
Keenan yang mulai emosi mana kalah mendengar ucapan dari Erva barusan langsung saja menggenggam erat tangan Erva dengan begitu kencang hingga membuat gadis itu memekik kesakitan.
"Sakit, lepaskan aku!!"
Tetapi sepertinya teriakan Erva tidak membuat Keenan luluh dan melepaskan tangan gadis itu, melainkan semakin mencengkeram erat tangan Erva dan tidak akan melepaskannya.
"Mas tidak akan melepaskanmu dan Mas akan membawamu pergi jauh dari Indonesia, kita akan hidup berdua saja tanpa ada gangguan dari siapapun."
Sepertinya otak Keenan memang sudah gila, laki-laki itu bertekad bulat untuk membawa kabur Erva dan pergi sejauh mungkin dari Indonesia dan pastinya tidak akan ditemukan oleh siapapun juga termasuk Dokter Anjar.
"Jangan Gila!! Kalau suamiku tahu pastinya kamu nanti akan diajar habis habisan bahkan akan masuk penjara."
Kalau sudah seperti ini Erva tidak tidak perlu sopan santun lagi kepada Dokter Kenan. Tentu saja gadis itu juga berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari Dokter Keenan manakala dengan Dokter Keenan begitu kuat mencengkeram hingga menarik Erva untuk masuk ke dalam mobil Dokter Keenan.
Dan entah mengapa parkiran yang tadinya ramai dengan banyaknya mahasiswa, kini seakan-akan sepi bahkan Mona sendiri sudah pulang sejak dari tadi karena dijemput oleh sopirnya hingga menyisakan Erva dengan Dokter Keenan dan beberapa gelintir orang saja yang ada di sana.
Tentu saja, mereka tidak ada yang berani untuk mendekati Erva bahkan menolong Erva pun mereka tidak berani, karena mereka tahu siapa laki-laki yang ada bersama Erva saat ini.
"Calon suami ? calon suami dari mana ? buktinya saja dia tidak datang ... berarti dia memang tidak serius sama kamu. Ayolah sayank, Mas bukannya gila... tapi memang Mas sudah tergila-gila dengan kamu dan cinta Mas tulus kepada kamu, tidak ada yang dibuat-buat bahkan Mas rela melakukan apa saja supaya kamu membatalkan pernikahan kamu dengan dia dan menikah dengan Mas."
"Sampai kapanpun aku tidak sudi dengan kamu, dan aku baru sadar betapa beruntungnya diriku bisa terlepas dari kamu yang gila ini."
"Sayank jangan begitu, kamu tahu sendiri kan bagaimana cintaku kepada kamu dan sekarang ikutlah denganku."
__ADS_1
"Aku tidak mau, lepaskan kak..."
Sepertinya teriakan Erva juga sia-sia saja, Dokter Keenan saat ini malah membawa Erva untuk masuk ke dalam mobilnya dan tentu saja ia sedikit menyeret tubuh Erva supaya bisa masuk ke sana.
"Lepaskan calon istriku!!"
Anjar yang baru saja tiba di parkiran langsung saja keluar dari mobil dan menghampiri Erva.
Ia yang beberapa waktu lalu dikabari oleh Aris, kalau Dokter Keenan buru-buru keluar dari rumah sakit dan berpikiran ingin bertemu dengan Erva.
Tentu saja berita yang didapatkan Aris itu berasal dari Anto karena Anto bingung,.di satu sisi ia memang asisten dari Dokter Keenan tetapi di sisi lain ia tidak mau kalau ada keributan apapun yang terjadi di antara Dokter Keenan dan juga Dokter Anjar saat ini.
Dan Anto langsung saja menghubungi Aris dan meminta laki-laki itu untuk memberikan kabar kepada Dokter Anjar.
Hingga, Dokter Anjar yang baru saja selesai operasi langsung saja bertolak ke kampus Erva dan berharap semoga tidak terlambat.
Erva benar benar lega ketika mendengar suara terikan dari seorang laki-laki yang tentu saja ia tahu suara itu milik siapa.
Dan karena Dokter Keenan lengah mendengar suara dari Dokter Anjar, tentu saja itu membuat Erva langsung melepaskan genggaman tangan Dokter Keenan dan berlari menghampiri Dokter Anjar.
"Mas...."
"Sayank, maaf aku terlambat."
__ADS_1
Erva sedikit terkejut mendengar ucapan dari Dokter Anjar tetapi untuk kali ini apa yang dikatakan oleh Dokter Anjar itu tidak penting yang penting dirinya bisa selamat, dan Dokter Anjar datang di saat yang sudah tepat.
Erva menjawab dengan anggukan kepalanya kemudian ia berada di samping Dokter Anjar dan tentu saja ia memilih berada di posisi yang aman saat ini.
"Oh calon istri, calon istri dari mana? Kamu yang telah merebut Erva dariku dan sekarang kembalikan Erva."
Anjar yang mendengar ucapan dari Dokter Keenan langsung saja menghampiri laki-laki itu iya sama sekali tidak takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Dokter Keenan, karena yang penting adalah Erva saat ini dan ia harus memperjuangkan apa yang akan menjadi miliknya toh juga Erva sama seperti dirinya yang sama-sama saling mencintai dan tidak menganggap Dokter Keenan itu ada.
"Tidak ada yang merebut Erva dari kamu, kamu jangan gila dan kamu harus sadar diri kalau hubungan kalian sudah berakhir satu tahun yang lalu. Dan tentu saja setelah 1 tahun itu Erva tidak ada lagi hubungan sama kamu bahkan sampai kemarin saat aku melamar dan ingin menikahi Erva, masih sama Erva masih jomblo tidak terikat dengan laki-laki manapun juga."
"Kau!!"
"Apa ? kamu mau bilang apa? kamu mau bilang aku merebut Erva dari kamu? Terserah apapun yang kamu katakan tetap saja aku dan Erva akan menikah besok, kamu suka atau tidak suka, kamu datang atau tidak itu tidak jadi masalah, pernikahan kita akan berlangsung besok."
Brengssekkkk!!
Keenan mengumpat kesal. Laki laki itu yang sudah emosi, langsung saja menghampiri Dokter Anjar. Rupanya, menyelesaikan masalah ini dengan cara baik baik itu tidak bisa, hingga apapun yang terjadi meskipun harus lewat pertemuan darah sekalipun Keenan tidak perduli, ia harus mendapatkan Erva saat ini dan membawa kabur Erva.
"Sayank, kamu masuk dulu ke mobil dan jangan keluar sebelum aku datang."
Anjar yang melihat gelagat yang tidak beres dari Dokter Keenan, langsung saja meminta Erva untuk masuk ke dalam mobilnya, tentu ia tidak ingin kalau Erva kenapa-napa bahkan ia sendiri tidak mau kalau Erva melihat jika nanti dirinya dengan Dokter Keenan beradu pukul.
Erva sebenarnya tidak mau meninggalkan Dokter Anjar apalagi ia juga melihat kemarahan dari Dokter Keenan tetapi demi tidak memperburuk keadaan, Erva langsung saja masuk ke dalam mobil Dokter Anjar yang tidak berada jauh dari sana dan ia juga bisa melihat apapun yang terjadi nanti.
__ADS_1
"Sebaiknya kita selesaikan secara laki-laki dan siapa yang kalah dia harus meninggalkan Erva."
"Aku memang laki-laki sejati tetapi untuk meladeni kamu seperti ini rasanya hanya sia sia saja dan buang-buang waktu dan tenaga, masih banyak sesuatu yang harus aku urus. Sadarlah Ken, kalau Erva sudah tidak menjadi milik kamu lagi dan Erva berhak memilih siapa yang ia pilih untuk menjadi suaminya menjadi pendamping hidup selamanya. Dan tentu saja jika kamu tidak menghianatinya dulu pasti kamu sekarang sudah bahagia dengan Erva dan pastinya kejadian ini tidak akan seperti ini. Dan seharusnya kamu percaya apa yang kamu tanam adalah itu yang kamu tuai. Ini adalah karma untuk kamu karena kamu telah menyia-nyiakan perempuan sebaik Erva dan menghianatinya dalam waktu sekejap bahkan membuat goresan luka di dalam hati Erva begitu dalam hingga sampai saat ini luka itu belum juga bisa disembuhkan."