
Deg
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Keenan, seketika Amira merasa jantung nya berdetak kencang...
Ia sama sekali tidak menyangka kalau Keenan masih mencintai nya, apalagi selama ini...ia dan Keenan tidak saling berkomunikasi.
Jujur, Amira juga masih sangat mencintai Keenan dan rasa itu masih sama dari dulu hingga sekarang, terapi.... kenyataan pahit yang membuat nya harus berpisah dengan mantan tunangan nya itu.
Yah, Amira sedari tadi mendengarkan percakapan antara Keenan dan Ibu nya, ia yang ingin masuk ke dalam lambung mengurungkan niatnya dan memilih menunggu di luar saja, dengan pintu yang sedikit terbuka dan juga mendengarkan percakapan di balik pintu.
Hingga....
Keenan yang merasa sudah lama berada di dalam ruangan Tante Mita, pamit untuk keluar. Karena ia akan menyiapkan seminar nya.
Dan ..
Saat Keenan keluar, ia melihat Amira yang seperti nya sedang menghindarinya..
"Tunggu Ra!!", teriak Keenan dan berlari untuk menghampiri Amira, setelah mengetahui kebenaran nya... Keenan tidak mau lagi kehilangan Amira.... meski Amira sudah tidak gadis lagi.
Amira berlari, ia yang masih mencintai Keenan merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Keenan, tentu saja karena keadaan nya sekarang ini.
Grepp...
Dengan cepat kilat, Keenan menarik tubuh Amira dan memeluk nya dengan erat, rasanya tidak ingin kehilangan Amira untuk Kedua kalinya.
"Jangan pergi...."
Masih dengan memeluk tubuh Amira, Keenan menghirup aroma yang sudah lama tidak ia rasakan, aroma yang membuat nya tidak ingin berpisah dan ingin selalu bersama dengan Amira, sang mantan tunangan nya dulu dan entah untuk saat ini.
Egois memang, di saat ini sudah menemukan sosok mantan yang memang masih ada di dalam hati Keenan, dan mengetahui semua yang terjadi,....Keenan sendiri malahan melupakan seseorang yang saat ini sedang merindukan nya, seseorang yang dengan sepenuh hati mencintai nya dan menerima Keenan dengan semua bujuk rayunya.
"Lepas Keen, aku tidak pantas untuk kamu...."
Amira berontak, ia tidak ingin Keenan kasihan padanya, apalagi Keenan sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan juga dengan penyakit yang diderita oleh Mama nya.
"Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kita bicara...."
__ADS_1
Keenan masih memeluk Amira, seperti yang diucapkan nya ...ia tidak akan melepas Amira sebelum ia dan Amira berbicara, tidak mengapa...masih ada waktu satu jam untuk berbicara dari hati ke hati, menyelesaikannya semua nya.
"Aku akan berteriak!!!"
Tidak mungkin bersama dengan Keenan, apalagi alasannya hanya kasihan saja, Amira memilih untuk tidak berinteraksi yang lebih jauh lagi dari laki laki itu .
"Teriak saja kalau kamu bisa!!", ancam Keenan lagi.
Ia tidak mungkin melepaskan Amira saat ini, apapun keputusan nya nanti yang jelas ia tau sendiri kebenaran nya dari mulut Amira sendiri, bukan dari orang lain.
"To........"
"Mphhhhh....."
Dan seketika itu juga, bibir Keenan mencium bibir Amira, hingga wanita itu yang awalnya mau berteriak mendadak hanya diam saja, karena mendapat ciuman dari Keenan.
Sejenak mereka berdua mematung, dengan posisi yang sangat dekat tanpa jarak, dan juga bibir Keenan yang masih menempel manis di bibir Amira.
Hingga....tanpa mendapatkan perlawanan dari Amira, Keenan menggerakkan bibirnya, kemudian melu_nat bibir lembut yang sudah lama ia rindukan.
Entah, setan apa yang membuat Keenan seperti itu, bahkan ia saat ini sudah tidak mengingat tentang Erva, yang masih setia dan merindukan nya.
Lama Keenan mengeksplor apa yang ada di dalam mulut Amira, Amira pun dengan cepat langsung membalas luma_tan dan mereka berdua saling mema_gut, mencurahkan rasa kangen dan cinta nya yang terpendam saat ini, dan sama sekali tidak memperdulikan seseorang yang terluka di belahan bumi sana..
"Jangan lari, kita butuh bicara..."
Keenan menempelkan keningnya di kening Amira, serta ibu jarinya menghapus bekas ciuman di bibir wanita itu.
Tidak ada cara lain, Amira akhirnya mengangguk apalagi ia sudah merasakan bagaimana Keenan begitu hangat memeluk dan mencium nya.
Keenan tersenyum, ia menggandeng tangan Amira dan mengajaknya nya ke kantin Rumah Sakit saja, karena waktu nya tidak memungkinkan untuk membawa Amira pergi dari Rumah Sakit.
"Aku pesenkan minum dulu, masih sama kan??"
Keenan mengangguk, ternyata Amira tidak melupakan apa yang menjadi kesukaan, dan sampai sekarang masih mengingat nya, hingga tidak menunggu lama....Amira kembali dengan membawa dua cangkir kopi yang sesuai dengan apa yang Keenan mau.
Sejenak pandangan mata mereka bertemu, yang membuat Amira canggung dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Ini, yang ingin dihindari dari Amira, tatapan mata Keenan membuatnya luluh seketika.
Keenan mengambil tangan Amira, lalu kembali menatap tajam ke arah wanita yang saat ini ada di depannya.
"Kenapa kamu tidak jujur Ra???"
Amira menundukkan wajahnya, ia tidak sanggup jika harus melihat tatapan mata Keenan.
Tidak bisa menjawab, Amira masih menundukkan wajah nya, tidak bisa menjawab pertanyaannya Keenan yang pastinya ia sendiri tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Keenan pada akhir nya.
"Jawab Ra!!!"
Keenan yang tidak sabar, agak sedikit membentak Amira, ia ingin kejujuran dari mulut Amira saat ini.
"Apa yang aku jawab Keen, kamu sudah tau semuanya kan, dan maaf....."
Hanya itu yang diucapkan oleh Amira, ia tidak tau lagi harus bagaimana saat ini, terlebih setelah bertemu dengan Keenan yang membuat jantung nya kembali merasakan detakan jatuh cinta.
"Kenapa saat itu kamu tidak bilang Ra?? aku bisa membantu mu tanpa kamu harus melakukan itu..."
Amira membersihkan diri untuk menatap wajah tampan Keenan, sudah terlanjur basah, ia akan cerita juga semua nya.
"Aku sudah menghubungi kamu waktu itu, dan ponsel kamu tidak aktif, aku juga menghubungi Dimas, tetapi sama saja .. ponsel Dimas tidak aktif. Lalu ..aku telpon ke Rumah Sakit, dan katanya kamu ada jadwal operasi hingga tiga jam ke depan, padahal saat itu.... kondisi ibu sangat krisis, kalau tidak dioperasi... kemungkinan besar tidak akan selamat, dan aku waktu itu tidak punya uang sama sekali..... dan....."
"Cukup Ra, cukup!!!"
Keenan memejamkan matanya, hatinya teriris mendengar ucapan yang baru saja di dengar nya, dan ia merasa bersalah dengan semua nya.
"Maafkan aku, andai aku tau..kamu tidak akan seperti ini....."
Keenan memegang tangan Amira, ia menyesal dengan semua yang terjadi... terlebih dengan yang menimpa Amira.
Deg
Mata Amira melihat ke jari manis Keenan, yang di sana masih tersemat cincin pertunangan Keenan dan Erva.
Perlahan, Amira melepaskan genggaman tangan Keenan, ia tau kalau itu bukan cincin biasa.
__ADS_1
"Sebaik nya kamu pergi Keen, kamu sudah tau semua nya kan??"
Rasa cinta Amira ia kubur dalam dalam, sempat berharap kalau ia dan Keenan akan bersatu lagi setelah Keenan tau semua nya, tetapi...setelah melihat cincin yang melekat di jari manis Keenan, Amira rasa...ia tidak pantas lagi berharap.