
"Berarti kamu ke salon untuk merayu Aku ini ceritanya?"
Belum sempat Erva menceritakan tentang mengapa ia tiba-tiba berkeinginan untuk mengakui kesalahan dan malahan menyalahkan suaminya karena sudah tahu yang sebenarnya
"Iya kan aku ingin mengakui semua kesalahanku, aku tahu aku salah karena pergi tidak meminta izin kepada Mas tetapi seperti aku bilang tadi aku tidak punya pilihan lagi. Jadi bagaimana dimaafkan atau tidak? aku sudah tampil totalitas lho Mas."
Anjar terdiam, sepertinya laki-laki itu pikir-pikir dulu sebelum memberikan keputusan kepada Erva tetapi di dalam hatinya ia tersenyum melihat tingkah Erva yang sangat lucu dan membuatnya gemes ketika melihat ekspresi wajah cahaya dari istrinya.
Entahlah meskipun Erva melakukan kesalahan, Anjar tidak tega untuk memarahinya terlebih lagi ini bukanlah kesalahan yang besar hanya rasa cemburu saja yang hinggap di dalam hati Anjar ketika mendengar Erva ngobrol dengan sang mantan pacar.
"Mas jawab dong, aku dimaafin apa enggak?"
Erva jadi bingung sendiri melihat tingkah laku suaminya yang hanya diam saja, entahlah mendadak ia juga ketakutan. Bagaimana nanti jika Anjar tidak memaafkan dan akan mendiamkannya itu yang tidak Erva sukai.
"Bagaimana ya dimaafkan atau tidak? kamu sudah membuat aku cemburu dek."
"Cemburukan tandanya Mas sayank dan cinta sama aku. Aku minta maaf, aku juga menebus kesalahanku jadi dimaafkan ya?"
Sekali lagi Erva merayu suaminya perempuan cantik itu malahan menempelkan jari telunjuknya di dada Anjar dan menekan-nekannya seperti Erva memberikan kode kepada suaminya untuk melakukan lagi dan lagi.
Anjar yang merupakan laki-laki normal terlebih lagi mereka saat ini masih dalam keadaan polos tentu saja menginginkan hal yang lebih, bukan hanya sekedar berpelukan saja.
"Dimaafkan tapi ada syaratnya?"
"Satu ronde lagi kan? silakan dengan senang hati."
Tidak perlu menanyakan syarat yang diinginkan oleh suaminya, Erva lebih dulu tahu apa yang akan dikatakan oleh suaminya dan dengan senang hati Erva meminta Anjar untuk melakukan apapun yang Anjar sukai.
Hingga satu jam kemudian mereka sudah selesai melakukan aktivitasnya dan melihat jam yang menempel di dinding kamarnya, kalau sebentar lagi acara pertunangan Dokter Keenan akan di mulai.
__ADS_1
"Ayo dek kita mandi bareng saja kalau mandi sendiri tidak keburu takutnya nanti acaranya sudah dimulai."
Karena keasikan main bukan hanya satu ronde saja yang dilakukan oleh Anjar. Hingga keduanya sama sama lupa waktu dan berakhir keburu-buru untuk mandi dan Anjar memutuskan untuk mandi bersama saja dan kali ini tidak ada kesempatan lagi untuk dirinya bisa memangsa Erva lagi.
Erva mengangguk, ia juga percaya jika suaminya tidak akan macam macam di dalam kamar mandi meskipun suaminya pengen tetapi ia sudah dikejar waktu, sebentar lagi acara pertunanhan Dokter Keenan
itu akan dimulai dan pastinya ia dan Anjar tidak akan pernah melewatkan momen itu dan menjadi saksi bagaimana dan dilangsungkannya pertunangan antara Dokter Keenan dengan Kinara.
Beberapa menit kemudian
Keduanya sudah sama-sama keluar dari dalam kamar mandi dan tentu saja tidak ada yang dilakukan lagi selain mandi, mereka juga tidak melakukan adegan panas yang biasanya dilakukan kedua nya di dalam kamar mandi.
"Aku siapkan baju ganti untuk Mas."
Anjar mengangguk ia menunggu istrinya untuk mengambilkan baju ganti untuknya tentu saja Anjar tidak perlu repot-repot dan harus berteriak ia ingin memakai pakaian seperti apa karena Erva sendiri yang memilihkan dan Anjar yakin jika pilihan dari istrinya itu memang tepat untuk dirinya.
Keduanya sama-sama ganti di kamar itu tanpa mereka merasa malu karena sama-sama sudah melihat bagaimana luar dan dalamnya tubuh Anjar maupun Erva.
"Kamu bikin aku pengen dek."
"Jangan Mas, kali ini tidak boleh .. kita akan terlambat datang ke sana atau bahkan tidak ke sana sama sekali."
Ya kali ini Erva memberanikan diri untuk menolak apa yang diinginkan suaminya bukan ia juga tidak menginginkannya tetapi melihat situasi dan kondisi dan tepatnya waktu sudah mepet untuk menghadiri acara pertunangan Dokter Keenan.
"Iya sayang, aku akan menahannya meskipun sebenarnya tidak tahan, kamu begitu menggoda dan membuat aku gemes."
"Nanti saja di doble setelah kita pulang dari acara pertunangan Dokter Keenan." ujar Erva yang berusaha untuk menenangkan suaminya.
"Oke bukan hanya dobel tapi aku akan melakukannya berulang-ulang kamu belum memanaskan dan membuat aku semakin ketagihan sama kamu"
__ADS_1
Tidak ada yang dibicarakan lagi keduanya sama-sama saling mempersiapkan diri untuk menghadiri acara pertunangan Dokter Keenan yang akan dilangsungkan satu jam lagi. Tentu saja Erva seperti biasanya tidak dandan yang menyolok tetapi memang dasarnya perempuan itu sangat cantik dan mempesona membuat auranya terlihat hanya dengan sekali polesan di wajahnya saja.
"Jangan cantik-cantik dek, nanti malahan ketuker siapa yang menjadi tunangan Keenan dan aku nggak mau itu."
"Hahaha Mas ada-ada aja yang jelas tidak akan tertukar karena aku yakin jika Mas nanti di sana tidak akan melepaskan genggaman tangan mas."
"Tentu saja tetapi kamu membuat semua mata ingin melihat ke arah kamu, dek bisa nggak make up nya jangan seperti ini, atau dihapus saja tidak usah memakai lipstik dan juga bedak."
Eva menghilangkan kepalanya bukan ia tidak memutuskan suaminya tetapi ini make up nya sudah setipis mungkin dan juga erva tidak suka memakai make up yang terlalu tebal.
"Tidak bisa kalau hapus make up ini nanti yang ada Mas malah malu, bagaimana bisa istri dari seorang Dokter Anjar itu tu tidak cantik tidak berpenampilan menarik yang pastinya nanti kesannya seakan-akan mas tidak memberikan aku uang untuk pergi ke salon."
"Hahaha ada-ada saja kamu dek, tetapi sumpah ya aku jadi tidak rela membawa kamu pergi malam ini bagaimana kalau kita tidak usah datang saja kesana, toh ada atau tidaknya kita pertunangan itu tetap dilanjutkan."
Sebenarnya Erva juga malas untuk menghadiri acara pertunangan Dokter Keenan kalau tidak karena tante Arin memaksa Erva untuk datang, Erva juga tidak akan datang, toh benar apa yang dikatakan oleh suaminya ada atau tidak ia datang ke sana pertunangan itu akan dilakukan.
Ting
Mendengar bunyi pesan masuk dari dalam ponselnya Erva segera mengambil ponsel itu kemudian membaca pesan yang entah dikirimkan dari siapa karena Erva sendiri belum melihat siapa pengirimnya
[Kalau kamu tidak datang, aku akan membatalkan acara ini]
Lagi lagi Keenan mengirimkan pesan, bukan hanya sekedar pesan biasa tetapi sudah ancaman. Keenan tau kelemahan Erva saat ini yaitu mengancam Erva dengan alas yang digunakan adalah Mami Arin.
Anjar melihat ekspresi Erva, langsung saja mengambil ponsel dan ikut membaca siapa pengirim dari pesan itu yang membuat istrinya tidak segembira tadi.
"Sudah tidak usah dipikirkan, aku yakin jika Dokter Keenan hanya mengancam kamu saja."
Anjar tidak marah, ia lebih membuat hati Erva nyaman karena Anjar tahu jika Erva saat ini kepikiran tentu saja dengan ancaman yang dilakukan oleh Keenan beberapa hari ini yang membuat istrinya tidak nyaman dan selalu kepikiran.
__ADS_1