
"Pengantin baru, senyum-senyum terus ... bagaimana rasanya An.?"
Kebetulan sekali Dokter Rico juga baru menampakan dirinya, entahlah dua hari tidak bertemu dengan Anjar,.laki laki itu sudah menggoda teman baiknya. Dan selama Dokter Anjar cuti, Dokter Riko juga sepertinya ikut-ikutan mengajukan cuti saja.
Dan baru kali ini Dokter muda dan tampan itu bertemu dengan teman dekatnya dan tentu saja Rico akan meledek Anjar habis-habisan.
Dan seperti biasa, Anjar hanya diam saja dan laki-laki itu hanya menyunggingkan senyum tipisnya, tidak berniat untuk menjawab apa yang ditanyakan oleh temannya itu.
"Halah ngakunya tidak mau nikah tapi baru dua hari menikah aku lihat perubahan wajah kamu yang tidak seperti biasanya."
"Perubahan wajahku bagaimana? tidak menunjukkan sesuatu yang berubah."
Padahal di dalam hatinya Anjar senyum-senyum sendiri, memang benar yang dikatakan oleh temannya itu kalau ia berubah dan tentu saja perubahan dirinya bukan apa-apa yang jelas ini statusnya sudah menjadi seorang suami dan pastinya ia bisa menikmati hidup dengan istrinya dan juga sudah mendapatkan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
"Halah ngaku saja, enak kan malam pertama? kamu aja sampai cuti 2 hari? Rasanya perawan benar-benar enak dan pastinya punya Erva enak banget, kamu pastinya nagih...ah iya iya kamu tidak jujur saja aku udah yakin kalau kamu begitu ketagihan dengan rasanya."
Anjar melotot tajam ke arah Rico ketika ia mendengar nama istrinya yang disebut oleh Rico, apalagi ada kata-kata enak rasanya yang pastinya ia tidak mau kalau nama istrinya disebut laki-laki lain apalagi sampai membahayakan bagaimana rasanya tubuh Erva.
"Santai bro gitu aja sudah marah, aku cuma punya tanya aja bagaimana rasanya, pastinya membuat kamu ketagihan dan pengen lagi dan lagi kan?"
Lagi lagi Anjar tidak menjawab, laki-laki itu langsung saja menuju ke ruangannya.
Bukan hanya tidak mau menjawab tetapi ia takut kalau malah dirinya membayangkan sesuatu yang tidak tidak dengan Erva dan tentu saja itu membuat kangen dengan istrinya.
"Arghhhh.... Kamu memang benar-benar membuat aku gila Er... Dan malah pengen bertemu sama kamu lagi ih kangen banget sih dek, kamu tuh gemesin."
Belum ada setengah hari tetapi tiba-tiba Anjar sudah kangen dengan istrinya,.tentu saja bukan hanya karena kangen melihat wajah Erva tetapi juga Anjar ingin yang lainnya juga. Entahlah mengapa kedatangan Dokter Rico membuat Anjar semakin salah tingkah, bukan karena ia ada rasa dengan Dokter itu tetapi dengan Dokter itu menyebut nama Erva dan juga bertanya-tanya tentang malam pertama membuat Anjar malah ingin bertemu dengan Erva, dan ingin mengulang kembali adegan panas semalam.
__ADS_1
"Hahaha aku tahu ekspresi kamu seperti itu pastinya kamu ingin lagi kan? sudah telepon saja istri kamu suruh dia datang ke sini."
"Dia kuliah."
"Ya sudah berarti kamu harus menahan dulu sampai nanti sore bertemu dah aku mau ke bawah, masih ada yang harus aku kerjakan. Tapi awas!! jangan sampai kamu ber solo, tidak enak. Daripada kamu bersolo mendingan kamu jemput aja Erva, pasti dia mau."
"Sialan!!'
Rico ikut tertawa lebar mendengar umpatan dari Anjar yang memang nyatanya ia sudah melihat ekspresi wajah Anjar yang menginginkan adanya istrinya saat ini tetapi tidak mungkin karena Erva juga masih kuliah dan tentu saja Anjar juga masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Sedangkan di kampus, wanita cantik itu berada di kantin dan tentu saja bukan untuk makan tetapi hanya ingin minum dan juga ngobrol-ngobrol dengan Mona saja.
"Bagaimana kemarin jadi ke rumah sakit?"
"Jadilah tapi hanya sebentar saja, setelah gue bertemu dengan wajahnya gue langsung pergi."
"Jelas dong, gue sudah baik-baik datang ke sana tetapi dianya malah berkata macam-macam apalagi ada Mas Anjar juga, gue jadi tidak enak dan tidak ingin kalau dia berpikiran macam-macam."
"Sudah gue duga pasti laki-laki itu akan berpikir begitu, lalu bagaimana dengan suami Lo?"
"Tidak komentar, tetapi gue tahu kalau dia di dalam hatinya pasti cemburu dengan apa yang dikatakan oleh Keenan. Laki laki itu memang pengen gue racun tikus aja, laki-laki itu sudah tahu kan kalau gue sudah menikah, ngapain dia masih mengganggu."
Terlihat Erva kesal sekali ketika mengingat bagaimana perlakuan Keenan kemarin, yang sangat-sangat manis bahkan Keenan tidak sadar kalau ada Anjar sebagai suami Erva di sampingnya.
"Dia masih cinta sama lo. Dan berharap Lo bisa bersama lagi sama dia."
"Gila! Salah sendiri dia ngehianatin gue dan ninggalin gue. Padahal cinta gue tulus banget sama dia, tidak ada sedikitpun niat untuk menghianati dia tetapi malah begitu balasannya dan sekarang dia bisa merasakan sendiri bagaimana dulu gue juga merasa sakit hati dan kecewa."
__ADS_1
"Jadi lo balas dendam?"
"Bukanlah, buat apa gue balas dendam tetapi semuanya sudah terbalas dengan kontan tanpa gue membalasnya sendiri dia juga pasti akan merasakannya. Dan gue beruntung sekali bisa mendapatkan suami seperti Mas Anjar yang pengertian dan baik hati meskipun kadang-kadang menyebalkan, dinginnya itu loh yang membuat nggak tahan."
"Nggak tahan untuk apa? nggak tahan untuk anu anu sama dia?"
"Ngawur !! otak lo memang ngeres , kawin sana biar nggak ngeres!"
"Belum cukup umur, gue mau belajar dulu sama lo dan pastinya gue juga pengen mendapatkan suami seperti Dokter Anjar tetapi jangan sifatnya yang dingin, gue nggak betah kalau berhadapan dengan laki-laki yang dingin seperti itu."
Padahal jika Mona mengenal lebih jauh tentang Dokter Anjar, pastinya dia tidak akan berkata seperti itu. Memang sifat Dokter Anjar itu dingin, bahkan tidak bisa tersenyum dengan semua orang atau mungkin malahan jarang menunjukkan senyumannya namun kalau sudah kenal, sudah dekat dan sudah tahu bagaimana sifat dari dirinya pastinya semua orang akan merasa kalau Dokter Anjar itu bukanlah seseorang yang berhati dingin bahkan bisa akrab dan tahu bagaimana sifat dan sikap dari laki-laki itu.
"Aku doakan saja semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih dingin dari Mas Anjar hahaha."
"Dan aku tidak mengamini nya untuk tidak mendapatkan laki-laki seperti itu."
Keduanya masih terlalut dalam obrolan siang ini hingga akhirnya Erva dan Mona harus kembali lagi ke kelas karena akan ada kuliah jam berikutnya lagi dan pastinya kedua perempuan cantik itu masih saja membahas perihal tentang Dokter Keenan dan juga Dokter Anjar, dan juga tak lupa Mona bertanya tentang bagaimana menikah dengan laki-laki yang dingin seperti Dokter Anjar.
Ting
Erva yang sudah duduk di kursinya langsung saja mengambil ponsel ketika dia mendengar suara pesan masuk.
Perempuan cantik itu tersenyum manakala melihat pesan yang dikirimkan oleh suaminya. Entah kenapa sepertinya Anjar siang ini menginginkannya.
[Kangen dek, pulang jam berapa?]
Erva menggelengkan kepalanya saja, ia bahkan tidak berniat untuk membalas pesan yang dikirimkan oleh suaminya, memang sengaja sepertinya dan ingin mengetahui bagaimana reaksi dari suaminya itu jika pesannya hanya dibaca saja tanpa dibalas.
__ADS_1