
Terserah, apapun yang dikatakan oleh Kenan, Erva hanya diam saja ia tidak menjawab iya ataupun tidak dan malas rasanya kalau harus menanggapi apa yang dibicarakan oleh laki-laki itu.
Suasana hening kembali dengan Erva yang masih berkutat dengan ponselnya, karena ia lebih memilih untuk memainkan game daripada mendengar ocehan dari dokter Keenan yang sama sekali tidak bermanfaat.
Sedangkan Keenan sendiri, masih fokus menyetir tetapi sesekali ia melirik ke samping, melihat ke arah Erva yang masih asik dengan dunianya sendiri.
Hingga akhirnya, mobil yang dikemudikan oleh Keenan sudah sampai di parkiran sebuah restoran Jepang, restoran yang tidak asing lagi bagi Erva dan Keenan tentu nya.
"Sudah sampai Beb, ayo turun?"
Keenan berusaha untuk tidak terlihat memaksakan diri, ia juga tidak membukakan sabuk pengaman untuk Erva padahal tangannya sudah gatal ingin membukanya, tetapi ia coba tahan... ia tidak mau kalau Erva malah menjauh gara-gara dirinya yang terlalu agresif.
"Oh iya kak."
Saking asiknya fokus ke dalam permainan, Erva tidak memperhatikan kalau sekarang sudah sampai dan ia langsung membuka sabuk pengaman dan juga pintu, tidak ingin Keenan membukakan pintu untuknya.
Keenan dan Erva berjalan bersama, mereka masuk di sebuah restoran Jepang yang memang sudah dipesan lebih dulu oleh Keenan sebelum ia menjemput Erva.
Bukan di private room, tetapi di sebuah ruangan di mana ruangan itu memang khusus untuk pasangan yang lagi mesra-mesranya dan bisa melihat keadaan luar dan juga dengan suasana yang romantis.
Keenan sengaja memilih tempat itu karena ia tahu Erva tidak suka berada di privat room, dan lebih senang berada di ruangan terbuka seperti ini.
"Mas pesankan dulu ya Beb seleramu masih sama kan?", tanya Keenan mencoba untuk membuat suasana hati Erva kembali ceria dan tidak menganggapnya terlalu agresif untuk menginginkan Erva.
"Iya Kak terima kasih jangan lupa ya sambalnya yang banyak."
__ADS_1
Selalu saja tidak lupa sambel, bahkan Erva tidak ingat kalau dirinya pernah masuk rumah sakit gara-gara sambel.
"Tentu, Mas tau kebiasaan kamu dan Mas tau makanan kesukaanmu beserta berapa level yang kamu inginkan."
Erva mengangguk, tetapi setelah Keenan pergi dari hadapannya ia berpikir kenapa perlakuan Keenan dan juga Anjar itu sangat berbeda, kalau Anjar dirinya request pedas pun tidak akan pernah diberikan. Tetapi kalau Keenan, apapun keinginannya pasti diberikan bahkan bahaya pun sepertinya Keenan tidak peduli.
Bukannya membandingkan, memang kenyataannya seperti itu antara Keenan dan Anjar itu berbeda.
Tidak menunggu lama makanan yang dipesan oleh dokter Keenan sudah ada di depan meja. Erva yang memang lapar melihat makanan di depannya langsung saja menyantap tanpa basa-basi bahkan ia juga lupa untuk menawarkan kepada Keenan dan memilih untuk makan lebih dulu.
"Ini tadi level berapa Kak?"
"Seperti apa yang biasanya kamu makan, Mas masih hafal bagaimana selera pedas kamu."
Oke tidak masalah, mungkin untuk kali ini Erva memang mencoba untuk makan makanan pedas lagi toh juga selama ini ia sudah menuruti apa yang dikatakan oleh dokter Anjar kalau tidak makan makanan yang pedas dan hanya sekali ini saja iya iya iya tidak masalah dan semoga baik baik saja.
Tidak ada jawaban Erva, gadis itu langsung saja mengunyah makanannya tanpa ia tahu di depannya ada seorang laki-laki yang dari tadi memperhatikan Erva.
...****************...
"Tenangkan hatimu, mereka hanya makan saja tidak lebih, kamu bisa melihat kan bagaimana mata Erva memandang Keenan? tidak ada apa-apa hanya sebatas teman saja."
Ya yang berada di depan Erva saat ini adalah dokter Anjar dengan dokter Riko, mereka kebetulan sekali sore-sore begini makan berdua dan sasarannya adalah di restoran Jepang, pas seperti yang Erva dan Keenan makan sore ini.
Dan terlihat jelas kalau dokter Anjar merasa cemburu karena dari tadi memperhatikan gerak-gerik Erva, bagaimana cara Erva memandang Keenan dan bagaimana juga cara Keenan memperlakukan Erva.
__ADS_1
"Bukan itu, bukan itu yang aku perhatikan, aku hanya memperhatikan makanan yang ada di depan Erva, gila saja. Kamu tidak lihat itu makanan warnanya sampai merah begitu apa tidak pedas sekali."
Rico mengangguk, ia juga melihat makanan yang ada di depan Erva, dan seperti yang dikatakan oleh Anjar, apa tidak salah dokter Keenan memberikan makanan untuk Erva yang Rico tau kalau Erva ada masalah dengan lambungnya.
"Dokter itu memang gila! Sama sekali dia tidak memperhatikan kesehatan Erva, apakah itu yang namanya cinta? cinta kok begitu.. kenapa tidak dilarang saja??", ucap Anjar lagi dengan nada yang begitu emosi bukan hanya karena melihat kemesraan dokter Keenan dengan Erva tetapi juga melihat cara dokter Keenan memperlakukan Erva. Dia memang baik, tetapi untuk memilih makanan yang sehat bagi Erva rasanya dokter Keenan belum mampu.
Ingin rasanya dokter Anjar menghampiri Erva dan menariknya keluar, tetapi ia sadar kalau posisinya saat ini bukan apa-apa untuk Erva, salah-salah Erva akan tambah membencinya.
Ya dokter Anjar masih mengira kalau Erva dengan Dokter Keena sudah balikan lagi dan akan segera menikah maka dari itu ia hanya mengumpat kesal saja dan hanya bercerita dengan dokter Rico.
"Bagaimana, apa kamu menghampirinya?"
Tau apa yang dirasakan oleh dokter Anjar, hingga dokter Rico menanyakan seperti itu , siapa tahu memang dokter Anjar ingin menghampiri Erva yang masih asik dengan makanan berwarna merah nya.
"Tidak ,aku bukan siapa-siapa .... aku tidak berhak untuk mencampuri mereka, sudahlah kita lanjut makan saja dan semoga Erva tidak apa-apa , aku kasihan dengan dia."
Oke no problem men dan kalau seperti ini aku semakin yakin saja kalau dirimu itu benar-benar mencintai Erva, hanya saja waktu yang belum tepat untuk kalian bersama... tunggulah sebentar lagi aku yakin kalian pasti akan bersama, batin dokter Rico.
Dokter Rico dan Dokter Anjar melanjutkan kembali makan sorenya tetapi tetap saja pandangan mata dokter Anjar masih melihat ke arah depan melihat Erva.
Kenapa sampai saat ini aku tidak bisa melupakanmu dek dan kenapa harus dia yang kamu pilih apakah kamu tidak melihat bagaimana ketulusan cinta aku? oke aku akui aku memang bukan laki-laki yang romantis Aku juga belum menyatakan cinta kepada kamu tetapi apakah kamu tidak melihat bagaimana sikap dan perasaan aku selama ini kepada kamu, batin Dokter Anjar.
Deg
"Mas Anjar,", batin Erva.
__ADS_1
Eva kaget karena ia baru melihat Kalau dokter Anjar ada di depannya dan sungguh ini bukan pertemuan yang membahagiakan untuknya.