
"Mau ikut gue nggak atau gue anterin lo pulang?" tanya Mona kepada Erva , karena ia tahu sahabatnya itu tidak membawa mobil dan tentu saja tiba-tiba mana ada janji dengan Mamahnya untuk ke sebuah butik. Dan seperti biasa daripada Erva nganggur tidak ngapa-ngapain, Mona mengajaknya sekalian untuk ikut jalan-jalan.
Ternyata mata kuliah terakhir Dosennya tidak datang yang membuat Erva dan Mona langsung keluar dari kelas.
Erva terdiam sesaat memikirkan apakah ia akan menerima tawaran dari Mona atau pulang saja. Tetapi kalau pulang, di rumah juga tidak ada siapa-siapa sementara Mama mertuanya sedang pergi ke luar kota dan pastinya suaminya akan pulang nanti sore.
Kalau Erva pulang ke rumahnya sendiri juga sama di sana sepi lagi pula ia mengingat apa yang diucapkan oleh Anjar tidak boleh pulang ke rumahnya sendirian tanpa ada suaminya yang menemani dan pastinya Erva menurut karena kalau dipikir-pikir pernyataan yang benar itu memang benar.
"Gue kan nanya, lo mau pulang bareng gue dan ikut jalan-jalan sama gue atau gue antarin ke rumah terserahlah mau pulang ke mana Lo?", tanya Mona lagi yang saat ini melihat ke arah Erva yang bingung.
"Enggak ah gue lagi males jalan-jalan."
Jawab Erva, setelah ia berpikir sejenak apakah ia akan ikut Mona atau tidak. Tentu saja badannya masih pegal-pegal tidak memungkinkan dirinya atau ikut jalan-jalan terlebih lagi ia tahu kalau Mona dan Mamahnya itu jalan-jalan pastinya tidak memerlukan waktu yang singkat pastinya nanti berjam-jam dan ia takutnya kalau nanti sampai sore kalau sampai suaminya pulang ia tidak akan tidak ada di rumah pastinya merasa tidak enak.
"Kalau begitu gue anterin lo ke rumah."
Mona juga tidak memaksa sahabatnya untuk ikut apalagi ia tahu bagaimana sifat Erva yang kalau sudah malas tidak mudah dipaksa dan tentu saja sekarang Erva sudah mempunyai suami mungkin pikiran Erva jauh lebih penting untuk berada di rumah menunggu suaminya daripada pergi jalan-jalan.
"Tidak perlu, lo pulang saja gue mau ke rumah sakit, sepertinya membawa makan siang untuk suami boleh juga."
Entah dapat ide dari mana Erva akhirnya mengatakan seperti itu. Padahal dari pagi ia tidak mempunyai keinginan untuk pergi ke rumah sakit apalagi membawakan makan siang untuk Anjar tetapi entah siang ini mengapa yang ada di benaknya hanya suaminya dan tentunya setelah Erva membaca pesan yang dikirimkan oleh Anjar kalau suaminya itu kangen.
__ADS_1
Di samping ingin membawakan makan siang untuk suaminya, Erva juga akan memberikan kejutan kepada suaminya kalau ia tiba-tiba datang ke rumah sakit dan pastinya ia yakin kalau Anjar senang.
"Cie cie yang mau bertemu dengan suami,.kangen ya kangen melihat wajahnya atau kangen dengan anunya."
"Haishh mulut lo lemes banget udah sana pulang sudah ditungguin Mama, tapi gue nebeng sampai depan ya."
"Bolehlah yuk cabut!! nggak sekalian lo,.gue drop di restoran saja?"
"Ide bagus, restoran yang searah dengan rumah lo itu loh yang di pojokan jalan depan."
Keduanya sama-sama menuju ke parkiran dan tentunya Erva tidak akan memberitahukan kepada suaminya ataupun kepada Aris kalau dirinya siang ini akan datang ke rumah sakit.
Beberapa menit kemudian Erva sudah selesai membawa beberapa makanan-makanan dan minuman kesukaan Dokter Anjar dan pastinya ia segera naik taksi untuk menuju ke rumah sakit.
Taksi yang ditumpangi oleh Erva sudah sampai di depan rumah sakit yang pastinya perempuan cantik itu saat ini menjadi pusat perhatian di kalangan seluruh karyawan rumah sakit itu karena mereka tahu kalau Erva adalah istri dari pemilik Rumah Sakit yang baru kemarin melangsungkan pernikahannya.
Tidak jarang beberapa orang memuji kecantikan Erva bahkan iri dengan Erva karena Erva adalah perempuan yang paling beruntung bisa mendapatkan seorang Dokter Anjar yang dingin kaku dan tidak pernah tersentuh oleh perempuan dan juga jangan lupakan bagaimana kekayaan Dokter Anjar itu karena selain mempunyai rumah sakit laki-laki tampan dan gagah itu juga mempunyai beberapa restoran dan aset-aset terpenting lainnya yang membuat Anjar menjadi incaran kaum hawa.
Erva melangkahkan kakinya masuk ke rumah sakit tentu saja ia memberikan senyuman kepada satpam dan juga karyawan yang melintasinya.
Bingung juga apakah ia harus langsung ke atas atau bagaimana sementara ia memang sengaja tidak ingin menghubungi suaminya terlebih dahulu.
__ADS_1
Erva diam sejenak, bukan karena ia tidak tahu di mana letak ruangan pribadi suaminya tetapi aneh saja jika tiba-tiba ia langsung masuk ke sana meskipun semua orang yang ada di sini tahu siapa Erva sebenarnya.
Setelah menimbang-nimbang apakah harus langsung ke atas atau bagaimana, Erva akhirnya melangkahkan kakinya untuk menuju ke resepsionis dan pastinya bukan hanya sekedar basa-basi tetapi ia hanya mengikuti prosedur yang ada di rumah sakit ini jika ingin bertemu maka harus bertanya dulu apakah orang yang ditemuinya ada dan bisa ditemui atau tidak.
"Mbak,. Dokter Anjar nya ada?"
Basa-basi dikit tidak masalah padahal ia yakin kalau suaminya ada di atas tetapi tidak tahu juga apakah suaminya lagi ada operasi atau sedang mengunjungi pasien atau memang sedang istirahat.
"Eh Nyonya Anjar, ada bu di atas dan sepertinya Dokter Anjar baru saja menyelesaikan operasi, ibu langsung saja naik ke atas."
Erva tersenyum sesaat kemudian mencebikkan bibirnya kesal, kenapa ia yang lebih muda dari mbak rasepsionis itu bisa-bisanya dipanggil ibu, apakah wajahnya sudah terlihat ibu-ibu setelah menikah dengan Anjar yang sudah tua itu?
"Terima kasih tetapi jangan panggil aku ibu, panggil Erva saja aku belum terlalu tua kan mbak?"
"Maaf bu bukan seperti ituz ibu adalah istri dari Dokter Anjar pemilik dari rumah sakit ini dan sepertinya tidak pantas kalau aku memanggil ibu dengan panggilan Mbak dan ibu jangan tersinggung bukan karena ibu sudah tampak tua bahkan tidak terlihat tua sama sekali, masih cantik masih muda."
"Nah maka dari itu jangan panggil aku ibu, aku risih tahu Mbak dipanggil ibu-ibu meskipun mungkin sebentar lagi aku juga akan jadi ibu tetapi panggil biasa aja ya panggil aku Erva atau apalah terserah yang penting jangan ibu."
"Waduh gimana ya?"
"Turuti saja apa maunya istri Bos itu, memang begitu.. tidak mau dipanggil ibu nanti kesannya tua, bener kan dek?"
__ADS_1
Erva menoleh, tentu saja ia sedikit paham dengan suara yang ada di belakangnya itu dan tentunya Erva itu tersenyum setelah melihat siapa yang ada di belakangnya.