
"Sudah lama?", tanya Dokter Rico ketika berjalan disamping Erva, pikir nya daripada gabut dan lagian ia kepo ingin tau apa saja , dan sekaligus ingin mendengar cerita langsung dari Erva.
"Baru lima belas menit, Dokter..."
Jawab Erva sebenarnya, ia memang baru saja sampai dan menunggu kurang lebih lima belas menit, tidak begitu lama baginya karena ini adalah prosedur yang harus dijalani.
"Bukan itu!!"
Erva menoleh, tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Rico, padahal dia bertanya dan sudah dijawab sesuai dengan apa yang ditanyakan, kenapa masih salah.
Bukan itu lalu sebenarnya apa? apa jawaban nya tidak tepat atau kurang jelas atau bagaimana?? Erva sendiri tidak paham dengan pemikiran Dokter yang memang mempunyai kecerdasan di atas rata rata, menurutnya.
"Bukan itu??"
Tidak ingin mati penasaran, Erva menanyakan lagi apa yang diinginkan oleh Dokter Rico, siapa tau memang menginginkan jawaban yang berbeda.
"Iya, bukan itu jawaban nya. Sudah lama kenal dengan Anjar??"
Erva tersenyum, rupanya yang ditanyakan adalah kenal nya dengan Anjar dan bukan yang lainnya, ngomong donk dari tadi...Pak Dokter....
"Belum lama, sekitar satu Minggu yang lalu mungkin.... tetapi aku dan Dokter Anjar sudah pernah bertemu sebelumnya satu tahun yang lalu."
"Pantes...", Dokter Rico mengangguk seraya tersenyum mendengar jawaban Erva barusan.
"Kenapa Dokter???"
Terdengar lagi suara Dokter Rico yang entah mengatakan apa, yang membuat Erva lagi lagi menoleh dan bertanya.
"Ah tidak....Anjar bisa juga pilih calon istri."
"Maksud Dokter apa ya??"
Lagi lagu Erva harus mendengar kata kata calon istri, dan itu membuat nya bertanya tanya, apa maksud nya? kalau begini, bukan hanya Rico yang kepo, tetapi Erva juga yang kepo.
"Ya kamu, kamu kan calon istri nya Dokter Anjar?? ah cocok sekali...tapi kasihan kamu dek, kamu masih muda sedangkan Anjar sudah tua.,"
Erva menggeleng pelan, ia tidak mau banyak bicara yang ternyata Dokter Rico hanya menebak saja, dan pasti belum tentu benar.
__ADS_1
"Bukan lah, kami hanya berteman..ah.. bukan juga ..lebih tepatnya pasien dengan Dokter saja...."
Tidak enak, kalau menolak nanti dikira sombong, tetapi memang antara dirinya dengan Dokter Anjar tidak ada hubungan apa apa, hanya sebatas itu saja.
"Oh... pasien dan Dokter???"
Seperti nya Dokter Rico tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Erva, lagian mana ada hubungan seperti itu siang siang begini membawa makan siang...
Dokter Rico melirik bekal yang di bawa oleh Erva dan tersenyum penuh arti.
"Jangan salah paham dulu Dokter, ini hanya sekedar ucapan terima kasih saja.", ucap Erva tau apa yang dipikirkan oleh laki laki di sebelah nya itu.
"Aku tidak salah paham, hanya melihat apa yang kamu bawa dan menyimpulkan, itu saja ..."
Dokter Rico tersenyum lagi, ia benar benar senang siang ini bisa bertemu dengan perempuan yang diduga adalah calon istri nya Anjar, apalagi perempuan di samping nya itu sangat cantik dan enak diajak ngobrol.
Sayang sekali, obrolan mereka terhenti kala sudah sampai di depan ruangan pribadi Dokter Anjar, dan dengan cepat Dokter Rico membuka pintu, tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Ceklek....
"Kau!! tidak sopan, masuk tanpa menge_.."
"Apa?? mau marah??"
Kesempatan untuk Rico saat ini, ia memang salah..masuk tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, tetapi...ia sengaja karena ingin tau bagaimana reaksi dari Anjar ketika ada Erva yang ikut masuk ke dalam.
Tidak ada jawaban, Anjar hanya melongo memperhatikan perempuan yang siang ini terlihat sangat cantik, padahal.. tidak ada make up yang berlebih..biasa saja seperti sehari hari nya.
"Jangan hanya diam saja, ini ada orang nya .... daripada kamu memandang foto nya terus....kan lebih baik begini.. ketemu langsung."
Mati kutu, Anjar tidak dapat berkata kata lagi, Rico sudah kepalang tanggung tau semua nya, bahkan kalau sampai Rico membocorkan apa yang ia katakan sebelumnya..mati lah...
"Diam lah!! pulang sana!!", usir Anjar.
Pastinya tidak ingin kalau Anjar mengatakan yang tidak tidak, terlepas memang ia tidak ingin diganggu siang ini.
"Oh...aku tau, kamu sengaja ingin mengusir ku karena ingin berdua dengan gadis cantik ini kan?? aku tau...."
__ADS_1
"Dan ternyata, dia lebih cantik daripada di foto.", lanjut Rico lagi.
"Sialan!! pergi kamu!! dan jangan dengerin omongan dia, dek..", ucap Dokter Anjar yang mengarah pada Rico dan juga Erva.
"Tenang Bro!!! jangan begitu....aku hanya mengantarkan calon istri mu saja supaya tidak tersesat, dan jangan berpikir yang tidak tidak...."
Bagaimana Anjar tidak berpikir ke arah sana, kalau ia tau Rico adalah playboy sejati...dan pastinya Anjar tidak mau jika Erva sampai terpesona dengan Rico.
"Keluarlah!!"
Kesabaran Anjar sudah habis, kalau ia ladeni Rico tidak ada selesai selesai nya.
"Iya iya..galak banget...bilang saja sudah kangen...."
Tidak ingin Anjar semakin marah, Rico memutuskan untuk keluar saja, lagian...ia hanya ingin mengantarkan Erva ke ruangan Anjar, yah sekalian melihat ekspresi Anjar jika bertemu dengan calon istri nya.
"Aku pergi dulu, hati hati dek...dia belum jinak...."
Erva tersenyum manis, "Terimakasih, Dokter...nanti aku suntik biar jinak...",
"Hahahaha...tapi jangan panggil Dokter lah ..bisa panggi Mas...."
Rico mengulurkan tangannya untuk Erva dan berharap Erva mau berkenalan secara langsung dengan nya.
"Rico, panggil saja Mas Rico...."
"Jangan mau dek, dia playboy...pacarnya banyak..."
Merasa cemburu, Anjar akhirnya buka suara lagi.... tidak mau kalau tangan Erva bersentuhan dengan tangan Rico.
"Daripada kamu, jomblo dari kecil...gak laku laku lagi....", ucap Rico yang tidak mau kalau dari Anjar dengan matanya masih melihat ke arah Erva menunggu Erva menjabat tangan dan berkenalan.
"Erva...", jawab Erva tanpa bersalaman dengan Rico.
Tetapi sayang sekali, Erva hanya menyebutkan namanya saja tanpa mau berjabat tangan.
"Astaga kalian kompak sekali...."
__ADS_1
Merasa hanya menjadi obat nyamuk, Rico memutuskan untuk segera keluar saja dan tidak ingin menggoda Erva, takut dengan mata tajam milik Anjar yang saat ini mengarah padanya.
"Aku tunggu undangan nya, awas jangan macam macam!!!"