Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Tante Arin


__ADS_3

"Mas aku minta izin ya nanti pulang kuliah mau ke rumah dulu sepertinya ada barang-barangku yang ketinggalan di sana."


Ya hari ini Erva dan Anjar sudah mulai beraktifitas masing-masing setelah mereka mengambil cuti selama 2 hari.


Meskipun sebenarnya cuti nya kurang tetapi karena pekerjaan Dokter Anjar yang tidak bisa ditinggalkan begitu juga dengan kuliah Erva yang saat ini sedang padat padatnya karena akan ada semester minggu depan dan tentu saja Erva tidak ingin berlama-lama meskipun sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu berdua saja di rumah.


Dan pagi ini Erva sebagai istri yang baik tentunya menyiapkan semua peralatan untuk Anjar ia memasang dasi kepada suaminya dan menyisir rambut Anjar kemudian menyiapkan perlengkapan untuk bekerja.


Erva baru ingat kalau ada buku kuliahnya tertinggal di sana dan tentu saja ia tidak ingin merepotkan suaminya jika menunggu diantar oleh Anjar nanti setelah pulang kerja.


"Jam berapa rencananya?"


Tentu saja sebagai seorang suami yang baik apalagi mereka baru saja menikah agar tidak akan membiarkan istrinya atau pulang ke rumah tanpa dirinya nanti bisa-bisa kedua orang tua Erva berpikir kalau anaknya tidak bahagia hidup dengan dirinya dan meminta pulang ke rumahnya sendiri.


"Aku selesai kuliah jam 11.00, dari kampus langsung saja ke rumah."


Dokter Anjar diam sejenak ia berpikir dan mengingat-ingat lagi apakah jadwal hari ini padat dan tentu saja ia ingin menemani istrinya untuk belum pulang ke rumah meskipun nanti di sana tidak bertemu dengan kedua mertuanya tetapi paling tidak ia harus menamai Erva.


"Nanti aku usahakan untuk jemput kamu dan aku antar ke rumah."


"Bukannya Mas hari ini sibuk? aku pergi sendiri tidak apa-apa Mas."


Bukannya Erva menolak untuk dijemput dan diantarkan oleh Anjar tetapi ia sendiri tahu bagaimana kesibukan suaminya itu apalagi dua hari tidak masuk rumah sakit dan tentu saja banyak pekerjaan yang akan dilakukannya hari ini.


"Sepertinya tidak ada jadwal operasi dan aku bisa mengusahakannya Aku tidak mau kamu pulang sendirian ke rumah meskipun itu hanya mengambil barang nanti bagaimana kalau Papah dan Mama sampai tahu aku membiarkan kamu di sana nanti mereka pikir kalau kamu tidak bahagia dan kamu lagi berantem sama aku. Dan kalau bisa setiap kali kamu mau ke rumah Papa dan Mama aku harus, ikut bukannya aku tidak percaya sama kamu tetapi lebih baik seperti itu Aku tidak akan membiarkan kamu ke sana kesendirian."


Erva menggeleng pelan, tentunya pemikiran suaminya itu sangat dewasa dan jauh ke depan ia bahkan tidak berpikir sama sekali dengan hal-hal seperti itu. Dan memang benar apa yang dikatakan oleh Anjar itu ada benarnya juga.


"Oke, tidak masalah nanti aku akan ngabari Mas kalau aku sudah selesai tapi jika mas memang tidak bisa tidak apa-apa aku bisa ke sana sendirian jangan khawatir pasti aku sama Mona tidak ada orang lain lagi yang mengantar aku ke sana."


"Aku usahakan dek."


Setelah Erva berhasil merapikan pakaian Anjar, kedua nya langsung saja keluar kamar dan segera menuju ke bawah dan tentu saja mereka akan sarapan terlebih dahulu sebelum sama-sama berangkat beraktivitas.


Pagi ini Anjar akan mengantarkan Erva ke kampus dan tentunya itu adalah permintaan dari Erva sendiri karena ia malas menyetir lagi pula seperti rencana Anjar akan menjemputnya nanti siang toh meskipun Anjar tidak bahasa tidak bisa menjemputnya ia akan diantar oleh Mona nantinya.


Sepanjang perjalanan banyak sekali yang dibicarakan Erva kepada suaminya itu. Biasa perempuan cantik itu selalu bercerita.


Hingga akhirnya sudah sampai di parkiran kampus dan tentu saja ia harus mengakhiri obrolan paginya bersama suami.


"Jangan nakal, jaga mata dan hati kamu ingat kamu sudah punya suami meskipun suami kamu dingin tetapi suami kamu sangat mencintai dan menyayangi kamu."


"Oh ya,.masa'"


Sepertinya Erva kali ini senang menggoda suaminya dan tentu saja dengan pernyataan yang diberikan oleh Anjar membuat Erva tersenyum.


"Jangan macam-macam dek, ekspresi wajah kamu itu menggodaku bisa-bisa kamu tidak akan kuliah pagi ini."


"Siapa yang menggoda kamu Mas kamu aja yang sukanya macam-macam."


"Kalau begitu wajah dan bibir kamu jangan dibuat seperti itu bikin Mas pengen saja."

__ADS_1


"Mata Mas itu yang tidak normal. Aku biasa seperti ini loh. Sudah ah, Aku mau keluar, Mas hati-hati ya di jalan."


Erva meraih tangan Anjar kemudian mencium punggung tangan suaminya itu. Begitu juga dengan Anjar yang menarik tubuh Erva dan mencium kening istrinya itu.


Ciuman Anjar tidak hanya tertuju pada kening bahkan laki-laki itu sekarang sudah menempelkan bibirnya dengan bibir Erva dan tentu saja ada sedikit sesuatu yang ia rasakan berbeda pagi ini.


"Manis, sedikit saja ya nanti bisa-bisa aku khilaf."


Tentunya Anjar sepertinya tidak rela untuk membiarkan istrinya kuliah pagi ini dan ia ingin terus bersama Erva tetapi jika dibiarkan berduaan dengan Erva seperti ini bisa-bisa memang benar Erva tidak akan masuk kuliah pagi ini dan pekerjaan Anjar tentu saja jadi terbengkalai.


"Makanya, pagi-pagi otaknya jangan ngeres Mas. Hati-hati di jalan jangan lupa nanti ngabarin aku."


"Iya dek tapi tunggu sebentar, ada sesuatu yang lupa."


Anjar mengambil dompetnya ia memang lupa belum memberikan kartu sakti kepada Erva dan tentu saja bukan hanya satu atau dua buah kartu sakti saja melainkan agar memberikan 4 buah sekaligus kartu kepada Erva terserah Erva mau mempergunakannya untuk apa yang jelas Anjar sudah memberikan nafkahnya untuk Erva saat ini karena sudah sudah menjadi istrinya dan semua tanggung jawab Erva sekarang berada pada Anjar.


"Untuk kamu, terserah kamu memakai buat apa."


"Ini bukannya terlalu banyak Mas kenapa harus empat, bukan satu saja?"


"Tidak,.aku tidak ingin istriku kekurangan apapun dan ingat itu khusus untuk kamu maksudnya untuk keperluan Kamu sendiri sedang keperluan rumah dan kuliah sudah aku persiapkan dan kamu tidak perlu memikirkannya."


"Untuk shopping boleh?"


"Boleh-boleh saja. Sudah aku bilang itu sudah aku berikan untuk kamu terserah kamu nanti mau mempergunakan untuk apa."


"Terima kasih, suamiku ternyata baik sekali."


"Eh ada bayarannya segala,.okelah tidak apa-apa tunggu nanti malam aku akan membuat Mas lemas tak berdaya"


"Oke aku tunggu bagaimana aksi kamu nanti malam."


Setelah keduanya berpamitan erpan yang sudah merapikan rambut dan juga pakaiannya, Erva langsung saja turun dari mobil Anjar, perempuan cantik itu tidak langsung menuju ke kelasnya tetapi melihat dulu pergerakan dari mobil Anjar setelah mobil Anjar keluar dari parkiran kampus baru Erva menuju ke kelasnya.


Dan tentu saja ia tahu kalau Mona sudah masuk ke dalam kelas karena ia sudah melihat mobil Mona terparkir tidak jauh dari tempatnya saat ini berdiri.


*******


2 jam kemudian..


Setelah mata kuliah pertama kini saatnya pergantian jam mata kuliah yang kedua dan tentu saja ada jeda sekitar tiga puluh menit untuk mereka mengistirahatkan otaknya sedunia atau sekedar pergi ke kantin untuk minum dan makan makanan kecil.


Tetapi itu tidak dilakukan oleh Erva dan juga Mona, mereka berdua masih berada di kelas tentu saja males sekali untuk turun ke bawah dan memilih untuk menitip makanan dan minuman kepada teman-temannya yang saat ini pergi ke kantin.


"Bagaimana? cerita dong malam pertama lo dengan Dokter Anjar,.wah pastinya sangat hot ya karena aku dengar-dengar laki-laki dingin itu begitu hebat di ranjang."


Tidak ada orang di dalam kelas pastinya Mona akan menanyakan tentang pengalaman mana pertamanya kepada Erva dan tentu saja ia juga penasaran apakah sama yang diceritakan orang-orang tentang laki-laki dingin itu yang hebat di atas ranjang atau kan memang berbeda


"Mau tahu? nikah sana,.masih banyak laki-laki dingin yang nganggur dan juga jomblo seperti Lo."


Erva hanya tersenyum menanggapi apa yang diucapkan oleh Mona ia juga enggan membuka sesuatu yang tidak seharusnya ia buka meskipun itu dengan sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Erva lebih menekankan kepada malunya daripada ia harus bercerita tentang bagaimana dirinya yang kesakitan mendapatkan perlakuan manis dari Anjar dan tentu saja itu tidak akan diceritakan oleh Mona karena pasti Mona akan mengejeknya habis-habisan.


"Makanya gue tanya sebelum gue nikah, lo harus menceritakan bagaimana rasanya dulu supaya nanti aku tidak kaget kalau mendapatkan serangan mendadak seperti itu."


"Ya seperti kebanyakan pada umumnya lah kalau kata mereka enak ya enak saja."


"Jawaban seperti apa itu gue kan ingin mendengar itu dari lo dan penasaran juga apa benar Dokter Anjar bisa melakukannya padahal dia dingin banget. "


Tetapi kalau sudah di atas ranjang aku dibuat tidak berdaya olehnya bahkan sama sekali aku tidak dibolehkan untuk istirahat dia terus menghajarku. Dan menyerangku dan jangan lupakan aku sampai tidak bisa berjalan karena rasanya sesuatu banget.


"Ya pokoknya begitulah kalau lo penasaran makanya cepat nikah."


"Nikah sama siapa pacar aja nggak punya?"


"Cari dong masa zaman segini masih perlu gue cariin Lagi pula kalau dijodohkan juga tidak mau."


Mereka berdua asik ngobrol tetapi tiba-tiba ponsel Erva berdering dan tentu saja perempuan cantik itu langsung saja mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan melihat siapa yang menelponnya karena ia pikir tidak mungkin suaminya meneleponnya sekarang.


"Tante Arin."


Erva melihat nama penelepon di ponselnya adalah tante Arin yang berarti beliau adalah mama maminyakinan. Tentu saja Erva tidak langsung mengangkat panggilan telepon dari mami Arin,  ia membiarkannya saja sebentar lalu pandangan mata Erva teralih untuk melihat ke arah Mona yang pastinya sebagai isyarat bagaimana ini selanjutnya apakah ia akan mengangkat telepon dari mami Arin atau membiarkannya saja.


Mona mengangguk sepertinya ia paham dengan apa yang ingin dikatakan oleh sahabatnya itu dan tentu saja daripada ponsel Erva berbunyi terus dan membuat telinganya panas lebih baik diangkat siapa tahu memang ada sesuatu yang dan tante Arin butuhkan meskipun Mona sendiri tau pasti ada hubungannya dengan Kenan.


"Halo Tante ada apa?"


Seperti biasa Erva langsung saja mengangkat telepon dan menanyakan perihal kenapa tante Arin bisa menelponnya siang-siang begini dan tentunya tidak ada alasan lagi dan tidak mungkin tak ada hanya basa-basi menanyakan gimana kabarnya toh juga kemarin sudah bertemu dan pastinya sudah melihat bagaimana kabarnya saat ini.


"Kamu di mana sekarang sayang?"


Suara lembut dari Tante Arin menghipnotis Erva, perempuan itu bahkan terasa nyaman jika berbicara dengan Mami nya Keenan saat ini.


Tetapi Erva langsung tersadar bahwa yang meneleponnya itu adalah mami dari mantan tunangannya dulu dan itu berarti Erva tidak boleh terlalu dekat atau terlalu berbuat baik kepada Mami Arin meskipun itu melanggar dari apa yang ada di dalam hati dan pikiran Erva tetapi sepertinya dengan begitu lebih baik supaya ia tidak membuat kedua orang tuanya yakin dan juga keyakinan berharap lagi padanya yang jelas-jelas tidak mungkin untuk dirinya kembali lagi kepada Kenan.


"Bisa Tante bicara dan bertemu sama kamu? tante sekarang berada di kantin kamus kamu."


Erva menggeleng pelan, ia tidak menyangka jika tante Arin yang menelponnya saat ini sudah berada di kantin kampus dan tentu saja Erva juga tidak mungkin menolak ajakan dari Tante Arin yang meminta dirinya bertemu dan juga berbicara.


"Bisa Tante, sebentar lagi aku turun."


Dengan cepat Erva mengiyakan apa yang diminta oleh tante Arin ia kamu dia meninggalkan Mona yang masih ada di atas langsung turun saja menuju ke kantin bukan karena Mona tidak boleh ikut dan mendengarkan apa pembicaraannya dengan tante Arin tetapi Mona sendiri yang tidak mau. Mona tidak mau mencampuri urusan pribadi dari Erva dan juga maminya Dokter Keenan.


Erva tersenyum kemudian meraih tangan tante Arin dan mencium punggung tangan perempuan itu lalu setelahnya mereka berdua berpelukan seperti seorang ibu dan anaknya saja.


Apalagi wajah dari Tante Arin terlihat lebih muda dan sepertinya kalau diteliti lebih dekat lagi wajah mereka juga hampir sama sama-sama cantik.


"Maaf Tante menunggu lama ya kenapa tidak mengabari aku dulu. Kenapa juga tante repot-repot datang ke sini, bukannya rumah Tante itu lumayan jauh dari kampusku?"


Bukan karena tidak suka melihat kedatangan dari Tante Arin tiba-tiba, tetapi Erva  tidak enak juga karena memang benar rumah dari tante Arin jauh dari dengan kampusnya dan tentunya ada sesuatu hal yang penting harus dibicarakan oleh Tante Arin sehingga beliau menyempatkan diri untuk menemui airfast saat ini.


"Tidak apa-apa nak, Tante hanya ingin bicara sebentar sama kamu dan pastinya kalau Tante tidak menemui kamu di sini di mana lagi Tante harus menemui kamu, sementara tante tidak enak dengan suami kamu jika tante harus bertemu dengan kamu di rumahnya Dokter Anjar."

__ADS_1


Memang terkesan tidak baik dan disembunyikan oleh tante Arin tentang keputusannya ini. Bahkan mungkin benar apa yang dikatakan oleh tante Arin, kalau tante Arin menemuinya di rumah belum tentu Erva akan keluar dan belum tentu juga satpam yang di depan dan juga penjaga rumahnya akan memperbolehkan Tante Arin itu masuk dan menemui dirinya mengingat tante Arin adalah Mami dari Keenan dan pastinya semua orang yang berada di dalam rumah Dokter Anjar itu berjaga-jaga, siapapun tidak boleh masuk tanpa izin apalagi itu Dokter Keenan dan keluarganya.


__ADS_2