
"Tadi Mas bertemu dengan dokter Kenan di kamar mandi?"
Tidak tahan rasanya untuk Erva membungkam mulutnya dan tidak bertanya kepada dokter Anjar. Dan gadis itu langsung saja menanyakan perihal yang ada di dalam pikirannya setelah mobil Dokter Anjar keluar dari parkiran restoran itu.
"Iya aku tadi bertemu dengan Dokter Anjar di kamar mandi ada apa kamu melihat dia?"
Erva mengangguk, dan ternyata benar apa yang ada di pikirannya tadi memang benar kalau Dokter Anjar dan juga Dokter Keenan bertemu.
Tetapi yang jadi masalah saat ini apakah mereka tidak sengaja bertemu atau memang di antara mereka sengaja ingin bertemu dan sengaja juga ingin mengatakan sesuatu?
"Tidak sengaja bertemu atau memang pertemuan yang disengaja Mas?"
"Kalau aku memang niatnya ke kamar mandi dan tidak ada niatan sedikitpun untuk menemui Dokter Keenan tetapi entahlah kalau dia, aku juga tidak tahu."
Jelas saja semakin tidak beres di pikiran Erva
saat ini. Bukan karena ia tidak percaya dengan Dokter Anjar, bukan sama sekali ia bahkan percaya penuh dengan laki-laki itu tetapi tidak dengan Dokter Keenan saat ini.
Apalagi Dokter Keenan ketika tadi melihatnya laki-laki itu tersenyum dan senyumannya entah ada maksud yang berbeda dan pastinya senyuman itu tidak biasanya yang pernah diberikan Dokter Keenan kepada Erva.
"Apakah Dokter Keenan mengatakan sesuatu kepada Mas?"
Anjar menoleh ke arah Erva kemudian tersenyum. Sepertinya ia tidak mungkin menyembunyikan apa yang seharusnya tidak ia katakan karena Erva sudah curiga.
Ia takut kalau dirinya tidak mengatakan apa yang Dokter Anjar katakan, gadis itu malah semakin muka padanya bahkan Erva akan menemui Dokter Keenan dan meminta penjelasan kenapa tiba-tiba Dokter Kinan menemui dirinya.
"Ada banyak, tetapi salah satunya..."
Sengaja Anjar menghentikan ucapannya ia memikirkan lagi apakah harus menceritakan ini semua kepada Erva atau tidak.
"kalau yang banyak aku paham, pasti ya Dokter Keenan meminta Mas untuk menjauh dariku tetapi yang salah satunya itu aku yang jadi penasaran."
Sudah Anjar duga tadi, gadis di sampingnya ini mempunyai otak cerdas dan juga pemikiran yang sangat luas. Erva tahu saja apa yang Anjar sembunyikan meskipun tidak ada sedikitpun di wajah Anjar kecurigaan di mata Erva saat ini.
"kamu dan Keenan sudah pernah tidur bersama."
Bukan sebuah pertanyaan tetapi pernyataan, pernyataan yang bukan untuk mendengar jawaban dari Erva, tetapi Anjar hanya menyampaikan apa yang tadi dikatakan oleh Keenan kepadanya.
"Gila!! dan Mas percaya?"
Ingin rasanya Erva turun lalu kembali ke restoran itu dan menyiram wajah Dokter Keenan saat ini juga. Dan juga memukul mulut Dokter Keenan yang sudah berani mengatakan yang tidak tidak kepada Dokter Anjar.
"Aku bukan laki-laki bodoh Er dan aku tidak akan percaya begitu saja. Pengalaman sudah mengajarkanku untuk tidak selalu percaya dengan orang lain meskipun orang itu dekat dengan kita."
Anjar berkata jujur bukan karena ia menyayangi Erva, ia juga akan menerima apapun yang terjadi pada diri Erva jika seandainya itu benar, tetapi memang dirinya mempunyai prinsip kalau tidak mudah percaya dengan omongan orang lain.
Meskipun beberapa waktu lalu ia sempat percaya dengan isu yang beredar di luar sana, dan itu adalah salah satu kesalahan terbesarnya selama ini.
__ADS_1
"Dan jika saja itu benar, aku tidak masalah ... karena bagi aku bukan masa lalu tetapi masa depan."
Jlebbb....
Erva menoleh ke arah Anjar. Tatapannya begitu tajam melihat ke arah laki-laki yang saat ini berada di sampingnya. Bukan karena ia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Dokter Anjar tetapi ia sendiri kaget, terlebih Dokter Anjar adalah laki-laki yang terbaik yang sempurna tetapi mengapa ia bisa menerima kekurangan orang lain yang ternyata kekurangan itu sangat fatal.
"Ternyata kita beda ya Mas. Kalau aku lebih menilai dari masa lalu bukan masa depan"
"Dan sebaiknya , kamu melupakan masa lalu kamu dan fokus menata masa depan."
"Bukan karena aku tidak ingin melupakan masa lalu, tetapi memang masa laluku sangat menyakitkan dan pastinya tidak ingin aku mengingatnya lagi. Tetapi untuk melangkah ke masa depan, aku memang harus melihat ke masa lalu terutama laki-laki akan mendampingiku nanti."
Anjar tersenyum, kemudian tangan kirinya terulur untuk mengacak rambut Erva yang mana gadis itu malahan serius mengatakan sesuatu kepadanya.Padahal niatnya tadi hanya bercanda saja dan tidak ingin membebani pikiran Erva.
"Tidak usah dipikirkan, kamu percaya kan kalau aku adalah kriteria laki-laki yang kamu impikan dan juga tidak punya masa lalu sama sekali."
"Eh....."
Erva malu sendiri ketika mendengar ucapan dari Dokter Anjar yang tentunya memang benar apa yang dikatakan oleh Dokter Anjar. Kalau Dokter Anjar adalah laki-laki yang sesuai dengan kriterianya, tidak mempunyai masa lalu sama sekali.
"Jangan malu kalau kenyataannya memang seperti itu."
Tidak bisa berkata-kata lagi, ternyata Dokter Anjar tahu kalau dirinya saat ini sedang malu dan entah mengapa mulut nya yang biasanya ngoceh ngalor ngidul, tidak ada aturan sama sekali, sekarang jadi diam.
Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Dokter Anjar sudah sampai di halaman rumah Erva dan tentu saja itu membuat Erva tersenyum di dalam hati.
"Dek nanti malam Mama ngundang kamu untuk makan malam di rumah."
"Serius Mas? Mamah ngundang aku eh Tante ngundang aku??"
Hampir saja mulutnya keceplosan dengan apa yang ia katakan, belum-belum Erva sudah berani memanggil orang tua Anjar dengan sebutan mama.
"Nanti malam makan malam di rumah, kamu mau kan?"
"Iya Mas, aku mau nanti Sherlock saja alamat rumah Mas."
"Iya aku share loc tetapi nanti aku yang akan jemput kamu, tidak baik malam-malam seorang gadis pergi sendirian apalagi rumahku letaknya lumayan jauh dari sini."
"Apa nggak apa-apa? biar aku yang ke sana sendirian saja atau minta diantar sopir juga bisa."
"Tidak ada penolakan, aku yang akan jemput kamu, dek."
Erva mengangguk pasrah, kalau Anjar sudah seperti itu berarti keputusannya tidak dapat diganggu gugat dan gadis itu hanya mengiyakan saja meskipun ia kasihan terhadap Anjar yang harus bolak-balik mengantar dan menjemputnya pula nanti.
"Oke terima kasih ya Mas atas makan siangnya, kalau begitu aku keluar dulu Mas hati hati dijalan."
Tidak dapat dipungkiri perasaan Erva saat ini, gadis itu sangat senang luar biasa. Habis makan siang dengan Dokter Anjar tetapi nanti malam ternyata Mamanya Dokter Anjar juga memintanya untuk makan malam.
__ADS_1
"Dek tunggu sebentar."
Entah kenapa tangan Anjar tiba-tiba meraih tangan Erva dan sepertinya tidak ikhlas kalau Erva turun dari mobil.
Erva menghentikan gerakan kakinya yang ingin keluar dari mobil lalu menatap ke arah pada taman Dokter Anjar yang saat ini jaraknya dekat dengan wajahnya.
Keduanya sama-sama terdiam dengan tatapan mata yang entah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.
Hingga wajah Anjar semakin dekat dengan wajah Erva, dan membuat gadis itu bingung tidak tau harus bagaimana.
Dengan tiba-tiba tangan Anjar terulur untuk meraih dagu Erva kemudian mendekatkan lagi wajahnya hingga terdengar hembusan nafas yang keluar dari hidung mereka masing-masing.
Erva tahu apa yang akan dilakukan oleh Anjar kemudian ia menghilang pelan lalu tangannya menutup mulut dokter Anjar ketika laki-laki itu sudah semakin dekat dengan dirinya.
"Bukan muhrim." ucap Erva yang membuat Anjar tersenyum penuh arti lain.
"Maaf lupa, belum halal ya?"
Erva tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, selalu melepaskan tangannya yang tadi ia gunakan untuk menutup mulut Anjar kemudian menambahkan jari tangannya di kening.
"Di sini saja."
"Boleh di situ?"
"Boleh, mau?"
Cup
Tanpa menjawab apa yang ditanyakan oleh Erva, Anjar langsung saja mendekatkan bibirnya dan mencium kening Erva lama.
Lalu laki-laki itu melepaskan cuman dari kening erba dan menatap wajah cantik Erva.
"Sama peluk boleh kan?"
Belum juga menjawab tetapi Anjar sudah meraih tugu Erva dan memeluknya dengan sangat erat. Entah mengapa Erva juga mengerahkan pelukannya di tubuh anda dan membuat dirinya nyaman berada di pelukan Anjar saat ini.
"Curang kan aku belum menjawab kenapa Mas sudah meluk duluan."
"Kelamaan kamu mikirnya nanti yang ada malah tidak mau ya sudah sana turun istirahat nanti aku jemput..."
"Hati-hati di jalan mas."
Agar mengangguk kemudian mengusap lembut rambut Erva lalu meminta gadis itu untuk segera turun. Nggak mau berlama-lama Erva ada di mobilnya tetapi akan sangat bahaya jika Erva tidak turun-turun juga.
Bisa melakukan hal di luar nalarnya karena ia sudah yakin akan menikahi Erva dan tidak masalah jika melakukan apa-apa di luar batas.
Tentunya Anjar masih punya iman, ia tidak akan merusak Erva sebelum sah menjadi istrinya.
__ADS_1