
Beberapa menit kemudian, Anjar sudah sampai di Rumah Sakit. Ia melihat jam yang ada di tangan nya, di mana masih aman untuk ia bersiap siap lebih dulu sebelum melakukan operasi.
"Siang Dokter...."
Banyak sapaan untuk Anjar, tetapi...laki laki itu hanya diam saja . Bukan sombong tetapi seperti kebiasaan nya memang seperti itu .. tidak pernah senyum apalagi menyapa balik.
Jika belum pernah bertemu dengan Dokter Anjar memang mengira kalau Dokter Anjar adalah Dokter yang galak dan sombong, tidak ramah ataupun murah senyum.
Tetapi, kalau sudah tau sifat dan sikap laki laki itu... pasti hanya diam saja, melihat Dokter Anjar tersenyum saja sudah bahagia setengah mati...apalagi bisa ngobrol lama dan panjang kalimat nya.
"Tiga puluh menit lagi operasi Dokter.", ucap perawat yang merupakan asisten Dokter Anjar dalam Rumah Sakit ini.
"Hmm....m"
Hanya itu jawaban yang diberikan oleh Dokter Anjar, kemudian ia berlalu dan menuju ke ruangan kerja nya, bukan ruangan pribadi yang ada di lantai atas.
Masih ada waktu untuk Anjar sekedar merebahkan tubuh nya sebentar, karena semua nya pasti sudah disiapkan.
"Kenapa aku malahan ingat kamu Er??"
Bukannya tenang, Anjar malahan senyum senyum sendiri seperti orang gila. Laki laki itu bahan melihat ke arah tangan nya yang tadi digunakan untuk merangkul pinggang Erva.
Bahkan saking gilanya... Anjar juga mencium tangan nya sendiri kemudian tersenyum. Nyaman... seperti kembali merasakan aroma tubuh Erva yang tadi sempat dihirupnya.
Ceklek...
Seseorang masuk ke dalam ruangan Anjar...dan melihat laki laki itu yang senyum senyum sendiri tanpa jelas apa penyebab nya.
"Temanku sudah gila..atau memang tidak waras...."
Anjar kaget... tidak tau dari mana Rico datang...ia sendiri tidak mendengar suara pintu di buka., tetapi tiba tiba sudah ada di depan mata.
"Sialan!! tidak sopan..masuk enggak bilang bilang ."
Anjar berubah raut wajah nya...yang tadinya senyum senyum sendiri seperti orang gila .. kini menjadi masam.
__ADS_1
"Kalau aku bilang bilang ...tidak akan melihat kamu tersenyum seperti orang gila ..ada apa??"
"Siap siap operasi...."
Jawaban yang tidak nyambung dengan pertanyaan Rico...dan itu sudah menjadi kebiasaan Anjar. Laki laki yang selalu tertutup dengan orang lain meskipun dengan teman baiknya sendiri...apalagi masalah perempuan.
"Lah ..aku belum selesai ngomong...dan kamu juga belum menjawab...."
Melihat Anjar keluar dari ruangan nya ...Rico juga mengikuti..untung saja keduanya satu tim dalam tindakan operasi kali ini.
"Aku curiga..kamu sedang jatuh cinta ya??"
Kembali lagi...satu pertanyaan Lolos dari mulut Rico...yang tadi saja belum dijawab oleh Anjar...kini Rico menambah lagi satu pertanyaan...yang kemungkinan besar juga tidak akan dijawab.
Anjar mengehentikan langkah kakinya, kemudian melihat ke arah Rico yang sudah berdiri di samping nya.
"Kepo!!"
Sudah di duga ..Anjar tidak akan memberikan jawaban yang pas..dan itu membuat Rico kesal tetapi sekaligus senang kalau saja apa yang dipikirkan tentang Anjar benar, kalau temannya saat ini sedang jatuh cinta.
Anjar melanjutkan langkah kakinya...ia tidak akan menjawab ucapan Rico sekarang...hingga akhir nya mereka berdua sampai di depan ruangan yang memang khusus untuk melakukan tindakan operasi.
"Ditunggu undangan nya...."
Bukan jawaban dari pertanyaan... tetapi mengupayakan sebuah pernyataan...dan itu seketika langsung saja keluar dari mulut Anjar
"Ditunggu undangan? jadi Lo?? kapan??"
Semangat sekali Rico ingin mengorek informasi tentang Anjar...dan siapa perempuan yang saat ini menjadi pilihan teman nya itu.
"Secepat nya, di tunggu saja...", jawab Anjar setelah itu masuk ke dalam dan otomatis tidak ada pembicaraan lain lagi selain masalah pasien.
...****...
Sedangkan di tempat lain, Erva juga melakukan hal yang sama...senyum senyum sendiri ketika mengingat bagaimana perlakuan Anjar padanya.
__ADS_1
Seperti jatuh cinta lagi....Erva benar benar gila ... memandang wajahnya di depan cermin dan tersenyum sendiri..
Sesaat ia memang tersenyum.... tetapi setelah itu , senyumnya hilang ketika mengingat apa yang diucapkan oleh Anjar tadi.
"Rayu aku ...."
Astaga....
Erva menutup mulut nya ... bagaimana bisa ia merayu laki laki seperti Anjar, apalagi memang ia sama sekali tidak berpengalaman dengan yang namanya rayu rayuan.
"Mona....."
Erva merebahkan tubuh nya di atas ranjang.... kemudian mengambil ponsel untuk menelpon Mona.
Sejenak ia mengabaikan beberapa pesan masuk dari nomer yang sama...dan tidak membuka nya...bagia Erva.. nomer tanpa identitas itu hanya iseng saja dan tidak penting.
"Angkat Mon...."
Kemana Mona?? dari tadi Erva menelpon tetapi tidak diangkat....sudah beberapa panggilan tidak dijawab yang Erva lakukan tetapi sahabat nya itu tidak mengangkat nya juga.
"Kalau aku yang ada perlu saja susah dihubungi ..dasar!!"
Lelah menghubungi Mona yang tidak kunjung diangkat, akhirnya....Erva ketiduran. Bahkan belum mengganti pakaian nya karena saking lelahnya.
Entah sudah berapa jam Erva tidur, hingga menjelang malam... Gadis itu terbangun karena mendengar ponsel nya yang berbunyi.
"Euhhh... siapa sih ..ganggu aja..."
Dengan matanya yang masih terpejam...Erva mengangkat telpon yang entah dari mana karena ia sendiri tidak melihat siapa yang melakukan panggilan itu.
"Hallo....", jawab Erva dengan suara seraknya khas bangun tidur.
Diam.... tidak ada suara dari si penelpon yang membuat Erva memejamkan matanya kembali. Untung saja Erva masih dalam keadaan yang tidak sadar alias nyawa nya belum terkumpul...kalau enggak...ia sudah memaki dan mengumpat si penelpon yang entah siapa.
Dikira sudah di matikan, tetapi ternyata...masih tersambung dan....
__ADS_1
Deg...