah seperti pasangan suami istri saja.
"Cukup dek..."
Sama seperti Erva, Anjar sangat sangat bahagia dengan perlakuan Erva pagi ini, laki-laki itu tersenyum lebar. Dan nggak salah memang kalau ia harus bangun pagi-pagi dan datang ke rumah Erva, bukan hanya ingin bertemu dengan gadis cantik itu tetapi mendapatkan perlakuan yang istimewa membuat dirinya bahagia.
Banyak obrolan yang diutarakan oleh Papah dan Mamanya Erva, tentu saja bukan hanya seputar kegiatan mereka sehari-hari tetapi juga bertanya banyak hal kepada Dokter Anjar.
Tentu saja, laki-laki itu menjawab dengan semangat ia tidak menyangka kalau keluarga Erva a bisa sehangat ini.
Acara sarapan pagi, sudah selesai... kemudian Anjar berpamitan lagi kepada kedua orang tua Erva untuk mengadakan Erva ke kampus.
"mais tidak ada jadwal operasi pagi?" tanya Erva kepada Dokter Anjar yang terlihat santai sekali dan tidak biasanya pagi-pagi begini Dokter itu sudah menuju ke rumah sakit tetapi kenapa malahan ke rumahnya bahkan mengantarkan dirinya ke kampus.
"Tidak ada, nanti sekitar jam 09.00..."
"Oh...."
Keduanya terdiam lagi, entahlah antara bingung atau tidak, yang jelas tidak ada yang mau dibicarakan tetapi sama-sama keduanya saling melirik setiap ada kesempatan dan tersenyum sendiri.
Hingga mobil yang dikemudikan oleh Anjar sudah sampai di parkiran Rumah Sakit, tentu saja Anjar harus rela melepaskan Erva untuk turun dari mobil dan tidak bisa memandang wajah cantik gadis itu.
__ADS_1
"Terima kasih Mas , mobilnya bisa Mas bawa lagi dan mau dikembalikan kapanpun terserah Mas aja...."
Padahal tanpa dikembalikan Erva malah seneng berarti itu tandanya kalau Anjar pasti akan mengantar jemput dirinya setiap hari dan bisa bertemu terus setiap saat tanpa ada gangguan.
"Ia memang rencananya aku mau pinjam lagi, mobil kamu tetapi nanti langsung aku kembalikan ke rumah saja."
"Kembalikan ke rumah? kenapa nggak dikembalikan ke kampus."
Erva bingung kenapa malah mobilnya harus dikembalikan ke rumah bukannya nanti masih ada kuliah sampai jam 11.00 siang dan kalau mobilnya ke rumah , ia pulang naik apa sementara Mona sendiri belum jelas pakai mobil atau juga diantar.
"Nanti siang aku jemput, kita makan siang ya ? kamu hanya sampai jam 11.00 kan jadwal kuliahnya?"
Erva kembali melongo , dari mana Dokter Anjar tahu tentang jadwal kuliahnya hari ini dan pastinya ia langsung mengangguk dan mengiyakan ajakan Dokter Anjar untuk makan siang, lagi pula dirinya juga tidak ada acara apapun nanti.
"Boleh, berarti nanti Mas yang jemput aku?"
"Iya tapi pakai mobil Mas ya, karena mobil kamu akan langsung dibawa oleh sopir dan diantarkan ke rumah."
"Tentu saja nanti aku jemput.."
"Oke kalau begitu aku keluar dulu ya mas , mas hati-hati...."
Berat rasanya untuk melepaskan Erva padahal ia memiliki Erva pun belum tetapi entah mengapa rasanya Anjar tidak senang jika melepaskan Erva untuk kuliah, takut saja kalau nanti ada banyak laki-laki yang mengejar Erva, mengingat Erva adalah jomblo dan mempunyai paras yang sangat cantik.
"Ada apa lagi Mas?"
Tidak jadi keluar dari mobil karena tangannya sudah ditahan dan digenggam oleh Dokter Anjar dan ia pun menoleh kepada laki-laki itu menanyakan ada apa sebenarnya atau apa ada yang ditanyakan.
Lama Dokter Anjar menjawab, laki-laki itu malah semakin erat menggenggam tangan Erva sepertinya tidak ingin kehilangan Erva meskipun Erva hanya kuliah saja.
__ADS_1
"Oh tidak, hati-hati ... nanti jangan lupa ya tungguin aku di sini."
Dengan terpaksa Anjar melepaskan tangan Erva kemudian tersenyum ke arah gadis cantik itu yang membuat Erva juga mengangguk lalu membalas senyuman dari Dokter Anjar.
Erva keluar dari mobil, kemudian melambaikan tangan kepada Dokter Anjar saat laki-laki itu berbalik dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran.
Dengan senyuman yang mengembang di wajahnya yang membuat Erva semakin cantik saja.
"Cie sudah balikan?" ledek Mona yang ternyata sahabatnya itu sudah datang dari tadi dan memang sengaja melihat interaksi yang terjadi antara sahabatnya dengan Dokter Anjar.
"Aku memang nggak berantem sama dia cuma___"
"Cuma diam-diam aja dan berakhir salah paham??"
"Hahaha itu lo tahu, sudah ah ke atas nanti telat lagi..."
Sengaja Erva mengalihkan pembicaraannya karena ia tahu kalau sahabatnya pasti tidak akan tinggal diam dan mencerca beberapa pertanyaan yang membuat Erva risih seketika.
"Lo sudah jadian sama Dokter Anjar?" tanya Monalagi ya saat ini mereka sudah berada di dalam kelas dan beruntung dosen mata kuliah pagi ini belum datang.
"Jadian apaan? lagi pula mana mungkin laki-laki seperti Dokter Anjar bisa menembak?"
Entah itu benar atau tidak tetapi yang jelas di dalam pikiran Erva, laki-laki dingin seperti Dokter Anjar itu tidak akan mengungkapkan rasa cintanya tetapi mereka langsung memberikan perhatian kepada pasangan.
Itu sudah terbukti karena sejak pertama sampai sekarang kenal dan bertemu dengan Dokter Anjar, laki-laki itu sudah menunjukkan perhatian yang ekstra kepadanya dan perhatian itu tidak pernah diberikan kepada perempuan manapun selain dirinya.
"Bisalah..."
"Caranya? lo nggak lihat sih bagaimana dinginnya Dokter Anjar jika di depan umum..."
__ADS_1
"Gue tau, dan kalau gue jadi lo gue akan paksa dia untuk menyatakan cinta karena kalau tidak begitu gue sendiri juga tahu kalau sesungguhnya Dokter Anjar juga punya perasaan kepada pada lo."
"Itu kan lo , beda sama gue meskipun sebenarnya gue juga ingin dia mengatakan cinta tetapi, gak mungkin lah masak gue minta-minta dia untuk mengatakan cinta.... biarkan saja kalau dia memang cinta sama gue dan ada rasa sama gue pastinya dia juga akan menyatakan cintanya pada gue kalau nggak ya gue akan cari laki-laki lain lagi hahaha...."