Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Curhat


__ADS_3

"Lo kenapa?"


Mona melihat wajah Erva yang tidak seperti biasanya, bukan tidak cantik atau gimana, tetapi aneh. Tidak cepat dan masam.


"Ceritanya panjang, nanti gue ceritain."


Tidak mungkin Erva cerita di sini, lagian sebentar lagi Dosen akan datang. Karena yang akan Erva ceritakan ini panjang dan lebar, dan pastinya nanti ekspresi dari Mona sangat Wow dan membuat kaget seluruh isi kelas.


Tidak tidak. Erva tidak akan cerita di sini, ia tau bagaimana sahabat nya itu, yang pasti akan sangat ekspresi sekali.


"Oke, dan Lo mau tau enggak kemarin kita bagaimana??"


Sampai lupa menanyakan bagaimana kemarin pas di resto. Erva yang sibuk dengan urusannya sendiri sampai melupakan sahabat nya yang bersama dengan sepupunya itu.


"Iya, gimana?"


Pertanyaan Erva sangat datar dan tidak ada tenaga sama sekali. Gadis itu sebenernya tidak mood untuk berbuat apa apa hati ini, kalau saja bukan mata kuliah penting, ia sudah tinggal bolos saja.


Percuma, berada di sini tetapi pikiran nya ke mana mana. Lagian ia tidak mungkin bisa mencerna pelajaran jika sedang galau. Yang ada malahan bayangan Dokter Anjar sekali menari nari di dalam pikiran dan ingatan nya.


"Kemarin mbak Maya senang banget, semua makanan yang dia minta di hidangkan di sana, bahkan kita tidak usah bayar ...wah keren...."


Erva tersenyum, kalau saja Mona tau bagaimana dirinya kemarin,pasti sahabat nya itu tidak akan cerita tentang kebahagiaan, yang sangat bertentangan dengan Erva saat ini


"Mbak Maya atau kamu yang senang?"


Erva mencoba keluar dari apa yang terjadi pada dirinya, rasanya tidak adil jika ia egois dan menampakkan kesedihan nya saja, biarlah sahabat nya juga bahagia tanpa perlu memiliki apa yang terjadi..


"Ya mbak Maya dan akulah ...", jawab Mona santai dengan tertawa...


"Berisik!!", ucap Erva dengan menutup mulut Mona, tidak ingin sahabat nya menjadi bahan tertawaan orang lain.


"Sorry saking senengnya gue ..dan tau enggak... ternyata Dokter Anjar selain punya Rumah Sakit dan Resto mewah itu, dia juga punya villa yang ada di puncak, di mana ya?? ah gue lupa..."


Cerita Mona memang sangat heboh , dan Erva tidak pungkiri memang kalau Anjar berasal dari orang kaya, bahkan terbilang sangat kaya.


Tetapi, semua nya tidak diperlihatkan, hanya Rumah Sakit saja yang pasti orang orang tau kalau itu milik nya.


"Dan Lo beruntung mendapatkan Dokter Anjar, yah meskipun wajahnya tidak lebih ganteng dari Dokter Keenan, tetapi gue rasa ..kalian cocok."


Cocok apanya, baru saja kita bertengkar dan mungkin setelah ini tidak ada kisah antara aku dan Dokter Anjar., batin Erva.


"Beruntung bagaimana??"


Tanya Erva lagi, ia mencoba untuk lebih tau lagi tentang pendapat Mona dan bagaimana Mona selama ini menilai hubungan nya dengan Anjar.


"Beruntung, kalau gue lihat... Dokter Anjar itu memang dingin, tetapi dia sangat perhatian dan cinta banget sama Lo . Dan yang gue tau, laki laki dingin itu setia Lo, karena dia tidak akan ngobrol cinta nya ke banyak wanita wanita diluar sana, tetapi kalau sudah sakit hati.. habislah!! susah sekali untuk sembuh nya."


Deg


Erva kaget, ucapan Mona barusan seakan akan menampar nya. Perkataan Mona memang benar, karena sedikit banyak Erva sudah mengalaminya, baru saja. Dokter Anjar sama sekali tidak mempedulikannya maskipun ia sudah datang dan meminta maaf, bahkan sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi... tetapi laki laki itu hanya diam saja, seolah olah memang kesalahan nya sangat besar.


Dan apa benar kalau Dokter Anjar tidak akan pernah memanfaatkan nya?? padahal kesalahan nya tidak fatal, hanya sekedar salah paham saja??


Erva jadi berpikir lagi, apakah keterlaluan?? dan apakah memang nyatanya seperti ini?? belum mulai tapi sudah kandas duluan.


obrolan mereka terhenti karena Dosen yang mengajar sudah masuk ke dalam kelas, tidak ingin mendapat hukuman karena terlalu ramai dan heboh.


...****************...


Sesampainya di rumah, Mamah Rosa bingung dengan apa yang dilakukan oleh Anjar. Putra nya tiba tiba pulang padahal baru beberapa menit yang lalu pergi dan tiba di Rumah Sakit.


Mamah Risa tau kalau hari ini Anjar tidak ada jadwal operasi, tetapi tidak juga harus pulang, karena biasanya Anjar akan memberikan pekerjaan nya, dan pulang nanti malam, tetapi pagi ini.


Tidak ingin bertanya dulu, ia membiarkan Anjar masuk ke dalam kamar dan nanti Mamah Risa baru akan ke sana dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Seumur umur, Mamah Risa baru melihat Anjar seperti ini, yang pulang pulang hanya wajah ditekuk nya saja yang terlihat.


Beberapa menit kemudian, dirasa Anjar sudah cukup untuk memang diri. Mamah Risa naik ke ata, dan kebetulan sekali, beliau juga tidak ada acara ke mana mana, jadi akan menemani putra ya yang terlihat sangat galau.


"An, Mamah boleh masuk kan??"


Padahal pintu tidak dikunci, apabila Mamah Risa mau masuk pasti langung masuk saja.


"Masuk Mah..."


Anjar tipe orang yang peka, apalagi terhadap Mamahnya. Ia tau apa yang akan Mamahnya tanyakan nanti.


"Kamu kenapa? sakit?"


Sebelum Anjar menjawab, Mamah Risa sudah menempelkan tangannya di kening Anjar, untuk memastikan saja kalau semua nya baik baik saja.


"Aku tidak sakit Mah..."


"Sakit hati saja??",, ujar Mamah Risa yang langsung saja mengatakan itu, padahal beliau belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi menurut tanda tanda...Anjar mengarah pada rasa sakit hati dan kecewa dan itu terlihat jelas di mata dan juga ekspresi wajahnya.


Tau kalau putra nya baik baik saja dan mungkin memang benar kalau penyakit nya adalah penyakit hati, tapi dengan siapa? pacar saja tidak punya alias jomblo abadi.


"Dengan siapa?"


Pertanyaan Mamah Risa membuat Anjar menatap tajam ke arah Mamahnya, tidak sopan mamah tetapi rasa nya ia seperti diinterogasi.


Dengan siapa? nah itu yang jadi permasalahan nya. Anjar bingung mau ngomong jujur apa enggak. Kalau ia berkata jujur dengan siapa payah hatinya, Yang ada Mamah nya akan semakin menertawakan nya.


"Erva?"


Satu nama dan mungkin memang hanya satu satunya nama itu yang ada di benaknya Mamah Risa. Selama ini yang beliau tau, Anjar tidak pernah dekat dengan wanita manapun juga, tetapi beberapa terakhir ini...Mamah Risa mendapat informasi kalau Anjar tengah dekat dengan seorang perempuan dan perempuan itu adalah Erva.


Beliau juga mendengar cerita kalau kalau Anjar dan Erva makan siang, tetapi kenapa hari ini sangat berbeda, ada apa sebenarnya??


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Mamah Risa mendapatkan informasi dengan apa yang dicarinya. Dsn ternyata benar kalau Erva lah yang membuat Anjar galau dan melow seperti ini.


Mamah Risa tersenyum, dengan begitu putranya normal dan sudah mengenal cinta. Bukan lagi laki laki yang diragukan ke aslinya karena sama sekali tidak pernah pacaran bahkan tidak mempunyai teman perempuan.


"Kalian hanya salah paham.", ujar Mamah Risa pada akhirnya.


Menunggu Anjar untuk buka suara pastinya sampai lebaran kucing juga tidak bakalan kalau tidak dipancing duluan. Bahkan tidak akan pernah bercerita dan hanya memendam perasaan nya sendiri.


Mendengar pertanyaan dari Mamah Risa, Anjar menoleh ke arah Mamahnya, mau mengakui tapi rasanya bagaimana...entahlah.. mendadak memang laki laki itu jadi bingung sendiri dengan ulahnya.


"Tidak usah malu dengan Mamah, cerita Saja...kita hanya berdua nak, yang Mamah punya hanya kamu ..."


Setelah kepergian Papahnya Anjar beberapa tahun yang lalu, Mamah Risa memang menjadi melow ketika melihat Anjar termenung sendiri, apalagi saat ini.


Ada kesedihan yang mendalami yang dirasakan oleh Mamah Risa, bukan hanya kangen dengan almarhum sang Papah, tetapi merasa tidak berhasil membuat putranya bahagia.


"Maafkan aku Mah, bukan bermaksud untuk membuat Mamah sedih."


Paham, Makar paham dengan Apa yang diucapkan oleh mamahnya mamahnya. Laki-laki itu tahu bagaimana perasaan mamanya saat ini yang pasti beliau merasa sedih.


Tidak ingin membuat Mamahnya semakin bersedih akhirnya, Anjar memutuskan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, terserah nanti Mamahnya akan menertawakan cerita yang mungkin tidak masuk akal.


Bagi Anjar, memang rasanya tidak mungkin dan pasti sangat lucu apalagi kisahnya diceritakan oleh orang lain, tetapi....kalau tidak seperti itu, ia akan membuat Mamahnya semakin sedih saja.


"Tidak apa, Mamah saja yang terlalu baper. Cerita saja, kamu bisa percaya sama Mamah."


Anjar mengangguk, dsn menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun ia tau kalau apa yang dilakukan nya itu salah, tetapi..Anjar tidak mau terlalu berharap banyak kepala Erva, yang nanti akhir nya tidak seperti yang dipikirkan.


Mamah Risa tersenyum, ekspresi nya sama dengan yang Rico lakukan. Malahan terlihat bersemangat bukan ikut sedih, karena Mamah Risa sudah bisa menebak kalau putranya itu cemburu buta.


Nah, bener apa yang dipikirkan Anjar, kalau setelah ia bercerita mamanya tersayang dan itu sudah membuktikan kalau memang kebahagiaan mamanya ada pada dirinya.

__ADS_1


Padahal, ia baru bercerita belum ada separuhnya, tetapi Mamah Risa sudah senyum-senyum sendiri dan pastinya beliau senang karena berpikir kalau dirinya itu normal dan sudah jatuh cinta.


"Mama kenapa menertawakanku apanya yang lucu?"


Sudah diduga pasti mamanya akan menertawakannya apanya yang lucu coba lah wong dia bercerita belum sepenuhnya tetapi mamanya sudah tertawa bahkan kalau kalau bisa mamah Risa akan guling-guling di atas ranjang, menertawakan dirinya yang saat ini tidak baik-baik saja.


"Tidak hanya lucu saja, Mama tidak pernah melihat kamu seperti ini, galau bahkan ekspresi wajahmu sangat lucu."


Lagi lagi, Mama Risa membuat Anjar semakin frustasi saja, niatnya untuk bercerita tetapi malah ditertawakan.


"Sudah sudah. Oke, kali ini kita serius. Ada apa sebenarnya??"


Masih saja bertanya, padahal sebenarnya Mamah Risa tau apa yang terjadi, hanya saja ingin mendengar langsung dari putranya.


"Erva....." ucap Anjar lirih.


Tepat sekali, apa yang dipikirkan oleh Mamah Risa benar adanya, kalau yang membuat anaknya galau adalah Erva. Bukan lain lagi


"Erva, ah iyaa ..anak Mamah rupanya sudah jatuh cinta....mau Mamah lamarkan?"


Belum apa apa sudah di kamar, padahal bukan itu permasalahan nya. Kalau soal lamar melamar, pastinya Anjar sendiri sudah bisa., dan tidak perlu lagi meminta bantuan kepada Mamah nya.


"Ckk, bukan itu, Mah...."


"Lalu apa??"


Masih mencoba untuk membuat Anjar membuka mulut nya, ingin lebih jelas lagi bagaimanapun sebenarnya yang terjadi.


"Aku tidak tau, yang jelas Erva mengingkari janjinya untuk makan malam dan lebih memilih bersama dengan Keenan...mungkin sudah balikan."


Mamah Risa melongo, bingung dengan ucapan Anjar, padahal beliau tidak mendapat informasi kalau Erva balikan dengan Keenan, tapi mengapa malahan Anjar berpikir seperti itu.


"Apa tadi kamu bilang, kalau Erva balikan sama mantan nya??"


Sepertinya Mama Risa belum paham dengan apa yang diceritakan oleh putranya, beliau berpikir ini hanya salah paham saja dan bukan mengarah kepada balikannya Erva dengan sang mantan.


Anjar menganggap, yang nyatanya ia memang tau nya seperti itu. Bukan tau nya tetapi yang ia pikirkan seperti itu dan mengarah pada balikannya Erva dengan Keenan.


"Jangan cepat menyimpulkan dulu sebelum kamu membuktikan nya, Mamah tau kalau Erva itu gadis yang baik dan Mamah setuju kalau kamu dengan dia."


Anjar diam, perkataan Mamah Risa itu sama dengan Dokter Rico, tetapi ia masih kekeh dengan pendiriannya, yang berpikir kalau Erva memang balikan sama Keenan.


"Saran Mamah, kamu ketemuan lagi dengan Erva dan bicarakan dengan sebaik baiknya, jangan seperti ini ...kamu yang tersiksa nantinya."


"Mamah tinggal dulu."


Mamah Risa tidak mau berlama lama dengan Anjar, yang nantinya juga percuma. Dan , Mamah Risa akan membiarkan Anjar berdiam diri di dalam kamarnya, dan merenungi apa yang sudah dia lakukan.


Berdoa saja, setalah ini...pintu jati Anjar bisa terbuka dan baikan lagi dengan Erva.


"Arghhh ....."


"Jatuh cinta mengapa sesakit ini??"


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Anjar, laki laki itu berteriak sendiri di dalam kamar, dan Untung nya tidak terdengar sampai keluar.


Tidak bisa melakukan apa apa, dan juga tidak ingin bertindak, hanya menunggu di bukakan pintu hatinya.


"Haruskah aku melupakan kamu, Er...."


Anjar memejamkan mata, yang ada di sana hanya wajah cantik Erva, tetapi ia sendiri ragu apakah saat ini Erva masih sendiri, atau seperti yang ia pikirkan... balikan lagi dengan Keeenan.


Perasaan yang seperti ini sangat menyiksa batin Anjar, dan membuat laki laki itu itu tidak bisa berbuat apa apa.


Lelah, Anjar akhirnya tidur...yang entah mungkin ia akan bermimpi ketemu Erva di sana, dan mengetahui segala permasalahan yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2