Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Anak


__ADS_3

Setelah melakukan makan malam, Erva a dan Anjar langsung saja kembali ke rumah.


Pasangan pengantin baru itu terlihat sangat bahagia, bahkan keduanya tidak ragu-ragu untuk saling bergandengan tangan dan juga berani menampilkan kemesraan nya di depan umum.


"Mau ke mana dek, kok buru-buru?" tanya Anjar yang melihat istrinya buru buru masuk ke dalam kamar dan langsung ke kamar mandi.


Sesampainya di kamar Erva langsung saja menuju ke kamar mandi. Tentu saja itu membuat suami nya bingung kenapa istrinya tiba-tiba langsung saja menuju ke kamar mandi tanpa memberi tahukan kepada nya terlebih dahulu.


"Kebelet pipis Mas." jawab Erva sembari berlalu dan langsung saja masuk ke dalam kamar mandi.


Anjar lega, karena Erva ternyata buru-buru meninggalkannya untuk masuk kamar mandi karena ingin pipis, tidak seperti yang ia pikirkan.


Beberapa menit kemudian Erva sudah keluar dari kamar mandi dan tentu saja perempuan cantik itu sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang membuat Anjar menggelengkan kepalanya, kenapa juga istrinya malah memakai pakaian tidur.


"Kenapa sudah ganti?"


Kenapa sudah ganti? Erva sendiri bingung mengapa pertanyaannya ditujukan olehnya begitu. Bukankah malam ini tidak akan keluar lagi dan memang seharusnya kalau tidur memakai pakaian tidur seperti itu, tetapi entah kenapa suaminya malah menanyakan hal yang sepertinya tidak penting lagi.


"Maksud Mas bagaimana? apa Mas mau keluar lagi sama aku?"


Tentu saja Erva berpikiran positif mungkin saja suaminya ingin mengajaknya keluar lagi untuk membeli sesuatu.


"Bukan dek, hanya saja kenapa harus memakai pakaian?"


Erva langsung paham dengan apa yang diucapkan oleh Anjar kalau suaminya itu memintanya tidak memakai pakaian apapun dan itu jelas-jelas dapat Erva simpulkan kalau malam ini ia juga akan dimakan oleh suaminya lagi.


"Maksud Mas aku tidak usah memakai baju gitu?'


"Tepat sekali sayang, kamu benar-benar cerdas!"


"Tentu saja aku memang cerdas dan Mas memang benar-benar gila!!!"


"Erva!!" teriak Anjar kepada Erva ketika Anjar mendengar apa yang diucapkan oleh Erva tadi.

__ADS_1


Sedangkan Erva hanya senyum-senyum sendiri, lalu ia menuju ke atas ranjang dan tentu saja setelah lelah jalan-jalan ia ingin memejamkan matanya dan juga karena hari juga sudah malam.


"Enak saja kamu mau tidur sekarang dek?"


Tentunya seperti malam kemarin Anjar juga tidak akan membiarkan Erva tidur terlelap, enak saja baru dua malam mereka menikah tetapi malam ini kenapa Erva harus tidur duluan yang pastinya Anjar tidak akan membiarkan itu, ia masih ingin menghajar habis-habisan istrinya meskipun besok ia dan juga Erva harus kembali beraktivitas seperti biasanya lagi.


Anjar sudah membuka pakaiannya dengan saat ini ia tidak memakai apapun juga dan tentu saja itu membuat Erva melototkan matanya, entah mengapa suaminya jadi bersikap seperti itu yang seolah-olah tidak ada malu-malunya sama sekali dengan dirinya saat ini.


Memang benar, untuk apa malu kalau mereka sudah sah sebagai suami istri dan sudah tahu seluk beluk luar dan dalam dari pasangan masing-masing.


"Tidak akan aku biarkan kamu tidur malam ini sayang."


Dengan cepat Anjar merangkak ke atas ranjang dan tentu saja ia membuka selimut Erva lalu melancarkan aksinya dengan segera.


Erva pun tidak menolak apa yang dilakukan oleh suaminya meskipun keadaannya saat ini masih belum benar-benar pulih tetapi mendapatkan sentuhan-sentuhan dari suami yaitu membuat dirinya tidak bisa menolak apapun yang diinginkan oleh Anjar terlebih lagi agar melakukannya dengan sangat lembut bahkan lebih lembut dari yang dilakukan Anjar semalam.


Hingga akhirnya pergulatan panaspun itu selesai dengan ajaran langsung saja menarik selimut yang menutupi tubuh Erva dengan tubuh dirinya saat ini kemudian menarik tubuh Erva dan memeluknya.


"Enak ya dek?"


"Apanya yang enak mas?'


Sejujurnya Erva paham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya tetapi ia pura-pura saja dan ia ingin tahu bagaimana suaminya itu mengekspresikannya kepada dirinya saat ini.


"Kamunya, kamu enak sekali."


Erva menggeleng pelan tentu saja apa yang dipikirkan itu sama dengan apa yang diberikan oleh Anjar ternyata suaminya yang dingin itu bisa-bisanya mengatakan seperti itu.


"Bukan makanan Mas, jadi tidak enak dong tentunya kan aku tidak bisa dimakan."


"Bagi aku, kamu adalah makanan yang sangat enak dan tentu saja kamu sudah aku makan."


"Jadi Mas kanibal dong?"

__ADS_1


"Tentunya, habisnya kamu enak dan bikin aku ingin lagi dan lagi."


"Mas ada-ada saja kamu oh ya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Mas."


"Apa bicara saja."


"Tapi jangan marah ya, Aku tidak bermaksud untuk apa-apa hanya saja..."


"Tentang anak?"


Pastinya Anjar bisa menebak apa ya ingin disampaikan oleh istrinya itu ia tahu dan paham bagaimana pikiran erva saat ini dan tentu saja ia juga tidak menuduh istrinya untuk tidak mau hamil anaknya.


"Iya bukannya aku tidak ingin mempunyai anak dari Mas. Tetapi bagaimana dengan kesibukanku?"


Anjar tersenyum, ia juga tidak akan berpikir macam-macam tetapi mengingat umurnya yang bukan muda lagi dan tentu saja Erva saat ini juga sudah cukup umur untuk hamil dan Anjar tidak mengizinkan untuk Erva menunda kehamilannya,.masalah siapa nanti yang akan mengasuh anak-anaknya itu bisa dipikirkan nanti toh ada Mami dan juga Mamah mertuanya yang siap untuk membantu.


"Aku paham, tetapi Jujur saja dek , aku tidak ingin kamu menundanya. Bukan berarti aku tidak sayang kamu dan memilih anak aku dengan kamu cepat-cepat hamil bukan seperti itu, tetapi kamu tahu sendiri umur aku yang sudah tua dan tentu saja Mamah dan juga Mamah kamu sudah menginginkan seorang cucu... Dan jangan khawatir untuk masalah siapa nantia yang merawat, nanti akan kita pikirkan bersama-sama dan aku juga tidak akan membatasi semuanya ini apalagi membatasi kamu dalam berteman atau pun meraih pendidikanmu."


"Jadi kesimpulannya?"


"Jangan ditunda ya, terserah kita akan dikasih rezeki itu kapan tetapi baik kamu maupun aku tidak boleh menundanya dan kita akan menjalani sama-sama untuk menjaga dan mengasuh anak-anak kita."


Erva langsung saja mengangguk, iya paham apa yang dirasakan oleh suaminya lagi pula apa yang dikatakan oleh Anjar itu adalah benar kalau dirinya hamil itu juga tidak masalah apalagi ia mempunyai kedua orang tuanya dan juga mertuanya yang pastinya akan membantu dan tidak membiarkan ia kerepotan sendirian.


"Terima kasih dek, kamu mau mengerti aku dan maaf ya bukan aku tidak mau mengerti keinginan kamu tetapi kita juga tidak tahu dengan kamu tidak menunda saja kita sendiri belum tahu kapan akan dikasih rezeki itu, apalagi kita terus menundanya."


"Tidak apa-apa Mas, aku hanya takut saja kalau anak-anak kita nanti tidak ada yang mengurusnya, kamu sibuk sedangkan aku kamu tahu sendiri bagaimana jadwal kuliah aku dan kesibukkan mahasiswa baru itu belum lagi kalau nantinya sudah semester akhir pastinya bakalan sibuk lagi."


"Tidak apa-apa nanti saja dipikirkan yang penting kita jalani saja dulu kapan itu diberikan berarti itu terbaik untuk kita."


"Iya Mas."


Erva langsung saja mengeratkan pelukannya kepada Anjar dan itu membuat sesuatu di bawah sana kembali bergejolak.

__ADS_1


Menyadari dengan perubahan Anjar, Erva langsung saja mendorong tubuh Anjar perlahan, ia tahu kalau setelah ini akan ada adegan panas lagi yang membuat dirinya lemas seketika.


__ADS_2