
Sepuluh menit lagi Dokter Keenan selesai operasi dan itu berarti dia akan datang ke ruangannya. Karena seperti biasa setelah melakukan operasi dokter Keenan akan kembali ke ruangannya untuk istirahat sebentar.
Dan saat ini Anto dibuat bingung, lebih tepatnya bagaimana menyampaikan undangan ini kepada Dokter Keenan. Ia sendiri tahu pastinya nanti Dokter Keenan tidak akan terima apalagi melihat nama Erva terpampang nyata di undangan itu bersama dengan laki-laki lain yang bukan Dokter Keenan sendiri.
Sudah hampir 10 kali Anto bolak balik dari depan ke dalam depan ke dalam dan tentunya keluar masuk dari ruangan Dokter Keenan.
Tidak tahu apa yang harus Anto lakukan sembari menunggu Dokter Keenan kembali ia hanya mondar-mandir tidak jelas dan juga pusing otaknya memikirkan kejadian yang akan terjadi nantinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini Anto?"
Bukan karena tidak suka Anto berada di ruangannya tetapi Dokter Keenan pusing sendiri sedari tadi memperhatikan Anto yang hanya mondar mandir keluar masuk ruangannya, hingga Dokter Keenan sendiri mau masuk ruangannya jadi bingung dan melihat sebentar dari jarak yang lumayan jauh, tentu saja melihat sikap Anto yang aneh siang ini.
Astaga mati aku bagaimana menjelaskannya.
Anto kaget, tentunya ia kenal betul dengan suara yang baru saja menegurnya itu. Ia pun melihat ke arah Dokter Keenan yang sepertinya Bosnya itu sangat lelah setelah melakukan operasi besar.
"Tidak Dokter hanya bingung saja."
"Bingung?"
Dokter Keenan mengeryitkan alisnya, ia juga tidak tahu apa maksud dari ucapan Anto tersebut yang mengatakan kalau bingung, bingung dengan apa, siapa dan bagaimana.
Mau tidak mau Anto harus menyerahkan undangan yang sengaja ia letakkan di kursi, bukan di atas meja Dokter Keenan.
Dengan langkah pelan dan juga hati-hati Anto mengambil undangan itu kemudian menyerahkannya kepada Dokter Keenan, yang saat ini sudah duduk dengan memijat keningnya sepertinya sedikit pusing dan juga lelah.
"Dokter, tadi ada asisten Dokter Anjar yang ke sini memberikan ini."
__ADS_1
Dengan nada pelan dan juga sedikit tegang Anto memberikan undangan itu kepada Dokter Keenan, kemudian Anto mundur tetapi masih melihat ke arah Dokter Keenan, tentu saja melihat ekspresi wajah Dokter Keenan nanti.
Deg
Baru saja melihat sampul depannya, Keenan sudah sakit seperti tertusuk ribuan jarum suntik yang menancap hingga menembus ke hati Keenan.
Kemudian dengan cepat laki-laki itu membuka sampul depan dan juga melihat isi di dalamnya. Betapa terkejutnya ketika melihat nama yang tertulis di atas kertas itu di mana nama itu adalah nama dari perempuan yang masih sangat ia cintai dan juga yang ia harapkan sebagai pendamping hidupnya selamanya.
"Brengssekkkk!!!", umpat Keenan kesal ketika ia melihat secara teliti dan juga membaca satu persatu rentetan kata-kata yang tertulis di sana, bahkan ia sudah membaca berulang-ulang meyakinkan dirinya kalau yang ada di depannya itu tidaklah benar dan tulisan yang di depannya itu salah,.bukan nama Erva tetapi nama perempuan lain.
Setelah ia membaca berulang-ulang dan juga mengambil kacamata yang nyatanya apa yang di depannya itu adalah nyata, bukanlah nama wanita lain yang ada di tulisan itu tetapi memang nama Erva yang bersanding dengan nama Dokter Anjar di sana.
"Ini tidak mungkin, aku tidak akan membiarkannya."
Dengan ekspresi muka yang penuh dengan amarah dan juga kebencian, Dokter Keenan mengambil ponsel soalnya tentu saja ia ingin menghubungi Erva menanyakan tentang undangan yang baru saja diterimanya.
Apakah Itu adalah benar atau hanya menge-prank dirinya saja. Tetapi sama sekali nomor Erva bahkan tidak aktif. Mungkin gadis itu memang sengaja untuk menonaktifkan ponselnya untuk menghindari dari berbagai macam hujatan ataupun selamat yang diberikan kepadanya dan tentu saja yang paling penting dan utama adalah menghindari dari gangguan Dokter Keenan.
"Kenapa dimatikan Erva?"
Pyarr....
Tidak bisa menghubungi Erva Dokter Keenan yang emosi langsung saja melempar ponselnya ke segala arah hingga membuat kaca jendela di ruangannya pecah dan juga ponselnya yang entah bagaimana dan di mana keberadaannya saat ini.
Mampuslah gue kalau begini.
Anti yang ang berada di dalam ruangan Dokter Keenan hanya berdoa di dalam hati dan ia berharap kalau dirinya akan selamat siang ini.
__ADS_1
Dengan melihat amarah dari Dokter Keenan ia merasa kalau nyawanya sedang terancam bahkan ia sudah tidak ada keinginan lagi untuk hidup jika melihat emosi Dokter Keenan seperti itu.
Dokter Keenan yang sudah marah langsung saja mengambil kontak mobil kemudian meninggalkan ruangannya begitu saja bahkan ia juga tidak pamit kepada Anto dan tidak mengatakan kalau ingin ke mana.
Dengan emosi, Dokter Keenan meninggalkan ruangannya tentu saja ia ingin bertemu dengan Erva saat ini.
Rasanya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya kalau Dokter Anjar bisa melangkah lebih dulu darinya dan menikahi Erva.
Tentu saja yang lebih membuat Kenan kaget adalah pernikahannya dilaksanakan besok, bukan minggu depan atau bulan depan.
"Brengssekkkk!! Badjingan kamu Anjar!!"
Sepanjang perjalanan Keenan mengumpat kesal Dokter Anjar. Laki-laki itu bahkan melajukan mobilnya sangat kencang dan menerobos lampu merah demi untuk menemui Erva saat ini.
Pikiran Kenan saat ini kacau. Ia tidak menyangka kalau pada akhirnya dirinya yang kalah dan Erva menikah dengan laki-laki lain bukan dengan dirinya.
Padahal Keenan sudah melakukan segala cara, untuk bisa mendapatkan hati Erva kembali dan menikahi Erva secepatnya tetapi entah kenapa hati perempuan itu seakan sudah mati, seakan tidak ingin lagi untuk merajut hubungan cinta bersama dengan dirinya.
Apakah ini memang karma untukku?
Keenan menggeleng pelan, satu tahun yang lalu di mana ia sudah menghianati Erva. Bukan hanya itu saja ia lebih memilih mantan. Bukan Erva yang jelas jelas adalah gadis polos, gadis yang benar-benar mencintai dirinya tanpa meminta bentuk balasan.
Tetapi, Keenan malahan menyia-nyiakan perempuan seperti Erva. Hingga ia terlena kemudian meninggalkan Erva dan pernikahannya berakhir seperti sekarang ini.
Hanya lima belas menit saja mobil yang dikemudikan oleh Keenan sudah sampai di parkiran kampus Erva. Keenan tahu jadwal kuliah Erva hari ini hanya sampai jam 10.00 saja dan itu berarti lima belas menit lagi gadis itu akan keluar.
Keenan tidak keluar dari mobil, ia tahu kalau dirinya ada di luar pastinya Erva tidak mau menemuinya. Untung saja tadi Keenan memakai mobil Anto yang jelas Erva tidak tahu dengan mobil yang sering dipakai oleh Anto.
__ADS_1
Hingga akhirnya, melihat apa yang sudah keluar dari kelas dan menuruni anak tangga lalu menuju ke parkiran, yang entah Keenan melihat Erva saat ini antara marah, kesal dan juga kangen.
Laki-laki itu tidak lekas turun, ia ingin melihat sejauh mana Erva saat ini, apakah gadis itu akan langsung pulang atau memang menunggu seseorang di sini.