
Sementara di tempat lain, Mami Arin cemas dengan keadaan Keenan saat ini. Putra tunggal nya sedang berbaring tidak berada dengan tangannya yang terpasang infus .
Meskipun tidak begitu parah, tetapi Mami Arin mengkhawatirkan Keenan. Keenan memang tidak pernah sakit, namun jika sudah sakit....akan lebih lama sembuhnya bahkan sampai beberapa hari meskipun itu hanya demam biasa saja.
Mami Arin dan juga Papi Dion hanya bisa diam dan saling memandang. Mereka juga tidak menyalahkan tindakan kedua orang tuanya Erva yang diduga melakukan pemukulan terhadap anaknya.
Yah, dalam hal ini Keenan lah yang bersalah. Jika Papi Dion yang jadi Papahnya Erva.. pasti akan melakukan seperti itu.
"Erva......"
Setelah tiga jam tidak sadarkan diri, akhirnya Keenan bangun. Meskipun ia belum membuka matanya tetapi suara dari mulut nya membuat Mami Arin tersenyum dan langsung mendekati Keenan.
"Erva....", ucap Keenan lagi.
Matanya memang terpejam, tetapi.... bibir nya dengan jelas mengucapkan nama Erva.
__ADS_1
Mami Arin mendekati Keenan, dan memegang tangan putra nya itu. Kasihan, dengan nasib Keenan yang seperti ini, tetapi memang itu salah Keenan sendiri...yang lebih memilih Amira daripada Erva. , hingga kini hanya penyesalan yang dirasakan oleh Keenan.
Mami Arin juga tidak menyalahkan Erva. Erva tidak membenci Keenan dan sudah memaafkan Keenan saja itu sudah lebih dari cukup. Dan itu tidak sebanding dengan apa yang sudah Keenan lakukan pada Erva yang mana pasti lebih sakit terasa Erva nya.
"Erva....."
Lagi dan lagi, hanya nama Erva yang keluar dari mulut Keenan, yang membuat Kedua orang tua Keenan saling pandang, tidak tau harus berbuat apa dengan anaknya itu.
"Keen, bangun ...."
"Mi ... Erva...."
Berhasil, Keenan sadar dan membuka matanya...dan pertama kali yang ditanyakan adalah Erva, gadis yang sudah ia sakiti tapi kasih dicintai nya sampai saat ini.
"Erva mana Mi? aku butuh dia??", ucap Keenan lirih.
__ADS_1
Laki-laki itu benar benar membutuhkan Erva saat ini, untuk menemani dan berada di sisinya, memberikan semangat supaya cepat sembuh.
"Erva kan kuliah Keen...."
Tidak bohong juga, yang memang Mami Arin tau kalau Erva kuliah apalagi ini bukan tanggal merah atau weekend.
Keenan menggeleng, "Sudah selesai Mi,, hari ini hanya dua mata kuliah saja ..aku butuh Erva, Mi..."
Dalam keadaan yang tidak baik baik saja, Keenan masih bisa mengingat jadwal kuliah Erva, bahkan sangat hafal meskipun tidak mencatat nya.
Mami Arin hanya diam, ia tidak mungkin menelpon Erva untuk datang ke sini. Meskipun beliau tau kalau Erva pasti mau menjenguk Keenan, tapi...rasanya tidak enak dan tidak pantas saja masih merepotkan Erva.
Lagipula setelah kejadian satu tahun yang lalu, Mami Arin juga tidak pernah berhubungan lagi dengan Erva, bahkan juga tidak pernah bertemu...lalu sekarang, tiba tiba menelpon dan meminta Erva untuk datang....
"Mi ... aku butuh Erva....telpon Erva, Mi..", pinta Keenan lagi.
__ADS_1
"Nanti Mami Telpon, sebaiknya kamu istirahat saja dulu.....Erva juga pastinya masih mengerjakan tugas tugas nya atau main dengan teman teman nya ...", ucap Mami Arin menenangkan Keenan., tidak tau lagi apa yang ingin dikatakan oleha beliau...hanya itu yang dapat diucapkan untuk mengulur waktu dan juga siapa tau Keenan lupa.