Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Erva Emosi


__ADS_3

"Masuk kuliah lagi jam berapa sayang?"


Tanya Mama Arin penuh dengan kelembutan tentu saja ia harus bertanya kapan erpan masuk kuliah lagi yang pastinya hanya sebentar saja beliau bisa bercakap-cakap dengan Erva dan dipastikan kalau Erva akan masuk kembali untuk mengikuti kuliah lagi.


"Tiga puluh menit lagi tante."


Tidak apalah waktu tiga puluh menit cukup untuk dirinya berbicara dengan erfa dan tentu saja tante Arin akan mengatakan sesuatu yang penting saja tidak berbelit-belit.


Tante Arin tersenyum kemudian mamanya dan menatap Erva dengan tatapan yang entah apa itu artinya.


Sebenarnya tante Arin ke sini itu diam-diam tanpa pengetahuan oleh Papinya Keenan dan tentu saja ia harus memikirkan secara matang-matang apa tindakan yang menurut nya ini adalah benar atau tidak.


Bagaimanapun rengekan Keenan yang membuat tante Arin menemui Erva saat ini dan tentu saja sebagai seorang ibu, tante Arin tidak akan tega melihat putranya menderita seperti itu meskipun semuanya tidak ada hubungannya dengan Erva tetapi mungkin saja bila mana nanti Tante Arin menceritakan ini kemerdekaan mau untuk menjenguk Keenan walaupun hanya sebentar saja.


"Keenan kecelakaan dan dia dirawat di rumah sakit."


Erva kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Tante Arin meski bagaimanapun dan apa yang pernah Keenan lakukan padanya tidak menutup kemungkinan kalau laki-laki itu juga pernah ada di dalam hidupnya dan untuk saat ini memang merasa kasihan terhadap Keenan tetapi ia bisa apa kehidupannya sekarang sudah ada dokter Anjar dan pastinya Erva tidak bisa melangkah untuk sekedar menjenguk Keenan ke rumah sakit tanpa izin dari suaminya.


Dan Erva paham kedatangannya tantarin ke sini selain untuk mengatakan tentang kabar Keenan tantarin juga pasti akan meminta untuk dirinya bisa menjenguk Keenan.


Dan Erva juga tahu kalau pastinya ini bukan semata-mata keinginan dari Tante Arin tetapi keinginan dari Keenan sendiri yang memaksa maminya untuk bisa bertemu dengan dirinya dan mengabarkan kondisinya saat ini.


Erva hanya diam saja ia menunggu ucapan dari Tante Arin dulu bagaimana kelanjutannya dari apa yang akan disampaikan oleh maminya Keenan.


"Kamu ada waktu untuk menjenguk Keenan?"


Tepat sekali persis seperti apa yang dipikirkan oleh Erva tante Arin meminta dirinya untuk menjenguk Keennan.


Keenan belum bisa memutuskan saat ini ia harus meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu apalagi ini berkaitan dengan Keenan yang merupakan mantan pacar dari dirinya yang pastinya tidak semudah itu untuk meminta izin.


"Bagaimana ya Tante, bukannya aku tidak mau tapi aku sudah punya suami dan pastinya aku harus meminta izin kepada Mas Anjar dulu kalau dia mengijinkan aku akan menjenguk kak Ken nanti."


Jawaban yang diucapkan oleh Erva memang benar ia harus meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya yang entah nanti suaminya mengizin atau tidak Itu tergantung dari Anjar dan jika Anjar tidak mengizinkan Erva juga tidak bisa berbuat apa-apa toh juga iya sudah tidak peduli lagi dengan hanya karena kasihan dengan tante Arin saja yang sudah menemuinya ke sini dan memohon untuk dirinya bisa menjenguk Keenan.


"Iya bicara dengan suami kamu tante tunggu kabar baiknya."


Setelah mengatakan itu dan ngobrol-ngobrol sedikit dengan Erva, tante Arin pamit undur diri beliau tahu kalau sebentar lagi Keenan akan masuk ke dalam kelas dan beliau juga tidak akan mengganggu aktivitas kuliah Erva.


Beberapa jam kemudian Erva sudah selesai kuliahnya dan tentu saja ia juga sudah menceritakan semua ini kepada Mona dan pendapat Mona sama dengan apa yang dipikirkan oleh Erva kalau Erva harus meminta izin dulu kepada Anjar.


Dan ternyata suaminya sudah memberikan kabar kalau sudah berada di parkiran kampus tentunya Erva senang sekali siang ini bisa dijemput oleh suaminya yang super duper sibuk.


Erva tersenyum ketika mendekati suaminya lalu mengambil tangan Anjar untuk diciumnya.


"Sudah lama Mas?"


"Tidak, baru saja nyampe yuk mau makan dulu atau nanti makan di rumah saja?"


Bukan karena Anjar pelit, tetapi siapa tahu istrinya itu sedang kangen dengan masakan dari asisten rumah tangganya makanya Anjar menawarkan dulu mau makan di rumah atau makan di luar.


"Sepertinya makan di rumah saja ya Mas, Aku kangen dengan masakan bibik."


"Tidak masalah."


Erva masuk ke dalam mobil Anjar dan juga diikuti oleh Anjar lalu Anjar segera mengemudikan mobilnya untuk menuju ke rumah Erva yang letaknya tidak jauh dari kampus dan tentu saja sepanjang perjalanan Erva menceritakan apa saja yang dilakukannya selama di kampus tetapi tidak dengan pertemuannya dengan Mami Arin bukan karena Erva ingin menutupi pertemuannya dengan meyakinan itu tetapi waktunya saja yang belum kepastian tentunya Erva akan menceritakan semuanya kepada Anjar jika sudah makan siang nanti.


Mereka berdua sudah sampai di rumah Erva dan tentu saja langsung ke langsung masuk. Sayang sekali Erva tidak berjumpa dengan Mama Hana yang ternyata Mama Hana malahan ikut keluar kota bersama dengan papa Bram.


Mereka berdua makan siang terlebih dahulu baru setelahnya langsung masuk ke kamar Erva dan tentu saja Erva tidak ingin berlama-lama di dalam kamarnya bukan karena ia tidak suka berada di rumahnya tetapi ia tahu kesibukan suaminya itu seperti apa padahal Erva sendiri pun bertanya apakah setelah ini ajar mau pulang ke rumah atau masih meneruskan di rumah sakit.


Anjar senantiasa mengikuti istrinya untuk masuk ke dalam kamar karena ini adalah pertama kalinya Anjar masuk ke dalam kamar Erva dan ia tidak menyangka kalau kamar Erva itu benar-benar luas tetapi sayang sekali masih berantakan meskipun sudah ditata rapi oleh Mama Hana.


"Maaf ya Mas kamarnya masih berantakan padahal setiap hari sudah dibersihkan oleh Mama"


"Salah kamu sendiri yang memang tidak bisa rapi."


Anjar memandang ke seluruh kamar Erva dan tentu saja ia juga kagum dengan dekorasi yang ada di dalam kamar Erva itu.


"Dek mau coba di sini nggak?"

__ADS_1


Entah setan apa yang merasuki Anjar saat ini yang pastinya mengapa laki-laki itu malahan mengatakan kepada Erva dan tentu saja Erva tahu maksud dari pertanyaan Anjar.


"Bukannya aku menolak apa mas tidak ada pekerjaan lagi nanti setelah dari sini langsung pulang atau kembali lagi di rumah sakit?"


"Pekerjaanku sebenarnya masih ada, tidak mungkin aku tidak punya pekerjaan tetapi untuk pekerjaan yang berhubungan langsung dengan makhluk hidup sudah tidak ada dan pekerjaan yang lainnya bisa ditunda yang penting adalah saat ini sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi."


Eh...


Tanpa aba-aba Anjar langsung saja memeluk tebu erva dan membawa tubuh Erva ke atas ranjang laki-laki itu sekarang lebih berani bahkan tanpa diduga duga dan diminta Anjar langsung saja melakukan aksinya yang pastinya melewati pemanasan terlebih dahulu supaya istrinya tidak kesakitan.


Satu jam kemudian keduanya sudah terkurai lemas dan saat ini saling berpelukan satu sama lain dan tentu saja mereka tidak berpakaian dan hanya memakai selimut yang menutupi tubuhnya saja.


"Kenapa kamu selalu membuat aku gila dek dan sepertinya mas tidak mau berhenti juga sudah bersama kamu dalam keadaan seperti ini."


"Pikiran kamu Mas ngeres terus."


"Tidak apa-apa sama istri sendiri tentu saja sah dan tidak ada yang melarang."


Erva tersenyum kemudian mengarahkan pelukannya ke tubuh Anjar yang pastinya ia sering saat ini bingung ingin membicarakan sesuatu kepada suaminya atau tidak yang jelas kalau Erva memang perlu berbicara tentang apa yang diceritakan oleh tante Arin tadi ia tidak boleh menutup menutup dirinya meskipun sesuatu itu tidak sangat besar tetapi sesuatu itu ada hubungannya dengan Anjar.


"Mas boleh Aku bercerita?"


Tentu saja Erva melihat waktu yang tepat yang sekira nanti kondisi Dokter Anjar tidak emosi ketika mendengar ceritanya karena ia bisa pastikan kalau pastinya suaminya itu akan cemburu jika mendengar apa yang akan diceritakan nanti.


Tetapi melihat ekspresi wajah Anjar yang terlihat senang dan juga tidak ada beban sama sekali di pikirannya Erva memberi nikah diri untuk menceritakannya dan ia berharap kalau suaminya tidak akan marah tidak mengapa ia tidak diizinkan untuk menjenguk dokter keenan toh juga Erva tidak mempunyai keinginan sama sekali untuk pergi ke sana.


"Cerita saja, bukannya dari tadi kamu sudah bercerita? tetapi ini apa kenapa wajah kamu jadi seperti ini ekspresi kamu mendadak jadi tidak seperti biasanya."


Anjar melihat lebih teliti lagi ekspresi wajah istrinya yang memang sekarang tidak seperti biasanya bukan karena tidak cantik atau sudah ada banyak keringat di wajahnya tetapi memang sangat berbeda dan mungkin saja apa yang diceritakan Erva ini bersifat penting dan tentu saja ia yakin kalau Erva menyembuhkan sesuatu tetapi akan diceritakan kepadanya.


"Tapi janji ya jangan marah aku tidak bermaksud apa-apa dengan cerita ini."


"Iya dek cerita saja dan membuat aku penasaran."


Erva mengambil nafas panjang-panjang ia akan menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Tadi siang tante Arin datang ke kampus menemuiku."


"Iya aku tidak janjian sama beliau tetapi tiba-tiba saja di saat pergantian mata kuliah dan ternyata sudah ada di kantin. Sepertinya sengaja menemuiku dan mau tidak mau karena beliau sudah ada di kantin aku harus menemuinya tidak enak kan sudah sampai di sana tetapi aku tidak mau menemuinya."


"Kamu benar dek apalagi beliau orang tua, tidak baik membiarkan beliau menunggu lama dan jangan kamu menyimpan dendam terhadap tante Arin beliau tidak salah apa-apa yang salah itu anaknya bukan ibunya."


Erva lega baru awal saja ia bercerita tanggapan suaminya sudah membuat dirinya senang dan sepertinya tidak ada keraguan lagi untuk Erva menceritakan apa yang dikatakan oleh tante Arin tadi.


"Dokter Keenan kecelakaan."


Anjar hanya diam saja iya sama sekali tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh Erva dan ia juga baru tahu ternyata dokter Keenan mengalami kecelakaan karena berita itu belum terdengar di telinganya Anjar bahkan harus juga belum memberikan kabar apakah Aris memang sengaja tidak memberikan kabar kepada dirinya atau memang Aris juga tidak tahu menau masalah ini.


"Dia meminta kamu untuk menjenguknya?"


Belum sempat Erva cerita tentang keinginan suaminya sudah menebaknya dan tentu saja Erva langsung saja menganggukkan kepalanya karena apa yang dikatakan oleh Anjar itu adalah benar meminta dirinya untuk menjenguk laki-laki itu yang saat ini telah terbaring di rumah sakit.


"Iya katanya begitu, aku juga tidak tahu itu permintaan dari Tante Arin atau hanya akal-akalan dari Keenan saja."


Ekspresi wajah Anjar biasa-biasa saja meskipun dalam hatinya ia cemburu kenapa Dokter Keenan masih saja mengusik istrinya bahkan dengan ada drama kecelakaan seperti ini sepertinya Dokter Keenan memanfaatkannya agar Erva bisa menjenguknya di rumah sakit.


"Kamu mau ke sana?"


"Jujur ya Mas aku tidak ada niatan sedikitpun untuk menjenguk dia entah itu mas izinkan atau tidak aku tidak akan bertemu dengan dia, apa yang dia lakukan atau juga itu tidak ada hubungannya dengan aku."


Anjas tersenyum iya menarik tubuh Erva dan memeluknya kemudian mencium kening Erva lalu turun ke bibir dan tentu saja dengan ucapan yang erva berikan Anjar bisa menebak kalau memang istrinya itu sudah tidak ada rasa lagi dengan sang mantan dan pastinya Anjar sangat bahagia sekali.


"Kalau aku mengizinkan kamu untuk menjenguk dia, bagaimana?"


Erva tidak percaya jika suaminya akan memberikan izin padahal ia sendiri tidak berkeinginan untuk menjenguk Dokter Keenan.


"Yang pastinya Aku tidak akan membiarkan kamu ke sana sendirian aku akan ikut dengan kamu dan memastikan kamu aman. Bukan ada maksud sesuatu dari diriku mengijinkan kamu bertemu dengan dia jika boleh jujur aku cemburu dek dan aku tentu saja masih khawatir kenapa Keenan masih saja mengusik rumah tangga kita padahal dia sudah jelas-jelas tahu kalau kamu sudah menjadi istriku dan aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun tetapi aku tidak tega dengan Maminya dia sudah menemui kamu dan meminta kamu untuk menjenguknya setidaknya hargai lah tante Arin beliau tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan kamu dan juga karena di masa lalu kasihan beliau, beliau hanya orang tua yang menginginkan anaknya bahagia meskipun anaknya yang salah dan tidak bisa diberitahu dengan baik-baik."


Erva kembali lagi mengeratkan pelukannya kepada Dokter Anjar, ia sangat beruntung mendapatkan suami seperti Dokter Anjar yang sangat pengertian meskipun sejujurnya Erva juga tahu di dalam hati Anjar tidak rela jika dirinya menjenguk Dokter Keenan tetapi karena alasan orang tua ya orang tua lah yang membuat Dokter Anjar mengizinkan istrinya untuk berjumpa lagi dengan sang mantan meskipun harus ada dirinya di sana.

__ADS_1


"Tapi jangan lama-lama ya Mas, aku tidak ingin kalau dia malah semakin membutuhkan aku."


"Tentu saja tidak akan aku biarkan istriku berlama-lama di sana apalagi dilihat oleh laki-laki lain."


Erva mengangguk apa yang dikatakan oleh Dokter Anjar memang benar kalau dirinya juga tidak boleh berlama-lama di sana dan juga tidak akan membiarkan keinginan menatap dirinya sangat lama di sana.


"Eh Ngapain??"


Tiba-tiba saja tubuh Erva melayang dan tentu saja karena Anjar yang sudah menggendongnya.


"Mandi bareng dek setelah itu kita sama-sama menjenguk mantan pacar kamu yang tidak tahu diri itu."


Erva tidak bisa berbuat apa-apa toh dirinya juga sudah digendong dan saat ini sudah masuk ke dalam kamar mandi tentu saja bukan hanya mandi yang dilakukan oleh keduanya pastinya Dokter Anjar tidak akan membiarkan air menganggur begitu saja dan akan memakannya lagi siang ini.


Keduanya sudah rapi dan tentu saja erfa sudah membara barang-barang yang tertinggal di rumahnya karena setelah dari rumah sakit tempat di mana Keenan dirawat mereka langsung saja pulang ke rumah karena Anjar juga sudah tidak ada pekerjaan lagi di rumah sakitnya.


"Ya dek, di sana nanti jangan tatap-tatapan sama laki-laki itu mas bisa cemburu dan kamu tahu sendiri kan kalau aku cemburu itu seperti apa?"


"Sayang sekali aku tidak tahu kalau Mas Cemburu,.itu bagaimana."


"Awas aja, aku tidak akan membiarkan kamu bisa berjalan besok."


"Kenapa ancamannya seperti itu, kalau seperti itu ya aku manut saja karena mas benar-benar deh membuat aku tidak berdaya."


Anjar mengambil tangan Erva kemudian menggenggamnya dengan sangat erat sepertinya laki-laki itu memang tidak ingin kehilangan istrinya.


Tidak beberapa lama mobil yang dikemudikan oleh Dokter Anjar sudah berada di rumah sakit tempat di mana Keenan saat ini dirawat.


Dan tentu saja kedatangannya tidak ada yang menyangka bahkan tante Arin sendiri tidak tahu kalau Erva bisa datang sore ini.


Dan kebetulan sekali Mami Arin yang ingin membeli sesuatu di dekat rumah sakit ternyata bertemu dengan Erva juga Dokter Anjar di lobby.


"Erva, senang sekali Tante bisa melihat kamu di sini. Mau jenguk Keenan?"


"Iya Tante, tapi maaf kami tidak bisa lama-lama soalnya Mas Anjar ada pekerjaan lain lagi."


Tidak mungkin Erva mengatakan kalau suaminya akan cemburu jika berlama-lama dirinya di dekat dengan Kinan pastinya Erva akan mengatakan hal yang lain meskipun itu tidak seperti pada kenyataannya.


"Tidak apa-apa kedatangan kamu sudah membuat tante senang begitupun juga dengan Keenan. Oh ya kita langsung saja ya kebetulan sudah bangun. Terima kasih Dokter Anjar sudah mengizinkan Erva untuk datang ke sini dan maaf bukannya tante ingin macam-macam tetapi tanpa hanya bingung saja dengan rengekan yang meminta Erva untuk datang kemari tentu saja sebagai seorang ibu, tante tidak tahan ketika melihat putranya seperti itu."


Persis sama seperti yang Anjar pikirkan kalau Tante Arin memang tidak mempunyai maksud apa-apa beliau hanya tidak tega melihat kondisi Kinan saat ini.


"Tidak masalah tante dan maaf jika aku ikut."


"Tidak apa-apa, tante malah senang kalau kamu ikut kalau hanya Erva saja tante malah tidak enak. Kalau begini tante kan tahu Erva sudah izin sama kamu dan pastinya erva sudah menceritakan tentang kedatangan Tante tadi menemui Erva sama kamu dan tante sangat lega."


Anjar mengangguk kemudian mengikuti ke mana arah langkah kaki dari Tante Arin yang membawanya masuk ke dalam ruang perawatan Dokter Keenan yang pastinya ruang perawatan itu sangat spesial karena Keenan adalah pemilik dari rumah sakit itu.


Ceklek..


Tidak ada drama apa-apa lagi langsung saja Erva dan Anjar masuk ke dalam ruangan perawatan Keenan dan ternyata benar kalau benar saat ini sudah bangun bahkan laki-laki itu pastinya sudah menunggu kedatangan Erva.


Tetapi sayang sekali semua tidak seperti yang KeenanĀ  harapkan ia memang menginginkan kehadiran Erva tetapi tidak dengan suaminya, Dokter Anjar.


Ketika senyuman yang tadi mengembang manakala melihat kedatangan Erva, langsung saja meredup ketika ada Dokter Anjar di belakangnya dan ia pasti tahu kalau azab tidak akan mengizinkan Erva untuk datang ke sini sendirian.


"Bagaimana keadaan kamu Dokter Keenan?"


Tentu saja, bukan pertanyaan dari Erva tetapi dari Anjar sendiri.


"Sepertinya kamu lihat kondisi aku seperti saat ini dan aku membutuhkan Erva untuk berada di sampingku supaya aku bisa lebih cepat sembuh."


"Jangan macam-macam, aku tidak akan berada di sini lama-lama Aku hanya ingin menjengukmu sebentar saja kak.."


Tidak senang dengan apa yang diucapkan oleh Dokter Keenan, Erva langsung saja menyaut dan menjawab kalau dirinya memang tidak bisa lama-lama apalagi harus menunggu dan bersama dengan Dokter Keenan sekarang di sini.


"Apa kamu tega Beb meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini? aku butuh kamu supaya lukaku cepat kering dan aku bisa boleh kembali."


"Tega tidak tega itu bukan urusan aku yang jelas aku sudah datang ke sini seperti apa yang kamu inginkan dan sepertinya kondisi kamu juga tidak apa-apa bahkan tanpa aku datang kamu juga bisa sembuh sendiri Kamu kan seorang Dokter pastinya kamu tahu bagaimana kondisi kamu."

__ADS_1


Sepertinya Erva emosi ketika mendengar ucapan yang dikeluarkan oleh Dokter Keenan tentu saja ia tahu jika keadaannya akan seperti ini mungkin tidak akan melepaskan dirinya untuk cepat-cepat meninggalkan ruangan ini dan tentu saja banyak alasan yang diucapkan oleh Keenan supaya dirinya tetap tinggal di sana.


__ADS_2