Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Kenapa Dia Ada Di sini?


__ADS_3

"Nanti kamu di sana bisa langsung bergabung dengan teman-temannya Mama siapa tahu kamu menemukan jodoh di sana."


Anjar menoleh, ia menetap sekilas Mamanya kemudian fokus lagi ke depan, kenapa Mamanya masih saja ingin menjodohkan dirinya dengan perempuan lain padahal sudah jelas-jelas dirinya saat ini sedang patah hati dan belum tentu perempuan yang akan dikenalkan kepadanya itu adalah perempuan yang seperti Erva..


Karena sebenarnya di dalam hati Anjar itu masih tersimpan nama Erva dan entah kapan laki-laki itu akan menghapus nama Erva dari dalam hatinya.


"Mah, aku turun loh kalau masih membahas tentang perjodohan, kalau nggak aku kabur aja ke luar negeri biarkan mama sendirian di sini."


Itulah ancaman yang kerap kali Anjar ucapkan kepada mamanya ketika mamanya mulai menjodohkan dirinya dengan perempuan lain.


Karena bukan Anjar tidak menghargai, tetapi zaman sekarang sudah tidak ada namanya perjodohan lagi.


Entah kapan hati Anjar akan terbuka setelah ia merasakan patah hati yang sangat luar biasa, Anjar sendiri juga tidak tahu.


"Jangan dong, apa kamu tidak kasihan dengan mama ? Mama sendirian di sini? kalau tidak ingin dijodohkan lebih baik ikuti saja saran Mama hubungi Erva dan kemudian coba tanyakan apa benar berita itu."


"Tapi ini kan sudah satu minggu, kalau memang berita itu benar pastinya kamu sudah mendapatkan undangan pernikahan Erva tentunya, dan kalau kamu tidak mendapatkan undangan itu, pasti Mama yang akan mendapatkan, Mama kan temennya mamanya Erva.", lanjut Mamah Risa lagi yang saat ini baru kepikiran tentang berita yang satu minggu yang lalu beredar.


Anjar hanya diam saja, bukan karena ia tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mamanya tetapi ia mengingat dan berpikir apa yang dikatakan oleh Mama Risa itu ada benarnya juga dan ini sudah satu minggu bukannya berita yang dulu tersebar kalau Erva dan Keenan akan melangsungkan pernikahannya minggu depan tetapi kenapa sampai sekarang tidak ada berita lagi mengenai keduanya.


Undangan pernikahan pun ia tidak mendapatkannya. Dan Anjar setuju dengan yang dikatakan oleh Mama Risa kalaupun ia tidak mendapatkan undangan setidaknya mamahnya yang mendapat undangannya karena mama Risa dan Mama Hana berteman baik.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Mah?"

__ADS_1


Baru kali ini Mama Risa mendengar Anjar meminta saran kepadanya padahal sebelumnya tidak seperti itu kalau masalah pribadi , Anjar lebih menutup diri dan tidak akan bercerita walaupun itu sangat kecil sekali.


"Seperti apa yang mama katakan kemarin hubungi Erva, ketemu dia dan kamu bisa menanyakan secara langsung bukan dari mulut orang lain dan setelah itu terserah apa yang mau kamu lakukan."


Anjar mengangguk sepertinya saran yang diberikan oleh Mama Risa akan ia lakukan , karena sudah satu minggu ini ia hanya berdiam diri di rumah tanpa ada kabar tanpa juga ada penjelasan.


"Kalau kamu memang laki-laki harus gentle An, hubungi Erva dan tanyakan kebenarannya dan bersikaplah sportif jika memang kenyataannya Erva lebih memilih dokter Keenan daripada kamu.", ucap mama Risa lagi.


Obrolan mereka terhenti ketika mobil Anjar sudah memasuki halaman sebuah rumah mewah , sama seperti Erva, Anjar juga baru pertama kali datang ke rumah ini.


"Jangan tunggu di mobil, ikut turun!! mama pastinya lama di dalam dan kamu bisa keliling sekitar rumah ini atau langsung makan saja.", pesan Mamah Risa.


Beliau tahu apa yang dipikirkan oleh Anjar saat ini pastinya Anjar akan lebih memilih untuk diam di dalam mobil tanpa harus ikut masuk ke dalam.


Terpaksa Anjar juga ikut turun, ia tidak mungkin menunggu mamahnya selama beberapa jam di dalam mobil dan langsung saja ia menuju ke sebuah ruangan yang di sana sudah terdapat makanan. Lebih baik ia makan saja daripada harus bergabung dengan anak dari teman-temannya mama Risa yang pastinya kebanyakan dari mereka adalah abege abege yang pastinya centil centil dan ingin menggoda dirinya.


"Erva", gumam Anjar lirih.


Kenapa dia ada di sini? apakah ini memang kebetulan dan jawaban dari semua yang aku pikirkan selama ini kalau aku dan Erva memang ditakdirkan bersama dan kita dipertemukan lagi di sini tanpa saling menghubungi dan tanpa saling berkomunikasi.


Anjar tersenyum tetapi ia masih menampilkan wajah dingin dan datarnya lalu laki-laki itu menghampiri Erva.


"Sudah kubilang, makanan itu tidak cocok untuk perut kamu tetapi kenapa kamu masih ngeyel saja.", ucap Anjar tiba-tiba ketika melihat Erva yang mengambil makanan berwarna merah dengan topping lombok setan di atasnya.

__ADS_1


Erva menoleh ke samping, ia hafal betul dengan suara dari seseorang yang menghentikan aksinya untuk mengambil makanan pedas.


Dan ketika ia sudah melihat laki-laki itu hampir saja makanan Erva a jatuh karena kaget, mengapa dokter Anjar bisa ada di sini.


Erva a tidak menjawab, ia malahan memandang wajah tampan dokter Anjar yang memang sudah beberapa hari ini dirindukannya.


"Ganti yang lain,makanan itu tidak cocok untuk kamu."


Masih saja bersikap dingin, dan setelah mengatakan itu kepada Erva, dokter Anjar langsung berlalu pergi meninggalkan Erva dan yang membuat Erva bingung saat ini apa yang terjadi dengan laki-laki itu.


"Kenapa dia juga ada di sini?"


Erva menggeleng pelan sekalipun ia senang bisa bertemu dengan dokter Anjar lagi tetapi melihat sikapnya yang dingin dan terlihat sombong seperti itu Erva hanya diam saja.


Setelah mendapatkan ceramah dari dokter Anjar yang tentunya hanya beberapa kata saja Erva mengganti makanannya.


Ia teringat kalau beberapa waktu yang lalu pernah makan makanan seperti ini dan menyebabkan perutnya menjadi panas dan beruntung saja waktu itu dokter Anjar ada di sana dan membawakan obat yang selama ini ia konsumsi tetapi untuk saat ini Erva tidak yakin kalau dokter Anjar juga membawakan obat untuk meredakan rasa sakitnya.


Tidak ingin merasakan rasa sakit kembali, Erva akhirnya memilih makanan yang disarankan oleh dokter Anjar yaitu makanan yang tidak terlalu pedas, bukan tidak boleh pada sama sekali tetapi memang kadar pedasnya harus dikurangi.


Sembari makan,. Erva mencuri-curi pandang ke arah di mana dokter Anjar sekarang berada dan laki-laki itu hanya diam saja dengan ponsel yang ada di tangannya entahlah sedang bermain atau sedang mengirim pesan kepada seseorang.


"Dekati tidak dekati tidak dekati tidak."

__ADS_1


Pikiran Erva kemana-mana ia ingin sekali mendekati dokter Anjar dan berbicara dengan dia meskipun tidak berbicara dengan hari batik itu tidak buruk.


Tetapi baru saja Erva ingin melangkahkan kakinya mendekati Anjar, Anjar sudah lebih dulu pergi dari tempat duduknya dan entah ke mana laki-laki itu sekarang berada dan Erva akhirnya menghentikan langkahnya untuk menghampiri Anjar.


__ADS_2