
"Dokter Anjar so sweet banget sih ...suka ya sama Erva?? kalau iya ... langsung di tembak saja Dokter...Erva jomblo loh.... nanti keduluan orang lain nyesel loh....", ujar Mona.
Setelah mengatakan itu, Mona langsung pergi... ia tidak berani melihat ke arah Dokter Anjar lagi, takut dengan sikap dingin dan garangnya Dokter tampan itu.
Dokter Anjar menggeleng, jujur saja kalau ditanya tertarik...ya memang, ada sesuatu di dalam hatinya untuk Erva, tetapi...untuk melangkah lebih jauh lagi...masih perlu waktu, apalagi Dokter Anjar belum sama sekali pernah dekat dengan seorang wanita, apalagi mempunyai hubungan dan akhir nya menikah.
Dan juga mengenai Erva. Bukan karena identitas keluarga nya, tetapi tentang hal pribadi, apalagi setelah kedatangan Dokter Keenan yang ngotot ingin membawa Erva ke Rumah Sakit nya, dan juga dengan beberapa ucapan ucapan Dokter Keenan yang membuat Anjar jadi bertanya tanya dan penasaran.
Tidak ada jadwal hari ini, Dokter Anjar memilih untuk melihat ke sekeliling Rumah Sakit. Terlebih lagi ia akan sering memantau Erva, di samping mengecek kondisi Erva .. sekalian juga melihat wajah Erva yang bikin candu.
Tiga puluh menit kemudian, setelah semua urusan selesai... Dokter Anjar melangkahkan kakinya menuju ke taman belakang Rumah Sakit.
Ia penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Erva dan Mona, dan juga sekalian melihat wajah cantik Erva.
"Mon... tadi Lo yang ngasih tau Dokter Keenan??"
Erva langsung saja bertanya, bukannya menyalahkan Mona...hanya saja ingin tau, karena Keenan tidak mempunyai nomer nya, dan tidak bisa menghubungi nya.
"Maaf, Dokter Keenan tadi ke kampus, dia nyariin Lo...tidak melihat Lo, langsung nanya ke gue. Kasihan juga dengan ekspresi wajahnya...."
"Lalu, dia ngomong apa lagi sama lo??"
Erva tau, pastinya Keenan tidak hanya menanyakan tentang dirinya di mana, tetapi juga ada hal lain lagi...
"Enggak, hanya nyari Lo saja...memangnya kenapa???"
Tidak mungkin Mona menceritakan kalau Dokter Keenan sudah bercerai, ia tidak mau Erva kepikiran dengan laki laki itu, apalagi kembali ke dalam pelukan Keenan.
Lagipula juga itu bukan lah urusan Mona, dan Mona juga belum begitu jelas dengan apa yang diucapkan nya.
"Tidak apa apa, siapa tau dia nanya yang lain lagi.."
"Ya enggak lah, Lo kan tau kalau gue enggak respect sama dia..."
Erva mengangguk, ia paham dengan perubahan sikap Mona yang tidak begitu suka Dokter Keenan, yah .. semenjak laki laki itu meninggalkan nya dan memilih sang mantan.
"Mm....apa Lo yang masih cinta sama dia???", tanya Mona menyelidik, dan berharap jawaban adalah tidak.
__ADS_1
"Ngaco!! dia suami orang gaess....lagian gue sudah lama move on.", jawab Erva.
Entahlah apa memang benar benar sudah move on atau tidak yang jelas saat ini Erva lagi belajar buat ikhlas dan menerima apa yang sudah menjadi takdir nya.
Satu tahun tidak bertemu dan satu tahun tidak mendapatkan kabar dari Dokter Keenan, itu sudah cukup untuk hatinya bisa melepaskan laki laki itu.
Masih dalam tahap berjuang, dan semoga tidak goyah. Karena Erva memang tipe wanita yang tidak gampang jatuh cinta dan juga tidak gampang melupakan sesuatu kenangan dengan orang lain, baik itu yang indah maupun yang buruk.
"Baguslah... gue harap Lo bisa melupakan laki laki modelan kayak Dokter Keenan."
...******...
Saking asiknya bercerita, tidak sadar kalau Dokter Anjar sudah berada di belakang nya, dan sedikit banyak Dokter itu mendengar apa yang dibicarakan Erva dan Mona, meskipun tidak begitu jelas dan paham bagaimana alurnya.
Shutttt...
Mona yang kaget ingin menjerit dan memanggil Dokter Anjar, tetapi laki laki meminta untuk diam dan meninggalkan mereka berdua.
Mona yang paham pelan pelan segera menjauh dari Erva dan membiarkan Dokter Anjar untuk menemani Erva siang ini.
Erva menoleh, ia tidak menyangka jika ada Dokter Anjar di sini, dan Erva pun melihat ke sekeliling nya di mana sudah tidak ada Mona di sana.
Rese memang tuh anak.... ninggalin aku!!
"Dokter... enggak kok...lagi nyari angin segar saja... betewe .. Dokter ingin memeriksa aku?? tadi nyari di kamar enggak ada ya??"
Tidak mau gEer, Erva memilih untuk berpikir positif saja, lagian mana mungkin seorang Dokter Anjar yang katanya dingin dan tidak pernah dekat dengan wanita manapun juga bisa memberikannya perhatian lebih dengan nya, itu sangat mustahil sekali.
"Tidak juga, mau nemenin kamu saja..."
Deg
Nemenin?? maksud nya???
Semakin aneh saja, bahkan Erva sendiri tidak tau nemenin seperti apa yang dimaksud.
"Oh...eh...maaf Dokter, kejadian tadi ...aku enggak enak. Tetapi, makasih banyak atas bantuan nya."
__ADS_1
Masih tidak enak, atau lebih tepatnya malu dengan kejadian tadi saat ada Dokter Keenan, bukan malu dengan tingkah Dokter Keenan terhadap nya, terapi...malu dengan tingkah nah sendiri yang memanggil Dokter Anjar dengan sebutan Mas...
"Tidak apa, aku suka."
"Maksud nya???"
"Suka membantu kamu....ya ...itu .."
Entah mengapa lidah Anjar jadi grogi mengucapkan sesuatu di depan Erva saat ini, ada rasa gimana gitu yang ada di dalam hatinya.
"Dan jangan panggil Dokter..... tidak di dengar dan terkesan tidak akrab.", ucap Anjar lagi.
"Lalu mau dipanggil apa???"
Erva tersenyum, dan melihat ke arah Dokter Anjar dengan tatapan penuh pesona nya, yang membuat Anjar jadi terpesona dan terpikat dengan wajah cantik Erva yang sangat manis dan tidak membosankan.
"Panggil seperti tadi saja.."
"Mas??"
"Iya...bisa kan???"
Erva mengangguk, tidak menyangka kalau laki laki dingin itu bisa bersikap mandi bahkan bicara banyak dengan nya, dan juga tersenyum...hal yang paling tidak ia sangka sebelum nya, karena menurut cerita dari perawat dan juga Dokter yang ada di sana... Dokter Anjar adalah Dokter yang paling dingin, cuek dan tidak bisa becanda, apalagi tersenyum...sangat aneh sekali kalau saat ini malahan Dokter bisa bersikap manis seperti itu.
"Kalau begitu kan jadi asik ngobrol nya ...dan boleh aku tanya sesuatu dek??"
Erva mengangguk, lalu ia turun dari kursi roda dan ikut duduk di samping Anjar, tidak enak rasanya kalau bicara dengan posisi yang seperti ini.
"Aku bantu, pelan pelan saja."
Dokter Anjar membantu Erva untuk berdiri dari kursi roda nya, dan duduk di samping nya.
"Terimakasih Mas....."
Anjar tersenyum, rasanya aneh tetapi adem banget ketika Erva menyebut nya dengan Mas.... dan tadi mau nanya apa??"
Kenapa tiba tiba suasana malahan canggung begini...yang mana Anjar hanya diam setelah Erva mengucapkan apa yang ingin ditanyakan oleh laki laki itu. Entah lah ...rasa penasaran ada dalam benak Anjar, tetapi...untuk menanyakan lebih jauh lagi tentang masalah yang sifatnya pribadi. Apa pantas dan tidak menyinggung perasaan Erva??
__ADS_1