Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Permintaan Keenan


__ADS_3

"Aku bersihin ini dulu Mas..."


Tidak ingin merasakan hal yang aneh, Erva segera beranjak untuk membersihkan sisa makanan dan juga piring kotor.


Tetapi, sama sekali tidak ada jawaban dari Anjar, laki laki itu malahan menatap wajah cantik Erva yang sayang sekali tertutup dengan mendung., yang membuat Erva sedikit kesal.


Seperti perempuan lainnya, kalau Erva juga ingin diperhatikan..andai saja Anjar tidak mengatakan apa apa, pastinya Erva tidak akan seperti ini.


Tau dengan apa yang di rasakan oleh Erva tetapi Anjar diam saja ia, ia ingin tau sejauh mana gadis nya cemberut ketika mendengar pernyataan nya yang ambigu. Sadar, Anjar sadar betul dengan ucapannya, yang memang membuat hati Erva sedikit terluka.


Erva dengan perasaan entah, membawa piring piring kotor itu ke dapur dan berniat ingin mencucinya. Ia tidak mau terbawa situasi yang membuat nya semakin berharap saja.


Kenapa perasaan aneh tiba tiba muncul di saat seperti ini, dan apa artinya pernyataan Anjar tadi yang menyatakan jalanin saja dan kalau sudah waktunya siap akan melamar nya?? dengan apa yang baru saja di dengar nya....baru saja..kalau Anjar di sana sudah menemukan calon istri, lalu apa artinya ia saat ini di sisi Anjar?? apa hanya sebagai bahan pelarian belaka seperti yang dilakukan oleh Keenan??


Bingung, kesal dan jengkel jadi satu.. rumit memang hubungan nya dengan Anjar saat ini. Pacar bukan, teman tetapi kenapa akrab dan sedekat ini.


Ingin memungkiri apa yang sudah terjadi satu hari ini, rasanya Erva tidak sanggup. Apalagi, ia yang sudah pernah dikecewakan oleh laki laki, semakin ingin menutup diri saja andai benar Anjar juga melakukan hal yang sama.


Tidak ingin membuat Erva semakin sedih, Anjar memutuskan untuk menghampiri gadis cantik itu yang kini masih berkutat di dapur dengan banyaknya piring dan barang kotor yang haru dicucinya.


"Tidak usah di cuci dek, nanti ada bibik yang datang ke sini.", ujar Anjar menginterupsi. Ia tau bukan maksud Erva untuk mencuci semua barang yang kotor... tetapi ingin melampiaskan saja apa yang terjadi di dalam hatinya.


"Enggak apa apa, lagian aku nganggur juga...", jawab Erva bohong. Padahal sebenarnya ingin menghindari Anjar saja.


Anjar tersenyum, masih memperhatikan Erva yang saat ini dengan ekspresi lucunya sedang mencuci peralatan dapur dan lainnya.


"Aku bertemu dengan dia, saat kita sama sama di Jepang....."

__ADS_1


Entah ada angin apa, tiba tiba Anjar mengatakan bahkan mungkin akan menceritakan kisah tentang calon istri nya yang membuat Erva sedikit sakit mendengar nya


Tidak menanggapi, Erva hanya diam saja dan membiarkan Anjar bercerita sendiri, ia lebih memilih untuk mengekspresikan pekerjaan nya setelah itu pulang, dan kalau saja benar ..Erva akan menjauhi Anjar...dan menganggap nya hanya sebagai teman saja.


"Aku bertemu dengan dia pertama kali pas kita sama sama ingin naik taxi, dan saat itu hanya satu taxi saja, hingga akhirnya kita berdua masuk dalam satu taxi yang sama. Dan kamu bertemu lagi setelah tiba di Jakarta, dengan gadis itu yang menabrak mobil ku...", ucap Anjar panjang lebar.


Jlebbb....


Erva menoleh, menghentikan dulu aksinya membilas piring yang sudah di cuci dan melihat ke arah Anjar, menatap dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki laki itu.


Anjar tersenyum, ia tau kalau Erva juga mengingat peristiwa itu dan membiarkan saja tanpa penjelasan lagi darinya.


Setelah mengatakan sejujurnya, yah meskipun hanya sebuah clue saja...Anjar meninggalkan Erva. Membiarkan gadis itu dengan kebingungan dan pikiran nya sendiri.


Glontang!!


Bunyi panci yang tidak sengaja jatuh karena tangan Erva yang licin dan juga melamun, membuat Erva sendiri kaget dengan apa yang dilakukan nya. Beruntung sekali, itu bukan benda yang mudah pecah.


Erva menoleh, "Biarkan saja!! kalau perlu aku pecahkan semuanya!!!", jawab Erva yang juga tanpa ekspresi, tapi itu membuat Anjar gemas.


Sabar, tahan Anjar..belum sah...jangan kamu buat anak orang gila dengan ulahmu..., batin Anjar.


...****************...


Sementara masih di dalam rumah sakit, Mami Arin sibuk membujuk Keenan yang saat ini masih merengek-rengek meminta untuk Erva datang. Laki laki itu bahkan tidak mau makan dan minum obat sama sekali, sudah persis seperti anak kecil yang minta dibelikan permen tapi tidak dikasih ijin.


"Mi, Erva mana? aku enggak mau makan kalau Eeva tidak datang, biarkan aku mati saja Mi...", ancam Keenan.

__ADS_1


Ini bukan yang pertama kalinya memang, tetapi sudah yang kedua. Dulu juga seperti ini saat Amira meninggalkan nya, bahkan sempat mencoba bunuh diri segala.


Sebenarnya, Mami dan Papinya Keenan antara kasihan dan enggak menghadapi putranya yang kian hari malahan semakin kekanak kanakan saja, yang membuat pusing jika melihat sikap Keenan saat ini.


"Bagaimana Pi?"


Mami Arin mulai putus asa, beliau sebenarnya tidak tega melihat Keenan seperti ini. Tetapi, kalau memanggil Erva..rasanya juga tidak mungkin, mengingat apa yang sudah dilakukan Keenan selama ini dengan gadis itu


Tidak ingin melibatkan Erva lagi dalam masalah keluarga, tetapi beliau juga tidak ingin Keenan tidak sembuh dan malahan semakin jatuh sakit.


"Hubungi saja Mi, nanti biar Papi yang juga ikut bicara kalau Erva datang."


Begitu juga dengan Papi, masih tidak enak Erva. Apalagi kalau sampai keluarga nya tau dengan apa yang dilakukan Keenan saat ini, dan mungkin akan melarang Erva untuk datang ke sini meskipun itu hany menjenguk Keenan, tidak lebih.


Mami Arin mengangguk , ia mengambil tas dan mengeluarkan ponselnya untuk segera menelpon Erva.


Satu panggilan tidak diangkat oleh Erva, padahal nyambung hanya saja tidak ada respon, mungkin Erva masih sibuk dengan kegiatan nya, pikir Mami Arin.


Dua kali, Mami Arin mencoba menelpon Erva ... tetapi tetap saja tidak diangkat. Hingga akhirnya beliau menyudahi apa yang dilakukan, dan menelpon nya nanti.


"Tidak diangkat Pi.", ucap Mami Arin yang sudah meletakkan lagi ponselnya.


"Masih di kampus, kuliah..."


Seakan akan Papi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Keenan kalau Erva hari ini hanya dua mata kuliah saja, dan kemungkinan besar sudah pulang ke rumah.


"Tidak mungkin Pi, jadwal kuliah Erva sudah selesai tiga jam yang lalu.", teriak Keenan mencoba memberitau Papinya, dan mungkin Keenan juga sedikit kesal karena Erva tidak mengangkat telpon nya.

__ADS_1


"Mi, telpon lagi."


Keenan mulai gelisah, di pikirannya saat ini Erva pergi dengan Dokter Anjar dan menghabiskan siang ini bersama.


__ADS_2