Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Gadis Kecil


__ADS_3

Mobil yang membawa Erva sudah sampai di depan ruang UGD. Mona buru buru membuka pintu, sementara Pak supir meminta pertolongan pada perawat yang berjaga di sana.


Wajah Erva sudah pucat, ia bahkan tidak sadarkan diri dan membuat Mona panik. Ini adalah bukan pertama kalinya Erva mengalami seperti ini, tetapi...bagi Mona...ini adalah pertama kalinya, pengalaman pertama gadis itu melihat sahabat nya tidak sadarkan diri dengan wajah pucat dan sudah pingsan.


"Bangun Er ....jangan bikin gue panik...."


Sembari menunggu bantuan, Mona menepuk pipi Erva dan berharap gadis itu akan bangun. Tetapi, ternyata tidak berhasil....yang membuat Mona tambah panik saja.


Pak supir dan beberapa perawat datang untuk memberikan pertolongan pada Erva, dan langsung saja membawa gadis itu untuk segera di periksa.


Mona mondar mandir, ia bingung harus berbuat apa sementara kedua orang tua Erva masih berada di luar kota dan kemungkinan pulang nanti tengah malam


Mona mengambil ponsel nya, kebetulan gadis itu memang sengaja membawa nya. Tidak ingin di salahkan dan sedikit mengurangi beban pikiran nya, akhirnya...Mona memberanikan diri untuk menghubungi orang tua Erva.


"Astaga....tiga jam lagi..."


Mona pasrah, ia harus berada di tempat yang mengerikan ini sendiri selama tiga jam karena kedua orang tua Erva baru akan tiba waktu itu ..


Bukannya tidak mau menunggu, tetapi..Mona hanya panik dan merasa takut berada di rumah sakit ..apalagi waktunya malam hari.


"Sial!! kenapa juga tadi Pak supir aku suruh pulang saja."


Setidaknya, jika ada Pak supir... kecemasan Mona akan berkurang, dan juga tidak ada rasa takut. Paling tidak...ia tidak sendirian di tempat horor ini.


"Mana Romi keluar kota lagi...astaga...kenapa banyak yang keluar kota?? apa ini adalah hari keluar kota sedunia??"


Disaat panik seperti ini, Mona masih saja berpikir yang tidak tidak. Sengaja untuk mengurangi tingkat kecemasan nya.


Gadis itu sudah berulang kali mondar mandir, hingga akhirnya ia capek sendiri dan memutuskan untuk duduk saja.


Menunggu adalah sesuatu yang menyebalkan, tetapi...demi Erva sahabat baik nya, Mona rela melakukan itu.

__ADS_1


Dari kejauhan, nampak seorang laki laki dengan kemeja dan juga celana panjang rapinya, berjalan keluar dari sebuah ruangan.


Dokter Anjar, kebetulan....shif malam nya sudah selesai, dan waktunya untuk pulang. Tetapi, saat ingin menuju ke lobi Rumah Sakit, ia tidak sengaja melihat Mona yang duduk dengan aura wajahnya yang terlihat sangat cemas.


"Bukannya itu gadis yang tadi pagi menabrak ku???"


Yah, maskipun jarak tidak terlalu dekat... tetapi... Dokter Anjar masih bisa melihat bahkan mengenali Mona, seseorang yang sudah menabraknya tadi siang.


"Iya, tidak salah lagi....."


Karena penasaran apa yang dilakukan Mona malam malam begini di depan ruang UGD, sendirian lagi ..Anjar langsung saja menghampiri Mona.


"Ehem....."


Mona menoleh, mendengar deheman dari seseorang dari belakang, untungnya gadis itu tidak kageet dan mengumpat.


"Dokter...."


Mona tau kalau laki laki yang ditabrak nya tadi adalah Dokter, karena sempat kepo in sosial medianya.


Yah begitulah laki laki itu kalau belum kenal, bahkan sudah kenal pun ... tidak bisa langsung akrab... apalagi dengan seorang wanita, kecuali Mamahnya.


"Kalau aku boleh pergi, jujur aku akan pergi Dok...serem di sini malam malam, sendirian lagi .. tapi...aku harus di sini...."


Mona melihat ke arah rumah UGD, di mana sampai saat ini Dokter yang menangani Erva belum juga keluar.


Begitu juga dengan Dokter Anjar, mata laki laki itu mengikuti ke mana arah pandang Mona, yang membuat Anjar yakin kalau ada seseorang, ataupun keluarga nya di dalam sana.


Belum sempat bertanya, ruangan UGD sudah dibuka. Mona yang melihat langsung saja berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah Dokter yang menangani Erva.


Melihat kecemasan Mona, Dokter Anjar mengikuti langkah kaki Mona hingga sampai di depan ruangan UGD.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi sahabat saya Dokter??"


Sahabat?? Apakah gadis kecil itu???


Dokter Anjar menebak nebak, dan ia menarik kesimpulan kalau sahabat yang dimaksud Mona adalah Erva, apa itu benar???


"Erva??", tanya Anjar seketika. Ia memang tidak suka basa-basi dan langsung saja bertanya daripada penasaran.


Mona mengangguk, ia lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah Dokter yang menangani Erva.


"Seperti nya Nona Erva sudah lama menderita sakit di bagian perut nya, dan saat ini kambuh lagi...untung saja cepat mendapatkan pertolongan..."


Sakit di bagian perut???


"Alhamdulillah....", ucap Syukur Mona yang lega seketika mendengar kabar dari Dokter. Meskipun ia juga belum tau seberapa parahnya lambung Erva yang kena.


"Kebetulan juga ada Dokter Anjar yang khusus menangani itu, jadi ... bisa langsung diperiksa dan mendapatkan pertolongan... Tapi... sayang sekali... Dokter Anjar sudah tidak ada shif untuk malam ini, jadi bisa dialihkan ke Dokter bedah lainnnya..."


"Saya bisa Dok, dan biarkan gadis itu saya yang tangani..."


Dokter Budi melongo, dokter yang usianya lebih tua dari Anjar itu tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Anjar, apalagi...berani mengambil pasien disaat sudah tidak ada jam lagi, padahal di Rumah Sakit ini....masih banyak Dokter yang berpotensi... meskipun tidak sehebat Dokter Anjar...


"Maksud saya, Nona Erva....", ucap Anjar yang membenarkan apa yang tadi ia katakan...


"Iya, sebentar lagi Nona Erva akan dipindahkan ke ruang perawatan... permisi Dokter, Nona...."


Tidak perlu lama lama, lagipula tugas Dokter Budi sudah selesai dan ada Dokter Anjar yang menangani nya..


"Terimakasih Dokter....."


Dokter Anjar tidak menjawab, ia langsung masuk ke ruang UGD, karena Erva belum di bawa keluar.

__ADS_1


Laki laki itu melihat wajah Erva yang cantik tetapi pucat, dan masih tidak sadarkan diri.


Tidak ingin semua yang ada di sana curiga dengan apa yang di lihat oleh Anjar, laki laki itu langsung saja keluar tanpa melihat lagi keadaan Erva.


__ADS_2