
Dengan perasaan yang entah, tidak bisa diingkari dengan kata kata...Erva mengikuti langkah kaki Dokter Rico. Gadis itu sekuat tenaga menahan rasa yang berkecamuk di dada, yang pastinya tidak tau entah mengapa bisa jadi begini....
Dokter Anjar hanya melirik sekilas, ia tau kalau Erva ada di belakang nya, terapi ia diam saja dan bahkan tidak memperdulikan Erva sama sekali.
Bukan kejam, tetapi takut kalau ia bicara akan menyakiti hati Erva, dan takut juga kalau dirinya terlalu berharap dengan gadis cantik yang juga tidak tau bagaimana perasaan gadis itu kepada nya .
Masuk lift, ketiga orang yang ada di dalam, hanya diam saja.... tidak ada yang bicara sama sekali. Bahkan Dokter Rico yang biasa nya cerewet, kini memilih untuk diam saja.
Ia paham dengan situasi dan kondisi yang terjadi, salah salah malahan dirinya yang kena sasaran nantinya.
Ting..
Pintu lift terbuka, ketiga nya sama sama keluar dan masih mempertahankan mulut nya yang terkunci dan tidak membuka untuk bersuara sama sekali.
Ceklek...
Pintu di buka oleh Anjar, dengan Anjar yang lebih dulu masuk ke dalam ruangan nya dan diikuti oleh Rico dan juga Erva.
"Mas , kita perlu bicara."
Erva yang memang tidak suka kalau mendiamkan suatu masalah, dan juga niatnya yang ke sini karena ingin bertemu dengan Anjar dns menjelaskan semua nya, langsung saja membuka mulut nya dan bersuara.
Erva menghampiri Anjar, dan meletakkan rantang yang berisi makanan di atas meja di depan Anjar
"Tidak ada yang perlu di bicarakan, dan sebaiknya kamu pulang.", usir Anjar halus.
Anjar sebenarnya tidak tega, tetapi ia harus melakukan ini. Tidak ada lagi yang perlu di jelas antara dirinya dan Erva, toh juga tidak ada hubungan apa apa dengan Erva...dan tidak perlu menjelaskan seperti apa yang di mau Erva.
"Mas...."
"Maaf, aku banyak kerjaan, dan sebaliknya kamu pulang.,", tolak Anjar lagi yang seperti nya memang tidak ingin mendengarkan penjelasan sama sekali.
__ADS_1
"Anjar... biarkan Erva menjelaskan, siapa tau hanya salah paham saja..."
Rico sebagai penengah disini, ia tidak mungkin membiarkan teman baiknya berperang dengan hati dan perasaan, apalagi tanpa penjelasan dan hanya mengarah pada sesuatu yang belum jelas nyata nya
Dan juga, kedatangan Erva kesini memang untuk menjelajah apa yang sebenarnya terjadi, terlepas bagaimana Anjar mengambil sikap setelah itu, bukan urusan Rico lagi.
"Salam paham?? kalau kamu tidak tau tidak peduli ikut campur!! dan sebaiknya kamu juga pergi Dokter Rico!!"
Rico kaget, ternyata gagalnya acara kencan semalam, membuat ia yang tidak tau apa apa jadi kena semprot.
Tidak, di situasi seperti ini... Rico tidak mungkin meninggalkan Anjar, yang mana laki laki itu bisa berbuat sesuka hatinya, apalagi ada Erva disini.
"Oke, aku akan pergi...tapi setelah aku menjelaskan semua nya...dan mungkin Dokter Anjar juga tidak percaya...."
Erva menghela nafas panjang, ia pasrah dengan apa yang akan terjadi. Yah , walaupun ia dan juga Dokter Anjar tidak ada hubungan apa apa, tetapi sakit rasanya diperlakukan seperti ini...belum mendengarkan penjelasan, tetapi...ia sudah diusir oleh Anjar.
Dokter Anjar?? kamu merubah panggilan untukku dek?? apa memang kamu sudah kembali lagi pada Keenan dan melupakan aku?? , batin Anjar
"Malam itu, aku datang ke restoran yang Dokter tunjuk,. Oke, aku memang salah, aku datang terlambat.... Tetapi aku datang, dan aku tau kalau Dokter juga datang ke sana, Tetapi... semua ada alasan nya, kenapa aku datang terlambat, aku _...."
"Karena Dokter Keenan?? karena dia meminta untuk balikan lagi sama kamu dan kamu terima??"
Deg
Erva menggeleng, ia memang terlambat datang dan salah satunya karena Dokter Keenan, tetapi bukan untuk balikan dengan dia....
"Percuma, kalau aku jelaskan saja Dokter pasti tidak percaya....dan Dokter benar, sebaiknya aku memang pergi dari sini...."
Tidak mau menjelaskan lagi, nyatanya Anjar sudah menangkap sesuatu yang salah, mungkin percuma saja kalau ia menjelaskan panjang dan lebar, yang ada bukannya Anjar percaya tetapi ia sendiri yang kesal.
Erva pergi meninggalkan ruangan Dokter Anjar dan tidak menjelaskan secara detail, hanya garis besarnya saja, karena Erva rasa percuma dan Dokter Anjar tidak akan menerima penjelasan nya.
__ADS_1
Tetapi, baru sampai di depan pintu.... Erva teringat sesuatu, hingga berbalik badan dan melihat ke arah Anjar.
"Rantang nya aku tinggal, kalau tidak suka dan mau makan, bisa dibuang saja, permisi...."
Erva membuka pintu, dan lambung saja keluar dari ruangan Anjar. Ia mencoba menahan sesuatu yang sedari tadi ditahannya.
Tidak mungkin ia mengelak air mata disini dan pastinya akan menimbulkan banyak kecurigaan dari karyawan Rumah Sakit yang memang sengaja menginginkan informasi penting dari nya dan juga Dokter Anjar.
Mencoba tetap tersenyum bila bertemu dengan orang orang yang memang sengaja menyapanya, meskipun hatinya saat ini tidak baik baik saja.
Erva berjalan secepat mungkin supaya cepat sampai di parkiran dan masuk ke mobil nya, rasanya ia terlalu lelah dan sakit dengan apa yang dialami.
Baru saja beberapa hari ini ia bahagia, bahkan ingin membuka hati untuk Dokter Anjar, tetapi ternyata apa yang dipikirkan salah ...dan tidak seperti yang dibayangkan.
Hikss....hiks...
Air mata yang ia jaga agar tidak tumpah, akhirnya tidak bisa ditahan nya, dan di dalam mobil, Erva menangis.. tidak kuat dengan apa yang dialaminya,...
"Kenapa seperti ini? apa aku tidak berhak untuk bahagia?? apa aku tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari seseorang lagi??"
Erva terisak, air mata nya tumpah begitu saja bahkan tidak ada yang bisa menenangkan.
Berulang kali ia mengabaikannya panggilan masuk dari Mona, yang mungkin menanyakan di mana diriinya saat ini.
Berdiam diri sebentar, mengeluarkan semua air mata nya hingga tak tersisa, dan berharap setelah ini semuanya akan baik baik saja.
Lima belas kemudian. Erva sudah jauh lebih tenang... gadis itu menghapus air mata yang membasahi pipi nya dan menghirup udara sebanyak banyaknya.
Dirasa sudah cukup untuk Erva menenangkan diri, gadis itu menghidupkan mobil dan segera melajukannya untuk menuju kampus.
"Aku harus kuat, menghadapi kisah ku dengan Keenan saja bisa, apalagi dengan Anjar..yang memang bukan siapa siapa aku...dan pastinya aku sudah menjelaskan nya..."
__ADS_1
Yah, hubungan yang tidak jelas membuat Erva tidak yakin dengan kelanjutan kisahnya dengan Anjar, apalagi tentang perasaan laki laki itu kepada nya ...