
"KTP??"
Erva mengeryitkan alisnya, manakala Anjar...laki laki yang tidak di kenalnya itu meminta KTP nya, untuk apa coba???
Lama, Erva tidak lantas mengambil dompet yang di dalamnya ada KTP yang baru saja ia miliki, bahkan baru beberapa hari gadis itu memiliki nya, dan tentu saja...itu adalah hasil nyogok.
"Lama sekali?? atau mau aku panggilkan polisi??", Ancam Anjar dengan menarik sudut bibirnya, tersenyum sedikit tetapi ia sembunyikan.
"Astaga!!"
Erva memang mau bertanggung jawab, tetapi tidak dengan cara seperti ini , panggil polisi segala. Dan ia juga tidak mau kalau sampai ke-dua orang tuanya kepikiran andai saja harus membawa polisi segala.
"Kenapa bawa polisi sih Om???"
"Om?? aku tidak nikah dengan Tante kamu..dan cepat mana KTP mu!!"
Didalam hati, Anjar cekikikan sendiri, ia sebenarnya tidak ingin memperpanjang urusan nya, tetapi..entah mengapa melihat Erva, Anjar jadi ingin mengerjai gadis cantik itu.
Tidak ingin berbuntut panjang, Erva lalu mengambil dompet dan memberikan KTP nya kepada laki laki yang Erva sendiri belum kenal, tetapi samar samar seperti pernah melihat nya.
"Ini Om ..."
Dengan sedikit takut, Erva memberikan KTP itu, lalu melihat ke arah laki laki yang saat ini berada di depan nya, yang dari wajahnya...Erva tidak menampik kalau laki laki itu sangat lah tampan.
"Ganteng banget Er...", bisik Mona.
Dan Erva hanya mengangguk, memang nyatanya seperti itu. Bahkan kadar ketampanan nya melebihi Dokter Keenan.
Ah..apa apaan, kenapa aku masih mengingat Dokter Keenan, dia sudah bahagia Erva...move on girl...
"Oh...baru tujuh belas tahun, dan itu juga masih tiga bulan lagi...jadi....ini berarti KTP nya hasil nyogok?? atau jangan-jangan kamu juga belum punya SIM??"
Mati aku!! kenapa dia bisa tau dan paham!!!!
"Em...anu...Om ..."
Tidak dapat menjelaskan, memang KTP nya hasil nyogok dan SIM nya yang belum diurus. Dan Erva, tidak bisa berbuat apa apa, ia hanya diam karena merasa bersalah.
"Oh...oke....."
Anjar melihat jam di tangannya, satu jam lagi ia akan melakukan operasi. Dan juga, ia tidak mau kehilangan kesempatan begitu saja untuk mengerjai gadis cantik yang ada di depannya, lumayan untuk hiburan... daripada memikirkan Mamahnya yang setiap saat memaksa untuk menikah.
"Minggir!!"
Tanpa basa basi lagi, Anjar menggeser pelan tubuh Erva, lalu ia masuk ke dalam mobil Erva. Yang membuat gadis cantik itu melongo dibuatnya, sekaligus bingung juga dengan apa yang akan di lakukan oleh Anjar.
__ADS_1
"Eh..mau apa Om???"
"Masuk!! atau aku panggil polisi!!"
Tidak memberitahukan alasan nya, Anjar seenaknya saja masuk ke mobil Erva dan mengancam gadis cantik itu.
Seketika, Erva dan Mona saling pandang. Bingung juga dengan apa yang akan dilakukan oleh laki-laki tanpa nama itu.
"Cepat!!!", teriak Anjar lagi.
Kesal juga akhirnya , melihat ke-dua gadis cantik yang hanya diam tanpa bergerak sedikit pun dari tempat nya berdiri.
"I...iya Om..."
Erva masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Mona yang juga ikut masuk ke jok bawah, dan mereka sama bingung nya dengan apa yang akan dilakukan oleh Anjar.
"Pakai sabuk pengaman!!", titah Anjar lagi.
Erva menurut, kali ini ia seperti tawanan saja. Sementara kesalahannya hanya tidak sengaja menabrak bagian belakang mobil.
Anjar diam diam tersenyum, ia kemudian melajukan mobilnya untuk segera menuju ke Rumah, Sakit, karena sejak tadi pihak Rumah Sakit sudah menghubungi nya.
"Er ... sorry....gue turun depan ya?? nyokap ngajakin nge mall..."
"Hah?? serius?? lalu gue??"
"Kenapa?? takut banget kalau gue culik!!", ucap Anjar yang tiba tiba ikut nimbrung pembicaraan Mona dan Erva.
Erva tidak menjawab, jelas saja ia takut. Tidak kenalan dengan laki laki itu, eh malahan sekarang di ajak entah ke mana, sendiri an lagi...
Erva melihat ke belakang, rasanya memang ini adalah hari paling menyenangkan sekaligus hari sial untuknya.
"Sorry Er ...."
"Ya sudah...turun di mana?? nanti kalau sampai malam gue enggak ada kabar, Lo hubungi Papah. Bilang kalau gue di culik....", ujar Erva dengan santainya dan juga melirik ke arah Anjar.
"Depan ya....Om depan turun!!!"
"Hmmm...."
Tidak ada jawaban dari Anjar, selain malas ngobrol dengan seseorang...ia juga tidak suka kalau di panggil Om....
"Oke, thanks...Om...oh ya... temen aku jangan di apa apa in, kasihan....dia masih jomblo, jomblo akut....."
"Sialan Lo!!"
__ADS_1
Mona dengan cekikikan keluar dari mobil, ia tau...kalau sebenarnya Erva lagi galau, takut takut gimana gitu.
...****...
Sepanjang perjalanan, baik Erva maupun Anjar tidak saling berbicara, bahkan kedua nya sama sama asik dengan pikirannya sendiri.
Hingga, mobil yang dikemudikan oleh Anjar memasuki area parkiran Rumah Sakit, dimana itu membuat Erva membulatkan matanya.
Erva menggeleng, bukan ia trauma dengan Rumah Sakit, tetapi...ia tidak mau mengingat lagi kisah satu tahun yang lalu, yang masih membekas di ingatan nya.
"Om, kenapa ke sini?? Om ada yang sakit???"
Mendadak Erva jadi khawatir dan perhatikan, ia tidak tau kalau laki laki di samping nya itu menderita akibat kecelakaan yang baru saja dialaminya.
Terapi, dari luar tidak nampak ada sesuatu yang mengkhawatirkan.
"Ikut aku!!"
Tidak menjelaskan, Anjar membuka sabuk pengaman kemudian langsung saja keluar dari mobil.
Sementara Erva, mau tidak mau... ia juga keluar dari mobil dan mengikuti langkah kaki Anjar.
Huff...kalau tidak gara gara KTP ku yang disita...aku tidak akan mau ikut dengan kamu.
Erva masih memandang ke segala arah, hingga tubuh nya menatap punggung tegap Anjar yang tiba tiba berhenti di depannya.
"Au ...."
Gadis cantik itu memegang hidung nya, yang seperti nya sakit karena menatap punggung tegap Anjar, hingga laki-laki itu berbalik dan melihat ke arah Erva.
"Kalau jalan itu pakai mata!!"
"Hahaha....di mana mana jalan itu pakai kaki Om, bukan mata....ah...Om payah...."
Anjar menyunggingkan senyum tipis nya, baru kali ini adalah seorang wanita yang berani dengan nya dan itu hanya seorang gadis kecil yang baru mau beranjak dewasa.
"Kau!!"
Sebisa mungkin Anjar mengendalikan emosi nya, bukan emosi sebenarnya tetapi lebih tepatnya sedikit geram dengan Erva.
Hingga, Anjar melanjutkan langkahnya untuk menuju ke lantai paling atas, di mana ruangan nya berada, dan itu membuat Erva lagi lagi bingung dengan siapa sosok Anjar sebenarnya.
dr. Anjar Indriawan, Sp.B
Deg...
__ADS_1
Erva kaget, ketika melihat papan nama bertuliskan nama Dokter di sana, dan kebetulan juga...laki laki itu langsung masuk ke dalam ruangan tanpa permisi dulu.