Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Memikirkan Cara


__ADS_3

"Awas kamu ya dek nakal sekali."


Erva tersenyum, lalu setelah merapikan pakaian suaminya, ia mengambil tas dan juga ponselnya dan bergegas turun untuk ke bawah sarapan.


Setelah beberapa menit berada di ruang makan keduanya keluar dari rumah dengan membawa mobil masing-masing karena memang jadwal mereka hari ini sangat padat dan tidak memungkinkan untuk Anjar menjemput Erva.


"Yakin nggak mau bareng sama aku? Aku bisa nganterin kamu tetapi untuk jemput sepertinya tidak bisa."


Anjar bertanya sekali lagi kepada istrinya tentu saja melihat Erva membawa mobil sendiri pastinya Anjar tidak tega terlebih lagi jarak kampus Erva dengan rumahnya lumayan jauh dibandingkan dengan jarak rumah sakit yang membuat laki-laki itu tidak ingin melihat istrinya mengemudi sendiri.


"Enggak Mas, lagi pula nanti kalau aku bareng sama Mas pulangnya bagaimana iya kalau Mona bawa mobil kalau dia juga dijemput. Lebih baik aku bawa mobil sendiri saja tenang saja aku akan mengemudikan pelan-pelan."


"Oke aku antar kamu sampai kampus ya dek, masih ada waktu."


Setelah Anjar berpikir lebih jauh lagi ia akan mengantarkan Erva ke kampus tentu saja dengan menggunakan mobil masing-masing karena Anjar masih tidak tega jika istrinya yang mengemudikan mobilnya sendiri dan alhasil mau tidak mau Anjar harus mengikuti mobil Erva dari belakang.


"Mas serius tidak apa-apa? bukannya Rumah Sakit Mas itu lebih dekat dari sini daripada kampus aku?"


"Tidak masalah, masih ada waktu."


Kemudian Erva masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Anjar yang langsung saja menuju ke mobilnya.


Berapa menit kemudian, kedua mobil berbeda warna dan jenisnya itu sudah sampai di parkiran kampus dan tidak menyangka jika suaminya memang benar-benar mengantarkan Erva sampai ke dalam parkiran. Erva pikir Anjar akan mengantarkan dirinya hanya sampai di depan atau di perempatan sebelah kampus tetapi malahan sampai di sini.


Erva turun, kemudian perempuan cantik itu langsung menghampiri mobil suaminya yang memang Anjar sengaja untuk tidak turun dari mobil.


Erva yang mengerti dengan kode yang diberikan oleh Anjar langsung saja masuk ke dalam mobil Anjar tentu saja laki-laki itu mau menginginkan sentuhan sedikit dari istrinya sebagai penyemangat pekerjaannya hari ini.

__ADS_1


Cup


Erva yang paham betul dengan suaminya langsung saja mendekatkan wajahnya ke wajah Anjar kemudian ia menempelkan bibirnya dengan bibir Anjar, dan tentu saja Anjar senang sekali melihat istrinya yang agresif seperti itu.


Laki-laki itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan ia menekan tengkuk Erva kemudian memperdalam ciuman yang diberikan oleh istrinya itu hingga akhirnya pergulatan semi panas terjadi di dalam mobil pagi ini.


Melihat ada sesuatu yang bereaksi di bawah, Erva buru-buru melepaskan pagu_tan bibirnya dengan suaminya ia tahu kalau sesuatu itu nanti dibiarkan akan menjadi bahaya tentunya bukan untuk dirinya tetapi juga buat suaminya.


"Udah nanti malam dilanjut lagi, bahaya Mas."


Anjar mengangguk kemudian mengusap bibir Erva yang masih basah ia juga setuju dengan istrinya meskipun sebenarnya ingin melanjutkan adegan yang sesungguhnya tetapi sayang sekali pekerjaan membuatnya harus menunda keinginannya.


"Jangan macam-macam, hati-hati dek nanti pulangnya juga begitu."


"Siap, Mas juga."


...*****...


Keenan saat ini sudah kembali beraktivitas setelah kecelakaan yang menimpa dirinya beberapa hari yang lalu dan tentu saja sikap keinginan sekarang ini berubah.


Anto, asisten dari Dokter Keenan juga merasa ada sesuatu yang berbeda dari diri Dokter Keenan tentu saja ia juga bingung rasanya ia tidak percaya dengan sifat dan sikap Dokter Keenan saat ini yang benar-benar tidak seperti Dokter Keenan yang dulu.


Bukan karena tampangnya yang sudah tidak ganteng lagi tetapi Dokter Keenan saat ini lebih pendiam, tidak mudah tersenyum bahkan terlihat angkuh dan juga sombong, entahlah apa mungkin otak Dokter Keenan konslet setelah mengalami kecelakaan beberapa hari kemarin atau mungkin karena patah hati ditinggal mantan kekasihnya atau menikah dengan laki-laki lain hingga Dokter Keenan seperti itu.


Berbagai macam pertanyaan bersarang di otak Anto, ia  yang tahu betul bagaimana sifat dan sikap Dokter Keenan dari dahulu merasa tidak percaya ia juga menggelengkan kepalanya saat melihat Dokter Keenan memarahi salah satu staf rumah sakit.


"Aku tidak mau Mi, sudah berapa kali aku mengatakan pada Mami, aku tidak mau dijodohkan apalagi dijodohkan dengan anak kecil seperti dia?"

__ADS_1


Anto melongo mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter Keenan disambungan teleponnya dan ia yakin kalau Dokter Keenan saat ini sedang berbicara dengan Mami Arin yang pastinya ia sendiri belum bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi tetapi dari pembicaraannya, Anto sudah sedikit paham jika Mami Arin akan menjodohkan Keenan dengan perempuan lain.


Apa juga karena Dokter Keenan mau dijodohkan sehingga dia jadi berubah sifat seperti itu??


Lagi lagi Anto menjadi pendengar setia, ia bahkan tidak berani bertanya ataupun keluar dari ruangan Dokter Keenan takut saja jika ia keluar nanti Dokter Keenan  akan mencarinya dan bahkan akan marah-marah.


"Aku tidak mau ya, aku sudah mengatakan sama Mami, kalau Mami memaksaku, Aku mending kabur saja ke luar negeri."


Anto menggeleng pelan, lagi lagi harus menyaksikan drama di balik layar telepon dan pastinya ia sedikit tidak percaya ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter Keenan, seperti anak SMA yang ngambek karena tidak dibelikan motor oleh kedua orang tuanya.


Hingga akhirnya Anto kembali kediaman manakala dokter Anjar sudah memutuskan sambungan teleponnya kemudian laki-laki itu menatap tajam ke arah atau yang pastinya Kenan tahu kalau Anto sedang menertawakan dirinya.


"Maaf Dokter, bukan maksud saya untuk..."


"Kamu akan aku maafkan tetapi kamu harus memberikan cara bagaimana supaya aku terlepas dari perjodohan yang akan dilakukan oleh Mami."


Dan benar kan apa yang dipikirkan oleh Anto kalau memang Mami Arin berniat untuk menjodohkan Dokter Keenan dengan perempuan lainnya pastinya Anto sih setuju-setuju aja lebih baik memang seperti itu supaya Bosnya itu tidak terlalu memikirkan Erva yang saat ini sudah berbahagia dengan laki-laki pilihannya.


"Bagaimana caranya Dokter? Dokter tahu sendiri bagaimana Nyonya besar yang pastinya aku sendiri tidak tahu dengan cara apa."


Bukan karena Anto tidak ingin membantu Keenan tetapi ia juga takut menghadapi Mami Arin walaupun Mami Arin itu perempuan tetapi kekuasaannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Dokter Keenan yang anaknya saja takut dengan Mami Arin apalagi dirinya yang merupakan orang lain di dalam keluarga Keenan.


"Aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus melakukan cara supaya perjodohan itu batal!"


Brakk...


Setelah mengatakan seperti itu Dokter Keenan  langsung saja keluar dari ruangannya dengan membanting pintu yang sangat keras yang membuat Anto jadi kaget dan mengusap dadanya.

__ADS_1


__ADS_2