Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Rencana Jahat


__ADS_3

Kedua nya mematung seketika, tidak ada yang bersuara, terlebih Erva yang rasanya malas sekali dan ngantuk. Rencana pulang dari apartemen Anjar, gadis itu akan langsung tidur tapi nyatanya tidak. Erva bahkan harus ke Rumah Sakit untuk menjenguk Keenan dan mungkin juga akan merawat nya.


"Aku lapar beb, ...", ucap Keenan tiba tiba yang membuat Erva kaget dan melihat ke arah Keenan.


Tidak salah memang jika Keenan meminta makan pada Erva, karena Erva lah yang memegang piring nya saat ini, dan tentu nya Keenan juga ingin disuapi oleh Erva dan diperhatikan.


"Ini, makanan lah..."


Erva memberikan makanan untuk Keenan, dengan harapan ia tidak menyuapi laki laki itu tetapi yang ada malahan Keenan menggelengkan kepala nya, tanda kalau tidak mau.


"Aku sakit Lo beb, suapin!!"


"Hah?? yang sakit perut nya kan, bukan tangannya..makan sendiri aku temenin."


Sudah berbaik hati Erva mau datang dan menemani Keenan di sini tetapi laki laki itu malahan berulah dan menginginkan yang tidak tidak.


"Aku tau, makanya makan supaya cepat sembuh.",


Erva mengambil kursi dan duduk di samping Keenan, hanya menemani Keenan makan saja setelah itu minum obat dan pergi dari sini secepat nya


Keenan menggeleng, ia akan mati matian mogok makan dan minum obat andai saja, andai Erva tidak menyuapi nya.


"Terserah, kalau kamu enggak mau makan ...aku enggak peduli ."


Sebenarnya Erva kasihan dengar Keenan, apalagi melihat wajahnya yang pucat dan juga sudut bibir nya yang terluka. Ia yakin luka itu karena pukulan Papah nya semalam, dan sakit nya Keenan juga karena dirinya, yang semalam hujan hujanan ketika menemui nya di rumah.


Lima menit sampai sepuluh menit, keduanya diam kembali dan tidak ada yang bersuara. Erva tetap kekeh dengan pendiriannya, begitu juga dengan Keeenan yang seperti nya semakin terlihat menderita.


Erva melihat ke arah Keenan, wajah laki laki itu semakin pucat bahkan terlihat menggigil.


Tidak tega, Keenan juga manusia.. tidak mungkin ia akan tega melihat laki laki yang pernah ada dalam dirinya sekarat dan akhirnya mati.


"Bendel banget...."


Erva mengambil piring dan menyuapi Keenan, jangan tanyakan bagaimana perasaan nya saat ini, yang pasti campur aduk


"Makan dulu..."

__ADS_1


"Bantu aku beb, lemes banget."


Bukan cuma karangan saja, tetapi memang Keenan tidak punya tenaga. Laki laki itu sama sekali tidak mau makan semakin Erva datang sana alhasil sekarang tidak punah tenaga untuk sekedar mengangkat tubuh nya.


Mau tidak mau, Erva membantu Keenan. Sejenak ia hilangkan rasa ego nya, demi membuat Keenan cepat sembuh dan ia juga cepat pulang.


"Makasih beb, Mas rela sakit kalau kamu ada disini..."


Maskipun lemas, tetapi mulut nya masih bisa gombal, padahal tau sendiri rasanya sakit itu gimana, pasti tidak enak.


"Makan lah, Kak ..aku tidak banyak waktu."


Dan aku tidak akan membuat kamu pergi, aku akan menahan mu , beb...


Erva mulai menyuapinya Keenan, dan perlahan lahan makanan yang ada di piring Keenan sudah habis.


"Minum obat dulu..."


Keenan menggeleng ,kalau ia minum obat itu artinya setelah ini ia akan tidur dan Erva pasti meninggalkan nya, Keenan tidak mau itu terjadi.


Tidak salah, mungkin memang tidak ada obat lain lagi selain Erva , wajah Keenan yang tadinya pucat sekarang jadi seger dan juga tidak lemas lagi.


Erva datang dan memberikan harapan besar untuk Keenan supaya cepat sembuh. Bukan untuk yang lainnya.


Keenan memegang tangan Erva , meminta maaf dengan tulus supaya Erva bisa memaafkan dan juga menerima nya kembali.


"Aku sudah memaafkan kamu, Kak...", jawab Erva jujur


Memang kalau soal memaafkan, Erva sudah memaafkan Keenan...jauh sebelum laki laki itu meminta maaf, tapi... hanya untuk maaf saja bukan untuk yang lain.


Keenan tersenyum, dan masih memegang tangan Erva, kangen dengan suasana seperti ini, di mana mereka dulu saling mencintai dan berjanji akan setia, tetapi ternyata.. takdir tidak berpihak pada mereka.


"Kita balikan ya, maafkan kesalahan Mas yang dulu, maaf ....Mas khilaf dan Mas akui kalau Mas salah...tapi Mas masih sangat mencintai kamu."


Masih dengan menggenggam tangan Erva, karena ia ingin Erva kembali lagi padanya.


Cekrek...cekrek....

__ADS_1


Keena tersenyum, setelah ia melihat Anti yang sudah menjalankan tugasnya dengan baik, dan ia melanjutkan lagi pura pura sakit dan lemes nya,. berharap kasihan dari Erva.


"Maaf, kalau untuk kembali..aku tidak bisa Kak, aku sudah memaafkan Kak Keen, dan menganggap tidak terjadi apa apa..."


Jawab Erva yang mungkin jujur atau enggak, tetapi meksipun ia masih ada rasa dengan Keenan, Erva tidak mungkin dan tidak mau lagi balikan dengan laki laki itu


Luka yang ditorehkan nya cukup dalam dan hampir membuat dirinya kehilangan arah, jadi tidak mudah untuk Erva balikan lagi dengan Keenan.


Erva menarik tangannya, rasanya tidak pantas berpegangan dengan Keenan, bukan siapa-siapa nya lagi.


"Baiklah, tapi ..kita masih berteman kan?? dan kamu tidak membenci aku, beb??"


Bukannya mengalah, tetapi ini adalah cara yang tepat supaya Erva mau dekat lagi dengan dirinya, dengan begitu...Keenan akan mudah menjerat hati Erva lagi.


Erva mengangguk, untuk berteman tidak dilarang... tetapi jangan berharap lebih dari nya.


"Terimakasih, Mas senang."


"Sama sama."


Erva melihat jam ditangan nya dan waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, tetapi..kedua orangtuanya Keenan belum datang. Sedangkan Mona, sahabat nya itu baru memberikan kabar kalau tidak bisa ke Rumah Sakit.


Erva mengambil ponsel yang ada di tasnya, dan melihat...apalah ada pesan masuk dari Anjar, tetapi sampai sore ini ..laki laki itu belum mengirimkan pesan di mana nanti malam dinner nya, apakah jadi atau tidak, mengingat Anjar adalah Dokter terbaik yang pastinya banyak dibutuhkan.


Satu jam


Dua jam berlalu, tetapi orang tua Keenan belum juga datang, Erva juga melihat ke ponsel nya yang sama sekali tidak ada pesan dari Anjar , dan parahnya lagi.... ponsel Erva sebentar lagi batrenya habis.


"Kalau mau pulang, pulang saja beb, biar diantar sama Anto ", ujar Keenan dengan penuh tanda tanya di benak nya.


"Tidak, nunggu Tante Arin dulu."


Tidak enak meninggalkan Keeenan sendiri, karena beberapa saat lalu...Tante Arin sudah telpon dan mengatakan untuk menunggu nya sebentar, apalagi tidak ada orang di sini, hanya ada Anto yang mungkin tidak bisa diandalkan...


"Aku ke toilet dulu Kak...."


Keenan mengangguk saja, dan ini adalah kesempatan baginya untuk mengambil ponsel dan mematikan ponsel Android Erva, Keenan tau kalau Erva dan Anjar akan pergi malam ini.

__ADS_1


__ADS_2