Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Demi Erva


__ADS_3

Emosi Papah Bram semakin tak terkendali, manakala ia melihat Keenan yang tersenyum menatap nya. Bukannya takut, tetapi laki laki itu malahan sengaja memperlihatkan wajahnya di depan wajah orang tua Erva, yang mungkin Papah Bram pikir itu adalah tidak sopan.


Sudah tau salah, tapi mengapa malahan masih berani menatap Papah Bram yang membuat Papah nya Erva itu semakin bertambah emosi saja., mungkin yang ada di pikiran Papah Bram seperti itu.


"Jawab Keen!! apa kamu ingin menjadikan Erva istri kedua mu??", tanya Papah Bram sekali lagi, dan dengan raut wajah yang masih seperti tadi, emosi bahkan masih juga ingin memberikan pukulan ke wajah dan tubuh Keenan.


"Tidak Om, sama sekali tidak ada keinginan di dalam hatiku untuk menjadikan Erva istri kedua atau semacamnya, tetapi...aku hanya ingin menjadikan Erva satu satunya istri ku ..istri yang paling aku sayangi dan cintai i....", jawab Keenan yakin.


Ia memang sangat yakin akan memperistri Erva dan tidak terbesit sedikit pun dari nya untuk menjadikan Erva istri ke dua, ataupun ingin beristri banyak.


"Omong kosong macam apa itu??"


Papah Bram masih tidak menerima, ia tidak percaya dengan ucapan Keenan. Papah Bram belum tau kalau Keenan sudah bercerai dari istri nya dan saat ini menyandang status duda.


Bugh...


Bugh....


"Papah sudah!!!"


"Papah!!!"


Papah Bram meronta, ia kemudian berhasil meloloskan diri dari genggaman tangan Erva dan Mamah Hana, dan langsung mendaratkan bogeman mentah di perut dan juga wajah Keenan.


Kesal, marah dan emosi bercampur jadi satu. Beliau hanya bisa meluapkan nya lewat pukulan dan makian saja, tapi itu mungkin tidaklah cukup.


"Papah!!!"


Mamah Hana dan Erva saling berteriak, karena melihat Papah Bram beraksi dan memukul Keenan.


Keenan tersungkur di lantai, ia tidak siap mendapatkan pukulan yang bertubi tubi dari Papah Bram, dan meskipun Keenan siap, ia akan pasrah dan tidak melawan.

__ADS_1


Biarlah ia merasakan sakit terkena pukulan dari Papah Bram, asal itu bisa membuat Papah Bram memaafkan dan merestui hubungan nya dengan Erva.


"Kak....."


Tidak tega, Erva menghampiri Keenan dan membantunya berdiri. Melihat Keenan seperti itu, hatinya juga sakit.... tidak perduli dengan apa yang sudah dilakukan oleh Keenan dulunya, tetapi.. ia benar benar tidak tega melihat Keenan tak berdaya seperti itu.


"Pulang saja Kak, sudahlah...aku dan Papah sudah maafin kamu, pulang saja....", pinta Erva sekali lagi.


Gadis itu tidak tega melihat kondisi Keenan, memang tidak sampai pingsan.... tetapi sudut bibir nya sudah mengeluarkan darah dan juga tangan Keenan yang memegangi perut, seperti nya memang sakit di bagian perut nya


"Tidak Beb, Mas gak mau pulang kalau belum selesai ngomong dengan Om Bram...jangan khawatir Mas... tetapi..Mas senang kamu sudah khawatir..Mas enggak apa apa, percayalah...Mas akan bertahan demi cinta kita...."


Erva menarik nafas, menggeleng pelan...salahkah ia yang membantu Keenan berdiri dan tidak tega melihat keadaan nya??? tidak bukan.


Tapi mengapa kebaikan dan rasa tidak teganya itu di salah artikan dengan yang lainnya. Erva tidak mau itu.


Kalau saja ini bukan dirumahnya, dan kalau saja yang memukul Keenan bukan Papah nya, mungkin Erva akan meninggalkan Keenan yang masih dengan kondisi mengenaskan dan tidak akan peduli sama sekali.


Erva memilih mundur, setelah Keenan bisa berdiri dengan baik dan benar dan kondisi nya juga agak mendingan. Ia tidak mau Keenan Geer dan berharap banyak padanya, yang sudah jelas jelas Erva tidak ingin kembali lagi pada Keenan.


Dengan bibir yang sedikit bengkak, Keenan dengan mantap mengatakan itu. Ia bahkan tidak perduli nanti bagaimana reaksi Papah Bram setelah menceritakan yang sebenarnya.


"Apa maksud mu???"


Papah Bram kembali murka, tangan nya beraksi lagi dan mencengkeram baju Keenan.


"Pah, sudah.....", ucap Mamah Hana yang berusaha menarik tangan Papah Bram.


"Sudah bagaimana Mah...anak ini harus di kasih pelajaran.. tidak bisa seenaknya saja."


Mamah Hana diam saja, tau betul bagaimana sifat Papah nya Erva kalau sudah begini.

__ADS_1


"Cepat katakan!! kalau tidak keluarlah dari rumah ku!!!"


Rasanya Papah Bram sudah tidak tahan lagi dengan Keenan yang dari tadi basa basi dan tanpa mengatakan yang sebenarnya, terlalu ribet dan bertele-tele.


"Aku sudah duda, Om...dan pernikahanku dengan Amira sudah berakhir."


"Apa??"


Bukan nya senang, Papah Bram malahan kaget dan menggelengkan kepala nya. Ekspresi nya yang tidak biasa membuat orang lain jadi bertanya tanya, ada apa?? dan apa yang dipikirkan nya??


Tidak juga memperlihatkan ekspresi wajah yang senang karena Erva bukan jadi yang ke-dua, tetapi...Papah Bram malahan menampakkan wajah kecewanya... tidak suka dengan ucapan Keenan barusan.


Padahal, kebanyakan orang tua pasti senang jika mendapat menantu yang masih single, tidak terikat perkawinan dengan wanita manapun... tetapi tidak dengan Papah Bram, khusus nya dengan Keenan.


Mau Keenan punya istri, single atau duda....Papah Bram tidak perduli, karena bagi beliau....Keenan sudah banyak menyakiti hati Erva, dan tidak bisa di maafkan lagi.


"Duda?? jangan pikir Om percaya begitu saja..."


Tidak tau apa yang dimaksud dengan Keenan, mengapa ia membahas tentang statusnya, atau Keenan hanya berbohong saja supaya bisa mendapatkan restu dari Papah Bram? itu yang dipikirkan Papah Bram saat ini.


"Tidak Om, kenyataan nya memang benar. Aku dan Amira sudah bercerai satu tahun yang lalu."


"Apa??", ucap Mamah Hana dan Papah Bram bersamaan.


Tambah tidak percaya lagi, apalagi pada dasarnya Papah Bram bukan tipe orang yang mudah percaya begitu saja dengan orang lain, dan ini....apalagi...baru satu tahun yang lalu menikah terapi sudah bercerai...lelucon macam apa lagi??


"Kamu jangan mengada ngada Keen?? baru satu tahun yang lalu menikah , kenapa bilang bercerai juga satu tahun yang lalu?? maksudnya bagaimana??", tanya Papah Bram yang mendadak emosinya tinggi lagi.


Bukan kepo ingin tau semua nya, tetapi....sudah kepalang Keenan mengatakan kalau bercerai satu tahun yang lalu, dan pasti itu ada alasannya apalagi tidak masuk akal.


Dan juga, disini menyangkut Erva..jadi mau tidak mau, Papah Bram harus mengetahui semua nya, apapun yang terjadi pada Keenan setelah menikah selama satu tahun yang lalu.

__ADS_1


Papah Bram duduk di sofa, dan diikuti oleh Keenan yang juga sama duduk di depan Papah Bram seperti posisi nya tadi.


Dan tidak lama, Keenan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan nya, tidak ada yang ditutup-tutupi lagi.. meskipun sebenarnya itu adalah aib untuk keluarga Keenan sendiri, tetapi...demi Erva..semua pasti dilakukan.


__ADS_2