
Erva masih setia berada di samping Anjar yang saat ini sedang mengotak-atik mesin mobilnya. Bukan untuk membantu,.tetapi Erva malah melihat ke arah wajar dokter Anjar yang entah mengapa kadar ketampanannya berkali-kali lipat saat ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi dokter? apa harus diganti,.padahal mobil ini baru saja dibelikan oleh Papah dan sepertinya umurnya juga masih muda tetapi kenapa rusak ya?"
"Apa aku kurang pintar merawatnya atau memang harus ada perawatan khusus supaya tidak cepat rusak?"
Tidak menjawab , Anjar menoleh sekilas ke arah Erva tetapi dengan tatapan yang tajam. Mungkin Anjar pikir ucapan dari Erva malahan membuat konsentrasinya pecah dan tidak dapat menyelesaikan semuanya ini dengan cepat.
Tatapan tajam dari Anjar membuat Erva menghentikan ucapannya seketika, ia pun tersenyum manis ke arah laki-laki yang mungkin saat ini enggan mendengarkan celotehannya yang tidak bermanfaat.
"Bisa diam nggak dek, dan tentunya Aku bukan dokter di sini."
Erva seketika ia takut kalau Anjar tiba-tiba marah dan melampiaskan kepadanya. Apalagi kalau sampai Anjar meninggalkannya di sini, tempatnya sepi lagi pula sebentar lagi hujan,.apa jadinya kalau dirinya ditinggal sendiri di sini.... ah tidak aku tidak mau pikir Erva begitu.
"Maaf Dokter eh mas..."
Dengan cepat kilat Erva mengganti panggilannya, kalau sudah begini hatinya jadi lebih tenang ... berarti secara tidak langsung Anjar sudah memaafkannya.
Tidak ada yang perlu dimaafkan karena Erva tidak salah begitu juga dengan Anjar. Mereka berdua hanya miskomunikasi saja dan tidak mau mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam hatinya.
Tidak ada jawaban dari dokter Anjar, laki-laki itu masih tetap melihat ke arah mesin mobil Erva dan membenarkannya ... tetapi sesekali pandangan matanya melirik ke arah Erva.
Tidak dipungkiri ada sedikit rasa nyaman di hati Anjar ketika berada dekat dengan Erva tetapi untuk mengungkapkan perasaannya, Anjar masih ragu ya masih bertanya-tanya apakah memang benar Erva sudah memilih Keenan daripada dirinya? atau pikirannya hanya salah.
Erva melihat sesuatu yang ada di wajah Anjar kemudian ia berlari ke mobil untuk mengambil tisu.
"Wajah Mas kotor nanti nggak cakep lagi."
Entah mendapatkan kebenaran dari mana, Erva mengusap lembut wajah Anjar yang terkena kotoran oli kemudian ia juga tersenyum, tetapi tidak mendapatkan respon dari Anjar karena laki-laki itu masih diam saja, namun kembali lagi matanya melihat ke arah Erva.
Kalau bisa jangan cuma dilap dong dek yang lain gitu di usap-usap atau dicium juga aku mau, batin Anjar yang entah kenapa pikirannya mendadak jadi gila seperti itu.
Anjar masih melanjutkan memperbaiki mesin mobil Erva sedangkan Ervan masih berada di samping Anjar dengan matanya yang terus melihat kerah Anjar.
__ADS_1
Erva begitu kagum dengan laki-laki yang ada di sampingnya saat ini, tidak hanya printer dalam dunia kesehatan tetapi memasak pun juga oke dan kini laki-laki itu bisa mengerti tentang mesin mobil.
Nilai plus buat Anjar sebagai laki-laki, dirinya bisa melakukan apa saja meskipun itu pekerjaan yang kotor sekalipun.
"Hujan dek, sebaiknya menepi dulu."
Untung saja Anjar sudah selesai memperbaiki mobil Erva hanya tinggal mencobanya saja tetapi hujan turun begitu deras dan ia meminta Erva untuk berteduh begitu juga dengan dirinya.
Dan kebetulan di sekitar sana terdapat sebuah cafe yang tidak terlalu ramai dan lumayan lah mereka bisa ngobrol-ngobrol sembari menghangatkan badan.
"Hati-hati."
Dengan langkah cepat Anjar mengambil tangan Erva lalu menggandengnya, laki-laki itu begitu perhatian dengan Erva dan tidak ingin air hujan membasahi tubuh Erva meskipun itu sedikit.
Erva tersenyum mendapatkan perhatian seperti ini, ia bahkan tidak percaya kalau yang melakukan ini adalah Dokter Anjar, seorang Dokter yang terkenal dingin dan tidak tersentuh oleh perempuan, tetapi kali ini pikiran Erva terpatahkan juga dengan adanya perlakuan Anjar seperti ini.
"Terima kasih Mas, jaketmu jadi basah kan."
"Nggak masalah yang penting bukan kamu yang basah."
Entah apa yang di ada di dalam pikiran mereka masing-masing yang jelas keduanya saat ini merasa canggung, merasa malu dan juga tentunya bahagia.
Mobil mogok dan hujan membawa keberuntungan yang akhirnya mereka berdua bisa sedekat ini.
"Aku pesankan minuman dulu mau apa, kopi atau coklat? tapi sebaiknya coklat hangat saja karena kamu tidak boleh minum kopi, sayang dengan lambungmu..."
Tidak menolak , Erva mengangguk saja dan ia malah tidak kepikiran untuk minum. Yang ada sekarang dirinya begitu bahagia bisa sedekat ini dengan Anjar padahal Erva sudah pesimis kalau mungkin laki-laki itu masih bersikap dingin dan bahkan tidak akan bisa menemuinya lagi.
"Terimakasih Mas."
Tidak ada jawaban, Anjar hanya mengangguk lalu meminum kopi yang masih panas sedikit demi sedikit untuk menghangatkan tubuhnya.
Dokter Anjar melihat ke arah Erva yang saat ini tangannya mengambil segelas coklat hangat, ia pun meneliti lebih lanjut tepatnya meneliti jari manis Erva yang entah kenapa matanya berpusat di sana.
__ADS_1
Tentu saja laki-laki itu ingin melihat apakah jari manis Erva memakai cincin pertunangannya bahkan malah cincin pernikahan yang disematkan oleh Keenan seperti berita yang beberapa waktu lalu tersebar.
Tapi Anjar tersenyum manakala ia tidak melihat apapun di jari manis Erva dan itu berarti secara tidak langsung berita yang kemarin adalah bohong.
Tidak ada cincin di jemari Erva berarti dia dan dokter Keenan tidak menikah dan mungkin berita itu adalah salah..
"Tadi mobilnya sudah jadi tetapi belum dicoba.."
Tau kalau Erva memperhatikannya, Anjar lalu mengalihkan perhatian Erva dengan menjelaskan keadaan mobil yang baru saja diperbaiki.
"Tidak apa lagi ini juga masih hujan. Aku kagum sama Mas, Mas itu bisa apa saja bisa masak dan juga bisa betulin mobil ah mungkin ada lagi kehebatan n Mas yang tidak aku ketahui...."
"Ada masih banyak yang belum kamu ketahui dari aku....'
kehebatan di ranjang maksudnya...batin Anjar.
"Apa Mas? Boleh dong aku tahu?"
"Kamu tidak perlu tau, masih kecil!!"
"Haa??"
Erva hanya melongo mendengar apa yang diucapkan oleh Anjar memang kehebatan apa yang miliki oleh Anjar selain memasak dan juga membenarkan mobil.
"Tidak usah bengong cepat diminum biar tubuh kamu hangat...."
Erva mengangguk, ia mengambil lagi gelas yang berisi coklat hangat dan tentu saja ada sedikit rasa penasaran di dalam hati Erva.
"Boleh nanya?"
"Kalau aku jawab nggak boleh apakah mas tidak jadi bertanya??"
Bukannya dijawab, Erva malah memberikan jawaban kepada Anjar, tentu saja membuat laki-laki itu menjadi kesal tetapi ekspresi wajah eryva yang seperti itu membuatnya semakin terpesona dengan gadis yang usianya jauh lebih muda darinya.
__ADS_1