
Mendengar ucapan dari suaminya, Erva langsung tersipu dan malahan ia bahkan lupa dengan apa yang akan dikatakan olehnya.
Tentu saja hanya sekedar pernyataan seperti itu tetapi itu bisa membuat Anjar benar-benar mencintainya.
Tetapi setelah sadar Erva kembali ingin menanyakan sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya dan tentunya seorang Erva pastinya akan menanyakan itu, dan tidak akan membiarkan pertanyaan itu hanya bersarang di otaknya saja.
Erva mendongakkan wajahnya ia melihat ke arah suaminya yang saat ini masih terus memandangnya dengan tangannya yang mengusap lambung lembut pungguk Erva yang membuat perempuan cantik itu nyaman berada di dekat Anjar.
"Aku mau nanya. Kenapa Mas tiba-tiba menikahiku apakah Mas mencintaiku atau ada maksud lain sehingga Mas menikahi ku?"
Pertanyaan yang konyol yang diucapkan oleh Erva tetapi mau dikata apa lagi, ia sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam isi hati Anjar l, pasalnya laki-laki itu belum juga menyatakan cintanya kepada dirinya secara langsung meskipun dari perhatian dan juga perlakuan Anjar sudah dapat membuktikan tetapi yang namanya perempuan ucapan cinta itu perlu dan Erva membutuhkan itu.
Anjar menggeleng pelan ia menatap wajah cantik istrinya yang entah kenapa ingin lebih berlama-lama lagi dengan posisi seperti ini tetapi tentu saja tidak bisa karena beberapa jam lagi Anjar harus melakukan operasi.
"Apa kamu masih ragu dengan aku? Bukankah cinta itu tidak perlu diucapkan , melalui perhatian dan tindakan itu sudah cukup kamu tahu kan dek, aku laki-laki seperti apa... yang pastinya ucapan itu tidak mudah bagiku untuk dikeluarkan."
Erva menatap sayup wajah Anjar dan pastinya ia sedikit kecewa dengan pernyataan suaminya padahal ia sudah bermimpi supaya Anjar menyatakan cinta kepadanya tetapi mengapa malahan laki-laki itu cuek saja.
Cup
"Jangan manyum seperti itu apa kamu tidak merasakan apa yang aku lakukan selama ini?"
Dengan cepat Anjar mencium bibir Erva kemudian Erva sedikit mendorong tubuh Anjar, ia tidak mau kalau bibirnya kembali tebal karena ulah beringas suaminya.
"Ih ngambek, kenapa diem aja .. nggak mau?"
"Bukan begitu bibirku sudah tebal dan pastinya kalau Mas cium lagi aku tidak yakin kalau hanya menempel pasti Mas akan memakannya, apa Mas tidak lihat ini sudah bengkak seperti ini nanti gimana keluarnya kalau orang-orang pada melihat perubahan bibir aku."
__ADS_1
"Hahaha sampai segitunya Mereka melihat kamu, meskipun mereka melihat dan tersenyum itu wajar saja kamu melakukan itu dengan suami kamu sendiri bukan dengan orang lain."
Lagi lagiĀ Anjar ar mendekatkan wajahnya ke wajah Erva dan ingin meraih bibir Erva, tetapi perempuan cantik itu langsung saja menjauhkan wajahnya ia tidak mau kalau bibirnya kembali tebal karena dimangsa oleh Anjar.
"Oke kalau itu mau mu."
Bukannya marah, Anjar malah membuka selimut dan langsung saja turun ke ranjang yang membuat Erva was-was saja kalau kalau suaminya itu ngambek.
Tetapi tidak disangka-sangka kalau Anjar malahan menggendong tubuh Erva dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi, mungkin itu sebagai hukuman bagi Erva karena sudah menolak ciuman manis darinya.
"Mas mau apa? Jangan macam-macam tadi kan sudah?"
"Mau lagi, habisnya kamu gemesin dan ngeselin.. dicium saja nggak mau, awas aja habis dek... kamu siang ini."
"Astaga, tega sekali menghabisi istrinya sendiri."
Tidak bisa berbuat banyak, sangat ini Erva langsung saja mengalungkan tangannya ke leher Anjar dan membuat Anjar tersenyum melihat ekspresi dari istrinya itu.
"Apa masih sakit?"
Tanya Anjar di sela-sela pergulatan panasnya, tentu saja dengan posisi yang tidak biasa mereka lakukan dan pastinya dengan gaya baru yang baru saja Anjar temukan.
"Ah.... Tidak begitu sakit Mas tetapi punya Mas masih menempel di sini."
Jawaban bodoh yang eryva lontarkan, bisa-bisanya ia mengatakan seperti itu pada Anjar, yang jelas-jelas kalau memang sesuatu itu masih menempel di bagian bawah Erva.
"Tapi enak kan, bener apa kataku kalau kita sering melakukannya rasa sakit itu semakin hilang."
__ADS_1
Stttt..
Mereka kembali beradu nyanyian di dalam kamar mandi dan tentu saja Anjar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini, ia akan membuat Erva lemas tak berdaya sementara dirinya masih terlihat bersemangat meskipun keringat sudah mengucur dari dalam tubuhnya.
Hingga akhirnya sesuatu yang basah dan juga hangat keluar dari tubuh Anjar yang membuat laki-laki itu tersenyum sembari mengeratkan pelukkan ke tubuh Erva dari belakang.
Lama Anjar berada di posisi seperti itu ia ingin benih itu langsung masuk ke dalam rahim Erva dan membuahkan sesuatu yang pastinya sudah ia tunggu-tunggu sejak lama.
Setelah merasa semuanya masuk, Anjar langsung saja membalikkan tubuh Erva untuk menghadap ke arahnya dengan tangan Anjar yang terlulur untuk mengusap lembut bibir Erva dan juga menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Erva.
"I love you, Aku mencintaimu.. sangat-sangat mencintaimu."
Erva melongo, ia malahan memandang wajah tampan Anjar dan tidak segera membalas apa yang diucapkan oleh suaminya itu.
Masih menatap Anjar, antara percaya dan tidak percaya suaminya itu sudah mengungkapkan rasa cintanya kepadanya yang mungkin saja Erva sendiri bingung yang di depannya ini benar-benar Anjar atau tidak.
"I love you too Mas, aku juga mencintai Mas"
Hingga akhirnya Erva pun membalas ungkapan cinta Anjar dan keduanya saling berpelukan dengan erat.
"Sudah percaya dengan aku, maaf bukan aku tidak mau mengumbar cinta untuk kamu tetapi rasa cinta itu tidak harus diucapkan tetapi perlu dibuktikan dengan kenyataan dan perhatian juga kasih sayang aku dan cinta aku tidak perlu kamu ragukan lagi meskipun kita baru kenal sebentar saja tetapi kamu tahu kan bagaimana perasaan aku bagaimana sikap aku dan bagaimana tentang diriku."
"Aku paham tetapi, yang namanya perempuan itu butuh pernyataan Mas bukan hanya sekedar perhatian dan perlakuan manis saja."
"Dasar ABG maunya seperti itu."
Anjar gemas sendiri, ia kemudian mencium lembut bibir Erva lalu membawa tubuh Erva untuk masuk ke dalam bathub, kemudian Anjar menyingkir dari sana ia takut kalau dirinya ikut masuk ke dalam bathub tidak akan selesai kegiatan panas siang ini.
__ADS_1
"Aku mandi di sini, takutnya kalau ikut nyemplung nanti kepengen lagi."
Erva tidak pernah menanggapi, ia hanya mengangguk kemudian segera membasuh tubuhnya dan menggosok tubuhnya dengan sabun. Ia juga tidak akan lama-lama di sini takut seperti yang Anjar pikirkan kalau dirinya takut jika suaminya nanti akan kepengin lagi, dan dapat dipastikan kalau sampai itu terjadi mereka tidak akan keluar dari kamar mandi.