
Anjar berulang kali menciumi wajah Erva yang ia begitu bahagia saat ini meskipun tadi sempat dilanda cemburu manakala Erva berbicara dengan sang mantan.
Tetapi untung saja Anjar bisa mengontrol emosinya meskipun ia tahu jika Erva tidak janjian dengan Keenan tetapi melihat Erva bersama dengan laki-laki lain Anjar tentu saja cemburu dan emosi.
Namun ia sadar jika istrinya memang benar-benar tidak tahu juga ada Keenan di sana dan tentunya Anjar juga tidak boleh emosi, ia harus bersikap lembut dan tidak menyakiti Erva.
Anjar memeluk tubuh Erva dengan saat erat sekali lagi laki-laki itu mengucapkan maaf dan juga terima kasihnya karena menikah dengan Erva membuat hidup Anjar jadi berwarna-warni.
Laki-laki itu sangat beruntung mendapatkan Erva mendapatkan seorang gadis yang benar-benar tulus mencintainya dan tidak ada niatan dari Erva untuk menghianatinya itu yang Anjar tangkap dari Erva dan pastinya ia juga sangat mencintai Erva tidak akan melepaskan istrinya sampai kapanpun.
"Oh ya lupa Mas, tadi pagi tante Arin datang ke sini."
Karena kesibukannya di rumah dan juga tiba-tiba Anjar yang datang langsung memangsanya hingga Erva lupa untuk mengabarkan kabar ini kepada Anjar tentu saja ini adalah kabar baik yang pastinya Erva berharap dengan berlangsungnya acara besok malam tidak akan mengejarnya lagi.
"Tante Arin, Mamanya Keenan? ada apa lagi dek? jangan bilang kalau beliau datang ke sini untuk meminta kamu membujuk anaknya supaya berubah sifatnya seperti itu."
"Ih pikirannya negatif terus, bukan itu. Tante Arin memberikan undangan pertunangan Dokter Keenan besok malam."
"Astaga, ia aku juga dapat. Maaf lupa saking sibuknya, tetapi aku juga belum melihat undangan itu karena undangan itu tadi pagi dibawa oleh Anto dan diserahkan kepada Aris dan aku belum kembali lagi ke rumah sakit. Dan Aris menelponku untuk memberitahu undangan dari Dokter Keenan tentunya, tapi apa benar dek jika Dokter Keenan Kinan bertunangan besok?"
Anjar sepertinya tidak percaya dengan berita yang dikabarkan oleh Aris tadi pagi tetapi ia juga lupa untuk menanyakan itu kepada Erva hingga sore ini, Erva yang mengatakan kepada Anjar dan pastinya antara yakin dan tidak, apakah mungkin jika Dokter Keenan itu menerima pertunangan dengan seorang perempuan yang nyatanya Anjar sendiri tahu jika Dokter Keenan itu masih mengejar istrinya.
"Pertunangannya sih benar, tetapi tidak tahu nanti jadinya bagaimana."
Erva melepaskan pelukan dari suaminya, kemudian ia beranjak dari atas kasur dengan tanpa menggunakan penutup sedikitpun lalu berjalan untuk mencari undangan yang tadi pagi diberikan oleh Tante Arin.
__ADS_1
"Dek jangan memancingku lagi, apa kamu sengaja ingin aku terkam?"
Melihat Erva yang seperti itu tentu saja Anjar tidak karuan dan ingin rasanya mengulang kembali sore panas bersama istrinya.
"Siapa yang memancing Mas, aku hanya ingin mengambil undangan saja dan maaf lupa untuk memakai selimut lagian salah siapa mata Mas itu tidak bisa dikondisikan, sudah lihat aku seperti ini dan sudah mendapatkannya masih saja ingin lagi."
Selalu saja Erva bisa menjawab apa yang dikatakan oleh suaminya dan pastinya ia tersenyum manakala melihat ekspresi wajah Anjar yang menginginkannya kembali.
"Awas aja kamu, dek!!"
Erva tersenyum tidak masalah dengan ancaman Anjar barusan yang nyatanya suaminya memang seperti itu selalu mengancam tetapi membuat mereka senang karena dengan begitu ia merasa dibutuhkan dan diinginkan oleh Anjar.
Erva kembali dengan menyerahkan undangan yang tadi pagi diberikan oleh tante Arin kepada suaminya, ia pun beranjak naik ke atas tempat tidur dengan Anjar yang langsung saja menarik tubuh Erva dan memeluknya.
"Jadi beneran Dokter Keenan akan bertunangan?"
Anjar mengeryitkan alisnya, ia melihat ke arah Erva yang sepertinya Anjar bingung dengan apa yang diucapkan oleh Erva barusan.
"Maksudnya apa dek, aku tidak mengerti."
"Begini Mas, tadi pagi Tante Arin datang ke sini, ia menyerahkan undangan pertunangan Dokter Keenan besok malam dan tentu saja tidak hanya itu kami ngobrol-ngobrol banyak dan yang kami obrolkan itu juga tentang Dokter Keenan yang nyatanya dia dan gadis yang mau dilamar olehnya itu bukan saling kenal tetapi mereka dijodohkan."
Anjar mengangguk, sekarang ia paham kenapa tiba-tiba tidak ada angin dan tidak ada hujan sebuah undangan pertunangan Dokter Keenan itu sampai padanya, tentu saja ia yang paham dengan bagaimana Keenan langsung saja bingung terlebih lagi selama ini Keenan tidak terlihat untuk menggandeng seorang perempuan setelah memutuskan hubungannya dengan Erva dan tentu saja Anjar masih menganggap jika kalian itu masih mencintai istrinya bahkan baru saja tadi sore Anjar juga melihat jika Keenan masih mengejar istrinya dan tampak di mata Keenan kalau laki-laki itu masih mengharapkan Erva.
"Dan yang anehnya lagi Mas, mengapa Dokter Keenan malahan mengatakan kalau hanya pertunangan saja dan tidak akan menikah."
__ADS_1
Ya semuanya Erva ceritakan kepada suaminya bukan hanya tentang pertemuannya dengan tante Arin tadi pagi tetapi juga pertemuannya dengan Dokter Keenan yang pastinya membahas tentang niat jahat Keenan yang hanya sekedar bertunangan tanpa harus menikah.
"Sudah aku duga, pasti laki-laki itu seperti itu dan aku juga tidak yakin jika Keenan mau menerima perjodohan ini. Walaupun sebenarnya aku sangat berharap jika Keenan benar-benar menerima dengan ikhlas dan dapat menikah dengan perempuan itu yang pastinya perempuan itu juga berasal dari keluarga yang baik dan pastinya pilihan dari Mamahnya Keenan itu tidaklah salah."
"Aku juga berharap seperti itu, aku sudah capek Mas untuk mengingatkan kepada dia kalau jangan mengejarku lagi, aku sudah mencintai Mas dan tidak akan pernah berpaling atau meninggalkan Mas."
"Aku juga mencintai kamu dek, sangat mencintai kamu."
Anjar mencium kening Erva kemudian memeluk kembali tubuh istrinya yang membuatnya nyaman.
"Apa Mas besok mau datang ke sana?"
Anjar tersenyum kemudian melihat ke arah Erva tentu saja pertanyaan itu tidak harus ditujukan olehnya tetapi yang seharusnya yang menjawab adalah Erva sendiri.
"Kebalik dek, sepertinya aku yang harus bertanya itu kepada kamu, apakah kamu mau datang ke sana besok?"
"Ya kalau Mas mengijinkan aku pasti datang dan tentu saja aku akan datang dengan mas."
"Aku sih tidak masalah dan kita akan pergi besok tetapi aku takut jika nanti kamu di sana nangis karena tidak kuat melihat Keenan bertunangan dengan perempuan lain."
"Maksudnya apa coba? tidak akan ya aku menangis karena dia."
Erva langsung saja menjauhkan tubuhnya dari Anjar tentu saja perempuan cantik itu memanyunkan bibirnya mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya.
"Eh lupa, apa perlu aku ingatkan kamu, satu tahun yang lalu siapa yang menangis di dalam sebuah gedung pernikahan kemudian keluar dari gedung itu?"
__ADS_1
"Eh..."