Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Jalanin Saja


__ADS_3

Melihat Anjar yang sudah berdiri, Erva pun ikut berdiri. Gadis itu menatap dalam dalam setiap gerakan tangan Anjar. Dan seperti tersihir, Erva tidak berkedip sama sekali.


"Hari ini bisa Mas? sekarang maksudnya?"


Erva tidak mungkin menyia nyiakan kesempatan yang ada saat ini, ia pun mengatakan kalau sekarang saja, padahal sama sekali tidak tau kapan Mbak Maya menginginkan nya.


"Bisa...langsung saja ke sana. Lalu urusan kita bagaimana?"


Dokter Anjar tau nya kalau tempat itu dipesan untuk Erva dan temannya, meskipun mengiyakan tetapi...Anjar sendiri bingung dengan dirinya nanti, padahal sudah jelas kalau Erva akan ikut dengan nya setelah ini tapi mengapa malahan ke resto.


"Jadi lah Mas..aku ikut Mas kan??"


Anjar mengernyitkan alisnya, masih bingung dengan apa yang diucapkan oleh Erva, ikut? tapi kenapa ke resto?? apa jangan jangan Erva mau mengajaknya ke resto?? pikir Anjar.


"Aku gak mudeng maksud kamu, dek...."


"Yang pengen makan di resto itu Mbak Maya, saudara nya Mona....dia lagi hamil besar Mas....katanya anaknya ngidam pengen makan ke sana...."


Anjar tersenyum dalam hati, jadi rencana membawa Eeva tidak gagal dan...ia salut dengan Erva, yang berani mengambil resiko untuk merayunya demi orang lain.


"Oh ..jadi ceritanya ngerayu aku untuk saudara nya teman kamu??"


"Iya, gak masalah kan ... Lagian kasian juga ..dan telinga ku panas setiap kali mendengar rengekan dia...."


"Sekarang telpon teman kamu...., aku akan telepon karyawan yang disana."


Anjar mengusap rambut Erva , kemuliaan meninggal gadis itu untuk mengambil ponselnya dan menelpon karyawan yang ada di sana, memastikan satu tempat yang memang sengaja dikosongkan untuk hal hal yang mendesak, atau membuka tempat baru yang memang disediakan khusus untuk permintaan nya.


Grepp


"Terimakasih Mas...."


Entah dorongan dari mana, Erva dengan tiba tiba memeluk tubuh Anjar, dan membuat laki laki itu hanya melongo seketika.


Setelah menelpon Mona dan mbak Maya, Erva langsung memeluk Anjar sebagai ucapkan terimakasihnya.

__ADS_1


Sedangkan Anjar, bingung juga ...laki laki itu mendapat serangan mendadak dari Erva. Bukan menolak, tetapi ia bingung harus berbuat apa, apakah harus membalas pelukan Erva?? atau diam saja??


Masih memeluk, bahkan setelah beberapa detik.. pelukan itu malahan terasa semakin kencang dan hangat bahkan Erva yang nyaman tidak mau melepaskan nya.


Hingga akhir nya, Anjar yang memang laki laki normal..ikut membalas pelukan dari Erva. Bahkan bukan hanya itu saja, Anjar juga mencium pincuk kepala Erva dan merasakan hangatnya pelukan dari gadis cantik yang saat ini ada di dekapan nya


"Masih mau berapa lama lagi?", sindir Anjar.


Padahal sebenarnya Anjar ingin lebih lama lagi memeluk Erva , tetapi sayang sekali... tidak baik untuk kesehatan senjata Anjar yang sudah berubah di bawah sana.


Tidak pernah Anjar merasakan hal seperti ini, meskipun ia pernah melihat perempuan yang merayunya sampai telanjang dada.... tetapi senjata nya baik baik saja ... namun dengan Erva...semua berubah...hanya dipeluk saja...sudah bisa membangkitkan sesuatu yang sudah lama tertidur pulas


Shittt.... ternyata aku masih normal!!!


Sangat senang, bukan hanya mendapatkan pelukan dari Erva.... tetapi juga bisa tau kalau memang ia masih normal dan senjatanya yang juga bisa berfungsi sebagaimana mestinya... karena selama ini... tidak ada yang bisa membangunkan nya... dan berdekatan dengan Ervalah...dia langsung beraksi.


"Eh maaf, nyaman sih...", jawab Erva gugup dan langsung melepaskan pelukan Anjar . Kini malahan ia salah tingkah dengan apa yang telah dibuat nya.


Bodoh kamu Er..bisa bisanya malahan main peluk Dokter itu ..gila...malahan orang nya senyum senyum lagi....


"Bagaimana dengan ucapan kamu kemarin yang kedua?"


Jlebbb


Yang kedua?? yang menjadikan pemilik resto itu pacar Erva setelah ia berhasil merayu pemilik nya?


Erva mengingat lagi kata kata yang diucapkan oleh nya kemarin, dan untung nya kalau pemilik resto itu adalah Anjar sendiri..yang ganteng dan juga baik.. meskipun sebenarnya sangat menjengkelkan.


"Eh...masih ingat saja Mas.... anggap saja itu hanya becanda...lagian_..."


"Shuttt!!"


Anjar menempelkan jari telunjuk nya di bibir Erva dan meminta untuk Erva diam dan tidak berkutik.


"Jangan anggap itu hanya bercanda...bahkan aku menganggap nya serius, bagaimana???"

__ADS_1


Deg.


Erva menatap ke arah Anjar, melihat lebih detai lagi laki laki yang kini ada di hadapannya. Bukan hanya sekedar pintar, tapi memang sangat tampan dan membuat siapa saja yang mengenal nya pastinya tergoda dan terpesona.


Tidak bisa menjawab, bahkan kini bibir Erva seakan terkunci rapat. Tidak mengiyakan ataupun menolak, tetapi bingung harus bagaimana.


"Mas tau...aku sudah tak pernah gagal dalam hubungan dan itu belum lama... meskipun aku sudah melupakan nya... tetapi..rasa sakit dan rasa khawatir itu masih ada, mungkin bisa di bilang aku sedikit trauma...yah meskipun sedikit.... dan juga...kalau aku ingin menjalani hubungan lagi dengan seseorang...aku tidak ingin ada yang namanya sang mantan yang nantinya akan merusak hubungan ini lagi....dan aku memang benar benar harus menyeleksi nya dengan ketat... jadi maaf saja...bukannya aku pemilih.... tetapi untuk berjaga jaga saja....", ujar Erva panjang lebar yang entah itu didengar oleh Anjar sebagai pernyataan serius atau hanya bercanda saja.


"Bukan kah aku masuk dalam kriteria itu??"


Deg...


Lagi lagi, jantung Erva berdetak kencang. Erva mendongakkan wajahnya ke atas , melihat bagaimana ekspresi Anjar saat ini. Apakah masih kaku atau tidak....


Bukan mendapatkan jawaban, tetapi malahan kedua pasang mata itu saking bertemu dan mengisyaratkan yang lainnya.


Bohong kalau Eeva tidak tertarik sama sekali dengan Dokter Anjar, tetapi...ia harus lebih hati hati dan menelisik lebih jauh lagi siapa Anjar sebenarnya, bukan masalah harta benda.... tetapi masalah pribadi nya Anjar.


Begitu juga dengan Anjar, ia terpana melihat kecantikan wajah Erva. Bukan hanya cantik saja, tetapi....ia juga melihat sisi baik dari gadis itu yang mana memang salah satu kriteria saru Anjar memilih pasangan..


Tetapi sayang sekali, untuk mengungkapkan nya.. Anjar tidak bisa, padahal hatinya sudah mantap untuk memilih Erva dan menjadikan Erva sebagai pendamping hidup nya, tetapi karena kurangnya pengalaman... membuat laki laki itu terasa kaku dalam berbuat san berucap.


Kedipan kedua mata Erva menyandarkan Anjar dari lamunan nya, dan membuat laki laki itu ingin mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Erva.


"Bagaimana kalau kita jalanin saja dulu?", ucap Anjar pada akhirnya yang bingung ingin mengatakan apa, dan kalimat itu lah yang pas yang langsung saja keluar dari mulut nya.


Erva mengangguk, entah mendapatkan dorongan dari mana. Gadis itu dengan spontan juga menganggukkan kepala nya dengan cepat, dan tanpa berpikir lebih lama lagi.


Anjar tersenyum, lampu hijau sudah di depan mata, dan itu berarti tinggal selangkah lagi ia akan berhasil mendapat Erva sepenuhnya.


Tidak ingin meninggalkan momen yang berkesan siang ini, Anjar mendekatkan wajahnya semakin dekat, hingga Erva bisa merasakan aroma nafas dari laki laki yang kini ada di depannya...dan tanpa terasa ...Erva memejamkan matanya...


Cup


Satu ciuman mendarat di kening Erva, yang membuat gadis itu membuka matanya. Tidak disangka, Anjar mencium nya di kening, yang membuat kesan pertama dekat dengan Anjar baik dan tidak buruk seperti yang dipikirkan nya.

__ADS_1


__ADS_2