
Mata kuliah hari ini selesai, Erva dan Mona berencana ingin menuju ke kantin, mereka memang tidak pulang dulu dan sengaja ingin ngobrol lalu makan siang melepaskan semua penat yang ada sebelum akhirnya pulang untuk istirahat.
Tidak ada yang dibicarakan lagi, baik Mona maupun Erva membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas hingga dosen dosen mata pelajaran itu keluar lalu semua yang ada di kelas juga ikut keluar.
Sama seperti tadi pagi, Erva masih berdiam diri belum membuka suara ataupun bercerita masih bingung dengan pikirannya saat ini yang entah itu karena memikirkan Anjar atau karena menghadapi pelajaran yang semakin hari semakin sulit saja.
Sama halnya dengan Mona, sebagai sahabat yang baik...gadis itu tidak banyak bertanya, iya tahu dan yakin pasti nanti sahabatnya akan bercerita tanpa harus diminta untuk bercerita lebih dulu.
Sesampainya di kantin, keduanya memesan seperti yang selama ini mereka pesan, cukup makanan berat dan juga minuman yang tersaji di meja tidak neko-neko dan tidak mencari makanan yang mahal.
"Gue mau cerita, lo mau dengerin nggak?"
Dan benar kan, belum apa-apa Erva sudah menawarkan ingin cerita, tentu saja hal itu ditanggapi Mona dengan anggukan kepala, iya tahu kalau sahabatnya sedang tidak baik-baik saja bahkan terkesan menyimpan penderitaan yang mungkin tidak bisa terselesaikan.
"Cerita saja, gue siap mendengarkannya?"
Erva menghilangkan nafas,.memang ia harus cerita dengan Mona sahabat satu-satunya yang paling mengerti tentang dirinya apalagi ini tentang Anjar yang sudah pasti Mona juga tahu tentang dokter dingin itu.
"Dokter Anjar marah sama gue.", ucap Erva tiba-tiba yang membuat Mona kaget dan tidak percaya.
"Kok bisa? kenapa bisa seperti itu? padahal kemarin terlihat baik-baik saja dan bukannya Lo kemarin ke apartemennya, kenapa sekarang jadi marah masalahnya apa?"
Masih tidak percaya karena Erva ceritanya masih sepotong-sepotong dan belum jelas inti dari permasalahannya itu apa. Mona mencoba menggali lagi siapa tahu kali ini lebih detail dan lebih ke arah intinya, jadi dia tidak berpikir yang macam-macam dan percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Gue yang salah tapi semua itu tidak murni dari kesalahan gue juga, bingung harus bicara apa dan menjelaskannya bagaimana."
Mona menggelengkan kepalanya, ia sendiri masih bingung dan belum begitu jelas kenapa sahabatnya itu tidak langsung saja menceritakan intinya kalau seperti ini bukan hanya erfa saja yang pusing tetapi Mona juga ikut pusing padahal Mona sendiri tidak tahu menahu tentang masalah yang terjadi.
"Gue bingung, coba deh ceritain dengan detail ada apa sebenarnya."
Memang otak Mona tidak se encer otak Erva, jadi kalau tidak jelas....Mona juga tidak bisa menangkap apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu tetapi Erva maklum saja karena memang begitulah sahabat sejak kecilnya.
"kemarin gue makan siang di apartemennya dokter Anjar di sana lumayan lama karena kita masak simpel sih tapi masih berkesan buat gue dan suka berat tajam di sana gue dapat telepon dari mami Arin."
Erva sengaja menjeda ucapannya, ia juga harus menghela nafas panjang karena ceritanya bukan sampai di sini saja tetapi masih panjang dan lebar dan butuh waktu lama untuk menceritakan kepada sahabatnya yang agak sedikit lola itu.
"Mami Arin, What??"
Kaget dong, karena Mona tahu siapa Mami Arin itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah mamanya dari Dokter Keenan, sejenak Mona terdiam ia mencerna lagi kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Erva dan belum berani mengambil keputusan yang mungkin memang benar apa yang dipikirkannya itu adalah benar, tetapi lagi lagi...Mona menunggu sampai Erva menjelaskannya.
"Iya Mami Arin, mamanya Dokter Keenan... siang-siang beliau telepon gue. Awalnya, gue tidak angkat telepon karena gue tidak tahu dan pastinya sibuk di dapur dengan dokter Anjar tetapi saat gue pulang tiba-tiba ponsel gue berbunyi lagi dan melihat siapa yang nelpon eh ternyata Mami Arin dan lo tahu apa yang dibicarakan oleh Mami Arin itu.?"
Mona menggeleng. Sumpah ia tidak suka dengan pertanyaan yang terlalu berbelit-belit lebih baik dijelaskan langsung ke inti masalahnya daripada terus berputar-putar dan menghabiskan banyak waktu.
"Sebentar, Lo masak di apartemennya Dokter Anjar? gila pasti romantis deh dokter dingin itu bisa masak.", ujar Mona tiba tiba.
"Bukan romantis lagi tapi memang benar-benar romantis. Gue juga nggak percaya kalau dokter dingin seperti dokter Anjar itu bisa berkutat di dapur dan tentunya dia bukan hanya ahli di bidang belah membelah organ tubuh manusia tetapi organ tubuh ikan juga di babat habis, gila gue nggak nyangka."
Sejenak Erva melupakan permasalahan antara dirinya dengan dokter Anjar, gadis itu malahan ikut-ikutan memuji kepintaran dan kepiawaian nya Dokter Anjar dalam memasak makanan yang memang rasanya begitu lezat, koki di rumahnya saja kalah dengan masakan dokter Anjar.
"Wah hebat ternyata banyak juga kemampuannya tapi satu yang belum terlihat..."
Mona selalu memuji dokter Anjar tetapi dia belum melihat bagaimana dokter dingin itu merayu sahabatnya dan juga dia belum tahu bagaimana dokter itu menyatakan cinta kepada sahabatnya tetapi sebentar-sebentar ada yang janggal dari ucapan Erva tadi.
"Apa? Jangan macam-macam jangan berpikir yang tidak-tidak."
Erva seakan paham dengan apa yang ada di pikiran dari sahabatnya itu yang pastinya tidak luput dari kemesuman dan juga kegesrekan otaknya. Memang kalau masalah cinta dan bau-bau hot itu , Mona lebih cepat menangkapnya daripada masalah pelajaran dan juga curhatan dari dirinya yang mungkin bagi Mona itu lempeng-lempeng saja.
"Hahaha santai saja gaes, bukan masalah serius. Dan wajah kamu tidak perlu seperti itu, jelek tau. Gue jadi bingung sendiri mau mengekspresikan seperti apa, apa harus nangis atau sedih...gue...bingung lah bingung."
Bukannya meledek, memang kenyataan seperti itu.. wajah Erva saat ini tidak dapat diprediksi dengan baik antara senang, marah sedih ataupun kecewa, terlihat sekali dan tidak bersemangat
__ADS_1
. Apa mungkin karena jatuh cinta, mendadak perubahan wajahnya bisa secepat itu atau apa memang benar kalau erva dan dokter Anjar lagi ada masalah.
Obrolan mereka terjeda karena makanan yang dipesan sudah ada di depan mata untuk bisa ngobrol lebih jauh lagi mereka memutuskan untuk makan dan minum lebih dulu santai ini masuk waktunya masih siang dan masih banyak waktu untuk bercerita karena erfa juga tidak ada keinginan untuk pulang cepat untuk juga di rumah tidak ada siapa-siapa lebih baik nongkrong bersama dengan Mona dan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
...****************...
"Makan dulu nanti lanjut lagi Gue laper tenang saja nanti gue ceritakan secara detail sampai tuntas atasnya bila perlu lo nginep saja di rumah gue, aman pokoknya.", ujar Erva.
Mona mengangguk, sama seperti dengan Erva yang juga lapar dan seperti apa yang dikatakan oleh Erva kalau pasti cerita Erva nanti panjang dan lebar dan memang butuh waktu lama, butuh nutrisi dan tenaga meskipun Mona hanya sebagai pendengar setia saja tetapi tidak masalah, ini juga semua gratis....mau nambah makanan dan minuman itupun dibayari oleh Erva.
Mereka makan dalam diam padahal biasanya tidak seperti itu, apa karena Erva yang tidak amut ngoceh saat makan atau memang tenaganya dan ceritanya nanti diceritakan setelah makan saja itu lebih penting daripada cerita sambil makan.
Beberapa menit kemudian mereka berdua telah menyelesaikan makan beratnya dan sekarang ditambah dengan cemilan yang ada di depan meja sebagai teman untuk ngobrol enak juga kalau ngobrol dengan makan.
"Lanjut lagi ke tadi, lo mau dengar cerita gue apa enggak? ini bukan masalah romantis atau tidaknya dokter Anjar tetapi yang lebih penting dokter Anjar marah sama gue."
Tidak ingin berlarut-larut dan ceritanya kepanjangan Erva langsung saja mengatakan kalau bukan soal romantis yang ditunjukkan oleh dokter Anjar kemarin, tetapi selebihnya tentang kemarahan dokter Anjar dan mungkin juga Erva akan menceritakan tentang dokter Keenan yang sekarang masih berada di rumah sakit.
"Sorry, kenapa dokter Anjar marah sama lo bukannya Lo baik-baik saja?"
"Ya awalnya memang kami baik-baik saja tidak ada masalah sama sekali bahkan seperti yang lo pikirkan, kami terlihat romantis bukan hanya di dalam saja di luar pun kami sudah dianggap sebagai pasangan yang romantis. Karena kemarin pas keluar dari ruangan dokter Anjar, dokter Anjar menggandeng mesra tangan gue tetapi ini masalahnya...dengerin baik-baik gue ogah jelasin lagi, kesel capek dan juga pengen tidur."
"Iya cepetan cerita, gue dengerin dan gue nggak menyela sebelum lo selesai cerita, gue juga ngantuk capek."
"Ceritanya begini, sebagai bentuk ucapan terima kasih karena kemarin dokter Anjar sudah memasak makanan yang enak dan lezat, dia meminta gue, untuk dinner tadi malam tetapi entah bagaimana ceritanya baterai gue tiba-tiba low dan tidak sama sekali mendengar ataupun mendapatkan informasi di mana dokter Anjar menunggu dan lebih parahnya lagi siang itu ke rumah sakit untuk menjenguk dokter Keenan."
"Menjenguk dokter Keenan? ada apa lagi dengan laki-laki itu?",, tanya Mona dengan nada yang sinis, sepertinya gadis itu tidak begitu suka dengan dokter Keenan yang mungkin ada-ada saja yang dilakukannya.
"Ckkk... kebiasaan, lo itu sukanya selalu begitu. Menilai orang dari luarnya saja tidak dari dalamnya, mana tahu dia baik atau buruk kalau lo selalu menilai orang dari luarnya.", kesal Erva tiba tiba.
"Bukan begitu tapi kenyataannya seperti itu kan kalau pas ketemu, soalnya dia mencari perhatian sama lo."
Tidak dapat disalahkan, seperti halnya dengan Erva, Mona pun trauma dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya, terlebih dokter Keenan yang dulu dikenal baik,.penyayang dan cinta banget dengan Erva tiba-tiba dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Erva lalu menikah dengan sang mantan pacar. Apa itu tidak membuat Mona berpikiran yang buruk tentang dokter Keenan lagi?
"Dokter Keenan masuk rumah sakit, lo kemarin sudah gue ceritain tentang dokter Keenan yang hujan-hujan datang ke rumah gue kan?"
Mona menggangguk, ia masih ingat betul bagaimana cerita tentang dokter Keenan yang hujan-hujan masih tetap ngeyel datang ke rumahnya apalagi kedatangannya waktu itu disambut tidak baik oleh orang tua Erva.
"Jadi dia sakit gara-gara kena hujan? apa kena cocok papa lo?", tanya Mona lebih spesifik lagi.
"Dua-duanya, selain karena kehujanan...mukanya juga lebam akibat tonjokan dari papa gue, gue lihatnya nggak tega tapi bagaimana lagi hati ini masih sakit ketika melihat dia, apalagi tatapan matanya yang sangat tajam seakan-akan dia tidak bersalah dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya."
Erva curhat, meskipun ia tersenyum.... tetapi dalam hatinya berkata lain... tidak dipungkiri..rasa sakit hatinya mengalahkan segalanya... bahkan sampai saat ini belum ada obat nya.
"Lalu??"
Penasaran rupanya dengan apa yang terjadi sama Erva yang siang itu berada di Rumah Sakit bersama dengan dokter Keenan.
"Mami Arin nelpon gue, gue diminta untuk menjenguk Keenan di rumah sakit yang katanya dia tidak mau makan bahkan juga juga tidak mau minum obat. Awalnya gue ragu, tetapi beliau orang baik dan tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan yang buruk dari gue, anaknya yang salah bukan orang tuanya hingga akhirnya gue diantar oleh dokter Anjar untuk menemui Keenan di rumah sakit."
"Sudah gue duga, pasti dokter brengssekkkk itu pura-pura kan sakitnya? dia hanya ingin lo berada di sana karena sebenarnya dia tahu kalau lo saat itu bersama dengan dokter Anjar."
Pikiran buruk Mona terhadap dokter Keenan masih sama bahkan kalau ini lebih parah lagi , karena dengan kepura-puraannya sakit berarti dia bisa seenaknya memisahkan Erva dengan dokter Anjar yang waktu itu sedang bersama.
Erva tersenyum, ia paham dengan maksud dan pikiran dari sahabatnya. Awalnya memang pikiran Erva seperti itu tetapi setelah melihat kebenarannya ia jadi mengurungkan niatnya untuk berpikir negatif dengan orang yang pernah menyakitinya, karena tidak semuanya orang itu berbuat jahat dan tidak semuanya orang yang pernah menyakitinya itu akan kembali menyakitinya lagi meskipun ia ragu dengan perasaan Keenan padanya tapi berpikir positif itu jauh lebih baik daripada hanya memikirkan hal-hal yang negatif yang membuat pusing dan emosi saja, juga tidak ada manfaatnya sama sekali.
"Dia beneran sakit gaes, gue masuk ke dalam ruang inap nya dan di sana gue disambut oleh kedua orang tuanya dan sekilas gue melihat ke arah Keenan dengan wajah yang sangat pucat dan lemas.", ucap Erva menjelaskan, ia juga mengingat kembali bagaimana wajah dokter Keenan kemarin yang masih terlihat lemas tanpa bisa menggerakkan badannya.
"Oke, gue terima lalu lu di sana diminta untuk nyuapin laki-laki itu?"
Erva mengangguk, memang kenyataannya seperti itu sampai di sana kedua orang tuanya malahan memasrahkan kepadanya untuk makan dan juga minum obat setelah itu kedua orang tuanya pergi.
__ADS_1
Singkat ceritanya, Erva menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kemarin tentang bagaimana dia pulang dari rumah sakit dengan diantar oleh asistennya Keenan hingga mobil Keenan tiba-tiba mogok yang membuat dia terlambat untuk bertemu dengan dokter Anjar.
"lo percaya kalau semua itu adalah akal-akalan dari dokter Kinan saja?"
Mona mencoba menelaah lebih lanjut, setelah dipikir-pikir cerita Erva itu ada kejanggalannya.. mengapa tiba-tiba mobil Keenan yang dikemudikan oleh asistennya itu mogok tanpa ada tanda-tandanya lebih dulu dan bahkan kedua orang tua kita sengaja meninggalkan erpan dan Keenan sendiri sampai larut malam.
"Entahlah, gue sendiri juga bingung. Gue bukan seorang detektif dan gue juga tidak mau berurusan dengan masalah seperti itu, gue juga tidak ingin mencari tahu kebenarannya. Yang jelas saat ini yang gue bingungkan dan gue pikirkan adalah tentang dokter Anjar, dia sama sekali marah sama gue dan tidak menerima penjelasan apapun dari gue meskipun tadi pagi gue sudah ke sana dan meminta maaf tetapi kenyataannya tidak segampang yang gue pikirkan."
"Lo sudah pergi ke rumah sakit dan meminta maaf kepada dokter Anjar?"
Erva mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan oleh Mona.
"Bukan hanya sekedar untuk menemuinya,.bahkan tadi pagi gue juga bawain sarapan untuk dia dengan harapan setelah gue menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dia memaafkan dan kita sarapan bersama tetapi melihat rantang yang gue bawa itu tidak , bahkan dia juga mengusir gue dan meminta gue untuk pulang, entahlah gue bingung sendiri bagaimana dengan kelanjutan hubungan kami."
"Apa? hubungan kami maksudnya bagaimana?"
"Up sorry gue keceplosan, sebenarnya tidak ada hubungan apa apa, dokter Anjar hanya meminta untuk kita jalanin saja hubungan ini, entahlah jalani seperti apa gue juga tidak tahu tetapi yang jelas sakit saat melihat dia mencampakkan gue tadi pagi, rasanya gue ingin marah ingin, memukul , menendang dan ingin membuang dirinya ke laut tetapi apa daya dia bukan siapa-siapa gue ..hubungan kami juga tidak jelas."
"Hhhha...... lucu sekali, gue serasa mendengar komedi di televisi. Entahlah ..gue juga bingung.. gue juga ikut pusing... lo sih sok jual mahal nggak langsung ditembak aja...jarang jarang loh ada cowok seperti dia sudah pintar, cakep , tajir dan pintar masak lagi ... tidak ada di dunia ini yang seperti dia bahkan dokter Keenan pun tidak bisa mengalahkan pesona dari seorang dokter Anjar , walaupun memang sih dari tampangnya dokter Keenan jauh lebih ganteng tetapi dari sifatnya gue yakin dokter Anjar lah yang terbaik.", ucap Mona panjang lebar, seperti yang ada dalam pikirannya saat ini yang lebih mengagumi dokter Anjar daripada dokter Keenan, apalagi setelah mendengar cerita dari Erva yang bukan hanya Erva saja yang ingin membuang dokter Keenan ke negara antah berantah tetapi Mona juga.
"Hahahaha.... lucu sekali, bagaimana kalau kita buang dia sama-sama ke sana balik lagi nggak sih?atau lebih baik kita ceburkan dia di kolam... apa dia akan mati dan dimakan dengan ikan hiu. Ah sayang sekali, wajahnya yang ganteng jadi tidak di tega untuk memberikannya pada ikan hiu, lebih baik dibuat manekin saja yang bisa dipajang dan bisa dihancurkan kapanpun kita mau hahaha."
Mona pikir, sahabatnya itu sudah gila.. bisa-bisanya orang seganteng seperti dokter Keenan itu mau diberikan kepada ikan hiu jelas saja otaknya yang sudah geser akibat patah hati atau mungkin lebih tepatnya bingung dengan hatinya.
"Sudah sudah daripada ngeledekin gue terus lebih baik bantu gue cari solusi supaya dokter Anjar itu tidak marah lagi sama gue, bingung sendiri sih emang gue yang salah tetapi sudah gue jelaskan."
Ersa memandang lurus ke depan, tidak tahu lagi apa yang harus dipikirkan untuk membuat dokter Anjar itu mau memaafkannya. Bingung sendiri.. hari ini moodnya tiba-tiba tidak baik bahkan pelajaran pun tidak ada yang masuk, entahlah sampai kapan akan seperti ini.. di rumah akan seperti apa ...apakah ia harus menemui dokter Anjar lagi dan meminta maaf?? tetapi apakah Dokter itu akan memaafkan atau mungkin malahan menolak dan mengusirnya dengan terang-terangan.
"Kalau saran gue, mendingan lo temuin lagi dokter Anjar, dia pasti salah paham dan mengira lo masih ada hubungan apa-apa dan dokter Keenan. Jelas saja , kalau gue berada di posisi dokter Anjar gue pasti berpikir seperti itu ... lo sudah janji dengan dia mau makan malam tetapi pas waktunya makan malam tidak ada kabar sama sekali dan lo bahkan mungkin di dalam pikirannya Dokter Anjar, lo masih berada di rumah sakit dan menemani dokter Keenan malam itu."
Tidak mungkin ia menemui dokter Anjar secepat ini bahkan kejadian tadi pagi masih berada dalam ingatannya, bagaimana laki-laki itu mengusirnya dan memintanya untuk segera pulang saja atau mungkin malah tidak mendengarkan penjelasannya sama sekali.
"Gue tidak mau."
"Jangan egois lah, lo yang salah. Kalau lo tidak mau menemuinya lagi berarti Lo juga sama seperti dengan dokter Anjar yang tidak mau menerima penjelasannya, bagaimana masalah ini bisa selesai kalau lo hanya diam saja sementara dokter Anjar juga diam saja? Ah susah... pusing pulang aja kalau begitu , lo yang punya masalah.. gue sendiri yang pusing."
Bingung dengan yang ada di dalam pikiran Erva, Mona sendiri sedikit banyak tahu tentang watak dari seorang yang berhati dingin itu kalau tidak dibujuk dan tidak ditemui bahkan tidak dirayu dia tidak akan luluh bahkan sama sekali tidak bisa menerima penjelasan apapun dan mungkin untuk masalah ini, Erva yang harus mengalah karena mau tidak mau dia yang salah dan juga mau tidak mau Erva juga harus menemui dokter Anjar untuk menyelesaikan masalahnya itupun kalau Ervanya mau, kalau tidak ya sudah berarti masalahnya sudah cukup sampai di sini.
"Saran lo, gue terima dan gue akan pertimbangkan, tetapi tidak sekarang... gue perlu waktu dan butuh cara untuk bisa bertemu dengan dokter Anjar, yang pastinya ...entahlah hati ini juga bingung."
"Tidak mengapa , kalau lo butuh sesuatu dan butuh cerita ..gue siap untuk menjadi pendengar cerita lo bahkan kalau lo minta gue untuk menjadi jembatan bertemunya lo dengan dokter Anjar gue siap."
"Terima kasih sekali tetapi sepertinya tidak biarkan masalah ini gue dan dokter Anjar yang bertemu lo cukup support aja dan mendukung gue."
"Oke gue ada satu pertanyaan lagi untuk lo, dan lo harus jawab dengan jujur tidak boleh bohong apalagi berdusta.."
"Apa? setahu gue bohong dan berdusta itu adalah sama , gimana sih pelajaran bahasa Indonesia lo? dapat berapa kemarin ujian Nasional? ah payah...."
"Hahaha sama, tidak ada bedanya sama sekali.. jujur ya gue mau nanya sebenarnya gimana perasaan lo sama dokter Anjar?? apakah Lo sudah jatuh cinta dengan laki-laki dingin itu atau lo hanya sekedar mengaguminya Saja?."
Dengan cerita yang sudah Mona dengar, Mona jadi berkepikiran untuk menanyakan secara langsung apakah sebenarnya sahabatnya itu sudah ada rasa cinta kepada dokter Anjar, tapi kalau dilihat dari ekspresi dan juga cara menyampaikannya sudah jelas , bahkan Mona sangat yakin kalau perasaan Erva sudah berpindah dari dokter Keenan ke dokter Anjar.
"Gue sendiri juga tidak tau, mau gue jawab ada rasa dengan dokter itu tetapi kenyataannya masih abu-abu. Tetapi kalau gue jawab tidak rasa, sakit itu ada di dalam hati gue saat mendapatkan penolakan tadi pagi dari dokter Anjar entahlah itu apakah yang dinamakan cinta atau sekedar mengaguminya?"
Gantian Erva yang bertanya kepada Mona, siapa tahu sahabatnya itu tahu dengan jawaban yang sebenarnya Erva butuhkan
"Kalau menurut pengamatan gue dan gue dengar, Lo sebenarnya sudah jatuh cinta dengan laki-laki itu hanya saja lo tidak berani untuk mengungkapkannya begitu juga dengan dokter Anjar... dengan dia cemburu dan merasa marah dan kecewa itu sudah membuktikan kalau dia juga ada rasa sama lo bahkan lo adalah pertama kali wanita yang masuk di dalam hatinya mungkin ini yang menjadikan dia susah untuk memaafkan loh."
"Begitukah?", tanya Erva Lagi.
"Ya begitu masa begini hahaha."
__ADS_1
"Sialan Lo!! bisa-bisanya lo tertawa di atas penderitaan gue awas aja kalau saatnya lo jatuh cinta, gue yang akan maju duluan ke depan dan gue pastikan laki-laki yang akan bersama lo itu tidak lebih ganteng dari apa yang gue punya hahaha."