
"Mau ke mana pagi-pagi begini sudah rapi?"
Mama Risa melihat Anjar yang sudah rapi dan juga tidak biasanya. Beliau pun bertanya karena rasanya aneh sekali kenapa tiba-tiba jam segini Anjar sudah turun ke bawah.
"Jemput Erva." jawab Anjar dengan tersenyum.
Sudah kuduga pasti kemarin mereka sudah berbicara empat mata dan pastinya hari ini sudah janjian untuk ketemuan.... senangnya... jadi pengen cepat-cepat nikahkan mereka deh sudah nggak sabar pengen punya cucu, batin Mamah Risa.
"Jemput Erva, memangnya kalian sudah baikan?"
Jelas saja Mama Risa pura-pura tidak tahu, beliau bahkan ingin tahu cerita selengkapnya dari Anjar. Siapa tahu putranya itu mau menjelaskan tentang pertemuannya kemarin sore, apakah ada terjadi sesuatu di sana.
"Sejak kapan aku berantem sama dia?"
Bukannya menjawab, Anjar malah memberikan pertanyaan kepada Mama Risa yang membuat wanita yang tidak muda lagi itu hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu tersenyum menatap ke arah wajah Anjar.
"Tidak berantem, terus kemarin kenapa hanya diam-diaman saja?"
Tidak menjawab, Anjar kemudian mengambil segelas kopi dan meminumnya. Memang kebiasaannya dari dulu seperti itu tidak sarapan tetapi minum kopi sudah cukup , nanti agak siangan baru ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.
Sudahlah, nyatanya memang berbicara dengan Anjar itu harus dengan kondisi yang ekstra sabar. Sabar andaikata laki-laki itu tidak menjawab dan tidak sering membuat orang lain merasa jengkel kepadanya.
"Oh ya Mah , nanti malam aja Erva makan malam di sini ya..?" pinta Anjar kepada Mama Risa.
"Maksudnya bagaimana?"
Lagi lagi Mama Risa pura-pura saja tidak tahu apa maksud Anjar, padahal beliau paham betul ... cuma mungkin putranya itu memang gengsi kalau mengajak Erva makan malam duluan pasti ujung-ujungnya Mamanya yang akan diseret-seret di depan Erva nantinya.
"Ya Mama ajakin Erva makan malam di sini..."
"Mana bisa, Kamu kan yang ketemuan sama Erva dan bilang saja kalau kamu mengajak makan malam di sini nanti."
"Bukan begitu maksudnya mah, Mamah yang ngajak Erva, bukan aku"
"Mama pura-pura ngajakin Erva makan malam gitu padahal yang pengen makan malam adalah kamu..."ujar Mamah Risa lagi.
__ADS_1
"Ya seperti itu kira-kira Mah bisa ya....?"
"Terserah, yang penting Erva nya mau , kalau Mama sih oke-oke aja. dan kenapa tidak makan siang saja, toh Mama juga nggak kemana-mana?"
Kalau siang bisa kenapa masih nunggu nanti malam itu yang dipikirkan Mama Risa saat ini.
"Jangan!! nanti siang aku mau ngajakin Erva makan di luar, nanti malam saja pokoknya Mama siapin, nanti biar aku yang bilang kalau Mama yang ngajakin makan malam..."
Setelah mengatakan itu, Anjar pamit untuk menjemput Erva, laki-laki itu tersenyum senang dan nampak bahagia hari ini.
Sedangkan Mama Risa hanya menggelengkan kepalanya saja, entah mengapa anaknya yang sudah hampir berkepala tiga itu bisa-bisanya berbuat seperti itu. Sudah tua tetapi tidak mau menembak perempuan dan juga enggan untuk mengajaknya makan malam yang romantis.
Anjar keluar dari rumah, kemudian langsung masuk ke mobil Erva, sengaja memang mobil Erva tidak ia kembalikan semalam, ia akan berpura-pura saja mengantarkan mobil padahal niatnya adalah menjemput Erva untuk ke kampus.
Hanya dalam waktu dua puluh lima menit saja mobil yang dikemudikan oleh Anjar sudah sampai di depan rumah Erva dan langsung dibukakan oleh Pak satpam yang sudah tahu siapa yang berada di dalam mobil milik Nona mudanya itu.
Anjar turun dengan merapikan rambut dan juga pakaiannya terlebih dahulu , tidak ingin terlihat berantakan nanti di depan calon mertuanya karena pastinya pagi-pagi begini keluarga Erva masih berkumpul di rumah.
Ting... Tong...
Tidak menunggu lama seorang asisten rumah tangga keluar dan menyapa Anjar dengan ramah, kemudian meminta laki-laki itu untuk masuk ke dalam dan duduk.
"Siapa Bi yang pagi-pagi sudah bertamu ke rumah?" tanya Papah Bram.
Seperti dugaan Anjar kalau Papah dan juga Mamahnya Erva sudah siap untuk sarapan pagi ini.
"Selamat pagi om..." sapa Dokter Anjar ramah.
Laki-laki itu langsung berdiri ketika Papahnya Erva mendekati dirinya dan dengan sopan Anjar menyapa sekaligus meraih tangan Papah Bram untuk diciumnya.
"Selamat pagi dokter Anjar silakan duduk.."
"Panggil nama saja Om saya di sini bukan Dokter yang akan memeriksa pasien..."
Tapi akan menculik putri Om dan membawa nya pulang ke rumah saya, batin Anjar..
__ADS_1
"Oh begitu, mau jemput Erva kan?"
Papah Bram langsung saja ke poinnya karena tidak mungkin seorang laki-laki pagi-pagi begini datang ke rumahnya apalagi kalau hanya untuk mengantarkan mobil, bisa nanti .., tetapi pasti yang utamanya adalah untuk menjemput Erva.
"Iya Om kalau boleh dan Om mengizinkan."
"Kenapa tidak boleh, Om malah senang Erva ada yang mengantar, mungkin kamu juga tau kalau seumuran Erva masih pengen kebut-kebutan di jalanan dan itu membuat Om panik dan khawatir."
"Terima kasih Om..."
Papah Bram mengangguk, kemudian tersenyum lalu melihat ke arah Anjar, laki-laki yang di depannya itu terlihat sopan dan juga serius kepada putrinya.
Meskipun belum ada hilal apa-apa antara Anjar dan Erva, tetapi dari cerita Mama Hana kemarin Papah Bram sudah bisa menyimpulkan kalau putrinya juga sudah menaruh hati kepada Dokter Anjar.
Seketika pandangan Anjar mengarah kepada seorang gadis cantik yang baru saja turun dari tangga, dan entah mengapa pagi ini Erva terlihat begitu cantik dan mempesona yang membuat matanya tidak berkedip sedikitpun bahkan ia ingin terus-menerus menatap wajah cantik Erva.
Sedangkan Papah Bram, beliau tahu dan mengikuti arah pandang mata Anjar yang mengarah kepada Erva yang baru saja turun dari tangga.
"Er ada yang mencari.. kenapa kamu turunnya lama sekali nggak takut telat kuliah?"
Erva mendekati Papahnya , ia dari tadi juga sudah mendengar kasak kusuk orang ngobrol tapi tidak menyangka kalau yang mengobrol dengan Papah nya itu adalah Anjar.
"Eh Mas mau nganterin mobil ya?"
Tentu saja Erva kaget melihat Anjar yang sudah akrab dengan Papah nya tetapi ia tidak mungkin melihatkan rasa kaget itu di depan Anjar dan berpura-pura saja berekspresi seperti biasanya.
"Mau nganterin kamu, mau kan?"
Erva tersenyum kemudian ia mengangguk, padahal di dalam hati ingin rasanya ia meloncat-loncat karena pagi ini bukan hanya sekedar bertemu dengan dokter Anjar tetapi laki-laki itu juga mau mengantarkannya kuliah.
"Kalau begitu sarapan dulu ya Mas, aku lapar...."
"Aku tunggu di sini saja. Lagian aku tidak terbiasa sarapan pagi."
"Aneh, padahal Mas itu Dokter tapi kenapa sarapan malah tidak terbiasa, apa nggak takut nanti perutnya sakit atau maag-nya kumat...."
__ADS_1
"Sok tahu... sejak kapan aku punya maag?"