
Keduanya makan dengan diam. Bukan karena Erva yang tidak ingin mengobrol dengan Anjar tetapi Erva sendiri malu karena Anjar dari tadi ngoceh tentang masa depannya bersama dengan Erva.
Bukan berarti Erva tidak senang mendengar apa yang diucapkan ke Anjar tetapi bagi Erva ini rasanya tidak percaya.
Apalagi, lusa ia harus menikah dengan Anjar bukankah itu semua dadakan?
Namun Erva mencoba untuk tetap percaya dan ia harus berpikir positif. Laki-laki seperti Anjar itu tidak pernah berbohong terlebih lagi dilihat dari matanya Anjar memang tulus dan tidak ada kebohongan sedikitpun.
Acara makan siang sudah selesai tentu saja seperti yang dikatakan oleh Anjar, Erva sudah menghabiskan beberapa menu yang tersedia di meja makan.
"Aku bereskan semuanya ini ya Mas?"
"Nggak perlu dek, nanti ada bibi yang datang ke sini kamu lanjutin saja tugas kamu tadi."
Anjar memang sengaja memanggil bibi asisten rumah tangga yang ada di rumahnya untuk membersihkan semua peralatan masak yang baru saja dipakainya.
Tahu kalau calon istrinya itu sibuk dengan menorehkan rancangan gaun pengantin dan dekorasi dan tidak ingin membuat pekerjaan Erva menjadi tertunda apalagi Anjar juga tahu 2 jam lagi Erva harus masuk kuliah.
"Oh begitu kalau gitu aku kembali ke depan dulu ya Mas."
Erva yang masih malu langsung saja meninggalkan Anjar. Gadis itu berkutat lagi dengan pekerjaannya yang mungkin tinggal satu desain saja.
Tetapi tiba-tiba selang beberapa menit Anjar menghampirinya. Tentu saja laki-laki itu dengan berat hati harus mengatakan kepada Erva saat ini.
"Maaf, Mas harus ke rumah sakit."
Wajah Erva kemudian menatap wajah tampan Anjar yang sepertinya sangat menyesal akan meninggalkan dirinya sendirian di apartemen ini.
"Tidak apa-apa biarkan aku di sini saja nanti sketsanya aku tinggal atau bagaimana?"
Tidak mungkin juga Erva ikut Anjar lagi pula jarak antara Rumah Sakit dengan kampusnya itu berlawanan arah yang pastinya kalau Anjar mengantarkan dirinya dulu ke kampus pastinya akan terlambat menangani pasien.
Dan tentunya, Anjar mengatakan kalau harus ke rumah sakit ada sesuatu yang penting yang harus benar-benar ia utamakan daripada dirinya dan Erva harus paham itu.
__ADS_1
"Ada asistenku nanti akan mengantarkan kamu dia sudah aku telepon dan mungkin dalam perjalanan ke sini."
Ingin menolak tetapi harus bagaimana lagi Anjar sudah menelepon seseorang untuk menemani Erva di sini sedangkan Erva sendiri tidak nyaman kalau berada berdua dengan laki-laki yang baru saja ia kenal.
"Jangan khawatir dia berada di depan apartemen ini dan tidak masuk. Yang masuk adalah bibi yang ada di rumah, kamu sudah kenal kan yang semalam itu ikut membantu Mama membawakan makanan? Dan Aris nantinya kamu akan diantar oleh dia ke kampus untuk sketsanya bisa kamu titipkan ke dia, dia orang kepercayaan aku."
Syukurlah Erva lega, tentu saja ia mengenal betul bibik yang ada di rumah Anjar tadi malam dan kalau hanya bibik saja yang masuk ke sini tidak masalah mereka sama-sama perempuan.
Dan juga sepertinya Anjar paham dengan apa yang dipikirkan oleh Erva kalau tidak membiarkan masuk laki-laki lain selain dirinya di sini.
"Jangan manyun begitu dan jangan marah sama aku. Aku serius lusa kita akan menikah bukan bercanda lagi Er."
"Siapa juga yang marah. Aku hanya tidak menyangka saja kalau mas bisa melakukan itu semuanya."
"Gampang untuk aku yang penting kamunya mau menikah denganku apapun akan aku lakukan demi kamu."
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Anjar mencium kening Erva kemudian mengusap lembut rambut gadisnya itu.
Erva membalas dengan senyuman dan juga anggukan kepalanya kemudian mengantar calon suaminya sampai ke depan pintu depan, yang ternyata sudah ada seorang laki-laki yang seumuran dengan Anjar yang sudah berdiri di depan sana.
"Oh ya ini calon istriku tugas kamu nanti mengantarkan Erva ke kampus."
"Baik Dokter."
Setelah berbincang-bincang sedikit dengan orang kepercayaan Anjar, Anjar pun segera pergi meninggalkan apartemen.
Sedangkan Erva, Langsung masuk saja ke apartemen dan mengunci pintunya. Bukan tidak percaya dengan orang lain, tetapi ia harus menjaga diri karena ia sendiri belum mengenal betul siapa laki-laki yang diminta untuk menjaganya saat ini.
"Aku benar-benar tidak menyangka.."
Lagi lagi Erva tidak percaya dengan apa yang terjadi lusa nanti. Lagi pula acara yang sangat dadakan yang membuat erva sedikit ragu apakah memang bisa Anjar melakukan semua keinginannya terlebih lagi desain yang dibuatnya itu tidak sembarang desain yang pastinya ada tingkat kesulitan tersendiri untuk membuatnya dan juga mendekornya.
__ADS_1
Tetapi bagi Erva tidak masalah jika mungkin Anjar bisa memenuhi apa yang diimpikan Erva sejak dulu namun jika tidak, itu juga tidak menjadi hambatan untuk Erva tetap menikah dengan Anjar karena bukan dilihat dari dekorasinya atau gaun pengantinnya tetapi dilihat dari ketulusan hati Anjar yang sudah berani untuk melamarnya dan juga menikahinya meskipun secara mendadak.
Setelah bergelut dengan beberapa lembar kertas akhirnya Erva bisa menyelesaikan desain gaun pengantin dan juga dekorasi untuk pernikahannya.
Dan gadis itu melihat ke arah jarum jam yang menunjukkan sebentar lagi ia harus kembali ke kampus untuk mengikuti mata kuliah berikut nya.
Erva lalu membereskan semua perlengkapan yang ada di atas meja, dan setelah beres semua ia tak lupa untuk berpamaikan kepada bibik yang saat ini masih menemaninya di apartemen.
Lalu gadis cantik itu beranjak ke depan dan ternyata di depan masih ada seorang laki-laki yang merupakan orang kepercayaan dari Anjar.
"Ke kampus sekarang non?"
Tanya seorang laki-laki yang sepertinya umurnya tidak jauh dari Anjar. Tapi mengapa pertanyaan dari laki-laki itu membuat Erva tidak nyaman sama sekali.
"Iya tapi jangan panggil aku seperti itu, panggil saja Erva."
"Tapi....."
"Tidak ada Dokter Anjar di sini dan juga tidak ada penolakan."
Aris, yang merupakan orang kepercayaan sekaligus asisten dari dokter Anjar lalu mengangguk. Tidak mau ia harus mengikuti apa yang diinginkan oleh Erva kalau tidak pasti calon istri dari Bosnya itu akan melapor yang tidak tidak kepada Dokter Anjar.
Dasar laki-laki sama perempuan sama aja sukanya mengancam dan tidak ada penolakan, batin Aris.
Erva berjalan di depan sementara Aris mengikuti Erva dari belakang. Bukan ditugaskan untuk mengantar Erva saja tetapi Aris juga diperintahkan oleh Dokter Anjar untuk melindungi Erva.
Seperti biasa, di depan di samping sopir walaupun itu ia diantar oleh sopir rumahnya dan juga saat ini Erva selalu duduk di sana.
Sedangkan Aris mulai tidak nyaman. Laki-laki itu tidak jauh berbeda dari dokter Anjar yang tidak pernah dekat dengan seorang perempuan tetapi kini malah mendapatkan tugas Untuk mengantarkan Erva dan otomatis akan berada di dekat perempuan.
"Jangan protes. Aku biasanya duduk di depan kak bukan di belakang, sudah jalan."
Sepertinya Erva tahu apa yang ingin dikatakan oleh Aris hingga sebelum Aris mengucapkan sesuatu Erva langsung saja mengatakan itu kepada Aris.
__ADS_1