
"Kak...."
Dengan cepat Erva menahan tangan Keenan yang ingin merobek foto mesra Keenan dengan sang mantan. Cara nya tidak seperti itu, percuma saja di robek kalau di dalam hatinya masih menyimpan rasa cinta dan rasa yang lainnya untuk mantan.
"Kenapa?? Kakak mau membuktikan sama kamu, kalau Kakak ingin serius dengan kamu, dan melupakan masa lalu Kakak ...."
Keenan menghentikan pergerakan tangan nya yang ingin merobek foto mesra yang sudah membuat Erva berpikir yang tidak tidak, karena tangan Erva yang masih berada di atas tangan nya.
"Bukan seperti itu....percuma kalau Kakak masih menyimpan namanya di dalam hati Kakak...."
"Lalu bagaimana?? bagaimana caranya bisa meyakinkan kamu kalau Kakak memang benar benar ingin menjalin hubungan yang serius dengan kamu??"
Keenan berhasil menjatuhkan foto yang tadi dipegangnya, dan ia melihat ke arah tangan Erva yang masih memegang tangan nya. Laki laki itu tersenyum, kemudian mengambil tangan Erva, memegang nya dan menciumnya berulang ulang....
"Bantu kakak untuk bisa melupakan nya, meskipun saat ini ...kamu sudah berhasil masuk ke dalam hatiku, tetapi....Kakak tidak mau kalau kamu sampai meragukan ketulusan hati Kakak, bisa???"
Belum menjelaskan, Erva malahan melihat wajah Keenan, sangat tampan dan sempurna sebagai seorang laki laki, apalagi pekerjaan nya yang sebagai Dokter, membuat laki laki itu sekali di puja bahkan diperebutkan.
Erva mengangguk, ia sudah melihat di mata Keenan kalau tidak ada kebohongan di sana, dan tidak ada salahnya untuk mencoba melangkah lebih jauh lagi, apalagi Keenan kemarin yang juga sudah meminta ijin dan restu kepada kedua orangtuanya, yang itu artinya kalau laki laki di depannya memang serius untuk menjalin kisah manis dengan nya.
__ADS_1
Keenan tersenyum, kemudian menarik tubuh Erva ke dalam pelukannya. Nyaman, itu yang dirasakan oleh Keenan maupun Erva....
"Sesak Kak, bisa dilepaskan?"
Tentu saja sesak, karena Keenan memeluk nya dengan sangat erat, seperti tidak mau kehilangan gadis cantik yang sudah berhasil membuka nya berpaling dari sang mantan.
"Terlanjur nyaman, jadi enggan untuk melepaskan...."
"Modus...."
Tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan Keenan, Erva kembali berdiri dan melihat lagi ke arah jendela, menatap gedung gedung yang menjulang tinggi....
Erva mengangguk, Keenan tidak hanya perhatian pada kesehatan Erva, tetapi juga dengan pendidikan nya.
...*****...
Sementara di tempat lain, Romi tidak konsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan nya, bukan karena ia tidak paham dengan apa yang kemarin dijelaskan oleh Om Bram, tetapi ...ada pikiran lain yang saat ini menghantui nya.
Tidak konsentrasi, sama saja bohong...Tomi akhirnya memilih untuk meninggalkan Perusahaan Papahnya, bukan untuk pulang tetapi ke rumah Erva.
__ADS_1
"Apa hubungannya Erva dengan Dokter itu???"
Sedari tadi pikiran Romi terus saja berkutat seputar Erva, apalagi ia tau tadi siang asisten dari Dokter Keenan yang menjemput Erva, semakin penasaran saja Romi dibuatnya.
Romi meninggalkan Perusahaan, dan melajukan mobilnya menuju ke kediaman Gunawan, rumah Erva...yang tentu saja ingin memastikan apakah Erva sudah pulang ke rumah atau belum, juga menanjak tentang Dokter Keenan kepada Tante Hana, Mamahnya Erva.
Beberapa menit kemudian, mobil Roni sudah sampai di halaman rumah Erva. Ia segera turun untuk memastikan Erva sudah sampai di rumah atau belum.
"Sore Tante, Erva sudah pulang??"
Langsung saja Romi menyapa Mamah Hana, yang saat ini berada di ruang tengah, santai sejenak.
"Erva?? belum pulang, katanya lagi jalan sekalian makan siang dengan Dokter Keenan...", jawab Mamah Hana yang memang sudah mendapatkan kabar dari Keenan sendiri.
"Belum?? dan pergi dengan Dokter Keenan???"
Ternyata dugaan nya benar, kalau Erva memang belum pulang dan pergi dengan Dokter Keenan..
"Iya Rom... duduk dulu, sebentar lagi juga pulang...."
__ADS_1