
Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit, hari ini Erva diperbolehkan pulang,.tentu saja kepulangan Erva ini disambut bahagia oleh kedua keluarga yang sama-sama menanti kedatangan Erva.
Kabar masuknya Erva ke rumah sakit ini menjadi kabar paling bahagia bagi kedua orang tua, yang mana Erva memang sering keluar masuk rumah sakit tetapi untuk saat ini mereka bahagia karena penyakit Erva ini bukan penyakit yang selama ini diderita oleh perempuan cantik itu tetapi penyakitnya adalah karena hamil dan itu membuat semuanya bergembira.
3 hari berada di rumah sakit, Anjar juga tidak pernah meninggalkan istrinya, ia bahkan tidak pulang ke rumah dan selalu menemani Erva di rumah sakit dan tidur juga di sana.
Padahal Erva sudah tidak apa-apa, namun suaminya tetap saja ingin mendampingi Erva sampai Erva benar-benar sembuh.
"Hati-hati sayank jalannya atau mau aku gendong atau aku ambilkan kursi roda saja?"
Hari ini memang Erva sudah diperbolehkan pulang tetapi Anjar masih khawatir, ia bahkan ingin meminta satu hari atau 2 hari lagi Erva untuk menginap di rumah sakit, tentu saja Anjar mengkhawatrkan kondisi Erva dan juga calon anaknya tetapi tetap saja Erva tidak mau karena dirinya benar-benar sudah tidak apa-apa, sudah tidak pusing dan mual malahan ingin cepat kembali ke rumah dan pastinya di rumah ia bisa bebas ngapain saja tidak di rumah sakit.
Bukannya menjawab, Erva malah melihat ke arah Anjar tentu saja setelah ia dikabarkan positif hamil suaminya semakin perhatian dan sayang padanya bahkan tak jarang Anjar mengucapkan kata-kata cinta yang manis untuk Erva.
Bukan karena dulunya Anjar tidak perhatian dia juga tidak sayang tapi entahlah kali ini Erva melihat ada sedikit perubahan dari diri suaminya yang mana dulu datar dan dingin tetapi lambat laun, suaminya itu dingin bisa mencair dan bisa mengutarakan kata sayang kepada Erva di depan umum.
__ADS_1
"Hei kenapa malah melihat ke aku, mau aku gendong sayank?"
Anjar bingung padahal tadi ia bertanya kepada istrinya mau digendong atau dibawakan kursi roda karena ia masih takut dan khawatir jika nanti Erva tiba-tiba pusing dan tidak kuat berjalan tetapi yang ada malahan Erva melihat ke arahnya dengan tersenyum dan menatap tajam ke arah Anjar yang pastinya ajar dibuat bingung kenapa malahan istrinya seperti itu tidak langsung menjawab apa yang ditanyakannya.
"Nggak mau, aku mau jalan saja sambil digandeng Mas Anjar, tahu nggak Aku senang banget terlebih lagi gunung es yang membeku bertahun-tahun lama yakin sudah mencair."
Anjir tersenyum bahkan ia tidak marah dikatain istrinya seperti itu memang kenyataannya begitu bertahun-tahun lamanya sikapnya dingin bukan karena terutama atau apalah memang pembawaan dari Anjar sudah seperti itu.
Tetapi setelah bertemu Erva, semuanya berubah sifat dinginnya lambat laun mencair terlebih lagi setelah ia menikah dengan Erva semuanya sudah dirubah meskipun ia masih tetap sama dingin terhadap perempuan namun saat sekarang Anjar sudah lebih banyak bicara dengan orang lain kecuali perempuan.
Ya hanya perempuan lah yang masih Anjar hindari, bukannya apa-apa di satu sisi ia ingin menjaga istrinya supaya istrinya tidak cemburu di sisi lain untuk apa lagi air masih menarik perhatian perempuan itu jika saja ia sudah mempunyai istri yang sungguh luar biasa dan ia sangat sayangi dan pastinya nanti jika Anjar berbicara manis atau tersenyum bahkan banyak bicara dengan seorang perempuan pastinya perempuan itu nanti akan geer dan mengejarnya.
"Lho aku kan memang selalu manis sama kamu yank, beneran nggak apa apa, aku khawatir lho nanti kalau tiba-tiba kamu tidak kuat bagaimana?"
Anjar masih saja khawatir dan itu membuat istrinya tersenyum dengan penghasiannya tetapi meskipun begitu Erva juga tidak mau terus-terusan berada di atas tempat tidur dan hanya mengandalkan suaminya terlebih lagi ia memang sudah tidak apa-apa orang hamil memang begitu itu kata dari Mama Hana dan juga mama mertuanya yang pastinya kehamilan Erva ini tidak boleh manja dan harus dibuat banyak gerak supaya nanti kondisi calon anaknya juga sehat tidak malas-malasan terus.
__ADS_1
"Aku sudah tidak apa-apa Mas, kan juga ada Mas ... aku hanya pengen digandeng saja biar terlihat mesra dan romantis."
"Tanpa kamu minta aku akan menggandengmu sayank."
Lagi lagi Erva tersenyum Karana mendapatkan perlakuan manis dari suaminya, dan kini Anjar sudah meraih tangan Erva dan juga menggenggamnya dengan sangat erat, lalu mereka berdua keluar dari ruang perawatan Erva dan tentu saja keduanya disambut baik oleh seluruh karyawan dan penghuni rumah sakit ini yang mana memang Erva dirawat di rumah sakit milik suaminya sendiri.
Bahkan banyak sekali ucapan selamat dan taburan bunga yang ditujukan oleh Erva dan Anjar setelah dokter Anjar mengumumkan tentang kehamilan istrinya yang pastinya semuanya memberi ucapan selamat dan ikut berbahagia dengan adanya calon penerus dari rumah sakit ini.
Tak banyak dari mereka yang melihat kemesraan dokter Anjar dengan Erva bahkan karyawan yang pria dari rumah sakit ini yang sudah lama ikut dengan Anjar pun menjadi heran apakah benar laki-laki yang bersama dengan Erva itu adalah dokter Anjar, dokter yang sudah terkenal dingin dan tidak tertarik dengan perempuan yang nyatanya saat ini sudah menikah bahkan terlihat sangat menyayangi istrinya.
Sungguh beruntung sekali di posisi Erva saat ini yang dicintai oleh dokter Anjar dengan segala kharisma dan kekayaan yang dimiliki oleh laki-laki itu bahkan dari dulu dokter Anjar sama sekali belum pernah merasakan apa itu cinta dan Erva cinta pertama dan juga terakhir untuk dokter Anjar.
"Hati-hati sayank."
Anjar dengan pelan membukakan pintu mobil untuk istrinya ia bahkan meletakkan tangannya di atas supaya kepala Erva tidak terbentur atas mobil tentu saja kali ini Anjar membawa mobilnya sendiri dengan kedua orang tuanya dan juga mamahnya yang berada di belakang naik mobil masing-masing yang pastinya setelah pulang dari rumah sakit ini Anjar beserta keluarga besarnya akan mengadakan sekurang di rumahnya untuk mengabarkan tentang berita bahagia ini dan pastinya semua orang harus ikut bergembira dengan hadirnya calon penerus dari dokter Anjar itu.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Anjar tidak henti-hentinya menggenggam tangan Erva dengan tangan satunya digunakan untuk menyetir mobil, sepertinya kebahagiaan kali ini benar-benar luar biasa yang Anjar rasakan.
Laki-laki itu benar-benar merasakan kebahagiaan terlebih lagi ia akan menjadi seorang Papah yang pastinya sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu Anjar sejak lama.