
Siang harinya, seperti yang diucapkan oleh Anjar tadi pagi, kalau siang ini ia akan menjemput Erva sekaligus juga akan mengajak gadis itu untuk makan siang.
Tepat sekali sebelum jam mata kuliah Erva selesai , Anjar sudah berada di parkiran dan tentunya ia senantiasa menunggu Erva dan berada di dalam mobil.
Anjar punya alasan, mengapa ia tidak ingin keluar karena ia tahu kalau ia keluar maka seluruh mahasiswi yang di kampus itu akan heboh, bukan karena dirinya yang sebagai Dokter yang terkenal di kota ini tetapi karena penampilan dan juga wajahnya yang tampan. Yang pastinya membuat gadis-gadis di sana akan berteriak, itu yang Anjar tidak suka.
Laki-laki itu juga tidak menghubungi Erva, ia yakin kalau Erva tidak lupa dengan janjinya siang ini dan hanya duduk diam di dalam mobil sembari menanti kedatangan gadis nya.
Dan tepat sekali, setelah Dokter Anjar menunggu selama tiga puluh menit , Erva datang dengan mengetuk pintu kaca mobil Anjar.
Sudah lama Mas?"
"Tiga puluh menit, masuk dek..."
Sama sekali Anjar memang tidak turun, ia hanya memerintahkan Erva untuk masuk dan duduk di sampingnya, sudah itu saja. Lalu setelah Erva masuk , Anjar langsung saja melajukan mobilnya untuk keluar dari parkiran.
Erva tidak kaget dengan perlakuan Anjar yang seperti itu, ia sudah paham dengan sikap dari laki-laki dingin yang saat ini ada di sampingnya.
Malah Erva bisa dikatakan beruntung karena ia adalah satu-satunya perempuan yang dibawa oleh Anjar yang diajak pergi ke mana-mana oleh Anjar dan juga dengan Erva, Anjar bisa ngobrol panjang kali lebar tidak singkat dan juga bisa tersenyum.
"Mau makan di mana?"
Kali ini Anjar bertanya kepada Erva, tentu saja menanyakan Erva ingin makan apa dan di mana. Siapa tau memang gadisnya itu ingin makan sesuatu dan di tempat yang tidak pernah Anjar kunjungi.
__ADS_1
"Terserah Mas aja, aku lagi tidak ingin makan apa-apa , yang penting kenyang."
Ya kalau soal makanan memang tidak pilih-pilih. Erva makan makanan yang sudah disajikan. Apalagi kalau yang berbau pedas, sudah tidak usah dipikir lagi masalah perut nanti bisa dibicarakan belakangan.
"Oke berarti ikut aku ya. Aku punya tempat makan yang nyaman.... tetapi tidak di restoran atau di cafe mewah, tidak masalah kan?"
"Tidak masalah Mas, aku di mana saja bisa, di pinggir jalan juga aku mau malahan aku biasanya sering pergi dengan teman-temanku di sana bukan di restoran mewah lagi."
Anjar langsung saja melajukan mobilnya ke tempat yang sudah ia pikirkan untuk membawa gadis itu ke sana. dan tentu saja Anjar sangat bahagia bukan karena ia bisa berdua dengan Erva tetapi melihat sikap Erva yang bisa diajak ke mana saja dalam artian tidak harus ke restoran yang mewah itu sudah menjadi poin plus Anjar kepada Erva.
"Masih lama nggak Mas?" tanya erva yang sepertinya gadis itu sudah mulai mengantuk maklum saja ini adalah waktu tidur siangnya kalau tidak ada jam kuliah.
Anjar menoleh ke arah Erva ia lalu melihat jam yang melingkar di tangannya, "sepertinya, tiga puluh menit lagi kalau tidak macet. Ada apa? apa mau mampir ke mana dulu?"
Yang ingin dituju Anjar memang agak jauh tetapi memang tempat itu sangat nyaman dan cocok untuk dirinya saat ini yang ingin berdua saja dengan Erva.
Anjar menggeleng, jawaban dari Erva membuat nya tersenyum kembali. Lucu saja gadis cantik seperti Erva tidak jaim untuk mengatakan kalau dirinya ngantuk.
"Kalau ngantuk tidur aja dulu nanti biar aku bangunin kalau sudah sampai."
Tidak ada jawaban dari Erva, gadis itu memposisikan dirinya senyaman mungkin, memang kalau matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Hingga, beberapa menit saja Erva sudah terlelap.
Anjar tidak masalah kalau ia menyetir sendirian sementara Erva tidur, malahan di posisi seperti ini agar bisa melihat wajah cantik Erva dengan leluasa tanpa si pemilik wajah itu tau dan nantinya Anjar jadi malu sendiri karena kedapatan memandangi Erva.
__ADS_1
Kamu memang cantik dek, pantas saja Dokter Keenan mati-matian mengejar kamu. Dan tentunya aku juga akan mengejar kamu dan akan membuat kamu menjadi milikku... tidak akan aku biarkan laki-laki lain memilikimu, aku sudah yakin dengan kamu, dengan semua sikap dan sifat yang ada pada diri kamu...
Ya, setelah kejadian kemarin, Anjar mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Erva, dan ia bertekad untuk untuk segera melamar dan menikahi Erva.
Meskipun dari awal, Anjar sempat ragu kalau saja Erva tidak akan menerima cintanya. Tapi dengan kebersamaan dirinya dengan Erva kemarin itu sudah cukup membuat Anjar yakin kalau Erva juga menaruh rasa kepada dirinya.
Anjar juga sudah bertekad untuk tidak lama-lama menikahi Erva, bahkan ia juga sudah mengatakan semuanya dan mempertimbangkan dengan masak-masak kepada Mama Risa. Yang pastinya Mama Risa juga sangat setuju dengan apa yang dipikirkan oleh Anjar.
Sepanjang perjalanan Anjar memang fokus ke depan untuk melajukan mobilnya tetapi laki-laki itu juga sesekali melirik ke samping,.tepatnya melihat ke arah Erva , melihat bagaimana gadis itu tidur dengan lelapnya tanpa ada gangguan sedikitpun.
Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Anjar sudah berhenti di sebuah tempat makan yang memang sangat khas dan begitu nyaman juga pemandangannya yang indah.
Anjar membuka sabuk pengamannya,.kemudian ia melihat ke arah Erva yang sama sekali tidak berkutik, ada rasa kasihan di diri Anjar untuk Erva yang mana ia tidak tega untuk membangunkan Erva tetapi kalau tidak dibangunkan kasihan juga perutnya pasti lapar.
Anjar berdiam diri sebentar ia menunggu selama sepuluh menit,.jika Erva belum bangun maka mau tidak mau ia harus membangunkan Erva dan meminta gadis itu untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Dek bangun, makan dulu kita sudah sampai." ucap Anjar yang akhirnya membangunkan Erva setelah ia menunggu selama 10 menit.
Satu kali panggilan, tetapi gadis itu masih saja terlelap bahkan sama sekali tidak terusik tidurnya.
Anjar memang sengaja tidak mengguncang-guncangkan tubuh Erva, ia lebih memilih untuk membangunkan Erva dengan suara , takut saja nanti kalau gadis itu berpikir yang macam-macam terhadap dirinya.
Setelah dipanggil dua kali, Erva masih tidak menyahut tentu saja matanya masih tertutup, hingga akhirnya tangan Anjar memegang tubuh Erva untuk membangunkan gadis itu.
__ADS_1
"Dek, bangun dulu katanya kamu laper ini sudah sampai."
Erva mengerjap ngerjapkan matanya, ia melihat Anjar yang ada di sampingnya. Bingung juga karena kesadarannya belum terkumpul semuanya dan kenapa ia bisa tidur di mobil Anjar dan saat ia bangun juga matanya sudah melihat ke arah Anjar.