Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Bisa Tanpa Dia


__ADS_3

"Kenapa ada di sini??"


Erva tersenyum dan melihat ke arah Romi sekilas, lalu mengarahkan pandangan matanya ke arah depan, di mana sebentar lagi acara sakral itu akan di langsungkan.


"Kenapa aku ada di sini?? pertanyaannya yang sangat aneh Rom..."


Tidak dipungkiri, kedatangan Erva membuat Romi bingung. Untuk apa Erva datang kesini?? bukannya lebih baik kalau dia tidak datang dan menyaksikan pernikahan ini, tetapi... Erva.


"Bukan begitu, hanya saja..."


"Hanya saja aku lebih baik tidak ada di sini gitu??? tidak Rom, kamu tau aku kan.....aku akan melihat dengan kedua mataku sendiri, kalau dia memang benar benar bukan untuk ku dan bukan milikku lagi..."


Jawab Erva dengan menahan air mata nya, entah mengapa....ia merasa ada sesuatu yang sesak saat melihat Dokter Keenan bersama dengan Amira, dan tersenyum penuh kebahagiaan.


"Tapi Er??"


Erva menggeleng, "Aku tidak apa apa, pergilah kalau kamu ingin masuk ke dalam, aku di sini saja."


Bohong sekali kalau Erva tidak apa apa, bahkan ia sudah menyiapkan tisu yang banyak di tas nya. Ia tau...akan ada sesuatu yang menguras emosi dan air matanya sebentar lagi, tetapi... mencoba ditahan nya, sampai di mana kekuatan Erva saat ini.


"Tidak, aku akan menemani kamu.... kita lihat dari sini saja."


Tidak mungkin Romi membiarkan Erva sendirian di sini, sedangkan ia tau betul bagaimana perasaan gadis itu.


Romi juga tau, mengapa Erva hanya berdiri dan menyaksikan acara ijab qobul dari luar, dari pintu. Itu karena, Erva masih tidak sanggup dan belum ikhlas sepenuh nya melepas Dokter Keenan, Romi tau itu.


Dan bohong, jika Erva baik baik saja. Romi tau..kalau Erva hanya pura pura tersenyum di depan orang banyak, padahal di dalam hatinya menjerit, dan menangis pilu.


Lantunan ayat suci Al-Quran mengawali proses acar pagi ini, dan serangkaian acara yang lainnya.


Dan kini, tibalah saatnya... Dokter Keenan mengucapkan ijab qobul di depan penghulu, saksi dan semua orang yang hadir di sini.

__ADS_1


Sementara Erva, ia menguatkan hatinya... menahan air mata nya agar tidak jatuh membasahi pipi nya, ia pun hanya memegang rok yang dipakai demi menjaga dirinya supaya tetap waras.


Tidak tega, Romi yang melihat Erva bersikap aneh, bahkan terlihat jelas di wajah nya kalau saat ini Erva sedang menahan sesuatu supaya tidak keluar.


Romi yang pengertian, mengambil tangan Erva dan menggenggam nya, ia juga membisikkan sesuatu di telinga Erva.


"Jangan sedih, percayalah...kalau dia bukan yang terbaik untuk kamu, dan kamu bisa lihat sekarang ..buka mata dan telinga lebar lebar, lihat dan dengarlah Er... kenyataan yang harus kamu terima, dan ini tujuan kamu untuk datang kesini..."


Erva hanya diam saja, matanya melihat ke atas, telinga nya juga ia fungsikan dengan sebaik baiknya, menatap ke depan dan memastikan kalau apa yang dilihat dan didengar itu adalah nyata dan tidak mimpi.


Hingga....


Sah...


Kata Sah membuat Erva menetaskan air matanya, sadar kalau ia tidak mungkin bersama dengan Dokter Keenan lagi.


Kenapa sesakit ini?? kalau tau seperti ini, lebih baik aku tidak usah datang saja ...


Pura pura bahagia itu ternyata sudah, tetapi..lebih susah lagi untuk berpura pura tidak mencintai Dokter Keenan lagi, yang nyatanya sampai saat ini...rasa cinta untuk Dokter Keenan itu masih ada.


Romi mengubah posisi nya, ia sekarang berada di depan Erva dengan tangan nya terulur untuk menghapus air mata yang sudah terlanjur menetes di pipi nya.


"Bukan menangis, tetapi aku hanya terharu saja...."


Lagi lagi, Erva membohongi Romi dan dirinya sendiri. Entahlah...apa ini yang ia inginkan sejak tadi malam setelah mendapatkan kabar tentang pernikahan Dokter Keenan.


"Oh .. terharu... tidak perlu terharu Er...dan kalau memang kamu ingin menangis, menangis lah...aku akan pinjamkan bahu ku untuk kamu..."


Erva menggeleng, "Tidak, aku tidak akan menangis...capek Rom..."


Romi hanya mengangguk, dan kembali ke posisi nya semula dengan tangan nya yang kembali memegang tangan Erva.

__ADS_1


...***...


Hampir satu jam Erva dan Romi melihat acara pernikahan itu dari luar, dan selama itu pula... tidak ada atau lebih tepatnya belum menyadari dengan kedatangan Erva di sana.


"Sudah satu jam, apa kamu masih mau di sini?? atau aku anterin pulang???"


Romi tidak akan menawari Erva untuk masuk ke dalam, karena ia tidak yakin kalau Erva akan menunjukku wajahnya di depan Keenan, tetapi... kenyataan nya salah.


"Aku mau masuk...kamu pergi saja atau pulang saja, aku belum ingin pulang ke rumah...."


Tidak seperti yang Romi pikirkan, ternyata Erva malahan ingin masuk ke dalam, dan otomatis...Romi tidak akan membiarkan Erva sendirian, apalagi kini gadis itu harus melihat dari dekat Dokter Keenan bersanding dengan wanita lain.


Tetapi, sayang sekali...saat Romi ingin menyusul Erva, laki-laki itu bertemu dengan rekan bisnis Papahnya, dan mengajak ngobrol, hingga ...Romi hanya memperhatikan Erva dari jauh saja


Tidak ada yang tau kepulangan Erva hari ini, hingga membuat Kedua orang tuanya kaget dan tidak percaya, apalagi saat ini melihat Erva dengan penampilan dewasa dan juga sedang menuju ke pelaminan pengantin.


Semua mata memperhatikan ke arah Erva, bukan karena mereka tau kalau Erva adalah mantan tunangan Dokter Keenan, bukan begitu. Tetapi, karena wajah cantik dan penampilan yang sempurna dan mempesona membuat semua mata tertuju pada nya.


"Erva...."


Begitu juga dengan Dokter Keenan, laki laki itu menggeleng melihat Erva saat ini. Bukan nya ia mau berpaling , tetapi... rasanya... senang sekali melihat Erva yang cantik mempesona.


Dan, Dokter Keenan juga tidak menyangka kalau Erva akan datang di acara pernikahannya, padahal...ia memang sengaja tidak memberikan undangan atau tidak mengabdi Erva, takut saja kalau Erva akan terluka dan sakit hati, Keenan tidak mau melihat Erva meneteskan air mata nya lagi.


"Pah, Erva...susuk Pah...."


Mamah Hana sudah ketar ketir, melihat Erva yang tiba tiba saja sudah berada di sini, tanpa pemberitahuan kalau Erva akan pulang.


Mamah Hana juga takut, kalau saja Erva malahan merusak acara hari ini, dan Erva akan menangis melihat Doktet Keenan bersanding dengan wanita lain.


"Tidak perlu Mah, Papah yakin...Erva tidak akan melakukan apa apa, dan Papah yakin....putri Papah itu kuat dan bisa menerima kenyataan. Kita lihat saja dari sini, kalau Papah melihat Erva tidak baik baik saja, Papah akan ke sana..."

__ADS_1


Dengan yakin, Erva melangkahkan kakinya mendekati pelaminan yang sangat megah dan mewah itu. Pelaminan yang seharusnya untuk dirinya dan Dokter Keenan, tetapi.. nyatanya...untuk wanita lain.


Kamu harus kuat Er, tunjukkan pada laki laki itu kalau kamu bisa tanpa dia!!!


__ADS_2