Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Suntik Mati


__ADS_3

"Sini dek, mau ke mana?"


Erva menghentikan langkah kakinya, ketika Anjar berbicara dan meminta untuk ke sana.


"Salah ya?"


Jelas salah ..karena Erva belum pernah ke sini sebelum nya, jadi wajar saja kalau Erva tidak tau alias nyasar.


"Iya, untung saja tidak masuk ke tempat orang..."


"Kalau aku sampai masuk ya itu salah Mas, kan Mas gak kasih tau di mana apartemen Mas....", ucap Erva mencoba membela diri, padahal jelas jelas ia yang salah yang sudah kabur duluan dan meninggalkan Anjar.


"Salah aku?? Astaga..anak nya orang!!"


Anjar yang tiba biasa menghadapi seorang perempuan, mencoba bersabar...laki laki itu bahkan berulang kali menghela nafasnya.


"Iya, memang salah Mas....hahaha....."


Seperti orang gila, setelah menyalahkan Anjar, Erva malahan tertawa sendiri. Gadis itu tidak tau saja kalau laki laki di samping nya saat ini begitu gemes dengan nya dan ingin menggigit nya.


Erva duduk, setelah Anjar membukakan pintu. Bukan seperti kebanyakan perempuan perempuan pada umumnya, yang jaim jaim dan malu malu ketika berada di tempat laki laki, Erva beda... ia bahkan sudah duduk dengan santai nya sebelum Anjar meminta untuk duduk.


"Mau minum?"


"Boleh Mas, tapi..nanti saja aku ambil sendiri..."


"Eh mulut ku lagi."


Erva menutup mulut nya, lupa kalau ia saat ini berada di mana yang selalu ambil sendiri...lupa juga kalau yang menjadi tuan rumahnya saat ini adalah seorang laki laki yang sangat perfek luar dalam...


"Tidak apa, aku suka dengan keterus terangan kamu... minumnya di dapur ya, ada di lemari pendingin....aku tinggal sebentar..."


Erva mengangguk setelah tangan Anjar mengarah pada sebuah dapur yang menunjuk di mana letak lemari pendingin itu.


Belum beranjak, Erva masih anteng duduk di sofa dengan pandangan matanya yang mengarah ke segala arah. Entah apa yang dicari oleh gadis cantik itu hingga Erva menemukan sesuatu yang menarik di sana.


"Lucu sekali..."


Erva memandangi sebuah foto yang dilekatkan di meja dekat di mana ia duduk, lalu mengambil nya dan melihat dengan jelas.


Terlihat di sana, Dokter Anjar dengan seorang perempuan yang tidak muda lagi tetapi masih cantik, yang diyakini adalah Mamah nya.

__ADS_1


"Lucu? apa nya yang lucu?"


Seperti jalangkung saja, datang tidak diundang dan pulang tidak diantar, tiba tiba muncul saja..bahkan lebih mengerikan dari pada hantu...


"Eh...."


Kaget juga, karena menertawakan foto Anjar yang menurut nya sangat lucu, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.


"Tidak ada Mas ..."


"Hemm itu bukan lucu, tetapi lebih ke arah imut dan menggemaskan.", ujar Anjar dengan pedenya.


"Oh ya?"


Tidak percaya, kalau Dokter Anjar bisa mengatakan seperti itu..padahal diluar laki laki itu jarang ngobrol dengan orang lain, apalagi dengan seorang perempuan.


"Iya, kamu tidak memperhatikan aku di sana ..imut kan?"


Anjar mengambil foto yang ada di tangan Erva dan melihat nya dengan jelas, memastikan pada Erva kalau memang dirinya imut dan menggemaskan.


"Iya, di sini imut.. tetapi kalau aslinya kenapa tidak??", ledek Erva.


"Aku tidak suka berinteraksi dengan banyak orang, apalagi dengan perempuan..."


"Perempuan?? sampai Mas enggak pernah dekat dengan perempuan dan tidak punya pacar??"


"Iya .. seperti itu ..bagi aku, perempuan itu ribet dan hanya merepotkan saja, bahkan suka mencari perhatian untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan."


Erva melongo, apa tidak salah Anjar menceritakan tentang perempuan kepada nya, bahkan dirinya adalah seorang perempuan.


"Aku perempuan Mas...Ibu kamu juga....dan apa mungkin Mas trauma atau pernah patah hati??"


Anjar tersenyum, menaruh foto itu kembali ke atas meja, lalu duduk di sofa. Erva yang melihat nya juga langung mengikuti di mana Anjar berada saat ini.


"Mamah beda, meskipun beliau seorang perempuan...dan kalau kamu... entahlah....aku sendiri juga bingung mau mengartikannya apa...yang jelas...kamu juga tidak sama dengan kebanyakan perempuan yang aku kenal...."


Tersenyum, merasa tersanjung dengan apa yang dikatakan oleh Anjar...laki laki itu sudah sedikit ada kemajuan yang membuat Erva jadi berbunga bunga.


Ternyata, ia adalah satu satu nya perempuan yang masuk dalam kriteria Anjar, yang tidak seperti perempuan lainnya.


"Trauma?? patah hati??", Anjar menggeleng...lucu sekali kalau ada yang bilang seperti itu , tetapi tidak salah juga karena memang orang orang taunya kalau Anjar belum punya pacar dan anti dengan perempuan, makanya berpikir seperti itu.

__ADS_1


"Itu mungkin kamu, dek yang trauma...aku enggak..."


"Ih .. suka benar deh...tapi aku enggak sampai trauma lah Mas, hanya saja lebih selektif lagi...."


"Boleh deh, cari tau tentang aku .. apa aku punya pacar pacar atau enggak."


"Hah??"


Erva menoleh ke arah Anjar, yang nyatanya dengan adanya ucapan dari Anjar itu seakan akan meminta untuk dirinya menyelidiki dan ingin menuju ke tahap berikutnya yang lebih spesifik dan indah lagi..


"Jangan dipikirkan, aku sudah bilang kalau jalani saja dulu. Ke dapur yuk?"


Tidak ingin Erva terlalu kepikiran dengan apa yang dikatakan, Anjar memegang tangan Erva dan mengajak nya untuk ke dapur.


Erva tidak menjawab, ia hanya diam dan mengikuti apa yang Anjar pinta.


"Mau masak apa?"


Pertanyaan yang aneh. Anjar yang seharusnya memilih bahan masakan untuk di masak, bukan malahan menanyakan kepada Erva..ya Erva bengong saja dan tidak tau apa yang akan di masak.


"Aku enggak tau Mas, yang ada apa disini?"


Sembari bertanya, Erva membuka lemari pendingin yang sama sekali belum di bukanya, dan melihat ada apa di dalam nya.


"Seperti nya masak ikan enak Mas...."


Tidak seperti yang dikatakan dari tadi saat di Rumah Sakit, kalau Anjar akan mengajarkan Erva masak Ayam bakar, tetapi kenyataannya.. tidak ada ayam di sana.


"Boleh... aku bisa."


"Serius...Mas bisa??"


Tidak percaya, orang seperti Anjar bisa melakukan apapun juga, apalagi memasak...mana ada waktu?? kan sibuk dengan urusan nya di Rumah Sakit.


"Bisa, kalau aku bisa masak enak...dapat hadiah apa??"


Astaga...kalau sampai ini terdengar di telinga Rico, Anjar bakalan ditertawakan habis habisan oleh laki laki itu.


"Terserah, Mas mau minta apa ..yang pasti aku tidak punya apa apa...."


"Gampang....awas saja kalau aku minta tapi enggak kamu kasih...aku suntik mati kamu nya, dek..."

__ADS_1


"Eh ngancam... bisa juga ternyata...."


Ternyata, memang tidak semenakutkan yang dilihat biasanya...Anjar yang saat ini hanya berdua dengan Erva malahan terlihat sangat akrab dan tidak dingin seperti es batu, bahkan laki laki itu juga bisa bercanda.


__ADS_2