Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Bersalah


__ADS_3

Entah sudah berapa lama dan berapa kali Anjar melakukan hubungan kepada Erva dan tentu saja Erva saat ini sudah kelelahan dan tertidur pulas.


Hingga pagi menjelang, Anjar yang memang sudah terbiasa bangun pagi langsung saja membuka matanya ketika matahari sudah masuk menyinari ke arah kamarnya.


Anjar tersenyum, ia merasa beda pagi ini tidak seperti biasanya. Ya jelas saja sekarang sudah ada seorang perempuan yang cintanya yang berada di sampingnya dan tentunya ia juga tersenyum mana kala mengingat perbuatan panasnya semalam dengan istrinya.


Pelan-pelan tangan Anjar memindahkan kepala Erva yang sejak tadi berada di tangannya, ia tahu kalau istrinya saat ini masih kelelahan dan tidak akan membangunkannya.


"Terima kasih sayank, dan maafkan aku sudah membuat kamu seperti ini."


Anjar memberikan satu ciuman manis di kening Erva kemudian ia memposisikan tubuh Erva, supaya istrinya itu nyaman di dalam tidurnya.


Sudah tidak mengantuk dan sudah puas memandang istrinya, Anjar kemudian turun dari ranjang menuju ke kamar mandi.


Tidak merasa lelah apa ataupun pegal-pegal Anjar malahan bertambah semangat dan baik saja tentunya ia sudah mendapatkan nutrisi semalam sampai pagi tadi.


Meskipun punggungnya terasa perih dan banyak cakaran dari kuku Erva, tetapi tidak membuat laki-laki itu mengeluh, ia tahu bahkan yang dirasakan Erva jauh lebih sakit daripada ini.


Setelah membersihkan diri, Anjar keluar dari kamar mandi. Ia memakai pakaian santai karena sudah minta izin cuti selama beberapa hari dan pastinya tidak bisa lama.


Tapi tidak mengapa, asalkan malam pertama dengan Erva tidak ada gangguan itu sudah cukup untuk Anjar saat ini.


Anjar tersenyum, kemudian menghampiri Erva yang masih tertidur pulas, laki-laki itu memberikan ciuman di kening, pipi dan juga turun ke bibir tetapi sama saja istrinya tidak berkutik sedikitpun.


Tidak ingin mengganggu kenyamanan tidur Erva, laki-laki itu kemudian turun ke bawah mencari sesuatu yang bisa dimakan untuk istrinya nanti, karena ia tahu kalau Erva pastinya kelaparan dan nanti bangun harus ada asupan makanan yang masuk ke tubuh Erva 


"Pagi Mah..."


Sapa Anjar kepada Mama Risa, laki-laki itu tersenyum tidak seperti biasanya meskipun biasanya juga iya tersenyum menyapa Mamah Risa tetapi kali ini Anjar itu berbeda.


"Pagi An, Erva mana?"


Mama Risa tidak melihat Erva di samping Anjar dan tentu wanita paruh baya itu langsung menanyakan di mana menantunya saat ini.

__ADS_1


Padahal di mana dan bagaimana kondisi Erva saat ini, Mamah Risa tau, tetapi ia ingin mendengar langsung dari bibir Anjar, apa yang dilakukan pada menantu nya semalam.


"Masih tidur Mah."


"Berapa ronde semalam? kenapa istrimu masih tidur sampai sekarang? Jangan macam-macam An, jangan melebihi batas, kasihan dia masih muda."


"Aku tidak menghitung , Erva baik-baik saja dan setelah dia bangun nanti aku pastikan dia sarapan dan juga minum vitamin."


Seperti yang Mama Risa duga, sudah pasti anaknya itu mengajar habis-habisan istrinya semalam dan tentu bukan masalah untuk Mama Risa, beliau malah senang karena semakin sering melakukan berarti ia akan mempunyai seorang cucu yang sudah lama diidam-idamkan.


"Jangan tunggu sampai nanti, ini sudah jam 08.00 sebaiknya kamu bawakan makan ini untuk Erva dan bangunkan dia, kasihan nanti setelah makan boleh lanjut tidur lagi. Dan kamu harus memperhatikan istrimu. Jangan mau enaknya aja tetapi giliran dia tidak baik-baik saja kamu tidak perhatian."


"Di lemari es juga ada jamu, nanti kamu bawa sekalian untuk diminum Erva supaya kondisinya cepat pulih."


Anjar mengangguk kemudian ia menyiapkan makanan untuk dirinya dan juga Erva dan mengambil jamu yang dikatakan oleh Mamah Risa tadi.


"Tapi sebentar, bagaimana rasanya?"


Rupanya Mama Risa tidak membiarkan Anjar berlalu begitu saja beliau ingin menggoda putranya itu yang tentunya ingin tahu bagaimana jawaban dari seorang Anjar.


"Hahaha apa Mama bilang dan itu salah kamu sendiri kenapa dulu kamu Mama jodohin dengan anak teman Mama tidak, mau nah sekarang baru tahu rasanya malah menyesal."


"Ya menyesal kenapa aku tidak kenal dengan Erva dulunya kalau tahu seperti ini pastinya aku akan menikahi Erva sejak dulu, tidak usah menunggu sampai Erva lulus kuliah, masih sekolah pun tidak apa-apa."


"Dasar kamu ya, sekarang aja bilang seperti ini dulunya disuruh menikah nanti-nanti saja."


Anjar tidak menanggapi, lagi an apa yang dikatakan oleh Mama Risa memang benar. Ia langsung saja mengambil semua yang diperlukan oleh Erva dan membawanya ke kamar.


Dan seperti apa yang dikatakan oleh Mamahnya, Anjar tidak mau menunggu sampai Erva bangun yang pastinya setelah sampai di kamar ia meletakkan nampan itu di atas meja kemudian mendekati istrinya lalu membangunkan Erva pelan-pelan supaya tidak kaget.


"Dek bangun, makan dulu."


Dengan lembut Anjar membangunkan Erva, tentu saja dengan membisikkan kata-kata itu ditelinga Erva kemudian mengusap lembut wajah Erva dan berakhir mencium bibir ranum dari istrinya itu.

__ADS_1


"Mas, Aku masih ngantuk dan juga capek."


Erva membuka matanya sedikit demi sedikit ia melihat kalau suaminya sudah ada di depannya dengan wajah yang sudah segar dan juga rambut yang masih basah, Erva tentu sadar setelah ia melihat Anjar di sana ia baru sadar kalau ia telah menikah dengan Anjar dan sudah melakukan malam pertama yang membuatnya tidak berdaya sampai sekarang.


"Makan dulu dek."


"Mau bobo dulu aja Mas, makannya nanti."


"Tidak bisa, kamu sarapan dulu nanti setelah sarapan baru tidur lagi nggak masalah."


Mau tidak mau Erva membuka matanya kemudian menggeser sedikit tubuhnya dan memposisikan tubuhnya untuk bersandar di di ranjang.


"Stttt....."


Erva meringis, manakala ia merasakan sakit dan ngilu di bagian intinya dan tentu saja Anjar yang melihat itu merasa kasihan dengan istrinya.


"Masih sakit?"


Erva mengangguk, memang yang dirasakan saat ini masih sakit bahkan lebih sakit dari semalam. Ini belum seberapa baru dibuat untuk menggerakkan tubuhnya sedikit saja rasanya sudah tidak bisa bagaimana nanti kalau dibuat jalan pastinya akan susah.


"Maaf, Mas terlalu bersemangat semalam. Tetapi kalau diulangi lagi pastinya nanti tidak akan sakit."


Erva melotot ke arah Anjar mana mungkin jika diulang akan tidak sakit yang pastinya menurut pikiran Erva itu kalau diulang lagi pasti akan bertambah sakit saja.


"Jangan memandangku seperti itu, ini beneran dek ... coba aja nanti kita ulang lagi pastinya kamu akan semakin nyaman dan juga terbiasa."


"Makan Mas, aku lapar...Mas juga belum makan kan?"


Sengaja Erva mengalihkan pembicaraan dari Dokter Anjar yang pastinya suaminya itu kalau ditanggapi akan semakin ngawur.


"Eh iya tapi pembicaraan Mas belum selesai loh, bagaimana nanti boleh diulang ya setelah kamu mandi?"


"Tidak boleh aku nanti tidak keluar kamar dan tidak enak dengan Mama."

__ADS_1


Erva baru kepikiran kalau Mama mertuanya pasti sudah ada di rumah dan ia tidak membantu untuk menyiapkan sarapan tentunya ia merasa tidak enak karena baru saja sehari berada di sini sudah membuat ulah dengan tidak menampilkan batang ujungnya dan juga tidak membantu Mama Risa menyiapkan sarapan pagi.


"Tidak perlu kamu memikirkan Mama, Mama tahu apa yang kita lakukan dan pastinya Mama juga ingin segera mendapatkan cucu."


__ADS_2